"Sakit, Mas! Apa yang kamu lakukan ke aku itu sangat menyakiti hatiku! Gimana bisa kamu ngelakuin ini ke aku, dan itu adalah adikku sendiri. Lalu kamu, kenapa kamu tega sama kakak mu ini haah!!"
Suara Swastamita bergetar hebat ketika berkata demikia kepada suaminya, Erdio Rasmaluyo.
Betapa tidak bergetar, rasa sakit di hatinya sangat nyata. Suami yang memintanya untuk melepaskan karinya demi menjadi ibu rumah tangga seutuhnya ternyata malah berselingkuh dengan adik tirinya.
Yang lebih mengejutkan adalah, perselingkuhan yang dilakukan Erdio dan Medini itu diketahui oleh sang ibu.
Sakit hati Swastamita ketika mengetahui bahwa di rumah itu hanya dirinya yang tak tahu apa-apa.
Adik tiri yang sangat ia sayangi melebihi dirinya sendiri tega menjadi duri dalam daging pada rumah tangganya. Dan suami yang ia jadikan imam, malah menorehkan luka yang begitu dalam.
Bagaimana Swastamita menghadapi rasa sakit yang dirasakannya tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sakit, Mas! 07
Sedangkan di dalam kamar, Warsi tengah menatap tajam ke arah anaknya. Tatapan yang tanpa dijelaskan melalui mulut, sudah diketahui apa artinya oleh Medi.
"Kenapa? Kenapa Ibu melotot ke aku kayak gitu?"
Meski tahu makna tatapan Warsi, tapi Medi masih bertanya. Dia masih berpura-pura bodoh. Dimana hal tersebut tidak mempan bagi Warsi.
"Ndak usah kayak orang goblook Med. Kamu kenapa sekarang? Masuk angin lagi iya? Beneran masuk angin atau cuma pura-pura di depan Mbak mu? Atau kamu sengaja berakting kayak gitu biar Mbak mu curiga. NGOMONG MED!!" pekik Warsi. Dia sudah tidak tahan dengan tingkah anaknya tersebut. Semakin dewasa, Warsi merasa semakin tak mengenal anak perempuannya. Dan Warsi juga menjadi yakin bahwa Medi semakin mirip dengan orang yang sangat dibencinya.
"Dih Ibuk bisa-bisanya ya ngomong kayak gitu ke anak sendiri. Buk, yang anak Ibuk itu aku bukan Mita. Tapi kenapa ku lihat Ibuk malah kayak lebih mihak ke Mita ketimbang ke aku. Apapun yang ku lakukan seharusnya Ibuk lebih mihak ke aku. Yang anak Ibuk tuh aku bukan Mita. Dan ya bener, dugaan Ibuk bener. Apa yang ada di pikiran Ibuk bener. Aku hamil. Aku hamil dua bulan sekarang."
Jegleeeer
Bak disambar petir, kepala Warsi benar-benar seolah muncul suara guntur yang sangat keras itu. Ia bahkan sampai terjatuh duduk di atas ranjang milik anaknya.
Kepala Warsi menggeleng cepat sambil berkata, "Nggak mungkin. Kamu bohong kan? Kamu nggak hamil sama Erdio kan, Med? Katakan sama Ibuk, Med?"
Warsi bangkit dari duduknya. Dia berjalan ke arah Medi sambil mencengkeram kedua bahu putrinya dan mengencangkannya dengan kuat. Warsi sungguh tak ingin mendengar fakta itu.
"Kalau bukan sama Mas Erdio terus sama siapa lagi, Buk. Apa Ibu pikir aku ini wanita murahan yang bisa berhubungan ranjang sama siapa aja. Aku cuma ngelakuin itu sama Mas Erdio. Jadi ya anak ini anak Mas Erdio.
Blak!
"Apa yang baru saja aku denger ini. Siapa yang hamil dengan siapa!" SIAPA!"
Warsi dan Medi terkejut ketika melihat sosok Mita yang berada di ambang pintu sambil menatap mereka dengan tajam. Meski matanya berkaca-kaca namun ekspresi wajah itu jelas menunjukkan kemarahan yang luar biasa.
Beberapa waktu yang lalu, Erdio yang baru saja pulang kerja memilih membawa Mita ke kamar. Erdio juga berkata kepada istrinya untuk tetap di kamar dan tidak mendatangi kamar Medi.
Akan tetapi Mita yang khawatir dengan adiknya, tak mengindahkan ucapan Erdio. Ketika Erdio mandi, Mita keluar dari kamar dan menuju ke kamar Medi.
Namun perkataan Medi dan Warsi seketika membuat Mita terkejut. Ia yang awalnya hendak mengetuk pintu dengan pelan alhasil membuka pintu kamar itu dengan kasar tanpa permisi.
Hatinya hancur mendengar ucapan Medi tentang kondisinya saat ini. Hamil, adiknya hamil. Dan yang dia dengar tadi adalah Medi hamil hasil dari hubungannya dengan Erdio.
Ingin sekali Mita menganggap bahwa telinganya yang bermasalah. Namun perkataan itu terlalu jelas untuk dianggap salah dengar.
"M-mita, i-ini ... "
Warsi berusaha bicara. Dia berjalan ke arah Mita dan hendak merengkuh tubuh anak sambungnya.
