Viola Denada Danuarta, itulah namanya, seorang gadis berparas cantik memiliki darah keturunan Belanda. Ia adalah anak kedua dari keluarga Danuarta yang cukup berpengaruh.
Namun, memiliki ekonomi yang serba berkecukupan tak bisa membuat seorang Viola bahagia. Karena ujian nya ada di kisah asmara nya.
Di kali kelima dia menunggu sang kekasih, tepatnya didepan kantor catatan sipil untuk mendaftarkan pernikahan, dia kembali di bohongi dan di hianati oleh sang tuanangngan.
Setelah dia memutuskan untuk melupakan segalanya tentang laki-laki itu dia malah mengalami kecelakaan hebat, pada akhirnya kecelakaan tersebut merenggut ingatan Viola selama tiga tahun terakhir, tak hanya itu dia juga di nyatakan lumpuh sementara.
****
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab #33
"dia mengatakan sesuatu, dia bilang dia memiliki hubungan spesial dengan kak Doha, dan dia ingin menemui nya, kakak sepupu, kau sendiri tau sekarang kondisinya kak Doha seperti apa, dia di kurung di ruang bawah tanah oleh papa karena melakukan kesalahan," ucap Celine dengan wajah cemas.
Zehan terdiam, dia tau kalau Celine sangat menyayangi sang kakak ya itu Doha, karena sejahat apapun Doha terhadap musuh atau orang lain, dia akan selalu menjadi orang yang paling menyayangi dan menjaga Celine.
"Lalu apa yang membuat mu datang kepada ku?" tanya Zehan dengan hati-hati.
"Aku tau hanya kak Zehan yang bisa membujuk papa, tolong kak, tolong bebaskan kak Doha dari hukuman papa, aku takut terjadi hal yang tidak baik dengan nya, setidaknya tolong bantu aku untuk menyingkirkan Lola dari kak Doha, karena jika dia terus datang ke kediaman untuk menuntut pertemuan dengan kak Doha, jika papa tau, hukuman kak Doha akan bertambah," ucap Celine memohon kepada Zehan.
"Celine tenang lah, papa mu tidak akan menyakiti kakak mu, dia hanya mendidik nya saja, kau tau sendiri kan bagaimana Doha, dia sama sekali tidak memenuhi apa yang di ucapkan oleh papa mu selama ini, papa mu melakukan hal ini juga demiki nama baik keluarga, soal Lola, wanita itu biarkan aku yang mengurus nya, aku pastikan dia tidak akan datang lagi ke kediaman kalian, aku akan menyuruh Erik untuk menangani hal ini," ucap Zehan panjang lebar.
Celine menghapus sisa air mata nya, dia tersenyum dan kemudian berterima kasih kepada Zehan.
"Terima kasih banyak kakak sepupu, hanya kau yah bisa membantu kak Doha," ucap Celine lagi.
"Biar bagaimanapun, dia adalah sepupu ku, kau tidak perlu berterima kasih," kata Zehan lagi.
"Oh ya, aku tidak bisa berlama-lama di sini, tapi ada satu hal yang membuat ku penasaran, wanita cantik itu, dia adalah putri Viola dari keluarga Danuarta?" tanya Celine dengan wajah penasaran.
"Hmm," jawab Zehan sambil mengangguk.
"Kenapa dia di sini?" tanya Celine lagi.
"Menurut mu?" lanjut Zehan.
Celine terdiam dan mengerutkan keningnya.
"Aku tidak tau," lanjut Celine.
"Dia istri ku," balas Zehan sambil tersenyum tipis.
"Hah! Is-istri?" kaget Celine dengan mata terbelalak.
Zehan pun menjawab nya dengan sebuah anggukan.
"Tunggu-tunggu, apa jangan-jangan dia adalah wanita yang selama ini selalu kau tunggu?! Dia adalah cahaya bulan putih mu?" ucap Celine menunjuk wajah Zehan.
"Kau tau banyak ya," ucap Zehan sambil terkekeh.
"Oh ya tuhan, astaga, pohon tua akhirnya berbuah setelah sekian lama," ucap Celine sebagai pribahasa untuk Zehan.
"Sudah lah, jangan banyak bicara," ungkap Zehan lagi.
"Tidak bisa, aku harus menemui kakak ipar, aku ingin berkenalan dengan nya, dia sangat cantik," ucap Celine hendak pergi dari hadapan Zehan.
"Tidak-tidak, jangan sekarang, banyak hal yang tidak bisa kau mengerti untuk saat ini, ini bukan waktu yang tepat, sebaiknya kau kembali dan jaga Doha, lain kali aku akan membawa nya bertemu dengan mu," kata Zehan menahan adik sepupu nya.
"Yahhh, kak Zehan kau payah, baiklah kalau begitu aku akan menunggu waktu itu ya, kalau begitu aku permisi dulu," ucap Celine yang tidak banyak neko-neko.
