Guntur Hidayat dan Ali Hidayat awalnya bersekolah di SMA yang mayoritas dihuni anak orang kaya. Karena keterbatasan biaya, keduanya terpaksa putus sekolah. Mereka lalu membantu kakak tertua mereka, Faris Hidayat — sosok yang disegani, ahli memperbaiki dan memodifikasi motor, serta diam-diam pandai mengembangkan uang lewat saham terindeks. Bersama orang tua mereka, Bapak Wijaya Hidayat dan Simbok Arum Sari, ketiga bersaudara ini berjuang membangun masa depan lewat bengkel kecil mereka. Membuktikan: keberhasilan tidak harus selalu lewat bangku sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Hasil Akhir dan Ancaman Terselubung
Dua hari terakhir itu rasanya berjalan lebih lambat dari biasanya. Tidur cuma dicicil sejam dua jam, makan pun dilahap buru-buru sambil mata tetap terpaku pada skema dan komponen yang berceceran di meja kerja. Tangan mereka bertiga sama-sama menghitam, penuh goresan luka kecil bekas solderan dan pinggiran besi tajam. Mata mereka merah padam menahan kantuk dan lelah luar biasa, tapi di balik kelelahan itu, ada api semangat yang makin membesar. Ini bukan sekadar urusan benerin motor, ini soal harga diri, soal masa depan bengkel, dan bukti nyata kalau kata "tidak bisa" itu nggak ada di kamus Hidayat Bersaudara.
Sampai akhirnya, sore hari pas banget di hari ketujuh, semuanya beres sudah. Sensor rakitan tangan mereka terpasang rapi, dikalibrasi berkali-kali sampai angka di alat ukur pas persis, nggak meleset sedikit pun. Bodi motor sudah terpasang kembali, dibersihkan sampai mengkilap, kabel-kabel dirapikan lebih rapi daripada bawaan pabriknya sendiri.
Faris mundur selangkah, napasnya dihembuskan panjang banget sampai bahunya ikut turun ke bawah. Dia menatap motor itu lekat-lekat, senyum tipis banget mulai terukir di bibirnya yang kering pecah-pecah.
"Sudah... semuanya terpasang. Tinggal nanti dicoba nyalakan aja. Tapi ingat ya, ini masih hasil akal-akalan kita. Nggak ada jaminan pasti bakal mulus seratus persen. Kalau pas dinyalakan ada sedikit aja yang aneh, kita terima konsekuensinya. Kita ikhlas kalau emang harus tutup, yang penting kita udah berjuang mati-matian sampai titik terakhir," kata Faris pelan, suaranya serak habis nahan capek.
Ali langsung menunduk, tangannya meremas ujung kaos yang udah nggak ada bersihnya lagi. "Bang... aku takut jujur. Kalau emang gagal, kita mau ke mana? Bapak sama Ibu gimana nanti? Ini kan satu-satunya penghasilan kita."
Guntur menepuk bahu adiknya itu, dia sendiri juga kelihatan cemas banget. "Iya Bang, aku juga mikir gitu. Si Bima itu bukan orang biasa. Dia punya kuasa di sini, punya koneksi ke mana-mana. Kalau kita kalah, dia bakal pamer ke seluruh kota, dia bakal pastiin kita beneran jatuh miskin dan nggak bisa bangun lagi. Dia dendam sama kita dari zaman sekolah dulu cuma karena kita pernah dapat nilai lebih tinggi darinya."
Faris berbalik badan, natap kedua adiknya satu-satu. Dia tarik tangan mereka, digenggamnya erat banget.
"Dengar ya, adikku. Dunia ini keras. Kalau kita takut terus-terusan, kita nggak bakal kemana-mana. Si Bima mau ngapain pun, asal kita berpegang pada kebenaran dan kerja keras, Tuhan nggak bakal ninggalin kita. Anggap ini ujian pertama kita. Kalau ini aja kita udah ciut nyalinya, gimana mau hadapi masalah yang lebih gede nanti? Ayo istirahat sebentar, bersihin muka sama tangan. Besok pagi dia bakal datang, kita harus siap berdiri tegak, bukan berdiri nunduk takut."
