Seperti boneka, Lilyana merasa hidupnya diperalat keluarganya untuk kepentingan bisnis. Diminta bertunangan dengan Dave demi bisnis lalu tiba-tiba diminta putus karena tunangannya dituduh berkhianat terhadap perusahaan keluarganya.
Lily merasa inferior karena kelainan jantung bawaan yang dideritanya. Sejak orang tuanya meninggal, ia bersusah payah dengan segala keterbatasannya membangun kepercayaan diri, memperjuangkan cintanya dan membebaskan sengketa warisan dan perebutan kekuasaan di perusahaan keluarganya.
Akankah keberuntungan selalu berpihak padanya? Apakah ia mampu mengembalikan kedamaian dan kejayaan keluarganya? Bagaimana pula akhir kisah cinta segitiganya dengan seorang arsitek yang romantis dan petani sukses yang penuh semangat?
JANGAN LUPA DUKUNG LILY DENGAN LIKE dan VOTE yaa 😍😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahaya-senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Mertua
Tak lama beristirahat di Vila, mereka melanjutkan perjalanan darat kira-kira 30 menit ke rumah Asep. Rumah Asep cukup besar untuk ukuran rumah-rumah di kampung itu. Bangunannya tampak sederhana. Bangunan bagian depan rumah itu bertembok kokoh dan tinggi, namun bagian belakang sepertinya dari bilik bambu. Ada toko barang-barang rumah tangga dan pakaian muslim di pinggir jalan utama sebelum masuk pekarangan rumah. Kata Emak itu toko teh Uun. Jalan masuk ke halaman rumahnya tidak berpagar. Halaman rumahnya luas. Sebagian besar halaman digunakan untuk tempat penjemuran biji kopi yang baru selesai dipanen.
Turun dari mobil, mereka disambut harum wangi biji kopi. Segar. Rumah keluarga Asep tak memiliki pagar penyekat dengan tetangga. Begitu turun, beberapa tetangga rumahnya yang kebetulan sedang berada di luar menyapa dan menghampiri mereka.
“Hai, Kang. Apa kabar? Katanya sudah menikah di Jakarta ya? Kita nggak diajak ngiring manten nih.”
“Alhamdulillah baik, Mang. Ke sini atuh. Kenalan sama istri dan ipar saya.”
Mereka segera berjalan menghampiri teras rumah Asep yang luas.
“Kenalkan, ini namanya Mang Odin dan istrinya bi Winah. Kalau yang ini namanya mang Sholeh.” Asep memperkenalkan nama-nama tetangga dekat rumahnya yang datang menghampiri.
Lily dan Satya tersenyum sambil menjabat tangan mereka satu persatu.
“Aih geulis pisan istri kang Asep. Pantes kang Asep teh banyak nolak-nolakin mojang Jampang.
Ternyata seleranya tinggi banget ya. Atuh nggak ada mojang Jampang yang bening banget kayak eneng Lily mah.”
Asep hanya mesam-mesem mendengar komentar tetangganya. Ternyata mereka cukup tahu diri. Mereka hanya sekedar menyapa, berjabat tangan dan sedikit basa-basi saja. Setelah itu mereka kembali menjalani aktivitasnya dan mempersilakan keluarga Asep untuk beristirahat karena baru saja tiba dari perjalanan jauh. Lily bisa merasakan ada rasa persaudaraan yang erat di kampung itu, tidak seperti di kota besar yang penduduknya tak ada yang peduli satu sama lain.
Di dalam rumah, mereka sudah disambut Nini dan Bi Isah. Nini adalah ibu dari Abah atau nenek Asep, sedangkan bi Isah adik perempuan Abah. Mereka semua menyambut Lily dengan ramah. Tak sempat bicara lama, keduanya pamit melanjutkan aktivitas di dapur. “Punten ya, Neng. Kami ke dapur dulu. Masih harus masak untuk makan siang pekerja kebun dan makan malam buat pengajian kyai Hasan.”
Tak lama Asep juga ikutan pamit. “Sebaiknya neng Lily istirahat dulu di kamar. Akang mau langsung jalan lagi ke Surade dan Ciemas. Bro Satya mau istirahat, menemani Abah atau ikut saya?”
“Saya ikut kamu jalan-jalan aja, Bro. Nggak apa-apa kan, Bah?”
“Iya. Abah juga mau langsung ke kebun ngawasin panen kopi.”
Asep meraih tangan Lily yang masih memasang muka cemberut. ”Neng nggak apa-apa kan tinggal di rumah dulu sama Emak?”
Lily mengangguk. Dalam hati masih tak rela ditinggal sendirian di tempat yang masih asing seperti ini. Kenapa sih semua sibuk?