Setelah berpamitan, Celine pun meninggalkan tempat tersebut, dia kini hanya ingin fokus dengan hukuman yang di terima Doha.
Sementara itu di sisi lain ...
"Di mana Hans?" ucap Liam kepada salah satu karyawan di perusahaan teman Hans bekerja.
"Pak Hans sedang makan siang bersama teman-teman nya, tunggu beberapa menit lagi dia mungkin akan kembali," kata karyawan tersebut yang kemudian berlalu pergi.
Liam pun memutuskan untuk duduk di ruang tunggu.
Tiga puluh menit berlalu.
"Pak Hans!" panggil bawahan Hans yang saat itu menghampiri Hans yang baru kembali dari luar untuk makan siang.
"Ya, ada yang bisa ku bantu?" tanya Hans.
"Seseorang menunggu mu di ruang tunggu, sudah tiga puluh menit berlalu," katanya menyampaikan.
"Oh ya?. baiklah, terima kasih," Hans pun berjalan menuju ruang tunggu.
Lima menit kemudian,
Dia tidak menyangka kalau yang menunggu nya saat ini adalah Liam.
"Kau, apa yang kau lakukan di sini?" Hans menatap wajah Liam dengan tatapan malas. Jika dia tau itu adalah Liam, mungkin dia tidak akan datang untuk menemui nya.
"Hans, aku ingin bicara sebentar," Liam berdiri dari duduknya ketika melihat Hans datang.
"Katakan," ujar Hans dengan nada malas.
"Ini masih soal Viola, aku tau kau mengetahui sesuatu tentang nya, Hans, tolong katakan kepada ku di mana dia?" ucap Liam sambil menatap Hans dengan penuh harap.
"Cih, sudah ku duga, ternyata kau datang ke sini untuk Viola, kenapa? Apakah kau sudah kehilangan gundik mu? Atau dia sudah bosan dengan mu?" cemooh Hans untuk Liam.
"Jangan bawa-bawa Laura, dia tidak ada hubungan apapun dengan hal ini, aku hanya ingin kau mengatakan tentang Viola kepada ku," ucap Liam mulai terpancing emosi.
"Aku tidak tau, lagipula kau sekarang bukan lah siapa-siapa Viola, kau tidak layak untuk mengetahui nya," ucap Hans dengan senyum tipis.
"Sekali lagi aku bertanya, di mana Viola!" ucap Liam sambil mencengkram kerah baju Hans.
Namun hal ini tidak membuat Hans gentar sama sekali, dia malah tersenyum dan mengangguk mendorong Liam menjauh dari nya.
"Liam Liam, aku pikir kau sekarang sudah gila informasi, namun sayangnya, tidak ada satupun dari kami yang bisa memberikan mu informasi itu, seharusnya kau berusaha sendiri, aku juga bukan sahabat mu lagi, tolong pergilah dari kantor ini atau aku akan memanggil satpam untuk menyeret mu?" kata Hans masih berusaha menahan diri untuk tidak melayangkan pukulan ke wajah Liam meskipun dia sangat ingin melakukan nya.
"Kalian benar-benar memilih untuk memutuskan hubungan di bandingkan dengan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi kepada ku?" kata Liam.
"Kau adalah orang yang kejam dan tidak layak bersama dengan Viola, kau hampir membunuh bibi mu, kau memecat sepupu mu, kau melakukan apapun yang kau inginkan tanpa memikirkan keselamatan orang lain, Liam, kau sebenarnya tidak layak di sebut manusia, karena itu lah Viola beruntung tidak bersama dengan mu sekarang," jelas Hans, karena ini kantor Hans berusaha untuk menahan diri agar tidak berkelahi dengan Liam.
Meskipun sebenarnya Hans sangat membenci Liam karena perbuatannya kepada Sekar akhir-akhir ini sangat keterlaluan, Sekar bahkan hampir menjadi wanita malam demi ibunya.
"Satpam!" teriak Hans.
"Cukup! Baiklah, kau tidak ingin mengatakan nya, aku akan pergi," Liam yang sudah tidak bisa membujuk Hans untuk informasi apapun itu memilih untuk meninggalkan kantor tersebut.
"Seseorang mulai menerima karma buruk nya," batin Hans yang kemudian berlalu pergi untuk melanjutkan pekerjaan.
Sementara itu di sisi lain,
"Ini adalah proyek penting, kau harus mengerjakan nya dengan seksama, jangan sampai ada satupun kesalahan, jika tidak kau akan menerima akibatnya," ucap Monica kepada Sekar.
"Tapi buk, ini kan seharusnya ibuk yang mengerjakan nya," ucap Sekar sambil menerima dokumen yang di berikan Monica dengan penuh rasa bingung.
"Kau membantah ku? Apa kau lupa sekarang pak Pandu sedang dalam perjalanan dinas? Di sini aku lah yang menjadi penganti nya," ucap Monica berlagak seolah-olah dia lah yang berkuasa.
