Di Desa Windu Sari yang tenang, hiduplah Bobon, bocah polos yang selalu lapar dan membantu Nenek Mira menjual tahu. Tanpa sadar, ia memiliki kekuatan aneh yang kadang muncul tiba-tiba.
Nenek Mira menyimpan rahasia besar tentang asal-usulnya. Ketika peristiwa tak terduga terjadi, sosok asing mulai mengintai desa. Siapa sebenarnya Bobon, dan apa yang tersembunyi dalam dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GEELANG, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 - Bobon Membantu Panen
Malam berlalu dengan gelisah. Bobon tidak bisa tidur nyenyak setelah melihat bayangan pemain seruling di taman. Pikiran tentang Sekte Iblis yang sudah mendekati istana membuatnya waspada. Tapi ketika pagi tiba, dia memutuskan untuk tidak membiarkan ketakutan menguasainya. Dia harus tetap kuat dan fokus pada tujuannya.
Sarapan pagi berlangsung seperti biasa. Keluarga kerajaan berkumpul di ruang makan. Putri Laras duduk di samping Bobon dan terus mengisi piringnya dengan berbagai makanan. Bobon menyantap semuanya dengan lahap.
"Kau terlihat lelah, Bobon," kata Putri Laras. "Apa kau tidak tidur nyenyak?"
"Aku tidur, Putri. Tapi ada sesuatu yang menggangguku."
"Apa itu?"
Bobon ragu sejenak. Dia tidak ingin membuat Putri Laras khawatir. Tapi dia juga tidak mau berbohong. "Aku melihat seseorang di taman tadi malam. Pemain seruling. Tapi saat aku turun, dia sudah menghilang."
Putri Laras mengerutkan kening. "Pemain seruling di tengah malam? Itu aneh. Biasanya tidak ada orang di taman setelah matahari terbenam."
"Aku juga merasa aneh. Tapi mungkin hanya bayanganku saja."
Putri Laras tidak sepenuhnya percaya, tapi dia tidak memaksa. "Kalau kau khawatir, kau bisa bicara dengan ayahku. Dia akan menyelidikinya."
"Baiklah, Putri. Terima kasih."
Setelah sarapan, Bobon berjalan ke taman untuk menghirup udara segar. Dia ingin menenangkan pikirannya sebelum memulai hari. Tapi saat dia tiba di taman, dia melihat pemandangan yang berbeda dari biasanya.
Banyak petani dari desa-desa sekitar berkumpul di halaman belakang istana. Mereka membawa karung-karung berisi hasil panen. Tampaknya ada acara panen raya yang sedang berlangsung.
Bobon mendekat dan melihat para petani sibuk memindahkan karung-karung berat. Beberapa dari mereka terlihat kelelahan. Ada yang mengangkat karung dengan susah payah, ada yang duduk beristirahat karena kehabisan tenaga.
"Permisi," kata Bobon pada seorang petani tua. "Ada yang bisa aku bantu?"
Petani itu menatap Bobon dengan heran. "Kau anak istana? Tapi kau mau membantu kami?"
"Aku bukan anak istana. Aku tamu. Aku suka membantu."
Petani itu tersenyum. "Baiklah, Nak. Kalau kau mau, tolong angkat karung-karung itu ke gerobak. Tapi hati-hati, berat sekali."
Bobon mengangguk dan mendekati tumpukan karung. Dia mengangkat satu karung dengan mudah, seolah-olah itu hanya karung berisi kapas. Petani itu terkejut.
"Kau... kau bisa mengangkatnya?"
"Entahlah. Rasanya ringan."
Bobon terus mengangkat karung-karung itu satu per satu. Dalam waktu singkat, dia sudah memindahkan puluhan karung ke gerobak. Para petani lainnya berhenti bekerja dan menonton dengan takjub.
"Anak ini luar biasa!" seru seorang petani. "Dia seperti punya kekuatan dewa!"
"Apa kau pendekar?" tanya petani lain.
Bobon menggaruk kepalanya. "Aku hanya Bobon. Aku suka membantu."
Para petani tertawa dan bertepuk tangan. Mereka senang ada yang membantu mereka. Bobon terus bekerja tanpa lelah. Dia mengangkat karung, memindahkan hasil panen, dan membantu mengatur gerobak.
Setelah beberapa jam, semua hasil panen sudah berpindah. Para petani beristirahat di bawah pohon rindang. Mereka makan bekal mereka dan berbagi cerita.
