NovelToon NovelToon
Mawar di Pinggangnya

Mawar di Pinggangnya

Status: tamat
Genre:Cintamanis / Diam-Diam Cinta / Menikahi tentara / Tamat
Popularitas:15.9k
Nilai: 5
Nama Author: Aruna Senja

Kiara Song, 21 tahun, reporter magang yang berjuang sendirian sejak kakaknya koma dan ayahnya kabur meninggalkan hutang. Hidupnya berubah saat ia menikah siri dengan Rayhan Tan — AKP kepolisian berwajah dingin, tubuh atletis, dan mulut tajam yang ternyata diam-diam memasak untuknya setiap malam.

Enam bulan tinggal bersama. Tidak ada ciuman. Tidak ada "aku cinta kamu." Hanya perhatian kecil yang membuat jantung Kiara tidak bisa tenang.

Kiara punya rahasia: ia menato setangkai mawar di pinggangnya sejak SMA — di tempat yang hanya bisa dilihat oleh orang paling dekat. Untuk laki-laki yang sama, selama enam tahun.

Dan Rayhan? Rayhan punya rahasia sendiri.

Ia sudah jatuh cinta pada Kiara jauh sebelum pernikahan ini dimulai.

Nikah dulu. Cinta kemudian. Tapi bagaimana kalau cintanya sudah ada duluan?

(148 kata Indonesia)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aruna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19

Bab 019

Deadline Tengah Malam

Seperti ia juga memilih untuk percaya pada mereka.

Kiara membawa kalimat itu pulang seperti membawa benda hangat di saku. Dua hari lagi, kalau semua berjalan baik, Kopi akan masuk rumah mereka. Rumah mereka. Kata itu terus muncul di kepalanya sampai ia hampir salah mengetik judul file liputan Reza menjadi "rumah".

"Fokus, Kiara," gumamnya pada layar laptop.

Malam itu, meja makan berubah menjadi meja redaksi pribadi. Notes wawancara Reza tersebar di satu sisi. Briefing Bu Ratna di sisi lain. Foto promosi yang sudah kusut di sudutnya ia simpan jauh-jauh di dalam map agar tidak memancing perkara baru. Di layar laptop, draft artikel baru mencapai tujuh ratus kata, dan semuanya terasa terlalu aman.

Reza rapi.

Terlalu rapi.

Kalimat itu sudah ia tulis, hapus, tulis lagi, lalu hapus lagi.

Ponsel bergetar. Grup magang redaksi tidak pernah tidur.

Cici:

Ki, draft Reza udah berapa persen?

Dimas:

Aku baru bikin lead. Buntu.

Cici:

Lead lo biasanya memang buntu dari lahir.

Dimas:

Serangan personal.

Kiara tersenyum kecil, lalu mengetik.

Kiara:

Aku masih rapikan catatan. Jangan lupa cek kutipan kampanye anti-narkoba.

Cici:

Siap, Bu Asisten Kriminal.

Galih:

Kiara, kirim catatan jeda dan ekspresi Reza sebelum jam 10 besok. Bu Ratna mau lihat sudut tulisanmu.

Kiara menegakkan punggung.

Sebelum jam 10 besok.

Itu bukan deadline buruk. Tetapi bagi anak magang yang baru diberi kesempatan masuk tim kriminal, kalimat itu terdengar seperti pintu yang hanya terbuka sedikit. Kalau ia terlambat, pintu itu bisa tertutup lagi.

Ia mulai mengetik lebih cepat.

Rayhan pulang dari Polda pukul sembilan lewat. Ia masuk membawa tas kertas berisi perlengkapan Kopi, dua alas anti-slip, obat yang direkomendasikan Dokter Yoga, dan daftar barang yang menurutnya masih kurang.

"Kamu belum pindah dari meja?" tanyanya.

Kiara tidak mengangkat kepala. "Sebentar."

"Itu jawaban sejak satu jam lalu?"

"Aku baru mulai satu jam lalu."

Rayhan meletakkan belanjaan di ruang keluarga. Alas anti-slip ia bentangkan di jalur dari pintu taman ke sudut dekat sofa. Kiara sempat menoleh ketika mendengar suara plastik dibuka.

"Itu untuk Kopi?"

"Hmm."

"Jangan dekat AC. Dokter Yoga bilang luka jangan terlalu dingin."

Rayhan berhenti, lalu memindahkan alas itu setengah meter. "Kamu dengar semua penjelasan dokter?"

"Aku mencatat."

"Tentu."

Kiara bangkit sebentar, mengambil notes kecil dari tas, lalu menunjukkan halaman penuh daftar. Ada tulisan ramp sementara, mangkuk berat, perban kering, tidak boleh naik tangga, tidak boleh petasan. Di bagian bawah, ia menambahkan dengan huruf lebih kecil: jangan manja, tapi jangan keras.

Rayhan membaca baris terakhir lebih lama.

"Itu untuk Kopi atau untukku?"

Kiara cepat-cepat menarik notes. "Untuk semua makhluk keras kepala di rumah ini."

Rayhan hampir tersenyum. Hampir.

