Di malam berkabut tebal di lereng Leuweung Larangan, Dawala dan Si Cepot berjalan pulang menuju Kampung Pasir Batang. Suasana terasa mencekam: kampung tampak sunyi gelap tanpa tanda kehidupan. Saat melewati pohon beringin kembar di gerbang, mereka dikejutkan oleh penampakan mengerikan—sesosok kepala wanita tanpa tubuh, penganut ilmu Teluh yang sedang mencari tumbal—disertai tawa melengking dan bau busuk. Ketakutan melanda keduanya, memaksa mereka lari sekuat tenaga dan menggedor pintu bambu rumah terdekat demi keselamatan, sementara makhluk itu terus mendekat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Pesan dari Langit
Setelah kembali dari Negeri Sebrang, kehidupan di desa kembali berjalan tenang seperti biasa. Warga merasa semakin aman, dan nama Cepot serta Dawala semakin dihormati, meski keduanya tetap bersikap biasa saja dan tidak mau dipuji secara berlebihan.
Suatu sore yang cerah, saat kedua bersaudara itu sedang duduk santai di halaman rumah sambil menikmati angin sore, tiba-tiba langit yang tadinya biru bersih berubah secara perlahan. Awan putih bergerak berkumpul membentuk gumpalan besar yang teratur, lalu berubah warna menjadi keemasan yang lembut, tidak menyilaukan mata. Dari balik awan itu turunlah cahaya yang membentuk jalan lurus, dan terdengar suara lembut namun jelas yang terdengar di hati mereka, bukan hanya di telinga.
“Cepot… Dawala… dengarkanlah pesan ini…”
Mendengar suara itu, keduanya segera berdiri tegak dan menundukkan kepala sebagai tanda hormat. Mereka merasakan getaran yang menenangkan, bukan rasa takut sedikit pun.
“Siap mendengar, wahai yang memberi petunjuk,” jawab Cepot dengan suara tenang.
Suara itu melanjutkan, “Kalian telah melewati banyak ujian: mengalahkan kejahatan, menolong yang terganggu, menjaga keseimbangan, dan memahami bahwa kekuatan sejati bukan untuk dikuasai, melainkan untuk dilayani kebaikan. Kini, tugas yang lebih besar menanti, bukan lagi hanya di satu tempat, tapi meluas ke seluruh penjuru alam.”
Dawala menoleh sebentar ke arah kakaknya, lalu bertanya dengan nada sopan, “Apakah ada bahaya baru yang akan datang, Tuan? Kami siap berusaha sebisa kemampuan kami.”
“Bukan bahaya yang datang menyerang, melainkan tugas menjaga agar keseimbangan yang sudah pulih ini tetap terjaga selamanya,” jawab suara itu. “Di berbagai tempat, masih tersisa sisa pengaruh masa lalu yang bisa bangkit lagi jika tidak dijaga. Tidak dalam wujud makhluk jahat yang jelas terlihat, melainkan dalam wujud keraguan, keserakahan, dan ketidaktahuan yang bisa tumbuh di hati makhluk hidup.”
Cahaya di langit kemudian berubah membentuk gambaran: terlihat banyak tempat yang berbeda, ada hutan, sungai, gunung, dan desa-desa jauh. Di setiap tempat itu terlihat titik cahaya kecil yang berkedip-kedip, ada yang terang, ada yang mulai redup.
“Setiap titik cahaya itu adalah pusat keseimbangan alam,” jelas suara itu. “Jika salah satu padam, maka ketidakteraturan akan mulai menyebar. Kalian telah dipercaya membawa Golek Pancasona, yang menjadi jembatan antara kekuatan alam dan kehendak yang baik. Tugas kalian ke depannya adalah mengunjungi tempat-tempat itu, memastikan cahayanya tetap terjaga, dan mengajarkan makhluk hidup untuk hidup selaras dengan lingkungannya.”
Cepot menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu tersenyum santai meski mendengar tugas yang terasa luas itu. “Wahai yang memberi petunjuk, tugas ini memang terasa besar. Tapi kami mengerti maksudnya. Selama kami berjalan bersama, saling mengingatkan, dan tidak melupakan apa yang sudah dipelajari, kami akan mencoba menjalaninya dengan sebaik-baiknya.”
“Semangat itulah yang dibutuhkan,” jawab suara itu dengan nada yang terdengar bangga. “Ingatlah, kalian tidak sendirian. Setiap makhluk yang hatinya bersih akan menjadi sekutu kalian. Kekuatan bukan di tangan, tapi di niat yang tulus. Pergilah, dan biarkan kebaikan menyebar seluas alam ini.”
Begitu pesan itu selesai, cahaya keemasan perlahan memudar, awan kembali menyebar seperti biasa, dan langit kembali cerah seperti semula. Hanya tersisa perasaan tenang dan keyakinan yang semakin kuat di dalam hati kedua bersaudara itu.
