Zeya diam terpaku ketika melihat suaminya sedang jalan bergandengan tangan dengan wanita yang tak Zeya kenal.
Ryan yang kebetulan juga melihat Zeya melengos tanpa mau menyapa istrinya tersebut, malah Ia bergegas meninggalkan Zeya.
Menikah dengan Ryan keputusan hidup yang Zeya sesali, manis di awal ternyata hanya kedok belaka, agar bisa menikah dengan mantan kekasihnya.
Zeya menerima perceraian itu dan melanjutkan hidupnya dengan pindah ke kota besar.
Akankan Zeya menemukan kebahagiaannya sendiri, atau Zeya terus di bayang bayangi oleh masa lalunya.
Dan bagaimana kehidupan rumah tangga Ryan setelah menikah dengan mantan kekasihnya itu?, Kenapa dia kembali mengejar cinta nya Zeya?
Pergulatan batin Zeya dimulai di saat tuan Gatra ingin menikahinya sedangkan mantan istri Gatra ingin kembali rujuk dengan Gatra, ditambah lagi dengan Ryan yang kembali membayangi hidupnya…
Akankan keputusan Zeya akan merubah semuanya..?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mande Qita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 15 Gatra Athariel Baskara
Hari pertama mengajar Zea dikagetkan sekaligus senang karena bocah laki laki yang menarik hati nya ternyata adalah murid yang akan Zea bimbing selama di sekolah ini.
“Miss Zea ada apa? dari tadi saya perhatikan terlihat happy” seloroh ibu kepala sekolah, Ia terkekeh melihat sikap Zea yang dari tadi menatap Arsen putra tuan Gatra donatur tetap di sekolah elite ini.
“Eh, nggak ada apa apa Bu, saya gemes melihat anak anak yang ada di kelas ini, mereka sangat lucu dan menggemaskan bikin hati tenang dan adem melihatnya” sahut Zea dengan sopan, masih dengan senyum manis di bibirnya
“Iya mereka semua sangat menggemaskan Miss, tapi jangan kaget kalau ada beberapa dari mereka yang nakal dan bersikap agresif” ibu kepala sekolah setuju dengan apa yang Zea katakan, kalau murid di sekolah ini memang sangat menggemaskan.
Dan ibu kepala sekolah juga mengingatkan Zea kalau mereka juga ada yang nakal dan susah diatur, agar Zea bisa mengantisipasinya dengan baik untuk kedepannya.
“Kalau masalah itu sama dimana mana Bu, umur umur seperti mereka ini memang sedang aktif aktif nya, dan mereka juga sangat butuh di perhatikan oleh kita Bu” sahut Zea
“Saa setuju dengan apa yang Miss Zea katakan, pada dasarnya mereka sama semua, memang umur seperti mereka banyak membutuhkan perhatian dari kita dan nanti mereka akan berebutan dan itu pasti sangat seru dan menguras tenaga”
Seloroh Bu Fatma, kepala sekolah yang masih awet dan penuh semangat di usianya yang sudah senja.
“Iya Bu, menjadi tantangan untuk kita ya Bu” imbuh Zea
“Saya mau memberitahu kalau Arsen, anak laki laki yang di ujung sana, Ia agak sulit untuk berinteraksi dengan yang lainnya” ungkap Bu Fatma
“Apa Arsen…” belum selesai Zea bertanya, Bu Fatma sudah memberikan jawaban yang cukup mengejutkan bagi Zea, karena dia sedikit memberikan perhatian khusus pada Arsen.
“Iya Miss Zea, kedua orang tuanya sudah bercerai satu tahun yang lalu, sejak saat itu Arsen menjadi pribadi yang sulit untuk didekati dan di ajak bicara, Ia lebih banyak menyendiri dan berdiam diri”
Bu Fatma memang sengaja menceritakan tentang Arsen pada Zea agar Zea bisa memberikan perhatian yang lebih pada Arsen, karena sudah beberapa guru yang mencoba untuk mendekati Arsen, tapi selalu ditolak oleh bocah tampan tersebut.
“Sepertinya Arsen menyimpan trauma tersendiri yang tak bisa diungkapkan pada orang lain, apalagi orang yang tak dikenalnya atau yang baru dikenalnya, memang perceraian kedua orang tua selalu yang menjadi korban adalah anak”
Penjelasan Zea hampir sama dengan pendapat guru guru yang pernah mengajar Arsen.
“Iya betul, Miss Zea benar…saya harap mis Zea bisa membantu Arsen keluar dari trauma yang sekarang dihadapinya, saya tidak berharap banyak tapi mis Zea bisa berusaha dengan baik, mana tahu Arsen bisa menerima kehadiran Miss Zea”
Bu Fatma menatap ke arah Arsen yang masih diam, tidak bergabung dengan temannya yang lain untuk bermain dan belajar, terlihat sorot mata kasihan Bu Fatma pada Arsen.
