Rebeca Alexander terbiasa mendapatkan segalanya. Kaya, cantik, dan berpengaruh, ia tak pernah ragu merendahkan Cika, gadis sederhana yang berani menjadi saingannya di kampus.
Bagi Rebeca, Cika hanyalah gadis miskin yang tidak tahu tempat.
Namun hidupnya hancur saat sang ayah membawa seorang wanita baru ke rumah mereka. Dan wanita itu adalah Cika.
"Aku tidak akan pernah menganggapmu sebagai ibu tiriku!"
Cika menyahut dingin. "Bagus. Karena aku juga tidak berniat menggantikan ibumu. Aku hanya akan menjadi istri ayahmu. Dan mulai detik ini, aku punya aturan baru di rumah ini ... belajarlah untuk menghargai orang lain, terutama aku."
Bisakah dua gadis seumuran dan keras kepala itu bersatu dan akur? Atau malah jadi musuh selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35
Pagi itu, Robinson Alexander dan Cika, ditemani Hasan selaku sekretaris pribadi Robinson sekaligus saksi, serta Astri, istri Hasan sudah tiba di KUA.
Kebaya putih gading dengan model anggun membalut tubuh Cika dengan begitu indah. Rambutnya disanggul dengan rapi, membuat wajahnya tampak semakin teduh.
Sementara Robinson mengenakan setelan jas hitam dipadukan dengan kemeja putih di dalamnya. Penampilannya sederhana, tetapi tetap memancarkan wibawa.
Astri menghampiri Cika dan membenarkan rambutnya sedikit. "Kamu cantik sekali, Cika," ucapnya tulus.
Pipi Cika langsung memerah. "Terima kasih, Bu Astri. Semua ini juga berkat Ibu."
Astri tersenyum hangat. "Semoga hari ini menjadi awal kebahagiaanmu."
Tak lama kemudian, penghulu mempersilakan mereka memasuki ruangan akad. Robinson dan Cika duduk berdampingan di hadapan penghulu. Jantung Cika berdegup begitu cepat hingga telapak tangannya terasa dingin.
Karena kedua orang tua Cika telah meninggal dunia dan tidak ada wali nasab yang berhak menikahkannya, prosesi akad dilaksanakan menggunakan wali hakim sesuai ketentuan.
Penghulu membuka acara dengan membaca bismillah, dilanjutkan nasihat singkat tentang makna pernikahan sebagai ibadah dan amanah yang harus dijaga oleh suami maupun istri.
Suasana ruangan menjadi hening ketika wali hakim mengambil tempat di hadapan Robinson.
Robinson segera menjabat tangan wali hakim dengan mantap. Dengan suara tegas, wali hakim mengucapkan ijab. "Saya nikahkan dan kawinkan engkau, Robinson Alexander bin Alexander dengan Cika binti Ahmad dengan mas kawin satu set perhiasan berlian dan satu unit rumah dibayar tunai."
Tanpa ragu, Robinson langsung menjawab dengan lantang, "Saya terima nikah dan kawinnya Cika binti Ahmad dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
"Bagaimana para saksi?" tanya penghulu.
"Sah!" Suara Hasan, dan saksi lainnya terdengar hampir bersamaan.
"Alhamdulillah." sahut semuanya lega.
Air mata langsung menggenang di pelupuk mata Cika. Ia menutup mulutnya pelan, tak mampu menyembunyikan rasa haru. "Mulai sekarang, aku sudah resmi jadi istrinya Pak Robinson," batinnya.
Setelah doa dipanjatkan bersama, penghulu mempersilakan Robinson dan Cika menandatangani buku nikah. Meski jemarinya sedikit gemetar, Cika berhasil membubuhkan tanda tangannya. Robinson kemudian melakukan hal yang sama.
Penghulu menyerahkan buku nikah kepada keduanya. "Selamat menempuh hidup baru. Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah."
"Aamiin, terima kasih, Pak," jawab Robinson.
"Aamiin," lirih Cika.
Astri yang sejak tadi menahan haru langsung memeluk Cika. "Selamat ya, Cika."