Namun Mita enggan. Dia menampik tangan Warsi dan bahkan mendorong wanita paruh baya itu untuk menjauh darinya. Warsi terhenyak, terlebih ketika melihat mata Mita. Selama ini tak pernah Mita menunjukkan tatapan seperti ini. Tatapan yang mengandung kemarahan dan bahkan rasa jijik terhadap sesuatu.
"Coba kamu jelaskan sekarang Medi, apa arti dari perkataanmu tadi?" ucap Mita sambil berjalan mendekat ke arah adiknya.
Medi terdiam. Nyalinya menciut, padahal tadi dia begitu lantang berbicara. Padahal sebelum-sebelumnya dia begitu percaya diri dengan hubungannya denga Erdio dan mengesampingkan Mita.
Tapi sekarang, Medi menundukkan kepalanya tak berani menatap mata sang kakak. Dia juga meremass kedua tangannya, menyalurkan rasa gugup dan takutnya.
"Kenapa diem aja? Aku pengen denger dan lihat langsung kamu ngomong soal kehamilanmu itu. Kayam tadi, kayak tadi dimana kamu sangat percaya diri dengan ucapanmu."
Diam, Medi hanya diam. Tubuhnya sedikit gemetar karena Mita benar-benar menjelma menjadi orang yang berbeda sekarang.
"NGOMONG MEDINI!!! JANGAN JADI BISU KAMU!!!"
Mita berteriak dengan kencang. Teriakan yang sangat menggelegar sehingga membuat Erdio yang berada di kamar pun mendengar.
Erdio terkejut, tak pernah dia mendengar Mita berbicara seperti itu. Ia pun akhirnya berjalan cepat menuju ke sumber suara, menuju ke tempat dimana Mita berada sekarang.
Erdio terkejut ketika mendapati tiga wanita di rumah ini berada dalam suasana sangat canggung. Tapi yang lebih mengejutkan bagi Erdio adalah tatapan mata Mita yang tajam sehingga terkesan menakutkan.
"Y-yank, ada apa ini? Kamu kenapa tiba-tiba teriak tadi?" tanya Erdio hati-hati. Baru kali ini dia mendapati Mita yang bersikap seperti ini.
"Hah pas sekali kamu dateng. Coba jelasin ke aku, apa maksud dari Medi hamil anak kamu? JELASKAN SEKARANG JUGA!!"
APA??
Erdio terkejut, sangat terkejut malah. Sampai-sampai tubuhnya oleng dan hampir terjatuh.
"K-kamu ngomong apa sih yank? Hahaha jangan bercanda di saat kayak gini. Nggak lucu yank? Bener kan Med?" Erdio mencoba untuk tenang, dia juga bersikap seolah-olah tidak ada apa-apa. Akan tetapi suasana di kamar itu semaki awkward. Dan tawa Erdio yang juga dipaksakan itu akhirnya senyap.
"Mitc nggak kayak gitu. Kamu salah paham sayang. Nggak mungkin Medi hamil sama aku. Aku suami kamu, bukan suami Medi. Jadi ya nggak mungkin lah Medi hamil anak aku. Mungkin saja Medi hamilnya sama orang lain kan? Aku juga nggak tahu kenapa Medi bisa ngomong kayak gitu."
Doeeeng
Medi yang sedari tadi menunduk, seketika langsung menegakkan kepalanya ketika mendengar ucapan Erdio. Rahangnya mengeras karena marah. Dia jelas tidak menyangka bahwa Erdio akan cuci tangan seperti ini.
Tidak terima dituduh hamil dengan pria lain, Medi pun mengelak kata-kata Erdio dengan membuka fakta yang sesungguhnya.
"Janga munafik Mas. Jangan cuci tangan dari apa yang udah kita lakuin. Anak ini anak kamu, aku hamil anak kamu. Sangat sering kita melakukannya, dan dengan mudahnya kamu ngelak? Padahal semalem pun kamu datang ke sini buat ngelakuin itu sama aku."
Duaaarrr
Mita terkejut, Erdio pun sama. Mita terkejut karena ternyata suami dan adiknya main gila di belakangnya. Dan Mita sadar bahwa hal ini terjadi sudah lama dimana Warsi juga mengetahuinya.
Mita tahu itu ketika melihat ke arah Warsi. Ibu tirinya itu menundukkan wajahnya diiringi air mata yang terus merembes membasahi pipi.
"Brengsek kalian semua!!! Kalian semua beneran gila!!! Bajingaaaan!!! Aaaarghhh!!! Sakit, Mas! Apa yang kamu lakukan ke aku itu sangat menyakiti hatiku! Gimana bisa kamu ngelakuin ini ke aku. Apa kurangnya aku di mata mu, Mas!! Aku udah berusaha memenuhi semua keinginanmu!! Aku resign dari kerjaan karena kamu ingin sepenuhnya aku mengurus dirimu!! Tapi kenapa kamu tega menyakitiku kayak gini. Arghhhhh!!! Lalu kamu Medi. Apa salah ku ke kamu, Med? Aku sangat menyayangi Mu. Aku mencintaimu layaknya kamu adalah adik kandungku sendiri. Tapi, ini balasan mu ke aku. Tidur dengan suami ku? Membuka kaki mu untuk suamiku? Memberikan keperawanan mu untuk suami dari kakakmu. Kenapa kamu tega sama kakak mu ini haah!"
TBC
typo kak
stidak nya kasih epilog lh,spya tau lingga nnggu Mita menerima perasaannya brapa lama,,