Perjodohan adalah sebuah hal yang sangat
di benci oleh Abraham, seorang pengusaha
muda penerus kerajaan bisnis keluarga nya.
Dia adalah sosok yang sangat di puja dan di
damba oleh setiap wanita, dia merupakan
calon menantu yang sangat ideal dan di
impikan oleh setiap pengusaha dan para
bangsawan yang memiliki anak gadis, jadi
baginya hanya dengan menjentikkan jari
saja, wanita manapun akan dengan senang
hati memasrahkan dirinya untuk merangkak
di bawah kakinya.
Tapi..justru kakeknya, sang pemilik dan
penguasa serta pemegang kendali penuh
dari semua kekayaan keluarganya malah
memilihkan jodoh untuknya.
Dan sialnya lagi..wanita pilihan kakeknya
bukanlah wanita dengan kriteria dan tife
yang selama ini selalu menjadi standard nya.
Abraham sangat membenci keputusan sang
kakek. Namun demi warisan dan kendali penuh
atas segala kekuasaan yang telah di janjikan
padanya. Dengan terpaksa Aham menerima
semua keputusan kakeknya tersebut..
Dan bagi wanita yang juga terpaksa menerima
perjodohan ini..bagaimana kah dia akan bisa
menjalani hidupnya bersama seorang pria yang
sama sekali tidak menginginkan kehadirannya.?
Takdir seakan menjungkir balikan kehidupan
seorang gadis biasa terpaksa yang harus
masuk ke dalam kehidupan sebuah keluarga
yang di penuhi dengan keangkuhan dan
kesombongan akan dunia yang hanya
tergenggam sementara saja..
**Tetaplah untuk selalu di jalanNya..**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shan Syeera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Tenggelam
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
♥️♥️♥️♥️♥️
Meline berhambur memeluk Aham yang hanya
berdiri tenang. Tidak membalas ataupun menolak
pelukan sang adik. Feli dan Catherine terlihat
begitu bahagia melihat kedatangan Aham,
tatapan mata kedua gadis itu penuh dengan
cinta dan kerinduan.
Meline kembali ke tempat nya berdiri seraya
menarik tangan Aham. Feli dan Catharine
langsung maju menghampiri dan bermaksud
merangkul Aham, mereka ingin menyalurkan
seluruh perasaannya, sekaligus mengumumkan
pada semua orang bahwa Abraham Mahendra
adalah milik mereka.
Namun gerakan keduanya terhenti saat Aham
mengangkat tangan, tanpa kata dia melangkah
pergi dari area utama itu. Meline hanya bisa
mengerucutkan bibir nya, tapi dia cukup tahu
situasi mengingat kehadiran dua gadis yang
dekat dengan Kakaknya itu.
Wajah kedua gadis cantik itu langsung memerah
karena malu sekaligus kecewa dengan respon
Aham. Keduanya langsung berjalan mengikuti
langkah Aham menuju tempat yang lebih pribadi dengan saling lirik jengah.
Sementara itu Naya yang berdiri cukup jauh dari
Area utama terlihat menatap lekat kearah Aham
dengan mata yang entah kenapa tiba-tiba saja
berkaca-kaca. Dalam lubuk hatinya yang paling
dalam dia merasa begitu senang melihat
kehadiran laki-laki itu saat ini, di tempat ini.
"Kamu merindukan nya dear..?"
Naya tersentak saat Noah tiba-tiba sudah berdiri
di samping nya dengan tatapan lurus kearah
Aham yang saat ini terlihat berjalan menjauh
menuju area khusus.
"Apa yang Kak Noah bicarakan.?"
Naya memalingkan wajah. Tapi semburat
merah di wajahnya tidak bisa di sembunyikan.
"Dia memiliki daya tarik luar biasa yang bisa
melumpuhkan saraf urat malu di setiap wanita.
Hati-hati..kau juga bisa terkena racun nya.."
