Hezlin terjebak dalam pernikahan bisnis dengan Garra Xaverius Kingston, menggantikan Felicia—wanita yang meninggalkannya demi karier. Selama empat tahun, Hezlin perlahan jatuh cinta, meski tahu dirinya hanya pengganti.
Saat Felicia kembali, Hezlin memilih pergi. Ia meminta cerai, yakin Garra akan kembali pada cinta lamanya. Namun keputusan itu justru mengguncang Garra, yang baru menyadari bahwa kehilangan Hezlin lebih menyakitkan dari yang ia kira.
Di antara masa lalu dan perasaan yang tak terucap, keduanya dihadapkan pada satu pilihan: berpisah… atau memperjuangkan cinta yang terlambat disadari.
"Aku ingin kita bercerai," -Hezlin Rayla Iyzebelle.
"Apa yang selama ini tidak cukup membuatmu tetap berada di sisiku?" -Garra Xaverius Kingston.
"Nyonya, Tuan tidak mau berceri!" -Ervan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao_Xena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29 ~ Bahasa Cinta Garra (revisi)
Hezlin terpaku, napasnya tercekat di tenggorokan. Tatapan Garra begitu dalam, penuh emosi yang selama ini ia sembunyikan rapat. Entah itu rasa takut, rasa sayang, atau rasa memiliki yang begitu kuat.
"Cemburu..." bisik Hezlin pelan, matanya tak berkedip menatap pria di hadapannya. "Garra ini tidak masuk akal. Aku hanya..."
Ia tak sempat menyelesaikan kalimatnya. Garra justru mendekatkan dahinya menempel lembut ke dahi Hezlin, menutup sisa jarak yang ada.
"Aku cemburu," ulangnya lagi, kali ini suaranya terdengar rapuh namun teguh. "Cemburu karena kau bisa bicara begitu akrab dengannya, sementara padaku kau selalu menutup diri. Cemburu karena takut... takut suatu saat kau lebih memilih dia dan meninggalkanku."
Tangannya yang tadi meremas pinggang kini bergerak naik, menggenggam lembut kedua pipi Hezlin seolah takut wanita itu lenyap.
"Jangan berikan perhatianmu pada pria lain, Hezlin. Cukup padaku... meski kamu masih belum mau mempercayaiku sepenuhnya."
Garra menatap lekat mata Hezlin, tak ada lagi topeng dingin yang biasa ia pasang.
"Mungkin aku tidak pandai merangkai kata manis seperti pria lain. Mungkin aku tak bisa sehalus mereka menyampaikan apa yang kurasakan," ucapnya pelan dan tulus.
Ibu jarinya mengusap lembut sudut bibir Hezlin, seolah mencoba menyampaikan lewat gerakan apa yang tak sempat terucap.
"Tapi percayalah... aku sangat mencintaimu, Hezlin. Sepenuh hatiku hanya untukmu. Bahasa cintaku memang bukan kata-kata indah. Bahasa cintaku adalah sentuhan... setiap kali aku menyentuhmu, itu tandanya aku tak ingin kau pergi, dan tak ada tempat lain untukku selain di sisimu."
Hezlin terdiam lama. Tak ada sanggahan, tak ada pula persetujuan. Hanya napasnya yang perlahan mulai teratur, menyatu dengan detak jantung Garra yang ia rasakan di dadanya.
Ia tak menjauh saat ibu jari Garra kembali mengusap pelan pipinya.
Garra menatapnya lekat, wajahnya tenang namun penuh keyakinan. Ia hanya menggenggam erat jemari Hezlin, tak menariknya mendekat.
"Kamu tak perlu pandai bicara," ucap Hezlin akhirnya, suaranya rendah namun tetap tegas. "Tapi kamu harus paham... sulit bagiku untuk membuka diri lagi, setelah sekian lama kita saling menutup. Mungkin semua ini tidak perlu ada di antara kita."
Garra tak melepaskan genggamannya sedikit pun.
"Aku tahu. Aku tak akan memaksamu cepat. Aku akan menunggu. Dan setiap sentuhan ini... akan kubuktikan satu per satu, sampai kau yakin bahwa hanya aku yang pantas ada di sisimu."
Hezlin memejamkan mata perlahan. Rasa sesak di dadanya semakin menumpuk. Ia tidak tau harus bersikap bagaimana? Atau apakah yang diucapkan oleh Garra adalah benar sepenuhnya? Yang Hezlin tau dia hanya sedang memungkiri hatinya sendiri bahwa dia juga sangat mencintai pria itu.
Belum sempat ia meresapi perasaan itu sepenuhnya, terdengar ketukan pelan di pintu kamar.
Tok.
Tok.
Tok.
"Tuan, Nyonya..." suara Bi Rum terdengar sopan dari balik pintu. "Makan malam sudah siap di meja."
Garra melepaskan pelukannya perlahan, namun tangannya tetap bertahan menopang pinggang Hezlin seolah tak ingin memberi jarak lebih dari yang diperlukan. Ia menatap istrinya sekilas.
"Ayo makan dulu. Kamu harus makan yang cukup," ucapnya lembut.
Hezlin hanya diam. Garra pun mengulurkan tangan, menggenggam jemari Hezlin erat namun lembut, lalu berjalan berdampingan menuntunnya menuju ruang makan.