“Neng istirahat dulu ya. Kemungkinan rombongan teh Uun dan asisten kamu baru akan tiba setelah Dzuhur. Insya Allah Akang akan sampai rumah lagi sebelum maghrib karena setelah isya ada pengajian kyai Hasan di sini.”
Ditinggal di tempat yang baru dikenalnya sebenarnya membuat Lily merasa tidak nyaman. Tapi mengikuti aktivitas Asep juga tak mungkin dilakukannya. Kata Asep Ciemas dan Surade masih berada di kawasan Sukabumi Selatan juga, tapi perjalanannya akan cukup melelahkan karena kontur jalan yang sempit dan berkelok-kelok dan jarak antar kecamatan cukup jauh.
“Neng Lily kan baru sembuh, sebaiknya istirahat dulu aja. Kamar Asep sudah diberesin kok sama bi Onah. Kalau mau jalan-jalan sekitar sini, nanti sore Emak temani,” hibur emak yang berinisiatif merangkul menantunya yang terlihat ragu dengan dirinya sendiri. Wajahnya tak seceria tadi pagi.
Setelah mencium tangan Abah, Asep meraih tangan Emak dan mencium punggung tangannya “Asep pamit dulu ya , Mak. Titip neng Lily.”
“Setelah ashar harus segera pulang ya. Jangan mampir kemana-mana.”
“Iya, Mak. Asep juga sebenarnya belum tega ninggalin neng Lily, tapi Asep kan harus tanggung jawab sama kerjaan dan tugas kuliah.”
Emak mengacak-acak rambut Asep. “Hati-hati di jalan ya.”
Satya ikut pamit cium tangan dengan Abah dan Emak Asep.
Sebelum pergi, Asep kembali menghampiri istrinya dan mengulang lagi kalimat yang sama, “Akang pergi dulu ya. Eneng istirahat aja ditemani sama emak. Insya Allah sore pasti sudah kembali.”
Lily meraih uluran tangan suaminya dan menciumnya meski masih terlihat ragu dengan dirinya sendiri. Entahlah. Ia terlalu takut sendirian. Sejak pertama kali sadarkan diri setelah kepergian kedua orang tuanya, Asep selalu bersamanya. Rasanya ia tetap ingin selalu bersamanya. Meski mungkin kepergian suaminya hanya beberapa jam dan telah berjanji akan pulang, namun ia belum sanggup menunggu. Bagaimana kalau suaminya ada apa-apa di jalan? Entah kenapa pikiran buruk itu selalu menghantuinya. Ia tak mau menjadi pihak yang ditinggalkan sebab itu menyakitkan.
Emak kembali merangkul menantunya. Sebagai sesama perempuan, emak cukup jeli melihat perubahan raut wajah menantunya. “Neng, yuk emak temani istirahat di kamar. Neng Lily kan baru sembuh, harus banyak istirahat.”
Lily mengikuti saja apa yang dikatakan emak. Tak ada pilihan selain mengikuti emak. Hanya emak orang yang dikenalnya. Lagipula wanita paruh baya itu sangat perhatian dan baik padanya. Meski belum kenal betul, ia menerima Lily sebagai menantunya sepenuh hati. Lily harus mensyukuri itu. Betapa banyak ibu mertua di luar sana yang tidak bersedia menerima gadis yang belum dikenalnya sebagai menantu. Emak tidak
seperti itu. Tak ada api cemburu atau tatapan permusuhan yang ditunjukannya sejak pertama kali diperkenalkan sebagai istri anak kesayangannya. Tapi… apakah
kalau ia sendirian sikap emak akan sama dengan sikapnya di depan anaknya? Lily berharap emak bukan tipe perempuan bermuka dua seperti sebagian mertua yang ada di kisah sinetron yang mengharu biru.
Kamar Asep cukup besar dan tertata rapi. Ada sebuah dipan kayu sederhana ukuran nomor 3 di dekat jendela kamar. Tak banyak barang yang ada di kamar itu. Selain dipan, hanya ada meja belajar dan lemari jati 3 pintu yang salah satu pintunya merupakan cermin. Dipan, lemari dan meja belajar berdesain sangat sederhana. Polos tanpa ukiran atau motif yang rumit. Beberapa piala dan medali tersimpan di atas meja belajar itu. Jendela kamar terbuat dari kayu. Separuh jendela itu tertutup hording kain katun polos berwarna hijau muda. Ketika jendela itu dibuka, kamar akan langsung terhubung dengan udara luar sehingga wangi kopi yang sedang di jemur menyeruak
masuk ke dalam kamar. Segar.
