NovelToon NovelToon
Cinta Di Medan Perang

Cinta Di Medan Perang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Militer / Thriller
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Irsan Wahyudi

Kemarahan lebih mudah ditanggung daripada rasa kehilangan."
Letnan Raditya tahu itu lebih baik dari siapapun. Sampai seorang dokter bernama Nayla datang ke Karang Wilis — dan tanpa sengaja, tanpa izin, mulai mengisi ruang yang sudah lama ia jaga tetap kosong.
Di antara luka yang belum sembuh, konflik yang belum selesai, dan waktu yang terus berkurang — keduanya belajar satu hal yang tidak ada dalam buku panduan militer manapun:
Beberapa luka tidak bisa disembuhkan sendirian.



Di medan yang salah, pada waktu yang tidak tepat — tapi perasaan tidak pernah menunggu instruksi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irsan Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

cemburu yang tidak di akui

~{33}~

Malam di Karang Wilis turun perlahan, seperti tirai yang ditutup dengan hati-hati—tidak langsung gelap, tetapi merayap dari ujung langit hingga menyentuh tanah. Lampu-lampu portabel di sekitar pos komando menyala satu per satu, menciptakan lingkaran cahaya kuning pucat di tengah desa yang mulai tenggelam dalam keheningan.

Di dalam tenda medis, Sari sedang merapikan meja kecil. Suara plastik obat dan logam alat medis bersatu dalam irama tenang, seperti refleks yang sudah mendarah daging.

Nayla duduk di kursi lipat, tangan terlipat di pangkuan. Tatapannya kosong, tetapi tidak sepenuhnya hampa—lebih seperti ada sesuatu yang berputar di kepalanya tanpa henti.

Sari melirik sekilas. “Dok,” panggilnya pelan.

Nayla tidak langsung menjawab. “Hm?”

Sari berhenti sejenak. “Dari tadi dokter diem lagi.”

“Aku nggak diem sar.”

Hening sejenak. Nayla menatap meja di depannya. “ aku cuman Capek aja.”

Sari tak langsung percaya. Ia sudah cukup lama bersama Nayla untuk memahami perbedaan antara capek fisik dan beban di dalam hati.

“Capek atau kepikiran?” tanyanya akhirnya.

Nayla mengangkat sedikit wajahnya. “Sari.”

“Ya?”

“kamu Kerja aja.”

Sari terdiam, hanya berdiri diam selama beberapa detik sebelum duduk di tepi ranjang. “Dok"

Sari menarik napas. “Sejak Letda Nara datang… dokter berubah.”

Jari Nayla terhenti sejenak.

“Berubah apaan si sar?” tanyanya tajam

“dokter Lebih banyak diam sekarang kalau lagi di ajak ngomong. Lebih gampang kepancing emosi juga. Dan…” Sari ragu sejenak, “aku perhatiin dokter sering banget lihat ke arah lapangan kalau mereka ada di sana.”

Nayla menatap Sari dengan tatapan yang sulit dibaca—tidak marah, tapi juga tidak hangat.

“Aku kerja di sini, Sari.”

“Iya, aku tahu.” Sari mengangguk cepat. “Tapi aku juga lihat dok.”

"Dokter kelihatan banget seperti cemburu saat mereka sedang berdua"

Hening kembali.

Nayla berdiri pelan. “Aku mau keluar sebentar.”

Sari mengerutkan kening. “Sekarang?”

Nayla tidak menjawab, ia lalu melangkah berjalan keluar dari tenda.

Udara malam menyentuh wajahnya—dingin dan basah. Aroma tanah lembap masih terasa sisa hujan sore tadi. Suara jangkrik terdengar jauh, tidak mengganggu, hanya menemani.

Nayla berdiri di luar tenda beberapa detik. Lalu matanya menangkap sesuatu.

Di sisi lain lapangan pos, dekat peta taktis yang dipasang di papan kayu, Raditya berdiri bersama Nara.

Mereka tidak terlalu dekat. Tidak menyentuh. Tidak ada gestur berlebihan. Namun, cara mereka berdiri… terlalu selaras.

Nara menunjuk sesuatu di peta. Raditya menunduk, mengangguk singkat. Lalu menjawab sesuatu yang tak terdengar dari jarak ini. Nara tersenyum kecil—bukan senyum besar, tapi cukup untuk membuat sesuatu di dada Nayla terasa bergeser tangannya yang tadinya diam santai kini mengepal erat.

“Apa sih…” gumamnya pelan, hampir tak terdengar.

Raditya tidak tertawa tidak juga tersenyum.

tapi ia mendengarkan, bahkan terlalu mendengarkan.

Dan untuk alasan yang tak bisa dijelaskan dengan logika sederhana, dada Nayla terasa seperti terbakar.

bukan marah.

Tapi sesuatu yang berada di tengah—cemburu, ia merasakan itu sekarang, cukup kuat untuk membuatnya sulit bernapas normal.

Ia ingin pergi. Tapi kakinya tak bergerak.

Sampai akhirnya, Nara mengangkat kepala, dan pandangannya tanpa sengaja bertemu dengan Nayla dari kejauhan yang sedang memandang nya juga.

Hanya sesaat.

Namun cukup.

Nara tidak terlihat kaget. Ia hanya menatap balik, lalu kembali ke Raditya seperti tak terjadi apa-apa. Dan itu justru yang membuat dada Nayla semakin sesak.

Nayla akhirnya berbalik. Langkahnya cepat. Terlalu cepat untuk seseorang yang bilang hanya ingin “keluar sebentar.” Ia masuk kembali ke area tenda medis, menarik napas dalam, lalu duduk di kursi yang tadi ia tinggalkan.

Sari menatapnya. Tidak bertanya dulu. Beberapa detik kemudian baru ia bersuara pelan. “melihat mereka lagi?”

Nayla tak menjawab. Tangannya meraih ujung lengan bajunya, meremasnya pelan.

Sari menghela napas kecil. “Dok…”

“diem ah sar,” potong Nayla cepat.

Terlalu cepat lagi.

Sari menggelengkan kepalanya, lalu tersenyum, "cinta di Medan perang" gumamnya

Di luar tenda, suara langkah kembali terdengar. Mungkin patroli. Mungkin pergantian posisi. Nayla menatap meja di depannya, tetapi di kepalanya, yang terus terulang bukanlah meja itu.

Melainkan senyum kecil Nara.

Dan cara Raditya berdiri di sampingnya—sangat profesional, sangat tenang.

Entah mengapa, justru itu yang paling mengganggu.

Nayla menarik napas panjang, kali ini lebih dalam. Namun tetap tidak cukup untuk membuat dadanya kembali normal.

1
Oom Kusmiati
lanjut
irsan
maap temen temen bab 10 ini memang sengaja aku buatnya pendek karena untuk pembagian adengan 🙏🙏
Oom Kusmiati: koq blm lanjut ka
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!