NovelToon NovelToon
Dendam Berdarah

Dendam Berdarah

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Kutukan
Popularitas:10.6k
Nilai: 5
Nama Author: Maple_Latte

Liburan keluarga Pak Gunawan dan Bu Sri yang sedang hamil tua berakhir tragis ketika mereka, bersama dua pelayan dan seorang tukang kebun, ditemukan tewas mengenaskan di vila mereka.

Penyelidikan mengungkap bahwa pembantaian tersebut dipicu oleh aksi perampokan yang berubah menjadi pembunuhan brutal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Permohonan seorang perempuan!

"Ayo, Nya... Cepat!" Suara Lela bergetar hebat di antara deru napasnya yang memburu. Tangannya mencengkeram erat jemari Bu Sri, mencoba menarik wanita itu menembus pekatnya malam.

Namun, pelarian ini terasa begitu mustahil. Bu Sri, dengan kandungan delapan bulan yang besar dan berat, berjalan tertatih-tatih. Setiap langkah yang diambilnya adalah siksaan.

Perutnya terasa kram dan melilit hebat, seolah sang jabang bayi di dalam sana tahu bahwa dunia di luar sedang tidak aman.

Di belakang mereka, suara derap langkah kaki yang menginjak ranting kering terdengar semakin mendekat, berkejaran dengan detak jantung mereka yang berpacu gila-gilaan.

"Sial, mereka masuk ke hutan! Jangan sampai lolos!" Suara umpatan parau salah satu perampok menggema di antara pepohonan menjulang.

"Lela... perutku... sakit sekali... Aku sudah tidak kuat." Rintih Bu Sri.

Tubuhnya tiba-tiba limbung. Dia jatuh berlutut di atas tanah hutan yang basah dan berlumpur. Daster putihnya yang anggun kini robek dicabik semak berduri, ternoda oleh tanah hitam.

"Nyonya, saya mohon, berdiri, Nyonya!" Lela menangis tanpa suara. Air matanya mengaburkan pandangan, namun ketakutan akan maut membuatnya tetap tegap.

Dia merangkul bahu Bu Sri, mencoba memapah tubuh yang terasa begitu berat.

"Ingat bayi di kandungan Nyonya. Kita harus selamat!"

"Lela, aku sudah tidak kuat lagi, perutku sakit sekali." Ucap Bu Sri dengan bibir yang memutih dan gemetar.

"Nyonya harus bertahan, kita harus lari!" Kata Lela berusaha terus menopang tubuh majikannya itu.

"Ayo, Nyonya... Nyonya harus kuat!" seru Lela dengan suara yang bergetar hebat.

Tangannya mencengkeram erat jemari Bu Sri, mencoba menarik wanita itu menembus pekatnya malam. Namun, pelarian ini terasa begitu mustahil.

Keduanya terus memaksa kaki mereka melangkah, berlari terseok-seok dan masuk semakin dalam ke dalam hutan.

Lela terus menopang tubuh Bu Sri dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya. Napasnya tersengal-sengal, namun ia menolak untuk menyerah.

Dia berusaha keras membawa Bu Sri sejauh mungkin sebelum para perampok keji itu menemukan posisi mereka. Namun, Bu Sri terus mengeluhkan perutnya yang sakit.

Langkah kaki Nyonya-nya itu semakin lama semakin gontai dan berat, hingga akhirnya tubuh Bu Sri benar-benar lemas dan ambruk.

Dan, saat itu Lela melihat darah sudah keluar dari sela pahan Bu Sri. Noda merah yang kental merembes cepat, membasahi kain dasternya yang robek dan mengalir ke sela-sela kakinya, bercampur dengan cairan ketuban yang telah pecah.

Melihat hal itu, Lela menjadi kaget dan menangis. Pertahanan mentalnya runtuh seketika. Tubuhnya berguncang hebat di tengah kegelapan.

Bu Sri menatap Lela dengan pandangan yang sayu dan kosong. Dengan sisa tenaga yang tipis, Bu Sri berkata dia sudah tidak tahan lagi.

Lela menatap wajah Bu Sri yang sudah begitu pucat, seputih kapas, kehilangan seluruh rona kehidupan di bawah temaramnya cahaya bulan yang tertutup awan hitam.

"Lela, aku sudah tidak kuat..." rintih Bu Sri. Suaranya nyaris berupa bisikan yang terputus-putus, tenggelam di antara deru angin malam yang berembus dingin menembus lebatnya pepohonan.

