Tak hanya manusia yang bisa tersesat saat mencari alamat, tapi perasaan pun bisa tersesat hingga salah mengenali sosok yang dicintainya.
"Semoga tidak ada laki-laki sial yang terjebak perasaannya padamu.”
Kalimat tak berperasaan dari mulut Hanan tak pernah gagal membuat hati Amelia patah.
***
"Pergilah. Aku tidak ingin ada laki-laki sial yang terjebak perasaannya padaku." Amelia mengucapkannya dengan penuh ketenangan.
Hanan berlutut sembari menggenggam tangan Amelia yang memucat. Perasaan bersalah menyerbunya bertubi-tubi saat mengetahui apa yang dia lakukan di masa lalu adalah kesalahan terbesar yang tak pantas untuk dimaafkan. Namun, dengan tak tahu malunya dia masih mendatangi Amelia dan berharap bisa memperbaiki kaca yang telah hancur berkeping-keping.
Amelia tersenyum prihatin dengan tangan kanan mengelus kepala Hanan dan tangan lainnya mengelus perutnya yang membuncit.
"In another life, semoga Mas Hanan tidak salah mengenali cintamu yang sebenarnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yourfaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CSA 32
“Mereka kembar, Nak. Karena ini semua bukan atas dasar keinginanmu, kami akan menyerahkan keputusannya padamu. Apakah kamu ingin mempertahankannya atau tetap—kamu mengerti, ‘kan, maksud Bunda?”
Amelia mengelus perutnya sendiri. Kabar ini terlalu tiba-tiba dan tak pernah dia inginkan. Bukankah makhluk kecil di perutnya itu akan menjadi penghubung dengan Hanan. Dan dia sama sekali tak ingin lagi terhubung dengan pria itu.
Amelia hanya bisa terdiam dengan pikiran kusut. Dia tak ingin jika janin di dalam perutnya menimbulkan masalah baru, tapi apa dia benar-benar tega melenyapkan darah dagingnya sendiri. Mereka juga tidak bisa memilih untuk hadir di antara hubungannya yang rumit.
“Aku akan mempertahankannya. Mereka tidak bersalah. Mereka akan tumbuh bersamaku. Hanya ada kami.” Amelia tersenyum kecil. Dia seolah mendapatkan kembali harapannya.
“Apa maksudnya? Bahkan jika ayahnya adalah bajingan itu, kamu masih memiliki kami, Mel. Kami akan menjadi keluarga kalian.” Kanaya memeluk erat sahabatnya itu. “Apa pun yang terjadi, kami akan merawat kalian bersama-sama. Jangan bersikap seolah kamu tidak memiliki siapa pun di dunia ini.”
“Benar, kita adalah keluarga sejak awal. Mari kita beri keluarga yang utuh untuk kalian.” Kali ini giliran ayah Kanaya yang bersuara.
Pria itu tahu tidak akan mudah bagi Amelia memilih keputusan ini, tapi dia telah menentukan dan segala situasinya akan mereka hadapi bersama.
“Lalu, haruskah kita memberi tahu Hanan? Dia ayah dari janin di perutmu, setidaknya dia harus bertanggung jawab.” Sang ibu menatap dengan tatapan berapi-api seolah ingin menenggelamkan Hanan saat itu juga.
“Bibi, pernikahan kami sudah berakhir. Kontraknya sudah selesai. Bisakah kita merahasiakan ini darinya. Aku tidak ingin terlibat apa pun dengannya dan keluargaku lagi. Aku ingin menjaga mereka tanpanya.”
Semua sudah berakhir.
Itu yang ditekankan oleh Amelia. Musim semi di hatinya tak pernah datang, tempat itu mungkin akan selalu dilanda musim gugur hingga tak ada lagi yang mampu digugurkan. Amelia akan mengikhlaskannya.
Amelia sudah membulatkan tekadnya, tidak perlu ada pria itu lagi di kehidupannya. Dia akan membuang semuanya dan membiasakan diri secara perlahan.
“Kamu yakin dengan ini?” Kanaya bertanya lagi untuk memastikan.
“Aku sudah memberikan keputusannya. Mari mulai hidup yang baru tanpa dia lagi. Lagi pula belum tentu dia mau menerima janin yang dikandung oleh perempuan yang sangat dia benci. Aku tidak ingin mengambil risiko.”
“Baiklah. Aku pikir kita bisa melakukannya.”
Kanaya menatap kedua orang tuanya bergantian. Mereka juga mengangguk. Meski mereka tidak mengetahui sebanyak Kanaya, tapi Amelia memang sudah cukup menderita sejauh ini.
“Kalau perlu kita pergi sejauh mungkin agar kamu melupakan orang-orang itu.”
Amelia menatap satu persatu orang-orang di ruangan itu. Matanya berkaca-kaca seolah dia baru saja mendapatkan sesuatu yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya. Air matanya menetes begitu saja.
“T-terima kasih. Kupikir selamanya aku akan kesepian, tapi kalian benar-benar memperlakukanku dengan baik.”
“Kenapa kamu malah menangis. Jangan menangis lagi, kamu selalu memiliki kami.” Kanaya mengelus pelan bahu sahabatnya itu.
