NovelToon NovelToon
Sisa Rasa Yang Terlarang

Sisa Rasa Yang Terlarang

Status: sedang berlangsung
Genre:Drama / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: HebiKage

Usai memutuskan hubungan dua setengah tahun dengan Reza, Tari merasa lelah dengan drama cinta dan tekanan keluarga. Belum sembuh sepenuhnya, ia dipaksa ibunya mengikuti kencan buta—dan takdir malah mempertemukannya dengan Aldo, adik kandung mantan pacarnya sendiri.

Wajahnya mirip, tapi sikapnya sangat berbeda: lebih dingin, lebih tajam, dan seolah menyimpan rahasia serta dendam tersembunyi. Pertemuan yang dipaksa keluarga perlahan membangkitkan perasaan yang tak seharusnya ada. Di tengah gosip lingkungan dan luka lama yang mulai terbuka kembali, Tari dihadapkan pada satu pertanyaan berat:

Apakah ia berhak merasakan bahagia di samping orang yang masih terikat erat dengan masa lalunya yang menyakitkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HebiKage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sepi Yang Menggema

Apartemen ini terasa begitu sunyi.

Sangat sunyi.

Ukuran ruangannya tidak berubah—tetap saja seluas tiga kali empat meter persegi, dengan dinding bercat putih bersih, lantai kayu yang hangat diinjak, serta jendela besar yang menghadap langsung ke jalan raya di luar sana. Namun, sejak kepergian Aldo, ruangan yang selama ini terasa cukup dan nyaman itu tiba-tiba terasa hampa dan kosong. Seolah ada sebagian dari diriku yang ikut terbang bersamanya menyeberangi lautan hingga tiba kembali di Jakarta.

Aku duduk termenung di atas kasur, memeluk erat bantal guling yang masih menyisakan sisa wangi parfumnya—perpaduan aroma kayu cemara dan jeruk nipis yang sudah begitu lekat dan akrab di ingatanku. Aku memejamkan mata, menghirup bau itu sedalam mungkin, dan berusaha membayangkan seolah-olah ia masih ada di sini, duduk tepat di sampingku.

“Aldo…” panggilku lirih, hanya untuk memenuhi keheningan yang terasa menyakitkan.

Aku berguling perlahan di atas kasur, tetap memeluk bantal itu sekuat tenaga, lalu menatap langit-langit apartemen yang juga berwarna putih bersih. Langit-langit yang sama yang selalu aku pandangi setiap malam selama ini, namun malam ini terasa jauh lebih luas, lebih kosong, dan terasa lebih jauh dari jangkauanku.

***

Pukul delapan pagi.

Suara alarm di ponselku berbunyi nyaring, memecah keheningan dan memaksaku untuk membuka mata yang terasa sangat berat. Di luar jendela, sinar matahari pagi mulai masuk menerobos celah tirai, menciptakan garis-garis cahaya tipis yang memanjang di atas permukaan lantai kayu. Burung-burung kecil berkicau riang di antara dahan pohon di luar sana—suara yang biasanya terasa menenangkan dan menyegarkan, namun hari ini justru terasa mengganggu ketenangan hatiku yang sedang kacau.

Aku duduk perlahan di tepi kasur, lalu menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan, berusaha mengumpulkan tenaga yang terasa sangat hilang. Perutku terasa kosong melompong, bukan karena rasa lapar, melainkan karena ada kekosongan yang terasa begitu nyata di dalam sana—sebuah lubang yang seolah tidak bisa diisi oleh apa pun selain kehadiran Aldo sendiri.

“Aku harus bangun. Aku harus melanjutkan hidup dan menjalani hari seperti biasa,” gumamku pada diriku sendiri, mencoba membangkitkan semangat yang nyaris padam.

Aku melangkah menuju kamar mandi, lalu membasuh seluruh wajah dengan air hangat yang menyejukkan. Saat menatap pantulan diriku di cermin, aku melihat seorang wanita dengan mata yang terlihat sembab dan bengkak—bekas menangis sepanjang malam—serta lingkaran hitam yang cukup jelas terlihat di bawah mataku, seolah enggan menghilang begitu saja.

“Kamu bisa melewati ini, Tari. Kamu wanita yang kuat,” ucapku lirih pada bayangan di cermin itu.

Aku mencoba tersenyum untuk meyakinkan diriku sendiri, namun senyum itu terasa hambar, palsu, dan terlalu dipaksakan.

***

Pukul sembilan pagi.

Aku sudah duduk di meja kecil di samping jendela, dengan secangkir teh bunga chamomile yang masih mengepulkan uap hangat di hadapanku. Aku membuka layar laptop, membuka dokumen tempat aku menyimpan naskah novelku, lalu menatap lembaran kosong yang terbentang di depannya. Namun, jari-jariku terasa berat dan diam terpaku di atas papan ketik, tidak mampu bergerak sedikit pun. Kata-kata yang biasanya mengalir begitu saja kini seolah menghilang entah ke mana.