"Bukan begitu buk, tapi saya sendiri sedang menangani proyek lain," jelas Sekar dengan sopan.
"Saya tidak mau tau, jika kau tidak menyelesaikan nya sebelum pak Pandu kembali, sebaiknya kau tidak perlu bekerja di sini," ancam Monica lagi.
Sekar terdiam, dia tau kalau Monica adalah asisten sekaligus sekertaris nya Pandu, dan dia juga tidak ingin kehilangan pekerjaan ini, mau tidak mau Sekar harus menurutinya.
"Baiklah kalau begitu buk, saya akan berusaha," ucap Sekar.
Bagus, setelah selesai tolong antarkan ke ruangan saya," ucap Monica yang kemudian berlalu pergi.
"Lihatlah, Sekar di intimidasi," bisik beberapa karyawan lain.
"Siapa suruh dia mencuri perhatian pak Pandu, buk Monica pasti sangat iri, dia tidak akan membiarkan orang lain lebih dekat dengan pak Pandu selain diri nya," lanjut mereka.
Sementara itu Sekar yang mendengar hal tersebut hanya diam saja, niatnya datang ke perusahaan bukan lah semata-mata untuk mencuri perhatian siapapun, dia datang untuk bekerja dan membiayai ibunya.
Masalah Pandu yang peduli dengan nya, dia memiliki alasan tersendiri, antara lain dia adalah sahabat baik Viola, dan dia juga banyak membantu Viola, Sekar pikir kepedulian Pandu terhadap nya adalah hal yang cukup wajar.
"Di saat-saat seperti ini, aku malah merindukan Viola, kira-kira kapan ya, aku bisa bertemu dengan nya?" batin Sekar.
Malam harinya ...
Kediaman Zehan dan Viola,
"Di mana Viola?" ucap Zehan yang saat ini menunggu Hani membawa Viola keluar dari kamar untuk makan malam.
"Nyonya bilang dia tidak enak badan tuan, dan dia tidak mau makan," jelas Hani kepada Zehan.
"Apa? Tidak enak badan?" Zehan berdiri dari duduknya mendengar ucapan Hani dia sedikit kaget karena tadi siang Viola baik-baik saja.
"Iya tuan, dia bahkan bersembunyi di dalam selimut," ucap Hani lagi.
"Buatlah bubur hangat, aku akan memeriksa nya dulu," kata Zehan yang kemudian segera menuju kamar Viola.
Pintu kamar terbuka dan terlihat Viola yang saat itu menyembunyikan dirinya di dalam selimut seperti apa yang di katakan bi Hani.
"Apa lagi bi? Sudah ku bilang aku tidak mau makan," kata Viola kesal, dia membuka selimut karena berfikir itu adalah Hani yang kembali lagi.
"Ini aku," Zehan duduk di samping tempat tidur tersebut, tepat nya di samping Viola.
Viola menatap nya dengan tatapan tajam, tidak biasanya sang istri seperti ini, dia terlihat marah dan tidak senang.
Zehan menempelkan punggung tangan nya ke jidat Viola untuk merasakan suhu tubuh nya.
Namun segera saja Viola menepis tangan Zehan.
"Ada apa dengan mu? Tidak biasanya kau segalak ini padaku? Suhu tubuh mu baik-baik saja, kenapa kau tidak mau menemani ku makan malam? Kepala dan tangan ku masih sakit, aku butuh suapan," ucap Zehan sambil sedikit menggoda.
Namun tatapan tajam Viola malah semakin menjadi-jadi kepada nya, mata Zehan saja ini sudah kalah tajam dari itu.
****
gimana dengan sekretaris nya yang galak itu ya🤔
siap siap gak bisa jalan besok nya Vio 😆😆😆😆
malah lari,bukannya hadapi istri🤦🏻♀️
lebih telak lagi kalau vio sadar dia malah tidak ingat kamu suaminya,malah ingat Liam kekasih nya🤣🤣🤣🤣kapok😏
tragis bener nasib mu Vio...
Bener2 bodoh plus ogeb pemikiran si Liam ini 🤣🤣🤣🤣
yang ada Viola bakalan koma atau meninggal...
Liam bakalan masuk bui ini karena kasus tabrakan yng di sengaja
kalau viola salah paham kamu bakalan dipisahkan sama Pandu.
udah tau gimana gila nya kk ipar mu itu.mending dibicarakan deh.bukannya suami istri itu harus saling komunikasi
Mereka lebih dari seorang Liam..
apalagi Zehan sekarang suaminya Vio.
siap2 Liam di hajar Zehan kalau coba menyakiti atau menculik istrinya
hadapi ulat bulu dengan elegan
istrimu sedang cemburu Zehan...
kesian Zehan sih udah suami istri malah udah cinta tapi gak bisa nyentuh Viola...