Bisik Noah di dekat telinganya. Naya melotot
kearah Noah. Laki-laki itu tersenyum usil. Naya
yakin Noah hanya bergurau saja. Tapi kok hatinya
tiba-tiba saja menjadi resah. Apa benar seperti itu ? Uuhh..dia yakin ini hanya lelucon Noah saja !
"Kakak kurang pandai melempar lelucon ! Aku
tidak akan percaya lagi padamu..!"
"Haha..aku tidak bercanda dear..! lihat saja
semua wanita di tempat ini meleleh saat
melihatnya.!"
"Sudah ! Kau terlalu membual..!"
Noah tertawa ringan saat Naya secara tidak
sadar memukul pelan pundak laki-laki itu.
Acara potong kue pun berlangsung. Semua
orang bertepuk tangan bersama mengiringi
lagu ulang tahun di susul potong kue oleh
si empunya acara.
Pesta terus berlanjut..
Aham duduk santai di area pribadi yang sudah
di siapkan khusus untuknya. Beberapa pelayan
langsung datang melayani dan membawakan
makanan serta minuman ke hadapan Aham.
"Honey..aku sangat merindukanmu."
Feli yang baru saja datang langsung merangkul
Aham begitu sampai di dekatnya. Catherine yang datang belakangan menatap geram ke arah Feli
lalu dengan kasar menarik tubuh Feli yang saat
ini masih merangkul Aham.
Aham menatap tanpa ekspresi pada dua gadis
cantik di hadapannya yang saat ini sedang berdiri
berhadapan dengan saling menatap tajam.
Catharine maju ingin merangkul Aham, tapi di
tahan oleh tangan Feli.
"Hei..apa yang mau kau lakukan.?"
"Minggir kamu..!"
"Kamu yang minggir, apa kamu tidak punya
malu Nona..?"
"Apa katamu ? bukannya kamu ya yang tidak
punya malu, main sosor saja.!"
"Jaga ya mulut kamu..?"
"Kenapa ? ucapanku benar kan ?"
Mata mereka kembali beradu panas. Keduanya
kembali adu mulut dengan saling menyindir
dan menjatuhkan satu sama lain.
Aham mendengus, dia berdiri, lalu melangkah
kearah lain, dia mengedarkan pandangannya ke
seluruh tempat pesta itu seperti sedang mencari
seseorang. Dan tiba-tiba matanya terpaku pada
satu sosok yang ada di sebrang nya. Dia melihat
saat ini Naya sedang berbincang dengan Amar
dan teman-teman nya, sedang Noah sedang bercakap-cakap dengan beberapa tamu penting
yang juga di undang dalam acara ini.
Naya tidak menyadari tatapan Aham yang saat
ini sedang mengunci sosoknya. Ada getaran
halus dalam hati Aham saat melihat wanita itu.
Tidak sadar bibir nya terangkat sedikit.
Mata Aham terus menatap tajam kearah Naya
yang belum menyadari kalau laki-laki angkuh itu
saat ini sedang memperhatikan dirinya. Namun
raut wajah Aham tiba-tiba berubah kembali dingin
saat melihat Naya tersenyum dan tertawa kecil di tengah perbincangan yang terlihat begitu hangat.
Aham melangkah menuju kearah Naya. Semua
orang terdiam sambil menunduk saat pria itu
lewat. Naya dan teman-teman nya saling lirik
saat suasana sedikit berbeda. Naya menoleh
dan jantung nya seakan berhenti seketika saat
melihat sosok tinggi gagah itu tengah berjalan
kearahnya dengan wajah yang begitu dingin.
Naya berbalik perlahan, matanya langsung
bersirobos tatap dengan mata Aham yang
seolah menusuk jantung nya. Tubuh Naya
seketika lemas dadanya berdebar hebat, dia
meremas jemarinya yang tiba-tiba menjadi
dingin dan kaku.
Aham berdiri di hadapannya. Amar dan teman-
teman nya langsung membungkuk hormat.
"Tuan Abraham..suatu kehormatan bisa bertemu
anda di sini."