Momen itu seharusnya bisa menjadi jeda yang manis, tetapi notifikasi dari Galih masuk lagi, mengingatkan format catatan. Kiara langsung kembali ke laptop, dan Rayhan melihat perubahan itu dengan alis sedikit turun.

"Kiara."

Nada itu membuat jari Kiara berhenti. Ia menoleh dan mendapati Rayhan berdiri di ujung meja, menatap laptopnya seolah benda itu tersangka.

"Aku harus kirim catatan ke Galih besok pagi."

"Besok pagi, bukan malam ini sampai pingsan."

"Aku nggak pingsan."

"Belum."

Kiara menahan napas. "Kak Rayhan, aku serius. Bu Ratna mulai percaya padaku. Galih minta catatan ekspresi Reza. Aku harus buktikan aku bisa."

Rayhan diam. Wajahnya tidak melunak, tapi tatapannya berubah sedikit. Ia paham kalimat tentang membuktikan diri. Terlalu paham, mungkin.

"Satu jam lagi," katanya akhirnya.

Kiara langsung mengangguk. "Satu jam."

"Setelah itu tidur."

"Iya."

"Aku pasang timer."

"Kak Rayhan!"

Rayhan sudah mengeluarkan ponsel. "Satu jam."

Ia benar-benar memasang timer dan meletakkan ponsel di meja, tepat di sebelah laptop Kiara. Lalu ia pergi ke dapur, memanaskan sup ayam, dan meletakkan semangkuk kecil di samping notes.

"Makan sambil kerja boleh. Tidak makan tidak boleh."

Kiara ingin protes, tapi aroma sup membuat perutnya sadar bahwa ia memang belum makan malam. Ia mengambil sendok.

"Terima kasih."

"Hmm."

Rayhan duduk di kursi seberang, membuka laptopnya sendiri. Untuk beberapa saat, meja makan menjadi tempat paling aneh dan paling tenang di dunia. Kiara menulis tentang senyum Reza yang terlalu terlatih. Rayhan membaca laporan tentang Brandon. Di antara mereka, timer berjalan mundur.

Saat alarm berbunyi, Kiara baru saja menemukan kalimat yang tepat.

"Lima menit."

"Tidak."

"Kak Rayhan, aku baru dapat angle."

"Simpan."

"Kalau disimpan, ritmenya hilang."

"Kalau kamu sakit, semua ritme hilang."

Kiara menatapnya, kesal karena kalimat itu benar. Ia menyimpan dokumen, tetapi tidak menutup laptop.

Rayhan berdiri. "Tidur."

"Aku mau cek typo."

"Besok."

"Lima menit."

Rayhan menatapnya.

Kiara menatap balik dengan keberanian yang mungkin berasal dari terlalu banyak kopi susu.

Akhirnya Rayhan mengambil gelas kopinya dari meja. "Tidak ada kopi lagi."

"Itu punyaku."

"Sudah jadi barang bukti."

"Kak Rayhan!"

Ia membawa gelas itu ke dapur tanpa rasa bersalah.

Pukul sebelas, Rayhan naik ke lantai dua setelah memastikan Kiara benar-benar menutup laptop. Kiara bahkan melambaikan tangan seperti anak baik.

Pukul sebelas lewat sepuluh, ia membuka laptop lagi.

Hanya untuk merapikan satu paragraf.

Satu paragraf menjadi tiga.

Tiga paragraf menjadi catatan tambahan tentang cincin perak Reza, aroma tajam, dan cara Mbak Yuni memotong pertanyaan.

Pukul 00.47, ponsel Kiara bergetar.

Rayhan:

Tidur.

Kiara hampir menjatuhkan laptop.

Ia menoleh ke tangga. Tidak ada siapa-siapa.

Kiara:

Kak Rayhan belum tidur?

Rayhan:

Aku polisi.

Kiara:

Itu bukan jawaban.

Rayhan:

Itu jawaban.

Kiara menggigit bibir, lalu mengetik:

Kiara:

Sepuluh menit.

Tidak ada balasan.

Ia menganggap itu persetujuan.

Kesalahan besar.

Pukul 01.03, langkah turun dari tangga terdengar.

Kiara langsung menekan tombol save, tetapi terlambat. Rayhan sudah berdiri di belakang kursinya. Rambutnya sedikit berantakan, kaus rumahnya gelap, dan wajahnya menunjukkan kesabaran yang sudah habis.

Di layar, kursor berkedip di tengah kalimat yang salah ketik tiga kali. Kiara baru sadar matanya perih dan punggungnya kaku. Gelas air di samping laptop masih penuh. Sup yang tadi dipanaskan Rayhan hanya tersisa setengah, dingin dengan lapisan minyak tipis di permukaannya.

Rayhan melihat semua itu tanpa berkata apa-apa, lalu menarik napas panjang seperti sedang menahan laporan buruk yang baru saja mendarat di meja kerjanya.

"Sepuluh menitmu sudah tiga belas menit."

"Aku hampir selesai."

Rayhan mencondongkan tubuh, satu tangan di sandaran kursi Kiara, satu lagi menutup layar laptopnya dengan gerakan pelan tapi mutlak.

Klik.

Layar gelap.

Kiara menatap tangannya di atas laptop.

"Cukup," kata Rayhan.

1
Alissia
hai thor🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!