“Neng pasti kelelahan. Muka eneng kelihatan lebih pucat dari tadi pagi. Kita tiduran dulu sebentar di sini yuk, Neng.”
Lily mengangguk. Ia mencoba merebahkan diri di dipan itu. Emak ikut rebahan di sisinya.
“Emak nggak ada kesibukan?”
“Kesibukan mah selalu banyak, Neng. Kerjaan kalau diturutin nggak ada habisnya. Sekarang emak mau nemenin neng Lily. Kita kan belum sempat ngobrol - ngobrol berdua dari hati ke hati. Pan udah diniatin dari awal juga kalau hari ini emak pengen berduaan sama menantu emak yang cantiknya kebangetan ini. Di sini atau di Bogor sama saja, emak pengen kenal menantu emak lebih dekat. Boleh kan?”
Lily tersenyum. Well-planed, tampaknya memang emak tipe perempuan yang konsisten dengan rencananya.
“Neng, kenapa tiba-tiba pengen ikut ke Jampang? Kan eneng baru sembuh.”
Emak mulai kepo.
Lily menatap mata ibu mertuanya. Ia tak ingin menjawab jujur kalau hanya untuk memenuhi hasrat ingin tahu lawan bicaranya saja. Penting untuk menatap mata lawan bicara, karena mata sulit dikondisikan untuk berbohong. Itu salah satu trik defensive
yang diajarkan Satya untuk mengenali siapa lawan bicara yang sebenarnya. Tapi itu hanya Lily dilakukan saat lawan bicaranya orang yang sudah cukup dikenal ya, sebab Lily belum cukup kuat menghadapi kekuatan sorot mata yang bisa digunakan untuk menghipnotis atau mempengaruhi pemikiran oleh orang yang belum dikenalnya. Dengan alasan itu, ia tetap tak berani menatap mata orang yang belum dikenal.
“Lily bingung, Mak,” jawabnya singkat tapi jujur.
“Bingung kenapa?”
“Bingung sama perasaan Lily sendiri.”
“Kok bisa?”
“Lily tahu kang Asep harus tanggung jawab atas pekerjaan dan kuliahnya yang ditinggalkannya selama menjaga Lily di rumah sakit. Tapi Lily masih juga bingung bagaimana mengisi waktu selama ditinggal kang Asep. Biasanya kan Lily banyak aktivitas, sekarang
bingung mau mulai aktivitas dari mana. Mungkin kelamaan tidur di rumah sakit kali ya, Mak.”
“Memang biasanya neng Lily ngapain sehari-harinya?”
“Yah melakukan kegiatan rutin sama aja seperti orang pada umumnya, Mak. Mandi, berdoa, makan, dan lain-lain yang rutin. Skripsi masih nunggu jadwal sidang susulan karena jadwal sidang sebelumnya dicancel karena Lily masih di rumah sakit. Selain urusan kuliah, Lily juga kudu ngecek perkembangan penjualan dan keuangan kafe, main sosmed, utak-atik foto dan video, ke salon dan yoga. Itu aja sih mak. Sisa waktunya paling banyak buat istirahat.”
“Sepulang dari rumah sakit sudah mulai aktivitas apa aja?”
“Ngecek perkembangan kafe aja, soalnya kata Siska ada beberapa investor yang tertarik kerjasama.”
“Kenapa belum mulai aktivitas yang lain?”
“Nah itu dia, Mak. Pikiran Lily masih buntu. Masih bingung harus ngapain. Mungkin efek obat. Kadang-kadang masih berasa melayang-layang. Bingung juga nggak tahu apa yang harus dilakukan orang yang sudah menikah. Sejak sadar nggak punya tempat bersandar lagi, Lily nggak mau kalau ditinggalin sendiri. Setahu Lily, suami istri itu harus selalu bersama. Makanya Lily maksa ikut ke sini, ikut suami.”
Emak senyum-senyum sendiri mendengar jawaban spontan itu. Lily malah merasa aneh dengan
kata-katanya sendiri. Kenapa ia jadi seperti ini sih?
“Eneng sayang banget ya sama anak emak?”
Lily bingung harus jawab apa. Merasa hampa karena ditinggalkan orang tua yang selama ini sangat menyayanginya. Bingung harus bergantung pada siapa. Yang ia tahu ia bisa bergantung pada suaminya, orang yang ketika terbangun dari sadarnya ada di sisinya. Ia merasa tak punya alasan untuk hidup, kecuali karena harapan dan doa suami dan asisten pribadinya.
wawasann kerennnn, mantapp
sayangg yg bacaa nya msih sdkittt..
smangat kaa..