Si Kecil yang Terbuang
Sejak lahir, Aluna Kirana dianggap sebagai pembawa kesialan hingga keluarganya tega membuangnya di tengah hujan. Beruntung, seorang nenek berhati mulia menemukannya dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang meski hidup dalam keterbatasan.
Bertahun-tahun kemudian, Aluna tumbuh menjadi gadis yang lembut, kuat, dan penuh ketulusan. Tanpa disadari, takdir membawanya kembali bertemu dengan keluarga yang pernah membuangnya. Di saat penyesalan mulai menghantui mereka, Aluna juga dipertemukan dengan Arsen Mahardika, seorang CEO muda yang perlahan mengubah jalan hidupnya.
Ketika rahasia masa lalu terungkap, mampukah Aluna memaafkan mereka yang telah meninggalkannya? Ataukah ia akan memilih orang-orang yang mencintainya tanpa syarat?
Sebuah kisah penuh haru tentang luka, pengorbanan, keluarga, dan cinta yang membuktikan bahwa seseorang tidak ditentukan oleh masa lalunya, melainkan oleh keteguhan hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daneen_Nis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 - Bukti yang Mengarah pada Kebenaran
Arsen memandangi berkas di tangannya cukup lama. Catatan tentang anak perempuan keluarga Prasetya yang hilang delapan belas tahun lalu membuat semua kepingan teka-teki mulai tersusun.
Namun, ia belum ingin menyimpulkan apa pun.
"Aku butuh bukti yang lebih kuat," gumamnya.
Rangga mengangguk.
"Kalau kita gegabah, justru bisa membahayakan Nona Aluna."
Arsen menutup map itu.
"Pastikan informasi ini tidak sampai bocor."
"Baik, Pak."
Di sekolah, Aluna berusaha menjalani hari seperti biasa. Tetapi pikirannya masih dipenuhi pengakuan Nenek Ratih.
Ia kini tahu bahwa dirinya memang bukan cucu kandung Ratih.
Meski begitu, kasih sayang wanita tua itu tidak pernah berubah sedikit pun.
Saat jam istirahat, Siska menghampirinya.
"Luna, kamu kelihatan sedih."
Aluna tersenyum tipis.
"Aku baru mengetahui sesuatu tentang diriku."
"Apa?"
"Aku ternyata anak angkat Nenek Ratih."
Siska terdiam beberapa saat.
Kemudian ia memeluk Aluna.
"Bagiku kamu tetap sahabatku."
Aluna tersenyum haru.
"Terima kasih."
Dari kejauhan, Keisha melihat pemandangan itu dengan wajah datar.
Namun, kali ini ia tidak menghampiri Aluna.
Pikirannya justru dipenuhi pertanyaan tentang alasan ayahnya menyelidiki gadis tersebut.
Di rumah keluarga Prasetya, Damar memanggil Surya.
"Apa ada perkembangan?"
Surya menyerahkan sebuah amplop.
"Ini salinan data rumah sakit delapan belas tahun yang lalu."
Damar segera membukanya.
Di dalamnya terdapat catatan kelahiran putri pertamanya.
Sayangnya, sebagian data telah rusak karena kebakaran arsip bertahun-tahun lalu.
Hanya satu kalimat yang masih dapat dibaca dengan jelas.
"Bayi perempuan lahir dalam keadaan sehat. Dikenakan kalung bulan sabit sebagai tanda keluarga."
Damar menutup matanya.
Kalung itu lagi.
Semakin banyak bukti yang mengarah kepada Aluna.
Sementara itu, di sebuah gudang tua, pria berjas hitam membuka map yang berhasil dicurinya dari Bukit Beringin.
Ia tersenyum puas.
"Jadi benar..."
Salah seorang anak buahnya bertanya, "Apa yang harus kita lakukan sekarang, Tuan Victor?"
Victor menatap dokumen itu.
"Kalau identitas gadis itu terbongkar sekarang, semua rencana kita akan hancur."
"Lalu?"
"Bakar dokumen aslinya."
Anak buahnya tampak ragu.
"Tapi bukankah dokumen itu sangat berharga?"
Victor tersenyum dingin.
"Selama tidak ada bukti, tidak ada yang bisa membuktikan siapa Aluna sebenarnya."
Tanpa ragu, anak buahnya memasukkan dokumen itu ke dalam tong besi dan membakarnya.
Lembaran-lembaran penting itu perlahan berubah menjadi abu.
Victor memandang api yang menyala sambil tersenyum puas.
"Mulai sekarang, tidak akan ada lagi yang bisa merebut apa yang seharusnya menjadi milik kami."
Menjelang malam, Aluna sedang menyiapkan makan malam bersama Ratih.
"Nek."
"Iya?"
"Kalau suatu hari keluarga kandung Aluna benar-benar datang..."
Ratih menghentikan gerakannya.
"...apa Nenek akan mengizinkan Aluna pergi?"
Ratih tersenyum lembut meski matanya mulai berkaca-kaca.
"Nenek ingin kamu bahagia."
"Tapi Aluna tidak ingin meninggalkan Nenek."
Ratih memeluk Aluna erat.
"Rumah ini akan selalu menjadi rumahmu."
Air mata Aluna menetes.
Ia sadar, siapa pun keluarga kandungnya nanti, wanita yang telah membesarkannya akan tetap menjadi orang paling berharga dalam hidupnya.
Di luar rumah, sebuah mobil hitam kembali berhenti di kejauhan.
Seseorang memotret rumah Ratih menggunakan kamera.
Setelah itu, ia mengirim foto tersebut kepada Victor.
Beberapa detik kemudian, sebuah balasan masuk.
"Saatnya menyingkirkan saksi yang masih hidup."
Tanpa disadari Aluna, ancaman kini bukan lagi ditujukan kepadanya.
Target berikutnya adalah Nenek Ratih, satu-satunya orang yang mengetahui awal mula dirinya berada di desa itu.