“Benar, ke depannya keluarga kita akan memiliki anggota tambahan. Kita harus merayakannya.” Ibu Kanaya tidak ingin anak gadisnya itu terus bersedih.
Mereka berjanji akan membantu mengenyahkan seluruh kenangan buruk Amelia.
“Terima kasih semuanya. Sekarang aku benar-benar bagian dari keluarga ini?”
“Tentu saja.” Ketiganya menjawab bersamaan.
“Baiklah, kalau begitu aku memiliki Ayah dan Bunda sekarang.” Amelia memasang senyum manis.
“Astaga, akhirnya kamu memanggilku Bunda. Ini benar-benar sangat membahagiakan.” Wanita itu memeluk erat putri barunya.
“Benar, jangan sungkan lagi.” Sang ayah memberikan elusan pelan.
***
“Tenang saja. Alerginya tidak parah dan dia akan bangun sebentar lagi.”
Hanan duduk termenung di samping brankar Rosa. Setelah kepergian Amelia yang tak pernah dia sangka akan setenang itu, perasaannya entah lega atau mendadak kosong. Dia berusaha meyakinkan dirinya bahwa apa yang dia lakukan sekarang adalah keputusan yang paling benar.
Dia tidak bisa terus membiarkan sosok Amelia berada dekat dengan istrinya. Gadis itu benar-benar berbahaya. Dia tidak peduli apakah gadis itu adalah adik dari istrinya atau bukan.
Lama termenung, jemari Rosa perlahan bergerak. Dia membuka matanya perlahan dan langsung mendapati kehadiran suaminya. Namun, seperti biasa, yang keluar dari mulutnya lebih dulu hanya satu orang.
“Di mana Amelia?”
Meski sudah menjadi hal yang biasa dia membuka mata tanpa kehadiran Amelia, wanita itu tetap ingin memastikan bahwa adiknya itu tetap berada di jangkauannya.
“Tidak ada Amelia di sini. Aku sudah mengusirnya. Tidak perlu mencarinya lagi.”
“Mas!”
Hanan berkedip cepat menyadari reaksi besar istrinya.
“Kenapa? Dia sudah berkali-kali mencelakaimu, Sa. Hari ini dia bahkan membuatmu mengonsumsi sumber alergimu. Kira-kira apa lagi yang akan dia lakukan ke depannya?” Hanan benar-benar geram.
“Mas tidak bisa melakukan itu. Amelia itu masih adikku. Seberapa jahat pun sikapnya, aku tetap menyayanginya. Aku ingin Amelia kembali.”
“Tidak akan pernah. Aku tidak akan pernah membiarkannya kembali.” Hanan sekali lagi menegaskan membuat Rosa frustasi. Namun, belajar dari pengalamannya, biasanya Amelia akan kembali dalam beberapa waktu. Mungkin besok atau lusa.
Rosa berusaha menenangkan dirinya sendiri. Dia akan menunggu sampai Amelia kembali. Dia membalikkan tubuhnya hingga punggungnya menghadap pada Hanan. Itu adalah gestur kekecewaan yang sudah sangat Hanan hafal.
“Aku tidak mengerti mengapa kamu sangat menginginkan Amelia berada di sisimu. Dia itu penghalang di antara kita, Sa. Aku hanya ingin hidup berdua denganmu, bukan dengan pihak ketiga yang terus-menerus mencelakaimu. Bisakah kamu mengerti sekali saja? Kamu hampir mati berkali-kali karena orang yang selalu kamu anggap sebagai adik itu.” Hanan benar-benar lelah jika harus selalu mengabulkan keinginan istrinya itu.
“Mas benar-benar jahat. Amelia itu adikku. Kenapa Mas mengusirnya?” Suara Rosa terdengar pilu.
Sebenarnya Hanan sama sekali tak tega. Namun, apa yang harus dia lakukan saat keselamatan istrinya yang dikorbankan.
Hanan mendesah frustasi. Dia tidak menyangka jika pertemuannya kembali dengan Rosa setelah berpisah sekian lama akhirnya mengungkap fakta baru bahwa dia memiliki saudara. Rosa mengatakan bahwa saat itu adiknya tinggal di luar kota bersama kakek dan neneknya yang pada akhirnya meninggal di usia senja.
Yang lebih tidak Hanan sangka bahwa Amelia memiliki sikap yang sangat cacat. Dia mudah iri dan selalu berusaha mengambil apa yang dimiliki oleh Rosa.
Pada akhirnya, Hanan tak bisa menoleransi sikap gadis itu yang serampangan. Dia benar-benar membencinya hingga ke tulang-tulang. Terhadap ayah dan ibu Rosa pun sebenarnya Hanan sudah kehilangan sebagian rasa hormatnya. Itu karena mereka berdua membiarkan Rosa kelaparan saat kecil, apalagi ternyata dia mengidap penyakit kanker.
Bagaimana bisa orang tua Rosa tetap sibuk, sementara anak mereka bahkan tak tahu bagaimana keadaannya.
“Mas, aku tidak mau tahu. Amelia harus kembali.”
“Amelia harus kembali agar aku memiliki alasan untuk terlihat menyedihkan di depanmu. Dengan begitu kamu akan tetap membenci perempuan yang kamu cintai.”