Arunika Safana terpaksa menurut ketika kedua orang tua angkatnya memintanya untuk menikahi Bratasena Arka Sadajiwa, karena kakak angkatnya -Bianca- kabur tepat di hari pernikahannya dengan Sena. Demi menjaga nama baik kedua keluarga, Aruni menyetujui permintaan kedua orang tuanya meskipun Aruni dan Sena terpaut usia yang cukup jauh yaitu 12 tahun.
Sena; "Semua orang kek anj*ng! semua gara-gara Lo, Bii! kenapa Lo harus kabur di hari pernikahan kita! dan gue harus menikah dengan bocah ini?!"
Arunika; "Astaga kayak mimpi! Nggak ada yang tau, kalau selama ini aku memang suka sama Mas Sena. I have loved him since the first time we met, 2 tahun yang lalu. Dan sekarang aku harus menggantikan Kak Bi jadi pengantin Mas Sena? absolutely I do!"
Gimana ya, keseruan Arunika untuk mendapatkan hati Sena? berhasilkah dia? yuk ikuti kisah mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tami chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sena Galau
“Bro! whisky kayak biasa-“ Sena berseru pada Wisnu, lalu duduk di dekat meja bar.
Wisnu mengerutkan alisnya, menatap jam tangannya dan kembali menatap Sena –bingung. “Ini baru jam lima sore, bro! lu mau minum?” tanyanya meyakinkan permintaan sahabatnya itu.
“Ck! Udah nggak usah kebanyakan bac*t, lah! Lu masih jualan whisky, kan?” sergah Sena.
Wisnu makin penasaran, dia menatap temannya -lama, lalu menghela panjang, “Oke, pake es?”
“Nggak usah! Kayak biasa aja!”
“Atau bir dingin aja? Enak dari pa_”
“Gue minta Whisky, Wisnu Aji Wardana! Lu nggak denger?!” sentak Sena.
“Woo, chill bro! lu lagi kesambet apa, sih?” Wisnu segera mengambil sloki kosong dan mengisinya dengan whisky kesukaan Sena. “Santai aja… nggak usah nge-gas gitu..” lanjutnya sambil meletakkan satu sloki whisky tepat didepan Sena.
Setelah mendapatkan keinginannya, Sena tampak mulai tenang. Dia pun meminum whisky nya sambil nyemil kacang goreng yang disediakan Wisnu barusan.
Melihat temannya sudah mulai tenang, Wisnu segera menghubungi semua temannya.
‘Bro! ada yang tau sena kenapa? Dia kayak cewek PMS yang lagi tantrum, nih!’
‘Baru jam lima sore, udah ke kafe? Gila! Dia nggak perlu nyari duit gitu?’ balas Bimo.
‘Mungkin lagi ada masalah di kerjaan?’ balas Rendra.
‘G mungkin lah! Dia bukan tipe orang yang tantrum gara-gara kerjaan.’ Tulis Winu.
‘Lemah Syahwat kali! Makanya emosi jiwa.’ Balas Adit.
Wisnu hampir saja menyemburkan permen karet yang sedang dia kunyah, saking kocaknya tulisan Adit.
‘Serius Dit?? bro @Sena, beneran nih?’ tanya Rendra sambil menautkan Sena di obrolan grup mereka.
‘Lha emang, kan? Laki kalau udah nggak bisa nyalurin hasratnya, mau bagaimana lagi? Ya udah, tantrum kaya ABG labil!' terang Adit.
‘Sen! Lu baru tiga dua! Tetangga gua, aki-aki umur enam puluh, baru nikah lagi sama janda muda, langsung jebol tuh, udah bunting aja tuh bininya! Masa lu kalah kuat sama aki-aki?’ tulis Bimo.
'Sena! Besok kita jadwalkan nge-gym rutin, ya? biar lo cepet sembuh.’ Tulis Rendra dengan serius.
‘BANGS4T LU PADA!’ balas Sena,
‘*GUE MASIH NORMAL! MASIH BISA NGACNG MONYET!, LU NGGAK USAH NYEBAR FITNAH LU @adit**!’
‘Hahaha.. buktinya Aruni sampai sekarang belom bunting. Jujur aja deh lu, sen!’
'Belom pernah gue kawinin, mau bunting gimana? Nggak usah ikut campur lo!'
‘ini lebih bahaya ini! Ada lawannya tapi g doyan. Lo hombreng sekarang?’
‘*Bangst**!’
‘ya udah kawinin sono! Udah sah juga, nunggu apa lagi?’
Sena hanya diam menatap tulisan Adit. Dia menghela napas panjang lalu meletakkan ponselnya ke atas meja. Jujur, Sena juga nggak tau kenapa dia keukeuh tak mau menyentuh Aruni. Padahal Sena sudah tau pasti jika Aruni menyukainya. Ciuman mereka beberapa hari yang lalu adalah bukti bahwa mereka berdua sama-sama memiliki rasa yang sama. Tapi entah kenapa Sena belum ada nyali.. ada rasa ketakutan yang terus membayanginya.
