Ana kidung rumeksa ing wengi
Teguh hayu, luputa ing lara
Luputa bilahi kabeh
Jim setan datan purun
Paneluhan tan ana wani
Niwah panggawe ala
Gunaning wong luput
Geni atemahan tirta
Maling adoh tan ana ngarah ing mami
Guna duduk pan sirno ....
Ya, itu!
Lingsir Wengi, Rumeksa ing Wengi. Tembang yang selalu disenandungkan simbah putri setiap menidurkanku. Ketika simbah Putri meninggalkanku di kamar sendirian, lamat-lamat kulihat sesosok wanita ayu yang duduk dan tersenyum. Aroma bunga Mawar, menyeruak memenuhi ruangan kamar tidurku.
Aroma itu akan selalu muncul ketika simbah putri mulai bersenandung. Tapi malam ini, siapa? Siapa yang bersenandung? Aku juga belum sempat bertanya kepada simbah putri, tentang siapa sebenarnya sosok wanita berkebaya dan berkerudung itu ....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila Al Hasany, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
Beberapa hari yang lalu di bawah sebuah pohon besar pinggir sawah ....
Dalam kegelapan, seorang laki-laki berjalan tergesa-gesa menuju ke sebuah pohon besar yang terletak di pinggir sawah. Akar-akar pohon itu mencuat dari permukaan tanah.
"Kali ini, bagaimana pun caranya aku harus menang!"
Laki-laki itu mengamati keadaan sekitar.
"Sepertinya, tempat ini lah yang dimaksud oleh dukun itu."
Laki-laki itu lalu memandang sekeliling.
Setelah dirasa aman dan tidak ada seorang pun, ia mengangkat seekor ayam yang sekujur tubuhnya berwarna hitam. Kemudian menyembelih dan mengucurkan darahnya ke akar-akar pohon.
"Seharusnya, darah ayam cemani ini sudah cukup." Laki-laki itu bergumam sendiri. Setelah itu, dia menaburkan bunga di tempat yang sama. Beberapa saat kemudian, muncul sebuah pintu dengan atasan melengkung di balik pohon. Laki-laki itu berjalan masuk ke dalam pintu itu.
Laki-laki itu tiba di sebuah hutan yang rimbun dan gelap. Ia terus berjalan menyusuri hutan hingga sampailah ia di sebuah tempat yang lapang di tengah hutan. Laki-laki itu terlihat mulai menutup hidungnya.
"Uh... Bau sekali!"
Seketika ia melihat ada makhluk yang merangkak cepat melewatinya, ada makhluk yang bergelantungan dan tertawa di atas pohon. Ia hampir saja mengurungkan niatnya ketika ada sebuah tangan muncul dari bawah tanah, dan mencengkeramnya. Sebenarnya, ini baru pertama kali ia mendatangi tempat tersebut. Hanya karena tekad kuatnya, ia mencoba melawan segala keraguan. Dikibas-kibaskanlah kakinya itu.
Baru berjalan beberapa langkah, laki-laki itu kembali dihadang makhluk aneh lainnya. Wanita berambut panjang, wajah yang kurus kering seperti hanya tinggal kulit dan tulang, bola matanya hitam, dengan kuku-kuku panjang. Makhluk itu menyeringai, memperlihatkan gigi lancip yang siap mengoyak apapun.
"Akhirnya kau datang juga ke tempatku! Hahaha." Laki-laki itu terlonjak mendengar suara yang sangat keras. Ia mengedarkan pandangan, berusaha mencari sumber suara. Tak berapa lama, sebuah bayangan hitam berkelebat terbang melewatinya. Bayangan hitam itu pun menampakkan wujud aslinya. Laki-laki yang berpakaian hitam, menggunakan ikat kepala dengan warna senada dan tertawa terkekeh.
Makhluk-makhluk yang menghadang laki-laki itu, segera berbanjar melihat kedatangan pemimpin mereka. Mereka serempak memberi hormat.
"Iy iya, Ki ... saya datang untuk meminta bantuan Aki."
"Bantuanku? Hahahaha."
"Iy—iyaa, Ki ...."
"Memangnya kamu ini punya apa buat ditukar sama bantuanku?"
"Apa saja Ki. Apa saja yang Aki minta, saya akan usahakan!"
"Hmmm ... Menarik! Sungguh menarik. Apa yang kamu inginkan?"
"Anu ... Anu, Ki. Saya ingin menang lagi, saya ingin jadi Kades lagi!"
"Hahahaha! Mudah, itu perkara mudah bagi Dursatya ini! Hahahaha! Tapi kamu harus pegang janjimu! Sekarang pulanglah! Beberapa hari lagi, kembali kesini!"
"Ba ... baik, Ki."