“Saya akan berusaha sebaik mungkin Bu Fatma, semua kembali lagi pada suasana hati Arsen dan lingkungan di rumahnya” sahut Zea
“Iya Miss Zea, tugas kita hanya membantu bukan untuk ikut campur terlalu dalam masalah kedua orang tua Arsen” Bu Fatma pun memberikan nasehat agar Zea tidak merasa terbebani dengan masalah Arsen.
“Siap Bu Fatma…” sahut Zea sambil tersenyum
“Iya mis Zea, ya sudah! kalau begitu saya tinggal dulu ya, selamat mengajar Miss Zea” Bu Fatma mengucapkan selamat bekerja untuk Zea
“Terima kasih Bu Fatma…”
Setelah memberi beberapa petunjuk Bu Fatma pun meninggalkan Zea dikelas bersama dengan murid murid yang akan belajar dengannya.
***
Apartemen Zea…
Zea dan Tari tengah berbaring di ranjang mereka sama sama sudah bersiap tidur dan bergosip seperti biasa yang mereka lakukan sebelum tidur.
“Bagaimana Ze, hari pertama kamu mengajar?”
“Menyenangkan…murid muridku sangat lucu dan juga pintar pintar” sahut Zea
“Syukurlah kalau kamu nyaman mengajar di sekolah itu Zea, ada cerita yang menarik nggak sehari tadi?”
“Ada yang sangat mengejutkan…”
“Apa Ze…jadi penasaran! apa hari ini kamu bertemu dengan duda keren? ha ha ha” seloroh Tari
“he he he belum ketemu dengan duda keren, Eh tau nggak?”
“Nggak tau, kan tadi aku nggak disana Zea…” jawab Tari dengan cepat
“Ha ha ha lucu banget sih cantik…”
“Cerita apa Zea..” tanya Tari
“Anak laki-laki yang jadi pembicaraan kita tadi…aku mengajarnya di kelas tadi” ungkap Zea
“apa Ze? Jadi bocah laki laki itu murid kamu Ze!” Tari antusias sekali ketika Zea menceritakan pengalaman mengajarnya di hari pertama.
“Iya, aku juga kaget ketika melihat dia berada dikelas dimana aku akan mengajar”
“Terus Ze….”
“Dan nama anak laki laki itu Arsen! dan Arsen korban perceraian dari kedua orang tuanya, anaknya pendiam dan tak mau bergaul dan berbaur dengan teman temannya yang lain, sepertinya Arsen menanggung beban dihatinya” ungkap Zea
“Waduh kasihan sekali bocah tampan itu, paling sulit mendekati anak kecil yang trauma dengan orang orang di sekelilingnya, pasti dia punya memori yang buruk ketika bersama mama papanya…” imbuh Tari
“Iya Tari, aku juga mikirnya begitu, mungkin terlalu sering melihat pertengkaran kedua orang tuanya sehingga Arsen membenci suasana ramai, yang mengingatkan dirinya pada suasana ribut ketika mama papanya bertengkar, makanya Arsen nggak mau berbaur dengan teman temannya yang lain, itu analisa aku saja”
Jelas Zea, Ia tadi memberikan perhatian khusus pada Arsen, belum ada tanggapan baik dari bocah laki laki itu, tapi Zea memakluminya.
“Kamu sudah tau belum siapa nama kedua orang tuanya Ze, mana tahu aku kenal! mereka yang sekolah disana kebanyakan anak anak orang terkenal jadi gampang untuk mencari informasi tentang mereka”
Tapi ingin tahu siapa nama kedua orang tua Arsen, karena dia cukup lama tinggal di kota ini, sedikit banyaknya Tari mendengar berita yang viral di kalangan orang kaya dan terkenal tersebut.
“Tadi aku sempat lihat data datanya Arsen, awalnya Bu Fatma keberatan tapi setelah aku kasih tahu alasannya dan akhirnya Bu Fatma mengerti, dan memberikan data lengkap tentang Arsen” ungkap Zea
“Kenapa nggak memberi data lengkap mengenai Arsen, kamu harus tahu latar belakang murid murid yang akan kamu temui setiap hari, setidaknya kamu tahu cara menghandle mereka satu satu” balas Tari
“Itu juga yang aku kasih tahu Bu Fatma”
“Terus siapa nama kedua orang tua Arsen?” tanya Tari penasaran
“Gatra Athariel Baskara dan Sarah kalau nggak salah nama kedua orang tua Arsen” jawab Zea, Ia lupa nama panjang mamanya Arsen
“Tuan Gatra Athariel Baskara? astaga Zea! jadi Arsen putranya tuan Gatra?” Tari terkejut mendengar nama kedua orang tua Arsen, Tari sampai duduk di atas ranjang yang mana tadinya dia sedang berbaring santai di sebelah Zea, hal itu membuat Zea heran.