“Lagi-lagi terjebak dalam kebuntuan menulis,” keluhku dalam hati.

Aku menggigit pelan bibir bawahku, lalu menutup kembali layar laptop itu dan berjalan menuju dapur untuk menyeduh teh chamomile yang baru. Namun, saat aku mencicipinya, rasanya terasa berbeda dari biasanya. Teh yang selama ini menjadi minuman penenang andalanku kini terasa hambar, tidak lagi terasa hangat dan menenangkan, melainkan hanya seperti air biasa yang diberi sedikit warna kuning.

Aku meletakkan cangkir itu kembali ke atas meja, lalu duduk bersila di lantai dekat jendela, dan menatap kosong ke arah dinding putih di hadapanku.

Rasa rindu itu kembali meluap dengan hebatnya.

Setelah dua minggu penuh yang aku lalui bersama Aldo, rasanya seperti baru saja menemukan bagian dari diriku yang hilang, dan kini harus kembali merasakan kehilangan itu lagi.

***

Pukul sebelas pagi.

Ponselku yang tergeletak di meja tiba-tiba bergetar dengan nyaring. Sebuah panggilan video masuk dari nama yang sangat aku kenal: Sarah.

Aku menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan itu. Tak lama kemudian, wajah Sarah muncul di layar, dengan latar belakang gedung perkuliahan Arts West yang berarti ia sedang berada di lingkungan kampus.

“Tari, kamu ada di mana? Kenapa tidak terlihat di kelas hari ini?” tanyanya segera, terdengar khawatir.

“Aku… masih di apartemen,” jawabku lirih, suaraku terdengar lemas.

“Kenapa tidak masuk kampus? Apakah kamu sedang tidak enak badan?”

Aku terdiam sejenak, tidak sanggup berbohong padanya.

“Kamu sedang sedih, kan? Aldo sudah pulang kembali ke Jakarta, bukan?” tebaknya tepat, tanpa perlu aku menjelaskan panjang lebar.

Aku hanya mengangguk perlahan, mencoba menahan air mata yang kembali ingin tumpah.

“Tari, aku mengerti betul perasaanmu. Ini memang terasa sangat berat dan menyakitkan,” ucap Sarah dengan nada yang lebih lembut dan menenangkan. “Tapi kamu tidak bisa terus-menerus mengurung diri dan bersembunyi di dalam kamar saja. Kamu harus tetap melangkah keluar, menghirup udara segar, dan menghadapi hari apa pun yang datang.”

“Aku merasa tidak sanggup, Sarah. Rasanya semua terasa hampa dan tidak ada gunanya,” jawabku jujur.

“Kamu pasti sanggup. Dengarkan aku, sebentar lagi aku akan segera ke apartemenmu. Kita makan siang bersama, lalu nanti aku antar kamu kembali ke kampus. Setuju?”

“Tapi Sarah, aku—”

“Tidak ada kata ‘tapi’ kali ini. Aku akan sampai di sana dalam waktu dua puluh menit saja. Tunggu aku,” potongnya tegas namun tetap lembut, lalu memutuskan sambungan telepon itu.

Aku menatap layar ponsel yang kini kembali gelap, dengan perasaan yang campur aduk antara rasa bersyukur memiliki sahabat sebaik dia, dan rasa lelah yang masih terasa menyelimuti seluruh tubuhku.

***

Pukul sebelas tiga puluh menit.

Tepat seperti janjinya, Sarah sudah tiba di depan pintu apartemenku. Ia membawa dua bungkus nasi goreng yang masih hangat dan dua botol jus jeruk segar—menu makanan yang selalu menjadi pesanan favorit kami di kafe langganan selama ini.

“Sarah… kamu sungguh sangat baik sekali padaku,” ucapku sambil membukakan pintu dan mempersilakannya masuk.

“Tentu saja, itu sudah kewajibanku sebagai sahabat terbaikmu. Sekarang mari kita makan, sebelum makanannya jadi dingin dan rasanya berubah,” jawabnya sambil tersenyum lebar.

Kami pun duduk bersila di lantai ruang tamu yang terasa lebih hidup dengan kehadirannya, lalu menikmati hidangan sederhana itu. Nasi gorengnya terasa sangat lezat, gurih dan pas rasanya, lengkap dengan telur mata sapi dan kerupuk renyah di sampingnya. Makanan yang sederhana namun mampu menghangatkan sedikit perasaan yang membeku di hatiku.

“Tari,” panggil Sarah di sela-sela makannya.

“Iya, Sarah?”