Mereka duduk berdampingan. Sementara tangan Garra sigap memindahkan lauk kesukaan Hezlin ke piringnya. Tak ada percakapan berat, tak ada pertengkaran, hanya keheningan yang perlahan terasa damai.
Sesekali Garra meliriknya, memastikan Hezlin makan dengan cukup, hingga akhirnya Hezlin bersuara pelan.
"Besok aku sudah masuk kerja lagi." ucap Hezlin datar.
Garra berhenti sejenak, lalu mengangguk pelan. "Baiklah. Aku tidak melarangmu." Ia menatap lekat mata Hezlin, menambahkan syarat dengan tegas namun lembut. "Tapi aku yang akan mengantar dan menjemputmu setiap hari. Tidak ada tawar-menawar."
Hezlin terdiam sejenak. Menghela nafas berat. "Garra aku mohon.. Jangan buat aku seperti berada didalam sangkarmu."
"Aku tidak berniat mengurungmu. Aku hanya ingin memastikan jika kamu baik-baik saja."
"Terserah." Hezlin langsung menaruh alat makannya, lalu berdiri perlahan.
"Aku duluan ke kamar," pamitnya pelan.
Garra ikut berdiri, tangannya sempat terulur sejenak, namun akhirnya hanya mengangguk membiarkannya pergi.
"Istirahat yang cukup. Jangan lupa minum vitaminnya nanti," ucapnya lembut.
Tapi Hezlin seolah tidak memperdulikanya. Ia terus berjalan menaiki tangga menuju kamar sendirian. Pintu kamar ia tutup perlahan, menyisakan Garra yang masih berdiri di ruang makan menatap punggungnya hingga menghilang.
••
••
Keesokan paginya...
Hezlin selesai bersiap-siap. Ia mengenakan kemeja putih rapi dan rok span seperti biasanya. Ia melangkah turun menuju ruang makan, lalu duduk di meja sarapan.
Tak lama kemudian, Garra pun turun. Ia duduk di sebelah Hezlin, dan mereka menyantap sarapan bersama dalam keheningan yang tenang.
Setelah selesai, Garra langsung mengantar Hezlin menuju perusahaan. Mobil berhenti tepat di depan gerbang kantor Xabiru.
Saat Hezlin hendak membuka pintu dan turun, Garra menahan pergelangan tangannya pelan. Hezlin menoleh bingung.
"Sebentar," ucap Garra lembut.
Ia menarik perlahan tubuh Hezlin agar kembali condong ke arahnya, lalu mengusap lembut wajah istrinya dengan penuh kelembutan.
"Hubungi aku jika kamu akan pulang nanti. Aku langsung jemput," bisiknya pelan.
Tangannya lalu bergerak turun, hendak menyentuh perut Hezlin. Namun wanita itu langsung menahan pergerakan tangannya dengan cepat.
"Jangan..." cegahnya pelan, matanya melirik sekilas ke arah luar.
Garra berhenti sejenak, menatapnya bingung namun lembut. "Kenapa?"
"Banyak orang di luar sana..." jawab Hezlin pelan, suaranya terdengar ragu. "Aku tidak mau dilihat orang..."
Garra tak menarik tangannya, justru menatap lekat mata Hezlin dengan ketulusan yang tak bisa disangkal.
"Dia juga anakku, Hezlin."
Hezlin masih menahan tangan Garra, gelisah. "Tapi tetap saja... aku tidak mau ada orang lain yang melihatnya."
Garra tak memaksa melepaskan diri, justru menatapnya lekat dengan lembut namun tegas.
"Apa kamu lupa? Bahasa cintaku adalah sentuhan. Biarkan aku juga menyentuhnya, agar dia tahu... kalau aku juga sangat menginginkannya."
Perlahan Hezlin mengendurkan cengkeramannya. Garra pun menyentuh perut itu dengan lembut sekali, seolah menyapa sosok kecil di dalam sana.
Hezlin menahan napas sejenak saat merasakan telapak hangat itu menempel di perutnya. Ada getaran halus yang menjalar dari kulitnya menuju dada, rasa hangat yang asing, namun entah mengapa membuat rasa cemasnya perlahan luruh.
Hezlin mengembuskan napas panjang. Berusaha menenangkan detak jantungnya yang tak menentu. Rasanya, jika percakapan itu terus berlanjut, pertahanannya benar-benar akan runtuh..
"Sudah... aku ingin masuk sekarang."
Tangannya baru saja meraih gagang pintu mobil ketika Garra kembali menahan pergelangan tangannya dengan lembut namun tak bisa ditolak. Belum sempat Hezlin berbalik atau menolak, Garra perlahan menarik tubuhnya kembali mendekat. Di dalam kabin mobil yang sempit, tak ada lagi jarak di antara mereka dada Hezlin nyaris menempel pada dada bidang pria itu.
Salah satu tangan besar Garra perlahan terangkat, jari telunjuknya menopang lembut dagu Hezlin, memaksanya menatap lurus tepat ke dalam manik mata gelap yang menatapnya begitu dalam.
Cup!
Hezlin membelalakkan mata perlahan, napasnya tertahan di kerongkongan.
Belum sempat satu kata pun keluar dari bibirnya yang sedikit terbuka.
•
•
❤️