Malam itu mereka tidur beralaskan kardus di pojokan bengkel. Nggak ada yang beneran tidur nyenyak. Pikirannya melayang ke mana-mana, membayangkan segala kemungkinan yang bakal terjadi besok. Antara harap-harap cemas, antara percaya diri dan rasa ragu yang menyesak dada.
Keesokan paginya...
Belum lama matahari naik separuh tiang, suara deru mesin mobil gede dan berat udah kedengaran dari kejauhan. Suaranya bener-bener bikin orang sekampung nengok. Nggak lama kemudian, mobil sedan hitam yang kemarin itu berhenti pas di depan bengkel, debu jalanan beterbangan kena teras rumah. Pintu dibuka lebar, keluar lah Bima pakai baju rapi banget, rambutnya klimis sampai licin, senyumnya itu lho... senyum yang paling songong dan meremehkan sedunia. Di belakangnya ada dua orang berbadan besar, berotot kekar, wajahnya datar kayak patung penjaga kuburan.
Bima jalan masuk pelan-pelan, matanya melirik ke kiri ke kanan, dari tumpukan onderdil sampai ke wajah mereka bertiga yang kelihatan kurang tidur parah.
"Waduh... kok mukanya pucat-pucat gitu? Udah nggak punya harapan ya dari pagi? Atau jangan-jangan semalam nggak tidur nangisin nasib bengkel ini yang bakal tutup hari ini?" ejek Bima sambil ketawa kecil, suaranya sengaja dibesarin biar kedengaran jelas.
Dia jalan makin ke dalam, terus berhenti pas di depan motor sport mahal yang udah beres berdiri rapi. Alisnya langsung naik satu, senyumnya agak hilang dikit. Dia kaget dikit lihat kondisi motor itu. Bersih banget, terpasang rapi, nggak ada sisa oli atau kotoran sedikit pun.
"Oalah... rapi juga ya kerjanya. Cuma ya gitu... rapi belum tentu bener, apalagi dikerjain sama anak-anak putus sekolah yang modal nekat," celetuk Bima lagi, nyengir miring. Dia natap Faris yang berdiri tenang di belakang meja kerja. "Gimana? Udah siap terima kekalahan? Atau mau minta ampun dulu biar saya nggak lapor ke mana-mana dan biarin kalian pergi aja?"
Faris maju selangkah, badannya tegap, matanya natap lurus ke mata Bima tanpa kedip sedikit pun.
"Mas Bima, perjanjian kita kan jelas. Buktikan dulu hasil kerjanya. Kalau emang motor ini nggak mau nyala, atau nyala tapi ada masalah dikit aja, saya sendiri yang bakal kunci gembok bengkel ini dan serahin kuncinya ke Mas Bima. Tapi kalau dia jalan mulus, Mas Bima harus tepati janji. Dua kali lipat biaya ganti mesin, dan nggak bakal ganggu usaha kita lagi."
Bima terkekeh, dia kelihatan banget meremehkan. "Yaudah, mau sampai kapan ngomong doang? Saya juga penasaran sih, beneran bisa apa nggak. Saya aja tanya ke lima bengkel resmi, semuanya bilang mesin ini udah hancur total, harus ganti baru semua. Apa mungkin kalian lebih pintar dari insinyur-insinyur mereka? Ayo, nyalakan. Saya mau lihat keajaiban apa yang kalian bilang itu."
Bima minggir dikit, kasih ruang. Faris maju, naik ke atas jok motor itu. Tangan kanannya memegang kunci kontak, tangan kiri menggenggam stang dengan tenang. Di belakangnya, Guntur sama Ali saling tatapan, napas mereka tertahan di tenggorokan. Jantung mereka berdegup kencang banget, sampai rasanya kedengaran ke telinga sendiri. Kalau sekarang motor ini nggak mau nyala, atau nyala tapi bunyinya kayak kaleng dipukul-pukul, berarti tamat sudah riwayat bengkel mereka. Semua kerja keras seminggu ini, semua lelah dan kurang tidur, bakal sia-sia begitu saja.