Sambut Amar sambil menunduk. Teman nya
yang lain juga sama menunduk. Naya mundur
satu langkah, dia kini tidak berani lagi beradu
tatap dengan laki-laki itu.
"Hemm..apa kalian teman-teman nya Meline ?"
"I-iya Tuan..kami senior nya Meline di kampus."
Aham mengganguk sedikit tapi tatapannya
tetap tertuju pada wajah cantik Naya. Ingin
rasanya dia menarik wanita itu dari hadapan
teman-temannya. Lagipula kenapa dia harus berdandan seperti ini sih? Sial ! Apa dia tidak
menyadari kalau dirinya terlihat begitu cantik
malam ini.? geram Aham dalam hatinya.
Aham mengutuk dirinya sendiri saat bisikan
demi bisikan terus beranalog di dalam hatinya.
Sejak turun dari pesawat pribadinya, dia sudah
tidak sabar ingin segera sampai ke tempat ini.
Entah kenapa dia ingin sekali melihat wanita
ini. Selama satu minggu ini jiwanya seakan
tidak tenang karena jauh dari wanita ini. Ya..
wanita yang notabene nya adalah istrinya,
walau sampai saat ini belum di akuinya.
Tapi saat ini apa yang di lihatnya, wanita ini
terlihat begitu bahagia bersama teman-teman
pria nya, sungguh menyebalkan !
"Aham..kau disini rupanya. Aku perlu bicara
berdua denganmu.."
Feli tiba-tiba muncul, langsung merangkul lengan
Aham dan merebahkan kepalanya manja. Aham melirik gadis itu tanpa ekspresi, matanya kembali
menatap Naya yang sontak memalingkan wajahnya.
"Permisi Tuan, silahkan lanjutkan.."
Naya membungkuk sedikit kemudian berlalu
pergi dari hadapan Aham. Feli tersenyum
menatap kepergian Naya.
"Kami juga permisi Tuan.."
Amar dan teman-teman nya ikut menyusul
kepergian Naya karena tidak ingin menganggu
keintiman Agam dengan wanitanya.
"Kenapa Aham, apa kau sangat ingin bertemu
dengan istri pilihan kakekmu itu.? "
Feli bertanya seraya mengambil minuman dari
pelayan yang datang ke hadapan nya.
"Bukan urusanmu."
"Tentu saja itu jadi urusanku. Aham..satu minggu
ini aku sangat merindukan mu. Kau sangat sulit
untuk di hubungi.."
Feli semakin mempererat rangkulannya. Dia juga
merapatkan dada nya di lengan Aham.
"Aku sangat sibuk..Waktu istirahat ku sangat
terbatas.!"
"Setidaknya saat ada waktu luang, kau bisa
memberiku kabar honey.."
Aham melirik, menatap lekat bibir merah apelnya
Feli yang begitu menggiurkan.Tapi aneh..tak ada sedikitpun keinginan di hati Aham untuk mencicipi manis nya bibir itu.
Saat ini yang di inginkan Aham adalah bibir
ranum lain, yang selama satu minggu ini selalu
saja menganggu pikirannya dan meracuni otak
nya. Ini memang sesuatu yang gila !
"Feli..saat ini aku lelah ! kita bicara lain kali."
Aham menerima minuman yang di sodorkan
oleh pelayan. Feli tersenyum manis seraya
mengelus lembut wajah Aham.
"Baiklah honey..kita akan bicara lagi nanti. Apa
kau ingin istirahat di kamarmu sekarang.?"
Aham menggeleng. Matanya saat ini masih saja
tertuju pada Naya yang terlihat sedang bersama dengan Noah dan berbincang kecil. Rahang Aham seketika mengeras, dia kembali mengambil
minuman dan meneguknya langsung. Lagi, dan
lagi hingga membuat Feli sedikit gerah, dia
menyuruh pelayan tadi untuk Pergi.
"Honey.. sudahlah. Kau harus istirahat bukan ?
Bagaimana kalau kita ke kamarmu sekarang.
Aku akan menemanimu malam ini.."
