Lima tahun Riana menyerahkan hatinya untuk satu nama yaitu Irwan. Lima tahun pula ia percaya bahwa dirinya adalah satu-satunya.
Sampai sebuah kenyataan menamparnya dan menghancurkan segalanya.Ternyata selama ini Riana bukan kekasih Irwan tapi ia hanya... selingkuhan.
Riana ingin memutuskan untuk pergi. Ia muak. Tapi Irwan menolak melepasnya. "Kamu sudah terlalu dalam di hidupku" katanya, dengan nada yang membuat Riana takut sekaligus lemah.
Di tengah luka dan ancaman itu, hanya ada satu orang yang selalu ada dua lah Arif. Sahabat yang selalu menemaninya, yang hapal caranya menangis dalam diam. Arif yang ternyata sudah lama menyimpan rasa, tapi memilih pergi demi kebahagiaan Riana.
Kini Riana harus memilih. Bertahan dalam cinta yang memenjarakan, atau berani bebas meski harus kehilangan semuanya? Dan sanggupkah Arif tetap diam saat wanita yang ia cinta sedang tenggelam?
Lima tahun cinta, ternyata hanya lima tahun kebohongan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rika nopiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 33
"Sayang,,,,,liat aku dong!!!!kamu ngapain sih dari tadi serius banget liatin ponsel kamu" Ara mencebik kesal ia hendak mengambil alih ponsel Irwan tapi pria itu langsung menyembunyikannya ke dalam saku celananya.
"Apa sih?" jawab Irwan ketus.
Ara mengangkat sepiring nasi goreng ke hadapan Irwan. "Liat dong,buatan aku yangg,coba A dulu" pintanya sambil membuka mulutnya lebar-lebar lalu ia segera memasukkan sesendok nasi goreng ke dalam mulut Irwan saat pria itu membuka mulutnya.
Mata Irwan membulat sempurna,ia langsung tersedak begitu menyadari rasa nasi goreng itu yang begitu asin.Ia meraih tisu dan memuntahkan nasi goreng itu ke dalam tisu.
"Apaan nih?" sentak Irwan sambil menjauhkan piring itu dari hadapannya,Ara menunduk sedih karna respon Irwan tak seperti yang dia harapkan "Loe cobain dulu gak sih pas lagi masak?atau ujug-ujug loe kasih gitu aja ke gue?" Irwan meminum air putih banyak-banyak.
"Tadi baunya enak kok" sanggah Ara
"Coba nih,loe cobain dulu baru loe boleh bilang enak" Irwan memberikan satu sendok untuk Ara coba, dengan ragu Ara menerima suapan itu dan ya reaksinya tak berbeda jauh namun saat gadis itu akan memuntahkannya Irwan malah menahan rahang Ara agar gadis itu tak bisa membuka mulutnya.
Ara memukul-mukul tangan Irwan namun Irwan malah tertawa kegirangan "Makan,telen biar gak mubazir" serunya.
Mau tak mau akhirnya Ara telan juga makanan di dalam mulutnya itu dengan mata berkaca-kaca,ia akui masakannya kali ini rasanya begitu mengerikan.
Irwan masih tertawa saat menyaksikan Ara meminum air putih dalam teko sampai habis."Lain kali gak usah masak,cewe kayak loe tuh cocoknya apa-apa dilayanin" apa yang bisa diharapkan dari anak tunggal keluarga kaya raya seperti Ara,Irwan bahkan bisa menjamin gadis itu pernah memasuki dapur hanya dalam hitungan jari.
"Aku bisa kok masak,tadi cuma salah masukin takaran garemnya aja!" ia tak suka di remehkan "Pokonya setelah kita nikah nanti aku pengennya bisa masakin buat kamu sama anak-anak kita nanti" ujar Ara sambil bergelayut manja pada lengan Irwan
"Bahaya nih,cepet mati nanti gue" seloroh Irwan asal bicara.
"Heh, ngomongnya ya di jaga"Ara langsung memukul pundak pria itu kesal.
Irwan mengaduh pelan sambil mengelus pundak bekas pukulan Ara, lumayan besar juga tenaga wanita itu "Becanda doang, yaelah.Udah ah,gue berangkat dulu" pamitnya pergi.
"Kemana?" pasalnya sekarang sudah pukul 8 malam seharusnya ia beristirahat saja di dalam rumah.
"Ke apartemen si Doni,udah janjian gue mau main PS" ucap Irwan meyakinkan.
"Tiap hari banget nih main PS nya?" protes Ara
"Terserah gue lah!" balasnya acuh dia langsung menuju garasi rumahnya dan mengeluarkan mobil miliknya untuk ia bawa pergi.
Berdiam diri di rumah Irwan tanpa ada siapapun terasa membosankan bagi Ara,tadinya ia akan menginap karna memang ada kamar yang di khususkan untuknya.Tapi karna Tante Lena pun belum pulang ia memilih untuk kembali ke kediamannya.