Tak lama kemudian, Adit muncul di kafe Wisnu. Memang diantara Rendra dan Bimo, Adit lah yang paling santai. Dia punya bisnis laundry dan rental mobil, dan tak perlu standby di semua otlet miliknya itu. Jadi saat ini, dia sudah bisa menyusul Sena di kafe Wisnu.
“Bro!” sapanya tanpa merasa bersalah. Lalu Adit duduk di sebelah Sena dan sempat terkejut saat melihat Sena minum whisky. “lu minum?”
Sena tak menjawab, hanya menenggak minumannya sampai habis. Meletakkannya di meja dengan keras, sambil berteriak meminta lagi.
Wisnu medengus lalu meletakkan stu sloki penuh di depan Sena, dia melirik Aditya dan berbisik, “gelas ke lima!”
“Lu, mau bikin Aruni syok lagi?” tanya Adit pada Sena.
Sena tak menjawab, hanya menarik napas dalam dan terus memandangi gelasnya yang belum sempat dia minum.
“Lo ada masalah apa sih, Bro?” Aditya memutar duduknya hingga kini dia menghadap Sena. ”Cinta lo, ditolak Aruni?”
Sena terkekeh, sambil menggelengkan kepalanya.
“Lo, yang nggak suka Aruni? Masih kepikiran Bianca?”
Sena hanya diam.
“Kalau Lo masih pengen Bianca, cari aja dia, bro! minta balikan atau apalah yang bikin lo happy.”
Sena kembali terkekeh, “Dia udah ninggalin gue! Bikin gue malu di depan keluarga besar, mau nangis-nangis sampai sujud di kaki gue minta balikan pun, gue nggak bakal terima dia!" desis Sena.
“Terus apa masalahnya?! Ada Aruni. Lu suka dia, dia suka elo. Selesai! The end! Fin! Lo cari apa lagi sih?”
“Nggak semudah itu, Dit… gue nggak bisa… gue nggak pantas..” ucap Sena lirih, tapi Aditya masih bisa mendengarnya.
Adit mendengus sambil menatap Wisnu yang juga sedang memandanginya, “Kayaknya Sena kena Arunika Anxiety Disorder.”
Wisnu mengerutkan kening, “Apaan tuh?”
“Fobia Aruni-“ lalu Aditya nyengir. Dan langsung mendapat taplokan serbet dari Wisnu.
“Jangan sampai lo nyesel, Sen. Sekarang Aruni suka lo, lo tolak. Jangan sampai ntar dia nggak suka lo, baru lo nyesel!” ingat Adit. Tapi Sena tetap diam.
Adit menghela sambil mengangkat kedua tangannya –menyerah.
Tiba-tiba ponsel Adit bergetar, dan saat melihat nama yang menghiasi layar ponselnya, dia menyeringai senang. “pucuk dicinta, ulam pun tiba!" desisnya. Lalu tanpa berpamitan pada temannya yang setengah mabuk itu, Aditya segera berpindah duduk untuk menjawab telpon.
“Halo Aruni? Ada apa nih, tumben telpon?”
“Kak Adit, tolong lah bantu aku. Aku kesel banget sama Mas Sena!”
Aditya nyengir makin lebar, dia duduk di sofa sambil mengangkat satu kakinya. “Sena berulah apa lagi sekarang?”
“Mas Sena pengecut!” kesal Aruni.
“Memang!” balas Aditya.
“Nggak! Sebenarnya dia gentleman.. tapi juga pengecut…”
Aditya menghela panjang, “Kamu itu mau ngomong apa sebenarnya? bilang Sena pengecut, aku iyain malah nggak terima. Sekarang malah belain, bilang dia gentleman.. apa sih maumu?”
Aruni terdiam lama.
“Halo?”
“Iya kak. Aku Cuma lagi kesel aja. Aku mau ngobrol banyak sama Mas Sena tapi dia kabur dengan alasan kerja diluar kota seminggu ini! Jadi masalah ini nggak jelas-“
“Keluar kota?” Aditya menatap Sena yang masih duduk di meja bar, lalu tergelak. “Memangnya kalian habis ngapain sampai Sena kabur ke luar kota buat ngehindarin kamu?”
“Kami.. itu.. kami.. ya pokoknya adalah..”
“Hmm.. gini aja Aruni, aku punya ide bagus banget! Tapi kamu berani nggak ambil resiko?”
“Apa dulu nih?”
“Adalah, besok kamu kuliah nggak? Aku temuin kamu di kafe kampusmu aja. Biar bisa ngobrol lebih leluasa.”
“Oke kak, besok kita ketemu di kafe kampus jam dua siang aja ya.”
“Siap.”
lecet2 ga ya punya rumi,,😁😁
masa iya perdana kur Pindo 😂😂🤭🤭🤭 ya noo good lah
selanjutnya mau apa mereka di kamar😁😁😁
/ itu udah sembuh kan ngk lucu dah mancing bujang lapuk eh ngk bisa di exsekusi 🤭.......
✌
ayo rum bikin seno cemburu marah berat,,😁😁