Tek... Kunci diputar ke kanan. Lampu-lampu indikator di dasbor menyala satu per satu, berkedip sebentar lalu mati lagi. Suara dengungan halus dari pompa bahan bakar terdengar jelas di ruangan yang hening itu. Faris menarik napas panjang, menatap tajam ke arah tombol starter.
BRUUUUUUMMMM!!!
Suara dentuman berat langsung menggema memenuhi bengkel, bahkan sampai terdengar ke jalan raya di depan. Mesin motor itu hidup seketika, suaranya gahar, bulat, dan halus banget. Nggak ada suara batuk-batuk, nggak ada bunyi berisik dari bagian dalam mesin, nggak ada asap aneh yang mengepul keluar. Putaran mesin naik turun dengan sangat mulus saat Faris memelintir gas dikit aja, responsnya cepat dan pas banget, persis kayak motor baru keluar dari pabrik.
Mata Bima langsung melotot lebar. Mulutnya sempat terbuka sedikit, senyum songongnya langsung lenyap tak berbekas. Dia maju selangkah lagi, nggak percaya sama apa yang dia denger dan lihat. Dia kenal banget suara mesin motor ini, dulu pas masih baru suaranya nggak sehalus ini, apalagi setelah hancur kena kecelakaan dan disiksa buat balap liar. Tapi sekarang? Ini jauh lebih enak, lebih padat, dan lebih berisi.
Faris turun pelan-pelan dari motor, mematikan mesin dengan tenang. Dia natap Bima yang masih bengong itu.
"Gimana, Mas Bima? Ada yang kurang? Atau mau coba dibawa jalan keliling dulu biar makin yakin?" tanya Faris santai, padahal di dalam hatinya dia juga sama kagetnya, ternyata modifikasi sensor buatan tangan mereka beneran berhasil semulus ini.
Bima diam cukup lama. Dia jalan mengelilingi motor itu, memeriksa setiap sudut, membuka sedikit penutup bodi, mengintip ke dalam ruang mesin. Dia nemu beberapa bagian yang kelihatan beda dari aslinya, terutama di bagian sensor yang mereka akali itu. Dia sadar banget, ini bukan sekadar diperbaiki, tapi diutak-atik sampai lebih bagus, lebih canggih, dan lebih pas lagi penyetelannya.
"Kalian... kalian gila ya?" geram Bima pelan, nadanya berubah jadi dingin dan marah. Dia natap tajam ke arah Faris. "Siapa yang kasih izin utak-atik bagian dalam kayak gini? Ini motor ratusan juta lho! Kalian kira mainan apa?!"
Ali langsung maju dikit, berani juga dia ngejawab. "Lho Mas Bima, kan yang bilang harus diperbaiki biar bisa jalan? Kita kerjain semampu kita, hasilnya kan bagus malah lebih bagus dari sebelumnya!"
Bima mau marah besar, tapi dia sadar dia terjebak omongannya sendiri. Kalau dia ngomong ini belum beres, berarti dia bohong, karena jelas-jelas motor itu hidup mulus banget. Kalau dia ngaku beres, berarti dia harus bayar mahal dan ngaku kalah sama anak putus sekolah yang dia anggap rendahan. Harga dirinya sebagai anak konglomerat tersakiti banget rasanya. Dia nggak terima, dia nggak rela ada orang yang lebih hebat dari dia, apalagi orang yang dulu sering dia ejek di sekolah.
Dia mengelus dagunya, matanya berputar licik. Lalu dia tersenyum lagi, senyum yang lebih seram dari marah.
