NovelToon NovelToon
DURI YANG TERSEMBUNYI

DURI YANG TERSEMBUNYI

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:683
Nilai: 5
Nama Author: Meindah88

Aluna Anna harus menelan kenyataan pahit ketika ibunya, Yusi, memaksanya mengakhiri rencana pernikahan dengan pria yang sangat dicintainya, seorang dokter muda bernama Alvaro Alexander. Di balik keputusan itu tersimpan keinginan Yusi yang dianggap lebih penting daripada kebahagiaan putrinya sendiri: ia ingin Alvaro menikahi Elizabets, adik Anna yang hidup dengan keterbatasan fisik, dengan harapan sang dokter dapat merawat dan membantu kesembuhannya.

Keputusan tersebut menghancurkan hati Anna dan Alvaro. Cinta yang telah mereka bangun harus dikorbankan demi tuntutan keluarga dan rasa tanggung jawab. Di tengah luka dan air mata, Anna berusaha menerima nasib yang tidak pernah ia pilih, sementara Alvaro terjebak antara cinta sejatinya dan kewajiban yang dipaksakan kepadanya.
Namun, ketika rahasia demi rahasia mulai terungkap, mereka menyadari bahwa cinta sejati tidak mudah dipisahkan oleh keadaan. Mampukah Anna dan Alvaro memperjuangkan kebahagiaan mereka, atau akankah mereka selamanya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meindah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 11

Jangan ambil hati sikap dingin Papa tadi, An. Dia memang sering begitu saat ada masalah di perusahaan," kata Alvaro ketika mereka sudah sampai di depan rumah Anna.

"Tidak apa-apa, Mas. Aku mengerti," jawab Anna sambil berusaha memahami situasi, mencoba menganggap semuanya baik-baik saja. Kini keduanya berdiri di depan rumah Anna. Alvaro tampak ingin mengantar Anna masuk, tapi wanita itu menolak.

"Sampai di sini saja, Mas. Sudah larut malam, sebaiknya Mas Alvaro cepat pulang," kata Anna, khawatir akan keselamatan Alvaro.

"Aku bukan laki-laki penakut, Anna," jawabnya dengan cemberut, merasa diremehkan oleh sang kekasih.

Sesaat, Anna terkikik geli melihat sikap kekanakan pria di depannya.

"Jangan salah paham, Mas. Aku cuma mengkhawatirkanmu.

"Lupakan saja. Masuklah ke dalam rumah, di luar semakin dingin," ucap Alvaro sambil memberi isyarat pamit pulang.

Dengan hati yang berbunga-bunga, Anna membuka pintu perlahan. Senyum cerah menghiasi wajahnya semenjak kepulangannya dari rumah Alvaro.

Anna mengernyit heran, alisnya bertaut ketika menyapu seluruh ruangan tanpa cahaya lampu. Ya, semua terlihat remang-remang. Jantungnya berdegup pelan. Dan langkah hati-hati, Anna melangkah lebih dalam lagi. Tas yang tergantung di bahunya belum sempat ia lepas. Di tengah keremangan itu, rasa penasaran dalam dirinya semakin membesar.

" Ekhm," suara itu membuatnya tersentak. Ia menoleh dan menyadari ada seseorang di balik kesunyian malam itu.

"Mama," ucapnya sambil memegangi dada. "Kamu pulang terlalu larut, Anna. Tidak ada gadis yang pulang malam-malam seperti ini," tegur Yusi pada putrinya.

"Ini baru jam sepuluh, Ma. Lagipula aku ke rumah Alvaro, bukan ke tempat yang dipakai untuk menghabiskan waktu bersama pacar," jawab Anna, seolah membantah tuduhan itu.

" Kamu memang suka ngeyel tiap kali dinasehati, ya? Apa kata orang lain kalau mereka melihat kalian berdua?"

" Ya ampun, Ma..," Ucapan Anna terhenti, tak dilanjutkan. Ia memilih masuk ke kamar, menghindari perdebatan dengan ibunya. Senyum bahagia yang tadi merekah perlahan pudar, berganti tatapan penuh kesedihan mendalam. Ia tak sanggup melukiskan betapa perihnya hati itu saat lidah ibunya melontarkan kata-kata.

Bukannya menyambut putrinya dengan hangat, Yusi malah mengomeli Anna tanpa henti. Anna pun bingung, mengapa ibunya seolah-olah mencari-cari kesalahannya. Apalagi ketika ia menyebutkan bahwa dokter Alvaro berniat melamarnya, Yusi justru menatapnya dengan tatapan tajam yang sulit untuk dimengerti.

" Aku merasa selalu salah di mata Mama. Apa pun yang kulakukan, selalu saja salah. Tapi kenapa?" Lirih Anna.

Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya. Tanpa pikir panjang, Anna merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Langit-langit kamar satu-satunya menjadi saksi kegelisahannya di malam itu.

Perlahan Anna memejamkan mata indahnya, berusaha menenangkan pikiran yang kacau. Ia menarik selimut yang selalu dipakainya selama ini, berharap tidur bisa meredakan sesak yang menghimpit di dadanya.