Bobon duduk di antara mereka. Seorang petani tua memberinya sepotong roti dan segelas air. "Makanlah, Nak. Kau pasti lelah."
"Aku tidak lelah," kata Bobon sambil menerima roti itu. "Tapi aku lapar."
Para petani tertawa. "Kau memang anak yang baik. Mau membantu kami tanpa pamrih."
"Aku suka membantu. Nenek Mira selalu bilang, berbuat baik tidak perlu imbalan."
"Mendengar namamu, aku ingat sesuatu," kata petani tua itu. "Kau Bobon, kan? Bocah yang menyelamatkan desa dari serangan bandit?"
Bobon mengangguk malu-malu. "Aku hanya melakukan apa yang benar."
"Kau pahlawan, Bobon. Seluruh desa-desa di sekitar sini sudah mendengar tentangmu. Kau menginspirasi kami."
Bobon tidak tahu harus berkata apa. Dia tidak pernah menganggap dirinya pahlawan. Dia hanya melakukan apa yang dia rasa benar.
Saat dia duduk bersama para petani, Sari datang menghampiri. Gadis kecil pengungsi itu membawa sekeranjang buah-buahan.
"Bobon! Aku dengar kau membantu panen," kata Sari dengan senyum cerah.
"Iya. Aku suka membantu."
"Aku bawa buah untukmu. Ini dari ibuku. Dia bilang terima kasih sudah melindungi kami."
Bobon menerima keranjang itu dengan senang hati. "Terima kasih, Sari. Sampaikan salam pada ibumu."
Sari duduk di sampingnya. Dia mengamati Bobon dengan mata penuh kekaguman. "Kau benar-benar orang yang baik, Bobon. Aku belum pernah bertemu orang sepertimu."
"Kau juga baik, Sari. Kau merawat adik-adikmu sendiri."
Sari tersenyum sedih. "Aku harus melakukannya. Mereka tidak punya siapa-siapa lagi."
Bobon merasakan simpati yang mendalam. Dia tahu bagaimana rasanya kehilangan keluarga. Dia tahu bagaimana rasanya harus kuat untuk orang lain.
"Aku akan membantu kalian," kata Bobon. "Apapun yang terjadi, aku akan melindungi kalian."
Sari menatap Bobon dengan mata berkaca-kaca. "Terima kasih, Bobon. Itu berarti sangat banyak bagiku."
Mereka duduk bersama dalam keheningan yang nyaman. Bobon menikmati buah yang diberikan Sari sambil mendengarkan cerita para petani tentang kehidupan mereka.
Tiba-tiba, terdengar suara teriakan dari kejauhan. Bobon menoleh dan melihat sekelompok orang berlarian ke arah istana. Wajah mereka panik.
"Apa yang terjadi?" tanya Bobon.
Seorang petani berlari mendekat. "Ada serangan! Di desa seberang sungai! Makhluk-makhluk aneh menyerang!"
Bobon langsung berdiri. "Makhluk aneh? Seperti apa?"
"Seperti binatang buas, tapi lebih besar. Mereka menghancurkan rumah-rumah dan menyerang penduduk."
Bobon teringat monster-monster buatan Jenderal Pembuat Monster yang pernah dia lawan. "Aku harus pergi ke sana!"
"Bobon, tunggu!" teriak Sari. "Kau tidak bisa pergi sendirian!"
"Tidak ada waktu, Sari. Aku harus menolong mereka."
Bobon berlari menuju gerbang istana. Kakinya bergerak dengan kecepatan luar biasa. Dalam hitungan detik, dia sudah berada di luar istana dan berlari menuju sungai.
Di seberang sungai, dia melihat pemandangan yang mengerikan. Desa itu sedang terbakar. Makhluk-makhluk besar berjalan di antara reruntuhan. Mereka memiliki tubuh seperti manusia tapi lebih besar, dengan kulit hitam dan mata merah menyala.
Bobon tidak takut. Dia melompat melintasi sungai dan mendarat di tengah desa. Makhluk-makhluk itu menoleh ke arahnya dan menggeram.
"Jauhi mereka!" teriak Bobon.
Dia berlari ke arah makhluk-makhluk itu. Tinjunya menghantam salah satu dari mereka dengan keras. Makhluk itu terpental dan jatuh ke tanah. Tapi bangkit kembali dengan cepat.
"Kuat juga," gumam Bobon.
Makhluk-makhluk itu mengepungnya. Bobon menghindari serangan demi serangan dengan gerakan yang lincah. Tubuhnya yang gemuk bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Setiap pukulan yang dia lepaskan mengenai sasaran dengan tepat.