Malam itu, mereka duduk berdua sambil membicarakan apa yang baru saja terjadi. Dawala terlihat agak berpikir dalam.
“Kang, berarti perjalanan kita tidak akan berakhir sebentar lagi, ya? Kita tidak hanya tinggal di desa saja, tapi harus pergi ke banyak tempat yang belum pernah kita kunjungi.”
Cepot tertawa kecil sambil menepuk pundak adiknya. “Lalu kenapa? Bukankah perjalanan itu yang membuat kita mengerti banyak hal? Kalau kita hanya diam di satu tempat, rasanya seperti hidup di dalam tempayan saja, tidak tahu apa yang ada di luar sana. Lagian, kita berdua kan sudah terbiasa berjalan jauh, membawa bekal secukupnya dan membawa akal sehat.”
“Tapi kita harus berpamitan dengan Ibu, kan?” tanya Dawala. “Pasti beliau akan khawatir melihat kita pergi lagi dalam waktu yang lama.”
“Tentu saja,” jawab Cepot. “Kita akan bicara baik-baik, jelaskan semuanya. Beliau pasti mengerti, karena selama ini beliau selalu mengajarkan kita untuk berbuat baik kepada siapa saja dan menjaga apa yang baik.”
Keesokan harinya, mereka menyampaikan maksud dan rencana itu kepada ibu mereka. Awalnya, hati ibu terasa berat melihat kedua putranya harus pergi lagi, namun mendengar penjelasan yang tulus dan melihat keyakinan di mata mereka, beliau pun mengangguk sambil tersenyum lembut.
“Pergilah, anak-anakku,” katanya sambil memeluk mereka satu per satu. “Ibu bangga melihat kalian tumbuh menjadi orang yang berani dan bertanggung jawab. Ingatlah selalu ajaran yang Ibu sampaikan: jaga ucapan, jaga hati, dan tolonglah sesama tanpa pamrih. Rumah ini akan tetap terbuka lebar kapan pun kalian ingin pulang.”
Setelah mempersiapkan segala kebutuhan, berpamitan dengan tetangga dan warga desa, serta memastikan semuanya aman, Cepot dan Dawala pun melangkah pergi meninggalkan desa yang mereka cintai. Di pinggang Cepot tergantung Golek Pancasona, di tangan Dawala tergenggam erat galah bambu andalannya, dan di hati mereka tersimpan semangat serta keyakinan yang tidak goyah.
Langkah mereka kali ini terasa lebih ringan dan mantap. Mereka tidak lagi berjalan karena harus menghadapi bahaya yang tiba-tiba, melainkan berjalan dengan tujuan yang jelas: menjadi penjaga kedamaian, pembawa kebaikan, dan teman bagi siapa saja yang membutuhkan bantuan.
Sepanjang perjalanan, mereka bertemu dengan berbagai hal yang baru: hutan yang lebih lebat, sungai yang lebih luas, gunung yang lebih tinggi, serta berbagai makhluk dan manusia dengan kebiasaan serta keunikan masing-masing. Di setiap tempat yang mereka kunjungi, mereka tidak hanya menyelesaikan masalah yang ada, tapi juga berbagi pengetahuan: cara merawat tanah, menjaga air, dan hidup rukun dengan alam sekitar.
Suatu hari, saat mereka sedang beristirahat di tepi sungai yang sangat jernih, Dawala bertanya sambil melihat ke arah cakrawala yang luas.
“Kang, sampai kapan kita akan berjalan seperti ini? Apakah suatu saat nanti kita akan menemukan tempat untuk berhenti dan tinggal dengan tenang selamanya?”
Cepot menatap ke arah depan, lalu menjawab dengan senyum yang tenang. “Da, perjalanan ini tidak ada akhirnya. Selama masih ada kehidupan, selama masih ada yang perlu dijaga dan dibantu, langkah kita akan terus berjalan. Tapi bukankah itu justru indah? Kita tidak perlu terburu-buru sampai ke ujung jalan, karena kebahagiaan dan makna hidup itu justru ada di setiap langkah yang kita lalui, setiap pertolongan yang kita berikan, dan setiap kedamaian yang kita ciptakan.”
Mendengar jawaban itu, Dawala mengangguk paham. Ia tersenyum, lalu melanjutkan langkahnya berdampingan dengan kakaknya. Angin berhembus lembut membawa kabar dari tempat yang jauh, seolah mengajak mereka untuk terus melangkah maju, menuliskan kisah kebaikan yang akan terus dikenang sepanjang masa.
Demikianlah, kisah Cepot dan Dawala tidak berakhir di sini. Ia terus berlanjut, mengalir seperti air sungai yang tidak pernah berhenti, menyebarkan manfaat dan kedamaian ke mana pun ia pergi—menjadi bukti bahwa keberanian, keikhlasan, dan persahabatan sejati akan selalu menjadi kekuatan yang tak terkalahkan.