"Terima kasih, Bu Astri."
Hasan pun menyalami Robinson. "Selamat, Pak. Semoga rumah tangga Bapak selalu diberkahi Allah."
"Terima kasih, Hasan." Robinson kemudian menoleh ke arah Cika. Tatapan keduanya bertemu. Pria itu mengulurkan tangan sambil tersenyum tipis. "Ayo kita pulang."
Wajah Cika kembali memerah. Dengan malu-malu, ia menyambut uluran tangan suaminya. "Iya, Mas."
Sekitar satu jam kemudian, mobil yang dikendarai Robinson akhirnya memasuki halaman rumah megah miliknya.
Begitu mobil berhenti di depan teras utama, dua orang asisten rumah tangga dan para penjaga yang sejak tadi menunggu langsung berbaris rapi menyambut kedatangan majikan mereka.
Robinson terlebih dahulu turun dari kursi pengemudi. Ia kemudian berjalan memutar dan membukakan pintu untuk Cika. "Pelan-pelan," ucapnya lembut sambil mengulurkan tangan.
Cika menyambut uluran tangan itu dengan gugup. Begitu kedua kakinya menapak di halaman rumah, matanya langsung membelalak. Rumah yang kini akan menjadi tempat tinggalnya begitu megah daripada rumah yang diberikan Robinson sebagai mas kawin kepadanya. Halaman luas dengan taman yang tertata indah, air mancur di tengah pelataran, serta bangunan bergaya modern itu membuatnya sejenak kehilangan kata-kata. "Inikah... rumahku sekarang?" batinnya tak percaya.
Belum sempat rasa gugupnya mereda, dua orang asisten rumah tangga dan petugas keamanan serempak membungkukkan badan.
"Selamat datang, Tuan."
"Selamat datang, Nyonya."
Sapaan itu membuat Cika refleks menoleh ke belakang, seolah mengira ada orang lain yang dimaksud.
Robinson tersenyum kecil melihat tingkah istrinya. "Mereka sedang menyapamu, Cika."
Cika sontak menatap para karyawan rumah itu dengan wajah kikuk. "I-iya... terima kasih."
Salah seorang asisten rumah tangga senior maju selangkah. "Selamat datang di rumah ini, Nyonya. Perkenalkan, saya Mbok Nining. Mulai hari ini, kami semua siap membantu dan melayani Nyonya."
Cika buru-buru menggeleng. "Jangan memanggil saya 'Nyonya'. Panggil saja Cika."
Seketika asisten rumah tangga dan petugas keamanan saling berpandangan dengan canggung.
Robinson lalu berkata pelan, "Mulai hari ini kamu adalah istri saya, Cika. Mereka menghormatimu sebagaimana mereka menghormati saya. Biarkan mereka memanggilmu sesuai kedudukanmu."
Cika menggigit bibir bawahnya. Perasaan asing itu kembali memenuhi dadanya. Ia mengangguk pelan. "Baik, Mas."
Robinson tersenyum puas, lalu menggenggam lembut tangan istrinya.
"Ayo masuk. Ini rumahmu sekarang."
Dengan langkah perlahan, Cika memasuki rumah mewah itu sebagai Nyonya Robinson Alexander untuk pertama kalinya.
Robinson menuntun Cika menaiki tangga menuju lantai dua. Jantung Cika kembali berdebar. Sejak memasuki rumah itu, ia belum berhenti dibuat takjub oleh setiap sudutnya. Mereka berhenti di depan sebuah pintu kayu double berukuran besar.
Robinson membuka pintu itu perlahan.
"Masuklah."
Cika melangkah ragu. Namun, baru satu langkah memasuki ruangan, matanya langsung membulat sempurna. "Ya Allah...." Mulutnya sampai menganga. Kamar itu bahkan jauh lebih besar daripada rumahnya yang selama ini ia tinggali bersama Sinta.