Bisik Feli seraya menjilat halus daun telinga
Aham. Laki-laki itu terdiam. Tatapannya tidak
pernah lepas dari keberadaan Naya. Wajah Feli
memerah saat menyadari kemana kini fokus
dan perhatian Aham tertuju. Dia menggertakan giginya, kemudian melambaikan tangan pada
seorang pelayan hotel.
"Iya Nona..ada yang bisa saya bantu..?"
Pelayan hotel itu tampak gemetaran saat Feli
mendekat dan berbisik halus di telinganya.
------ -----
"Dear.. tunggu di sini, aku akan membawakan
minuman untuk mu."
Bisik Noah. Naya menggeleng menolak.
"Tidak usah Kak..aku.."
Naya terlihat ragu melihat semua minuman
yang berwarna aneh itu. Noah tersenyum lebar.
"Hahaa..tenang saja, aku tahu minuman apa
yang bisa kamu minum.."
Kekeh Noah sambil kemudian berlalu dengan
senyum yang masih terkulum. Naya terlihat
sedikit gelisah. Perasaan nya tiba-tiba saja
tidak enak. Dia melihat kearah keberadaan
Aham, mata mereka kembali bertemu dalam
jarak jauh. Ada sorot mata yang sulit untuk
mereka terjemahkan saat ini. Yang jelas dada
mereka saat ini begitu bergejolak dan rasanya
ini sangat menyiksa.
"Apa anda mbak Kanaya ?"
Naya menautkan alisnya ketika seorang pelayan
hotel datang menghampiri nya.
"Iya benar saya..ada apa Mas ?"
"Kepala pelayan memanggil anda, mari ikuti
saya, dia ada di bagian belakang !"
"Ohh.. baiklah."
Naya mengangguk kemudian berjalan mengikuti
Pelayan tadi. Mereka berdua berjalan melalui
kolam renang agar bisa segera mencapai area
belakang hotel. Saat melintasi pinggiran kolam
renang, tiba-tiba saja ada satu pelayan lain yang
berjalan cepat dari arah samping hingga tidak
sengaja menabrak tubuh Naya dan..
"Aaa..."
Byurrr !!
Tubuh Naya terpelanting, tanpa ampun lagi jatuh
tercebur kedalam kolam renang yang cukup dalam
itu. Orang-orang berteriak heboh menuju ke pinggir kolam saat melihat tubuh Naya perlahan mulai kehilangan keseimbangan karena gaun yang di kenakannya menyulitkan pergerakan nya.
"Cepat tolong dia..."
Jerit beberapa tamu panik saat tubuh Naya kini
semakin tenggelam. Aham yang mendengar
keributan dan kehilangan sosok Naya segera
berlari kearah kolam renang, begitupun dengan
Noah dan Amar serta teman-teman nya. Mata
mereka membulat panik saat melihat kini tubuh
Naya mulai masuk seluruhnya kedalam kolam.
Jantung Aham berdenyut nyeri saat melihat sosok
orang yang ada di kolam renang tersebut. Dengan
gerakan cepat dia melempar jas nya kemudian
terjun masuk kedalam kolam . Noah dan Amar
yang kalah cepat dari Aham hanya bisa berdiri
mematung dengan tatapan mata penuh kepanikan.
Aham menangkap tubuh Naya yang sudah
kehilangan kesadaran. Dia memeluk erat tubuh
kaku Naya di bawa ke permukaan. Noah segera
mendekat dan mengambil alih tubuh Naya dari
pangkuan Aham.
Tubuh Naya di baringkan sejenak, namun belum
sempat orang-orang bergerak.
"Minggir kalian..!"
Bentakan Aham membuat mereka membeku.
Aham langsung meraih tubuh Naya dari pangkuan Noah yang hanya bisa menatapnya penuh dengan kekhawatiran. Semua orang terdiam, mematung,
tidak dapat bergerak saat melihat sosok gagah
Aham yang basah kuyup berjalan dengan wajah membesi sambil memangku tubuh lemah Naya
keluar dari area pesta tersebut.