***

Pagi itu, Alvaro bergegas menuju tempat kerjanya sejak fajar menyingsing. Peralatan rumah sakit dijinjingnya dengan rapi, mengenakan stelan kemeja yang biasa dipakai di rumah sakit. Ia melangkah keluar rumah dengan penuh percaya diri. Namun, langkahnya terhenti saat suara dari sebuah ruangan memanggil, "Sepagi ini kamu sudah berangkat, Nak?" Awalnya, Alvaro mengira ayahnya akan memarahinya karena kedatangan Anna semalam, tapi tebakan itu meleset.

"Iya, Ayah. Hari ini aku ada janji dengan beberapa pasien," jawabnya tenang.

Sang ayah mengangguk, ia tahu kalau putranya itu bekerja dengan profesional. Ia begitu mengagumi anaknya itu.

"Duduklah sebentar, Al. Kita makan bersama. Sudah lama sekali kita tidak menikmati waktu makan bersama," ucapnya pelan, namun nada memerintah. Mendengar itu, hati Alvaro seketika luluh. Ia menuruti kata ayahnya, duduk di samping sambil tersenyum seolah semuanya baik-baik saja.

"Ada apa gerangan dengan Papa? Kok tiba-tiba berubah baik seperti sekarang?" batinnya bertanya-tanya.

Ketegangan menggantung di udara, seperti awan kelabu yang enggan beranjak. Denting sendok dan piring pun seolah kehilangan suaranya. Tenggelam dalam suasana yang penuh kecanggungan. Lidya yang baru saja selesai menyiapkan hidangan duduk di sana mencairkan suasana yang membeku.

" Buruan makan, nanti kamu telat lho, Al.

Kalimat sederhana itu terdengar secercah cahaya yang mencoba menembus dinding dingin diantara mereka.

“Ayah juga harus makan, jangan sampai asam lambungnya kumat lagi,” ucap Lidya lagi. Sambil makan, Denis menyusun kata-kata yang akan diucapkan, berharap putranya menuruti ucapannya.

“Kamu yang merawat putrinya, Yusi?” tanyanya, mencoba mengurangi ketegangan di antara mereka.

“Iya, ada apa, Ayah?” Al menoleh menatap sang ayah yang sedang menikmati makanannya.

“Oh... tidak apa-apa, Ayah hanya ingin memastikan,” jawab Denis.

“Ayah tahu dari mana? Al belum pernah cerita pada siapapun, termasuk Mama.”

“Yusi kemarin menemuiku di kantor, dia menceritakan semuanya,” jawab Denis dengan suara santai.

“Apa? Yusi menemui Papa di kantor?” Lidya yang baru mendengar itu ikut terkejut mendengar penjelasan suaminya.

" Memangnya mama tahu? Yusi bilang dia sudah datang ke rumah tapi tidak ada siapa pun, jadi terpaksa pergi ke kantor," ujar Denis tanpa merasa curiga.

Napas Lidya berkejaran tak beraturan. Di benaknya, tindakan Yusi terlalu berlebihan.

Ada rasa tak nyaman yang perlahan mengusik hatinya, seolah sesuatu yang sedang disembunyikan oleh perempuan itu.

" Sejak kapan papa kenal tante Yusi? Tanya Alvaro dengan wajah polosnya yang dipenuhi rasa heran. Jelas, ia sama sekali tidak tahu menahu kisah yang pernah terjalin di masa lalu.

" Tentu saja papa kenal," jawab Denis sambil tersenyum tipis,

" Dulu Tante Yusi adalah teman dekat mama, mereka hampir selalu bersama kemana pun mereka pergi.

Denis berhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan nada yang lebih lembut.

" Dan papa memang menyukai mama."

"So sweet," Alvaro mendelik geli, menggoda kedua orang tuanya yang saling menatap dengan penuh cinta.

"Alvaro, awas, ya," Lidya menepuk lengan putranya yang tak henti bersiul di depannya.

Kalimat demi kalimat yang diucapkan Denis seketika mengubah suasana. Kehangatan mulai mengalir di antara mereka bertiga, sementara Lidya membiarkan kenangan lama berdebat pelan dalam benaknya.

“Oh iya, Papa hampir lupa. Ada sesuatu yang sangat penting ingin aku sampaikan pada kalian,” ujar Denis, membuat ibu dan anak itu saling menatap.

“Apa itu, Ayah?” tanya Alvaro hampir bersamaan dengan ibunya. Sebelum melanjutkan, Denis menatap Alvaro sejenak, lalu beralih ke Lidya, istrinya.

" Santai saja menatap ku, ini tentang Alvaro dengan putrinya Yusi," kata Denis masih menatap Alvaro pandangan serius.

Dalam hati Alvaro semakin ketar-ketir, ia sangat takut jika ayahnya menentang hubungannya dengan Anna. Namun, dengan sabar ia menunggu kelanjutan yang akan disampaikan ayahnya.

" Kapan kamu akan melamar, Anna?" Pertanyaan sederhana itu menjadi awal dari perjalanan bagi Alvaro dan Anna. Ada rasa lega ketika beban itu menemukan jalan keluarnya sendiri.

" Tentu saja secepatnya, Ayah,"ucapnya begitu yakin.

1
Novi Tasa
ceritany bgus
Meindah88: Terimakasih..🥰
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!