Setelah kepergian laki-laki itu, Dursatya menjentikkan jarinya. Muncul beberapa makhluk yang menyeramkan, satunya berwajah harimau tapi berbadan manusia, yang membawa tombak, satunya lagi berkepala nyaris tanpa rambut bermata seperti ular dengan hidung yang hanya seperti lubang dan kulit bersisik dengan senjata trisula di tangannya. Mereka adalah pengikut setia Dursatya.
"Bagaimana hasil pengamatan kalian?"
"Gadis itu memang benar, pewaris sah Mangkuwijoyo, Tuan."
"Kalian tidak menampakkan diri kan?"
"Tentu saja, Tuan."
"Bagus, bagus! Jangan sampai ketahuan Sekar Kemala ataupun prajuritnya!"
"Ya , Tuan."
"Lalu, apa kalian sudah tau celah-celahnya?"
"Kami belum menemukannya, Tuan."
"Kalo begitu, awasi terus dan segera laporkan segala perkembangannya padaku!"
"Baik, Tuan!"
Kedua makhluk menyeramkan itu pun menghilang.
Dursatya mengibaskan tangannya ke udara dan muncul gambaran Nyai Sekar yang duduk di taman bunga dengan bibir tersenyum, cantik.
"Akan kulakukan dengan cara apapun untuk membereskan gadis manusia itu! Dan aku akan memilikimu sekaligus apa yang kau miliki , Dinda Sekar. Entah itu ratusan atau bahkan ribuan tahun sekalipun, aku akan tetap melakukannya!"
Dursatya mengelus-elus gambaran Nyai Sekar yang melayang di udara dengan tatapan penuh cinta dan obsesi.
*******
Keesokan harinya, sesuai perjanjian, laki-laki itu mendatangi Dursatya lagi.
"Saya sudah datang, Ki."
"Ya ... ya ... mendekatlah kemari!"
Laki-laki itu pun berjalan mendekati Dursatya dengan sikap masih takut-takut.
"Cepaaattt!!"
"Iy—iya, Ki."
Setelah mendekat, Dursatya mengulurkan tangannya, jari telunjuk dan tengahnya dia satukan, dan mulai berkomat-kamit. Tak berapa lama, kedua jarinya berpendar. Kemudian mengusap bibir laki-laki itu dengan gerakan cepat.
"Ini adalah ajian pengasihan, milikku. Apa yang kamu ucapkan, akan terdengar sangat indah. Dan orang-orang pun akan segera tertarik dengan perkataanmu."
"Terima kasih, Ki. Lalu apa yang harus saya lakukan sebagai imbalan?"
"Untuk saat ini belum ada, aku akan menagihnya saat aku membutuhkannya. Tapi ingat! Kamu juga harus terus memberi persembahan untukku."
"Persembahan seperti apa Ki?"
"Siram pohon tempat masuk ke sini dengan darah ayam dan jangan lupa juga, kembang telon nya!"
"Iy—iya Ki."
"Sekarang, pulanglah ke duniamu." Dursatya mengibas-ibaskan tangannya ke laki-laki tersebut sebagai isyarat untuk mengusirnya.
"Hmmm ... sebaiknya aku juga harus ke dunia manusia. Untuk melihat langsung gadis itu."
Setelah Dursatya sampai di dunia manusia, ia berdiri di depan sebuah rumah yang terletak di pinggiran desa. Dari kejauhan, ia melihat gadis itu. Dursatya tidak menampakkan diri, ia hanya mengawasi gadis itu. Mengingat gadis itu adalah pewaris trah Mangkuwijoyo, itu artinya, gadis inilah yang terikat dengan wanita yang diinginkannya.
"Manusia makhluk rendahan, bisa-bisanya makhluk semulia kami, harus menjadi pendamping makhluk hina dina macam kalian. Cuih!" Dursatya mulai menggerutu karena amarahnya mulai bergejolak.
Dursatya melihat sosok wanita yang dia inginkan di sana, di antara rumpun bunga. Dursatya memperhatikan dengan tatapan penuh kasih.
"Dinda, bahkan indahnya bunga di sekelilingmu, tidak sebanding dengan keelokan parasmu."
Wanita itu seperti merasakan kehadiran Dursatya. Menyadari itu, Dursatya cepat-cepat berpindah tempat. Dursatya merasa, ini bukan saat yang tepat untuk bertemu dengan wanita pujaan hatinya.
Dursatya memutuskan untuk kembali ke dunianya. Ia duduk di tempat seperti singgasana. Memikirkan cara untuk membinasakan gadis itu untuk memuluskan rencananya.
"Apapun akan aku lakukan, untuk membinasakan gadis itu. Ya, ya ... tunggu saja, manusia payah! Hahahahaha!"
Dursatya bangkit dari tempat duduknya. Dan berkeliling di kediamannya.
Bersambung ....