Di tengah ruangan berdiri ranjang king size dengan seprai putih bersih. Sebuah sofa panjang menghadap televisi layar lebar yang menempel di dinding. Di sisi lain terdapat rak buku, serta jendela kaca tinggi yang memperlihatkan pemandangan taman samping.
Tak hanya itu. Di samping kamar terdapat walk-in closet yang luas, dipenuhi lemari pakaian berbahan kayu premium. Tak jauh dari sana, sebuah pintu lain mengarah ke kamar mandi mewah dengan bathtub marmer, pancuran air hangat, serta wastafel ganda.
Cika berputar perlahan sambil terus mengamati seisi ruangan. "Masya Allah... kamarnya benar-benar luas dan mewah sekali, Mas," ucapnya lirih dengan wajah masih dipenuhi keterkejutan.
Robinson tersenyum tipis. "Iya. Mulai hari ini, kamar ini adalah kamarmu juga, Cika."
Cika spontan menelan ludah. Ucapan sederhana itu justru membuat wajahnya memerah hingga ke telinga. "Iya, Mas. Terima kasih."
Robinson mengangguk. "Iya. Dan saya sudah mengisi lemari itu dengan pakaianmu."
Cika segera menghampiri walk-in closet. Saat pintunya dibuka, napasnya langsung tercekat. "Masya Allah..." Deretan gaun, celana jeans, kulot, pakaian kasual, mukena, jaket, sweater dengan berbagai warna, hingga tas dan sepatu tersusun begitu rapi. Bahkan semuanya masih lengkap dengan label. Hanya pakaian dalam saja yang tidak ada. "Ini... ini semua buat saya?" tanyanya dengan suara bergetar.
"Iya."
"Tapi... ini terlalu banyak, Mas."
"Saya hanya ingin memastikan kamu, sebagai istri saya tidak kekurangan apa pun."
Air mata Cika kembali menggenang. Ia tidak pernah membayangkan akan diperlakukan seistimewa ini oleh Robinson.
Dengan perlahan ia menoleh ke arah Robinson. "Terima kasih, Mas."
Robinson tersenyum tipis. "Tidak perlu berterima kasih terus. Sekarang rumah ini adalah rumahmu, dan semua yang ada di dalamnya juga untukmu."
Mendengar kalimat itu, Cika semakin menundukkan kepala. Hatinya dipenuhi rasa haru sekaligus tekad untuk menjadi istri yang baik bagi pria yang sudah begitu menghargainya. "Benar kata nenek. Jika suami yang jauh usianya lebih tua... kebanyakan akan lebih menghargai, menyayangi, mencintai dan mengayomi kita," batin Cika mengingat perkataan almarhum neneknya.
Di lantai bawah, beberapa asisten rumah tangga dan petugas keamanan yang baru saja menyambut kedatangan Robinson dan Cika berkumpul di area dapur.
Mereka saling bertukar pandang sebelum akhirnya salah seorang berbicara dengan suara pelan. "Istri baru Tuan... masih muda banget, ya. Kayaknya seumuran sama Non Beca, ya?"
"Iya," sahut yang lain. "Cantik lagi."
"Tapi... menurut kalian dia orangnya baik dan tulus nggak, ya?" timpal Bi Nunik.
"Entahlah." Petugas keamanan mengangkat bahu. "Soalnya selama ini, banyak wanita yang mendekati Tuan karena harta dan jabatannya."
"Iya."
"Jangan-jangan... Nyonya yang sekarang juga begitu," cicit Nunik menebak.
Seorang petugas keamanan menggeleng pelan. "Jangan suudzon dulu. Kita bahkan baru pertama kali bertemu dengan Nyonya Cika."
"Iya juga, sih."
"Yang penting kita lihat saja nanti bagaimana sikap beliau kepada kita," ujar Mbok Nining bijaksana.
Pak Joko, sopir pribadi Robinson ikut nimbrung. "Benar. Jangan berprasangka buruk dulu."
gimana kl tahu mama kebanggaanmu itu gk lbh dr jalang kelakuannya+ lo dah jd korban taruhan jg berbagi cinta selingkuhan mamamu...🤫🙉