"Oke... oke... saya akui... kalian emang lumayan punya bakat ajaib. Motornya emang nyala, emang jalan mulus. Berarti kalian menang, sesuai perjanjian," kata Bima pelan. Dia masuk ke saku celananya, ngeluarin dompet tebal kulit asli, ambil tumpukan uang tunai yang jumlahnya tebal banget. Dia lemparkan uang itu ke meja kerja, jatuhnya berantakan, ada yang ampe jatuh ke lantai. Jumlahnya pas banget sesuai janji, dua kali lipat harga ganti mesin, tapi cara ngasihnya jelas-jelas menghina, kayak ngasih makan anjing.
"Uangnya ada di situ. Anggap aja sedekah buat kalian. Tapi ingat ya Faris... Guntur... Ali..." Bima mendekat, menunduk dikit natap wajah mereka bertiga bergantian, suaranya serak rendah penuh ancaman. "Jangan kira karena bisa benerin satu motor rusak, terus kalian merasa udah jadi ahli sedunia. Dunia otomotif itu luas banget, kasar, dan kejam. Di luar sana banyak orang yang jauh lebih kuat, jauh lebih kaya, dan jauh lebih jahat daripada saya. Hati-hati ya... jangan sampai kalian nebang pohon di lahan orang lain, nanti kalian yang rugi. Banyak jalan menuju neraka, dan saya pastiin kalau kalian salah langkah sedikit aja, saya yang bakal antar kalian ke sana duluan."
Bima mundur, berbalik badan, lalu jalan keluar diiringi dua pengawalnya. Sebelum masuk ke mobil, dia sempat menoleh sebentar, menatap bengkel kecil itu dengan tatapan benci, lalu masuk dan membanting pintu mobil sekeras-kerasnya. Mobil itu melesat pergi meninggalkan debu tebal yang menutupi pandangan.
Guntur langsung mau lari mengejar, tapi ditahan kuat sama Faris.
"Bang! Dia itu kurang ajar banget! Udah menang kita kerjain beneran, malah ngomong sembarangan dan ngancam kayak gitu! Kita laporin aja orangnya!" seru Guntur geram banget, urat lehernya menonjol.
Ali juga ikut gemetar campur takut. "Iya Bang, dia beneran bakal ngerecokin kita nggak sih? Dia punya banyak koneksi jahat. Kita baru mulai nih, Bang... Bapak sama Ibu gimana nanti kalau dia bikin ulah?"
Faris natap tumpukan uang yang berantakan di meja itu, lalu natap jalanan yang udah kosong lagi. Dia menghela napas panjang, lalu senyum tipis banget kembali muncul di bibirnya. Dia ambil uang itu, dirapikan pelan-pelan, lalu dimasukkan ke saku dalam celananya. Dia berbalik badan, natap kedua adiknya yang masih emosi dan takut itu.
"Lihat kan, Gun, Li? Baru langkah kecil aja udah ada yang nggak suka, udah ada yang ngancam. Itu tandanya satu hal... apa yang kita lakuin ini bener dan bikin orang lain keder. Tenang aja, adik-adikku. Kata-kata dia tadi jangan dimasukin hati, tapi jadikan bahan bakar semangat. Dia bilang kita cuma bisa benerin satu motor? Kita buktiin nanti kita bisa lebih dari itu. Dia bilang kita bakal susah bertahan? Kita buktiin kita bisa berdiri tegak sampai dia yang kaget sendiri lihat perkembangan kita nanti. Ini baru permulaan lho... perjuangan kita masih panjang banget, dan rintangan yang bakal datang nanti pasti jauh lebih berat dari si Bima ini. Tapi percaya sama Abang... selama kita bertiga satu hati, saling jaga, dan tetap kerja keras, nggak ada ancaman yang bisa ngerobohkan kita."
Sore itu, matahari bersinar terik sekali, menyinari bengkel kecil Hidayat Bersaudara. Di luar sana, angin membawa kabar angin kalau nama mereka mulai terdengar. Tapi di balik pujian itu, ada mata-mata yang mulai mengawasi gerak-gerik mereka, termasuk mata Bima dan orang-orang kuat di belakangnya. Perjalanan panjang menuju sukses sejati baru saja dimulai, dan ujian-ujian berat lainnya sudah menunggu di depan mata.