Tapi makhluk-makhluk itu terus bangkit. Mereka sepertinya tidak bisa dikalahkan dengan pukulan biasa.
Bobon ingat pelajaran dari Tabib Hitam tentang jantung monster di perut. Dia mengarahkan pukulannya ke perut makhluk-makhluk itu. Satu per satu, mereka tumbang dan tidak bangkit lagi.
Setelah makhluk terakhir jatuh, Bobon berdiri dengan napas terengah-engah. Warga desa keluar dari persembunyian mereka dan bersorak.
"Kau menyelamatkan kami!" teriak seorang wanita. "Terima kasih!"
Bobon tersenyum meskipun lelah. "Apakah ada yang terluka?"
"Beberapa orang luka-luka. Tapi tidak ada yang tewas berkatmu."
Bobon menghela napas lega. Dia berjalan di antara reruntuhan untuk memastikan tidak ada makhluk yang tersisa. Saat dia memeriksa sudut desa, dia melihat sesuatu di tanah. Sebuah seruling hitam.
Bobon memungutnya. Seruling itu dingin di tangannya. Ada ukiran aneh di permukaannya. Ukiran yang sama dengan yang dia lihat di kain hitam tadi malam.
"Ini milik Jenderal Seruling Kematian," bisik Bobon. "Jadi dia yang mengirim makhluk-makhluk ini."
Bobon menggenggam seruling itu erat. Matanya menajam. "Dia sudah dekat. Dan dia akan menyerang lagi."
Dia memasukkan seruling itu ke sakunya dan kembali ke istana. Di sepanjang jalan, dia merenungkan apa yang harus dilakukan. Jenderal Seruling Kematian adalah salah satu dari 10 Jenderal Iblis yang paling berbahaya. Melodinya bisa membunuh ribuan orang dalam sekejap.
"Tapi aku tidak takut," gumum Bobon. "Aku akan menghadapinya. Untuk Nenek Mira. Untuk Sari. Untuk semua orang."
Saat dia tiba di istana, Pangeran Bima menyambutnya dengan wajah khawatir. "Bobon! Aku dengar kau pergi ke desa sendirian!"
"Aku harus, Pangeran. Mereka butuh bantuan."
"Kau sangat berani. Tapi lain kali, panggil kami. Kau tidak perlu menghadapi semua ini sendirian."
Bobon mengangguk. "Baiklah, Pangeran. Aku akan ingat itu."
Pangeran Bima melihat seruling di tangan Bobon. "Apa itu?"
"Seruling milik Jenderal Seruling Kematian. Aku menemukannya di desa."
Pangeran Bima mengerutkan kening. "Jadi mereka sudah sangat dekat. Ini bukan kabar baik."
"Tapi aku tidak akan menyerah, Pangeran. Aku akan melawan mereka."
Pangeran Bima menepuk pundak Bobon. "Aku percaya padamu, Bobon. Kita semua percaya padamu."
Bobon tersenyum. Di dalam hatinya, ada tekad yang lebih kuat dari sebelumnya. Dia akan melindungi semua orang. Apapun yang terjadi.
Malam harinya, Bobon duduk di kamarnya dan memandangi seruling hitam itu. Dia tidak bisa menjelaskan mengapa, tapi dia merasa ada hubungan aneh antara dirinya dan seruling itu. Seperti ada kenangan yang tersembunyi di baliknya.
Dia memejamkan mata dan mencoba merasakan seruling itu. Tiba-tiba, dia mendengar melodi di kepalanya. Melodi yang sama dengan yang dia dengar tadi malam. Tapi kali ini, melodi itu membawa kenangan.
Dia melihat seorang wanita dengan seruling di tangannya. Wanita itu tersenyum padanya. "Kau harus pergi, Bobon. Jangan biarkan mereka menangkapmu."
"Aku tidak akan pergi tanpamu!" teriak Bobon dalam kenangan itu.
"Kau harus. Aku akan menunggumu. Di akhir perjalanan ini, kita akan bertemu lagi."
Bobon membuka matanya dengan napas terengah-engah. Air mata mengalir di pipinya. Dia sekarang tahu siapa pemain seruling itu. Bukan Jenderal Seruling Kematian. Tapi seseorang yang sangat dia cintai. Seseorang yang telah hilang.
"Aku akan menemukanmu," bisik Bobon. "Aku berjanji akan menemukanmu."
Dan di bawah sinar bulan, segel keempat di dadanya retak lebih lebar.