"Periksa semua orang yang ada di tempat ini,
jangan ada yang terlewat. !!"
Perintah Aham pada Leo dan semua pengawal
pribadinya.
"Baik Tuan !"
Semua orang semakin membeku dan berdiri
dengan lutut gemetar melihat reaksi Aham yang begitu murka.
----- -----
Aham berjalan mondar mandir di depan ruang
emergency. Wajahnya terlihat tidak tenang.
Terlalu banyak air yang masuk kedalam paru-
paru Naya hingga membuat keadaannya cukup
membuat semua dokter dan perawat harus
bekerja keras untuk melakukan pertolongan
pada nyawa gadis itu.
"Apa kalian bisa bekerja lebih baik lagi.?
kenapa dia belum sadar juga. ?!"
Bentakan Aham menggelegar di ruang periksa
saat dia menerobos masuk karena tidak tahan
ingin melihat kondisi Naya. Semua para medis
yang ada di tempat itu gemetaran.
"Cepat lakukan yang terbaik, kalau tidak aku
tidak akan membiarkan kalian hidup tenang..!"
"B-ba..baik Tuan..kami akan bekerja semaksimal
mungkin.."
Dokter kepala berkali-kali membungkukan
badan di hadapan Aham. Pria itu mendengus,
dia menatap sekilas kearah Naya yang terbaring
lemah dengan kulit yang semakin terlihat pucat kebiru-biruan. Hati Aham semakin berdenyut
nyeri melihat kondisi Naya.
"Aham.. tenanglah.! biarkan mereka semua
bekerja dengan tenang..!"
Noah mencoba menenangkan Aham, dia
memegang bahu Aham dan menepuknya kuat.
Aham kembali keluar dari ruang pemeriksaan.
Dia menjatuhkan dirinya terduduk lemas di atas
bangku dengan memegang kuat dahinya.
Noah beserta Amar dan teman-teman nya duduk
diam di bangku masing-masing. Walau keadaan sedang genting seperti ini, namun pertanyaan menggelitik kini menggelayuti pikiran Amar dan teman-temannya.
Kalau Naya adalah teman dekat Noah, lalu kenapa yang bereaksi berlebihan malah seorang Abraham Mahendra ?? ini sungguh sesuatu yang ganjil.
"Kalian boleh pulang..!"
Titah Aham mengagetkan Amar dan teman-teman nya. Mereka saling pandang bingung dan masih di liputi kekhawatiran akan kondisi Naya.
"Ta-tapi Tuan..kami akan menunggu sampai.."
"Dia dalam pengawasan ku.! kalian pergi saja !"
Debat Aham dengan intonasi suara yang
terdengar tidak ingin di bantah. Tangan Amar
terkepal kuat, kalaulah laki-laki yang ada di hadapannya ini bukan orang yang berpengaruh, mungkin dia sudah membuat laki-laki itu babak
belur. Orang ini sangat arogan, memang dia
siapanya Naya hingga bisa seenaknya saja
mengambil keputusan.
"Apa aku harus mengulangi ucapanku. ?"
Aham menggeram hilang kesabaran. Melihat
hal itu Noah segera memberi isyarat kepada
mereka agar mematuhi perintah Aham.
Dengan berat hati akhirnya Amar dan teman-
temannya terpaksa angkat kaki dari tempat
itu. Tentunya dengan perasaan tidak tenang
mengingat kondisi Naya yang belum jelas
bagaimana keadaannya sekarang.
Aham kembali berdiri, berjalan bolak balik.
Noah menatap Aham dalam diam.
Dia melihat gurat kecemasan yang teramat
sangat dari raut wajah Kakak angkat nya itu,
sungguh ini adalah sesuatu yang langka selain
waktu kejadian tempo hari saat Tuan Besar mengalami serangan jantung.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Bersambung....
ditunggu karya yg lainnya othor ku sayang...love sekebonnn😍
rindu juga ceritanya sherinda sma mayra thor..nnt mampir lg aaah💪💪💪