“Aku tahu rasanya sangat berat melepaskan kepergiannya, dan aku tidak akan memaksamu untuk segera merasa baik-baik saja dalam sekejap. Tapi ingatlah satu hal: kamu tidak bisa terus-menerus larut dalam kesedihan ini terlalu lama.”

“Aku tahu itu. Aku benar-benar mengerti,” jawabku pelan.

“Aldo juga sudah berjanji kan? Dia akan kembali lagi ke sini untuk menemuimu. Kamu sudah mendengar janjinya sendiri.”

“Benar, dia sudah berjanji.”

“Kalau begitu, kenapa hatimu masih terasa begitu berat dan sedih?” tanyanya lembut.

Aku menghela napas panjang, lalu mencoba menjelaskan apa yang ada di dalam hatiku. “Karena… karena rasa rindu ini terasa begitu kuat dan sulit dijelaskan dengan kata-kata. Rasanya seperti ada bagian dari diriku yang ikut pergi bersamanya, dan aku harus belajar hidup kembali tanpa bagian itu untuk sementara waktu.”

Sarah terdiam sejenak, seolah mencari kata-kata yang tepat. “Aku mengerti perasaan itu. Aku pun pernah merasakannya saat dulu harus menjalani hubungan jarak jauh dengan suamiku. Sering kali merasa kesepian, merasa hampa, dan merasa tidak ada yang mengerti. Tapi lambat laun aku belajar untuk mengisi kekosongan itu dengan hal-hal yang aku sukai dan hal-hal yang membangun diriku sendiri.”

“Seperti apa yang kamu maksud?” tanyaku penasaran.

“Seperti menulis, membaca buku, berjalan-jalan menikmati pemandangan, bertemu teman-teman, atau sekadar mengerjakan hal-hal yang membuat hatimu merasa tenang dan bermanfaat. Kamu tidak boleh membiarkan kekosongan itu menguasai seluruh hidupmu, Tari. Kamu harus melawannya dengan hal-hal positif yang kamu miliki,” jawabnya tulus.

Aku menggigit pelan bibir bawahku, lalu mengangguk perlahan. “Baiklah. Aku akan mencoba melakukan hal itu, demi diriku sendiri dan demi janji yang sudah kita buat bersama.”

“Itu baru semangat yang aku kenal dari dirimu,” ucap Sarah sambil tersenyum bangga.

***

Pukul satu siang.

Setelah selesai makan dan membereskan peralatan, Sarah mengajakku berjalan-jalan mengelilingi taman kecil yang terletak tidak jauh dari kawasan apartemenku.

Taman itu memang tidak terlalu luas—hanya memiliki beberapa bangku kayu yang diletakkan di bawah pohon-pohon rindang, serta hamparan bunga-bunga berwarna cerah yang tumbuh rapi mengelilinginya. Namun, di musim semi seperti ini, taman itu terlihat sangat hidup dan mempesona. Bunga-bunga bermekaran dengan indah, burung-burung beterbangan dari satu dahan ke dahan lain, dan sinar matahari yang hangat menembus celah dedaunan, menciptakan bayangan-bayangan lembut di atas tanah.

“Tari, lihatlah pohon maple yang ada di depan sana,” ujar Sarah sambil menunjuk ke arah sebatang pohon besar yang mulai dipenuhi daun-daun baru. “Pohon itu mengingatkanku padamu.”

“Pohon? Maksudnya aku ini seperti pohon?” tanyaku bingung sambil tersenyum tipis.

“Benar sekali. Lihatlah, pohon itu sempat kehilangan seluruh daunnya saat musim dingin tiba, terlihat kering dan mati seolah tidak akan pernah tumbuh lagi. Namun, saat musim semi datang, ia kembali mengeluarkan tunas baru dan daun-daun hijau yang segar. Begitu juga dengan dirimu. Kamu baru saja melewati masa-masa sulit dan merasa seolah kehilangan semangat, tapi percayalah, kamu akan segera tumbuh kembali menjadi lebih kuat dan lebih indah dari sebelumnya,” jelasnya dengan nada yang menenangkan dan penuh makna.

Aku menatap pohon itu lekat-lekat. Daun-daun barunya memang masih terlihat kecil dan belum terlalu lebat, namun tumbuh dengan sabar dan pasti, menunggu waktunya untuk berkembang sepenuhnya.

“Terima kasih, Sarah. Terima kasih sudah mengingatkanku bahwa aku masih memiliki kekuatan untuk terus tumbuh dan melangkah maju,” ucapku tulus.

“Tidak perlu berterima kasih. Ingat saja, kamu selalu punya kemampuan untuk bangkit kembali, Tari. Kamu hanya butuh sedikit waktu dan kesabaran untuk melakukannya,” jawabnya lembut.

