Di balik gaun megah bertabur mawar merah dan dansa yang begitu mesra, tersimpan sebuah rahasia yang mematikan.
Melanie mengira ia telah menemukan cinta sejatinya pada diri Glen, seorang pria menawan yang memperlakukannya bak seorang ratu tanpa cela, seperti mawar merah yang indah tanpa duri (Thornless Red Rose). Namun, Melanie tidak pernah tahu bahwa di balik tatapan penuh kehangatan itu, Glen sedang merajut jaring balas dendam yang kejam terhadap keluarganya.
Ketika kebenaran perlahan mulai terkuak, Melanie harus menghadapi kenyataan pahit: apakah cinta Glen kepadanya murni nyata, ataukah ia hanya sekadar bidak dalam permainan balas dendam yang dirancang untuk menghancurkan hidupnya?
Sebuah kisah tentang cinta yang tumbuh di atas bara dendam, di mana batas antara ketulusan dan pengkhianatan menjadi begitu tipis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyangalan di Ujung Badai
Napas Glen memburu, memutus keheningan setelah bentakan kasarnya menggema di sepanjang selasar bangsal RSJ Pakem. Dorongan emosi yang meluap-luap membuat dadanya naik-turun dengan cepat. Di hadapannya, Melanie berdiri mematung dengan bahu yang bergetar hebat. Air mata gadis itu mengalir deras, membasahi pipinya yang kian memucat akibat hunjaman belati imajinasi Glen yang teramat kejam.
Thone yang sejak tadi berdiri di belakang akhirnya tidak bisa tinggal diam.
Ia melangkah maju dengan cepat, menempatkan dirinya di antara Glen dan Melanie, lalu menatap Glen dengan pandangan penuh amarah sekaligus kekecewaan yang mendalam.
"Cukup, Glen! Cukup!" bentak Thone, suaranya tertahan namun sarat akan penekanan.
"Kamu sudah gila! Kamu melempar semua narasi fiksi dari otak sasteramu itu ke wajah orang yang sama sekali tidak punya dosa! Kamu menutup mata dari kenyataan hanya karena kamu takut kehilangan alasan untuk membenci!"
"Dia anak dari Hermawan, Thone! Dia anak dari orang yang—" Glen hendak memotong, namun kalimatnya langsung dipangkas oleh Melanie dengan suara yang meninggi di antara isak tangisnya.
"Bukan, Glen! Bukan ayahku!"
Melanie melangkah maju, mengabaikan jarak aman yang dibuat Thone.
Ia menatap lurus ke dalam sepasang mata elang Glen yang kini sedikit melebar karena terkejut. Dengan tangan yang gemetar, Melanie merogoh tas kecilnya dan mengeluarkan sebuah salinan dokumen kerja sama tua serta surat pernyataan pengakuan yang sempat ia bawa dari ruang kerja ayahnya semalam.
"Bapakku tidak pernah merampas apa pun dari keluargamu, Glen," bisik Melanie, suaranya parau namun terdengar sangat bergetar oleh kebenaran yang selama belasan tahun ini terkunci rapat. "Dalang di balik kebangkrutan perusahaan ayahmu... orang yang menggelapkan semua uang operasional dan memalsukan dokumen atas nama perusahaan bapakku... adalah Hermawan. Ayahnya Diandra!"
Bagai hantaman gada tak kasat mata, kata-kata Melanie membuat seluruh tubuh Glen membeku seketika. Sorot mata elangnya yang tadi menyala-nyala oleh delusi dendam, mendadak redup, digantikan oleh kekosongan yang teramat pekat.
"Apa... apa yang kamu katakan?" suara Glen mendadak mengecil, parau, seolah seluruh pasokan udara di paru-parunya lenyap.
"Lihat ini, Glen! Lihat!" Melanie menyodorkan kertas-kertas itu tepat di depan dada Glen. "Hermawan yang menjabat sebagai direktur keuangan ayahmu dua belas tahun lalu. Dia yang mencuri semuanya, lalu melarikan diri dan mengambinghitamkan ayahku! Ayahku diam selama ini karena kami tidak punya bukti kuat untuk membersihkan nama kami, dan ayahku tidak tega melihat keluarga Diandra yang sekarang sudah jatuh miskin menjadi buruh tani dan penjual gorengan! Kamu salah sasaran, Glen... Seluruh naskah novel Thornless Red Rose yang kamu tulis, seluruh caci maki yang kamu lemparkan padaku di Tamansari... semuanya salah!"
Glen melangkah mundur satu tapak, lalu dua tapak, menolak menyentuh kertas yang disodorkan Melanie.
Kepalanya mendadak berdenyut dengan sangat menyakitkan, seolah-olah seluruh dunia yang ia bangun di atas fondasi dendam selama dua belas tahun ini sedang runtuh diguncang gempa yang mahadahsyat.
*Tidak mungkin. Ini pasti taktik busuknya untuk cuci tangan,* bisik sebuah suara di dalam kepala Glen, mencoba mempertahankan sisa-sisa egonya.
Namun, garis-garis kecemasan yang mendalam di wajah Melanie, serta kebenaran yang tertulis jelas pada dokumen tua itu, menolak untuk bisa diingkari oleh logikanya.
"Tidak... kalian bohong," gumam Glen lirih, menggelengkan kepalanya dengan pandangan mata yang mulai kehilangan arah. Ia berbalik membelakangi mereka, mencengkeram kepalanya sendiri dengan kedua tangan sembari menatap pintu bangsal tempat ayahnya dikurung.
Jika Melanie berkata jujur, maka selama ini ia telah menjadi monster bagi orang yang salah. Jika narasi itu nyata, maka rasa benci yang selama ini menghidupinya hanyalah sebuah kepalsuan yang sia-sia, meninggalkan dirinya yang kini benar-benar telanjang tanpa takhta, tanpa harta, dan tanpa lagi memiliki alasan untuk membenci sang mawar yang diam-diam telah lama ia cintai.
terlalu mengaitkan kisah fiksinya...