Lela tahu, saat ini Bu Sri sudah akan melahirkan. Naluri keperempuanannya menangkap isyarat dari tubuh sang majikan yang terus mengejang, menahan gelombang kontraksi yang datang bertubi-tubi.

Cairan ketuban yang bercampur darah kental kian banyak merembes, membasahi tanah tempat Bu Sri terbaring lemas.

"Nyonya..." Ucap Lela dengan air mata yang terus menetes deras, membasahi pipinya yang pucat.

Jantungnya berdegup begitu kencang hingga terasa menyakitkan. Di tengah hutan yang gelap gulita, dikepung oleh ancaman empat perampok keji yang bisa muncul kapan saja dari balik semak, Lela merasa lumpuh.

Pikiran gadis muda itu mendadak kosong. Entah apa yang harus dia lakukan untuk majikannya di dalam hutan itu. Dia bukan bidan, bukan pula seorang dokter. Dia hanyalah seorang pelayan yang kini memegang tanggung jawab atas dua nyawa sekaligus.

"Selamatkan anakku, Lela. Selamatkan anak ini." Kata Bu Sri. Genggaman tangannya pada jemari Lela terasa begitu dingin, namun ada penekanan yang luar biasa di sana.

Sepasang mata Bu Sri yang mulai sayu menatap Lela penuh permohonan. Dalam kondisi sekarat dan kehilangan suaminya, satu-satunya yang tersisa di benak wanita itu hanyalah keselamatan bayinya.

Mendengar kalimat itu, Lela mencoba menghapus air matanya dengan kasar. Dia harus bertindak. Dengan tangan gemetar yang basah oleh keringat dingin, Lela membuka paha Bu Sri dan melihat apakah sudah ada tanda-tanda bayi itu akan keluar.

Di bawah temaram cahaya bulan yang samar-samar menembus celah daun, Lela memeriksa dengan saksama. Tapi sayangnya, tidak ada. Kepala bayi itu belum terlihat di jalan lahir.

Kepanikan Lela semakin memuncak. Waktu mereka tidak banyak. Di kejauhan, sayup-sayup suara langkah kaki para perampok yang menginjak ranting kering kembali terdengar, bergerak acak mencari keberadaan mereka.

Lela pun lalu meminta Bu Sri untuk mengejan.

"Nyonya, saya mohon, dorong, Nyonya! Tarik napas dalam-dalam lalu mengejan!" bisik Lela dengan nada mendesak yang ditahan agar tidak menimbulkan suara keras.

Bu Sri mencoba. Dia mencengkeram rumput-rumput liar di samping tubuhnya, memejamkan mata rapat-rapat, dan berusaha mengumpulkan sisa-sisa kekuatan di dalam tubuhnya untuk mendorong sang bayi keluar.

Namun, usaha itu sia-sia. Karena wajahnya sudah sangat pucat akibat pendarahan hebat dan tenaganya sudah habis terkuras sepanjang pelarian, dia tidak bisa mengejan. Tubuhnya terlalu lemah. Napas Bu Sri menjadi pendek-pendek, dan perlahan cengkeraman tangannya pada rumput mulai mengendur.

Bu Sri, dengan kesadarannya yang sudah akan hilang, perlahan menggerakkan tangannya yang sedingin es.

Dengan sisa-sisa tenaga terakhir yang dimiliki, dia memegang erat tangan Lela. Sorot matanya yang semula sayu mendadak berubah menjadi begitu tajam, dipenuhi keputusasaan sekaligus tekad yang membaja.

"Apakah pisau yang diberikan Sumi masih ada?" Tanya Bu Sri.

Lela, dengan tangisan tanpa suaranya yang membuat dadanya terasa sesak, mengangguk pelan. Air matanya kian deras membasahi pipi. Tangannya yang gemetar meraba balik lipatan kain bajunya, memastikan keberadaan cutter kecil yang tajam itu masih berada di sana.

Bu Sri menarik napas pendek yang terasa sangat berat, lalu berkata.

"Belah saja perutku..." Ucapan yang keluar dari bibir pucat Bu Sri seketika membuat Lela syok.

Jantungnya seolah berhenti berdetak, dan darahnya mendadak berdesir dingin. Bagaimana mungkin dia melakukan itu? Bagaimana mungkin dia harus menguliti dan memotong perut majikannya sendiri dengan sebilah pisau kecil di tengah hutan yang gelap gulita ini?