Namun di tengah jalan tiba-tiba salah satu teman kampusnya yang bernama Vika menelponnya.
"Loe dimana Ra?"
"Di jalan mau pulang!"
"Kok pulang sih,loe gak jadi dateng ke ultah Ratu?"
"ooohh sit,gue lupa beneran!"
"Ya udah buruan ke sini,mumpung acaranya belum mulai nih"
"Gue belum siap-siap ,masa iya gue pake baju gembel gini?"
"Gak apa-apa,gampang itu mah gue bawa cadangan baju di mobil gue,buruan aja loe ke sini"
"Oke deh gue on the way sekarang"
Daripada dia suntuk sendirian,ia memutuskan lebih baik ikut berpesta bersama teman-temannya.Sebelum ke sana ia sempatkan mampir ke toko pakaian untuk membelikan kado temannya yang berulang tahun.
Ara memarkirkan mobilnya di depan sebuah club yang lumayan terkenal di sana,ia melihat para gadis keluar masuk dengan memakai baju seksi,ia kemudian menghubungi Vika untuk meminjam bajunya.
Sembari menunggu ia sempatkan untuk memoles wajahnya dengan make up tipis yang memang selalu ia bawa di dalam mobil,lalu ia merapikan rambutnya dan mengikatnya tinggi.Tak lama Vika datang mengetuk kaca mobilnya dan masuk ke dalamnya ia menyerahkan gaun malam berwarna merah ke tangan Ara.
"Anjir gak salah ini baju?" ucap Ara sambil membentangkan pakaian itu di depan wajahnya.
"Oke kok itu,cobain aja deh jangan bawel gak ada waktu lagi buat nyari" ucap Vika beralasan.
"Loe punya baju kayak gini dari mana sih?" Ara sedikit penasaran
"Udah lah coba aja" jawab Vika dengan wajah yang bersemu merah.
Ara menatap baju model kemben itu dengan bimbang karna memang ukurannya yang super pendek jika ia sedikit berjongkok saja sudah pasti akan terlihat pakaian dalam yang ia kenakan,belum lagi payet bling-bling yang menempel di sekeliling baju itu ia malah membuat ia merasa lebih mirip artis dangdut.
Ara perhatikan sekelilingnya sepertinya tak ada yang salah dengan pakaian ini karna yang lain pun memakai pakaian yang hampir serupa.Daripada ia keluar dengan mengenakan pakaian rumahannya ia akhirnya tetap memakainya di dalam mobil,tak lupa sepasang hills 12 centi untuk menyempurnakan penampilannya.
Ara dan Vika melangkah masuk ke dalam ke club yang langsung di sambut oleh dentuman suara musik yang kencang .Vika membawa Ara ke arah teman-temannya berada mereka saling menyapa kemudian berjoget bersama.
Ara menikmati alunan musik sambil menggoyangkan badannya ke kanan dan ke kiri,ia masih sadar sepenuhnya karena tidak berani menyentuh minuman memabukkan yang banyak di tawarkan sejak tadi.
Sampai matanya menangkap penampakan seorang pria yang sedang bercumbu mesra dengan wanitanya, bukan hal yang asing di tempat seperti ini tapi masalahnya pria itu kenapa ada di sini.
Ara lekas menghampirinya si pria masih anteng bertukar saliva dengan perempuan yang ia perkirakan berusia jauh lebih muda darinya bahkan tanpa malu tangan pria itu masuk ke dalam selangkangan wanitanya.
"Ekhemn"
Ara berusaha menginterupsi,dan berhasil pria itu mengerutkan dahinya melihat kehadiran Ara dengan pakaian yang menggiurkan.
"Ara?!!" Pria itu terkejut.
"Loe ngapain di sini Doni?" tanya Ara heran,ia juga sempat mengedarkan pandangannya barangkali kekasihnya juga ada di sini.
"Gue ya lagi nongkrong lah,,loe sendiri ngapain ke sini tumben banget.Pake baju yang...." Doni bersiul panjang memuji kecantikan Ara yang tampak begitu HOT malam ini.
"Irwan mana?" tanyanya langsung.
"Irwan ya mana gue tau,gue ke sini sendiri" jawab Doni jujur.
"Tapi tadi dia bilangnya mau pergi main PS sama loe di apartemen" Ara menatap curiga pada Doni, sedangkan pria itu menggeram tertahan,ia kesal pada sahabatnya yang berbohong sambil menyeret namanya
"O-ooh ya-ya, mungkin dia ada di apartemen gue sekarang" jawab Doni sedikit gugup.
"Gimana sih loe aneh banget!masa temen loe, loe biarin di sana sendiri" Ara mengomel sendiri.
"Gue lu-pa!" Doni menepuk dahinya sendiri seolah baru tersadar."Beby,nanti kita lanjutin kapan-kapan ya gue harus pergi" pamit Doni pada gadis di sampingnya,perempuan itu mencebik tak suka,ia juga menatap sinis pada Ara karna mengganggu kesenangannya.