***

Pukul tiga sore.

Setelah berjalan-jalan cukup lama dan merasa pikiran mulai sedikit lebih tenang, aku kembali masuk ke dalam apartemen.

Aku duduk kembali di meja kecil di dekat jendela, lalu membuka kembali layar laptop dan menatap lembaran kosong yang sama seperti tadi pagi. Kali ini, aku tidak langsung menutupnya karena merasa tidak bisa menulis. Aku membiarkan layar itu tetap menyala, menatap kursor yang berkedip-kedip perlahan, dan menunggu dengan sabar.

“Ayo, kata-kata… datanglah kembali padaku,” bisikku dalam hati.

Beberapa menit terasa berlalu begitu lambat, namun tidak ada satu pun kalimat yang terlintas di pikiranku.

Aku lalu menarik napas panjang, memejamkan mata sejenak, dan membayangkan sosok Aldo dalam ingatanku. Aku membayangkan wajahnya yang selalu tersenyum, tatapan matanya yang teduh di balik kacamata, suaranya yang menenangkan, serta genggamannya yang hangat dan kuat saat memegang tanganku.

“Cobalah tulis tentang dia. Tulis saja apa yang kamu rasakan dan apa yang kamu ingat,” ucapku pada diriku sendiri.

Aku membuka kembali mataku, lalu jari-jariku mulai bergerak perlahan menari di atas papan ketik.

“Dia pergi kembali ke tanah kelahirannya, dan aku kini ditinggalkan sendirian dengan segudang kenangan yang takkan pernah bisa terhapus dari ingatan. Kenangan tentang dua minggu yang terasa begitu singkat, namun terasa lebih berharga daripada setahun yang terpisah jauh. Kenangan tentang tatapan matanya, senyumnya, pelukan hangatnya, hingga tawa lepasnya yang selalu mampu membuat hatiku merasa damai.”

Aku berhenti sejenak, membaca ulang kalimat yang baru saja aku tulis. Rasanya terasa pas dan tulus, sesuai dengan apa yang ada di dalam hatiku.

“Bagus. Teruskan saja,” gumamku semangat.

Jari-jariku kembali bergerak lebih cepat, dan kata-kata itu pun mengalir begitu saja—seperti air sungai yang meluap deras saat musim hujan tiba, tak terbendung dan terus melaju tanpa henti.

***

Pukul delapan malam.

Langit di luar jendela sudah berubah menjadi gelap pekat, namun dihiasi kerlap-kerlip bintang yang mulai terlihat bersinar terang.

Aku berdiri di balkon apartemen—tempat favoritku untuk melepas lelah dan merenung. Udara malam mulai terasa lebih hangat, tanda bahwa musim panas di Melbourne akan segera tiba dan menggantikan musim semi yang baru saja berlalu.

Di kejauhan, lampu-lampu jalan dan gedung-gedung tinggi mulai menyala terang, menciptakan pemandangan kota yang berkelap-kelip indah, seolah bintang-bintang di langit turun dan bersinar di atas permukaan bumi.

“Indah sekali,” gumamku kagum.

Aku lalu meraih ponsel yang ada di saku jaket, membuka jendela obrolan dengan Aldo, dan mengetikkan pesan singkat yang keluar dari hatiku.

“Hari ini aku kembali menulis. Aku menulis tentangmu, tentang kita, dan tentang rasa rindu yang terus tumbuh di dalam hati. Aku sangat merindukanmu, Aldo.”

Tak butuh waktu lama, balasan pesan darinya segera masuk dengan cepat.

“Aku pun merindukanmu lebih dari yang bisa aku ucapkan, Tari. Teruslah menulis dan teruslah berkarya. Aku akan selalu membaca setiap tulisan yang lahir dari hatimu, dan selalu mendukungmu dari sini.”

Aku tersenyum lebar membaca balasan itu, merasakan kehangatan yang kembali menyebar ke seluruh tubuhku.

“Kamu berjanji akan selalu membacanya?” tanyaku lagi.

“Aku berjanji. Sampai kapan pun.”

Aku memasukkan kembali ponsel ke dalam saku jaket, lalu menatap langit malam Melbourne yang luas sekali lagi sebelum akhirnya melangkah masuk kembali ke dalam ruangan.

Di luar sana, angin malam berhembus lembut seolah berbisik membawa pesan dari jarak yang jauh.

Dan di dalam hatiku, satu nama terus bergema dan berbisik lembut tanpa henti:

Aldo.

1
Tamaa
/Toasted//Toasted/
Tamaa
Omoshiroi
Reverie_Vex: Makasih banyak! Senang banget kamu merasa ceritanya seru 🤗
Semoga tetap menyenangkan dibaca sampai bab-bab selanjutnya ya!
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!