Lela menggeleng kuat-kuat, menolak permintaan gila itu. Seluruh tubuhnya menolak mentah-mentah ide mengerikan tersebut.

"Tidak! Ibu bisa mati jika aku melakukan itu." Kata Lela dengan suara yang tercekat oleh isak tangis. Menorehkan pisau ke perut manusia tanpa peralatan medis sama saja dengan menjemput maut seketika.

Namun, Bu Sri tidak peduli lagi dengan nyawanya sendiri. Dia menatap Lela dengan tatapan yang begitu pilu, lalu berkata bahwa tidak ada pilihan lain. Lakukan saja apa yang dimintanya.

"Sekalipun kamu tidak melakukannya, aku juga akan mati, Lela. Dan bayiku juga akan mati," bisik Bu Sri dengan suara yang semakin melemah, menahan rasa sakit yang teramat sangat dari pendarahannya yang tak kunjung berhenti.

"Tapi jika kamu melakukan itu, setidaknya masih ada kemungkinan bayinya akan selamat." lanjut Bu Sri.

Kalimat itu diucapkan dengan ketulusan tertinggi seorang ibu yang rela mengorbankan tubuhnya demi kehidupan anaknya. Bu Sri memohon dengan sangat, mencengkeram tangan Lela lebih erat agar gadis itu mau melakukannya.

Di bawah bayang-bayang pohon beringin tua dan rimbunnya hutan malam yang mencekam, Lela dihadapkan pada pilihan paling mengerikan dalam hidupnya.

"Tidak, Nyonya... Saya tidak bisa! Saya tidak mau!" Suara Lela pecah dalam bisikan histeris yang tertahan. Seluruh tubuhnya berguncang hebat.

Kedua tangannya yang memegang sebilah cutter kecil pemberian Sumi bergetar begitu hebat hingga pisau itu nyaris terlepas dari jemarinya yang dingin.

Membayangkan bilah tajam itu harus merobek kulit dan daging wanita di hadapannya membuat akal sehat Lela serasa mau gila. Dia bukan seorang dokter. Dia hanyalah seorang pelayan. Bagaimana mungkin tangan yang biasa merapikan baju dan menyiapkan makanan ini harus berubah menjadi pisau jagal bagi majikannya sendiri?

"Aku mohon, Lela... Aku mohon, selamatkan anak ini." kata Bu Sri.

Suaranya semakin tipis, nyaris habis, namun setiap kata yang keluar dari bibirnya yang membiru terdengar bagai gada yang menghantam jantung Lela.

Bu Sri terus memohon, menggunakan sisa-sisa embusan napas terakhirnya hanya untuk meminta Lela membedah perutnya sendiri.

Air mata Bu Sri mengalir di sela-sela yang kian pucat. Genggaman tangannya pada lengan Lela melonggar perlahan, pertanda bahwa kesadarannya sudah berada di ambang batas. Detik-detik kematian sedang merayap naik ke dadanya, namun naluri seorang ibu menolak untuk menyerah sebelum anaknya terlahir ke dunia.

1
Maure Nia
bagus KK ceritanya....lanjut....
Maure Nia
pembalasan menuju yg kedua...JD penasaran Thor siapa LG dalangnya MLM itu🤔
Nurr Tika
satu persatu orang yg membunuh akan di teror
Nurr Tika
sri masih binggung
Nurr Tika
lanjut
Nurr Tika
sri di panggil ibunya
Maure Nia
balas dendamnya memang nunggu Sri Dateng...lanjut thor
Maure Nia
kan ketemu ibumu Sri🥺🥹hah jadi ikut mewek
Siti Yatmi
aduh..sri kalo kamu tau tentang riwayat kelahiran mu...auto sedih and pilu...ga kebayang penderitaan ibu mu...
Siti Yatmi
baru ngeh kalo udh 20 tahun setan baru nongol🤣
Maure Nia
Sri itu pasti ibumu
Maure Nia
Sri itu pasti ibumu
Yulia Lia
yang manggil Sri itu ibu kandungmu sri
Yulia Lia
hutan tempat Sri di lahirkan dengan cara yg sangat tragis
Nurr Tika
ada yg menyesatkan jalan mereka
Nurr Tika
rasman ktemu ga yah
Maure Nia
Sri kamu bisa ketemu ibu kamu
Nurr Tika
lanjut
Nurr Tika
siapa yg bwa rasman ya
Yulia Lia
ayo siapakah sosok misterius itu,,,apakah ada yg tau kejadian 20 THN silam
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!