Lim Mei Li bukan wanita biasa.
Di usia 7 tahun, dia menyaksikan ibunya melompat dari balkon — dipaksa oleh keluarga yang seharusnya melindunginya. Di usia 12, dia kehilangan satu-satunya keluarga yang tersisa. Di usia 16, dia sudah menguasai kerajaan bisnis yang membuat dunia gemetar.
Sekarang, di usia 23, dia kembali ke Jakarta.
Bukan sebagai anak yang dibuang. Tapi sebagai predator yang sudah terlalu lama menunggu.
Keluarga Tan — konglomerat yang menghancurkan ibunya — akan merasakan apa artinya takut. Satu per satu, mereka akan jatuh.
Tapi di tengah permainan balas dendam ini, seseorang muncul yang tidak ada dalam rencananya.
Arka Wicaksana Pradipta. Pewaris keluarga militer paling berkuasa di negeri ini. Pria yang selama 15 tahun tidak bisa disentuh oleh wanita manapun — kecuali dia.
"Aku menunggumu," katanya. "Tidak terburu-buru."
Mei Li tidak pernah berencana untuk jatuh cinta. Tapi setiap kali Arka tersenyum, benteng yang dia bangun selama 16 tahun... mulai retak.
Di bawah bibirnya, dia menemukan kegilaan yang tidak pernah dia minta.
🔥 Revenge × CEO Romance × Strong Female Lead
💎 "Jangan pernah meremehkan wanita yang kembali dengan membawa seluruh dunia di tangannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Kembang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Bab 31
Pagi setelah Max masuk Jakarta, Mei Li tidak keluar rumah.
Secara resmi, ia bekerja dari villa. Secara teknis, seluruh Menteng Regency berubah menjadi ruang kendali. Amy memindahkan dua analis ke ruang bawah. Bella mengganti rute patroli. Kamera di sepanjang cluster diperiksa ulang. Tidak ada tanda Vulture mendekat, tetapi justru itu yang membuat semua orang lebih waspada.
Orang Max tidak bergerak seperti orang Tan.
Mereka tidak berisik.
Mereka menunggu.
Mei Li juga menunggu, tetapi bukan hanya mereka.
Di meja, ponselnya beberapa kali menyala dengan pesan yang tidak ia buka cepat-cepat.
Arka.
Pagi. Kalau Anda butuh ruang diam, teras saya tetap ada.
Siang. Saya tidak akan bertanya kenapa Anda menjauh. Tapi saya tahu Anda menjauh.
Sore. Kalau saya melakukan kesalahan, beri tahu saya. Kalau bukan saya, izinkan saya tetap ada di tempat saya.
Mei Li membaca pesan terakhir itu lebih lama daripada yang lain.
Ia tidak membalas.
Karena jika ia membalas, ia mungkin akan mengatakan sesuatu yang tidak bisa ditarik kembali.
Menjelang malam, bel pintu tidak berbunyi. Arka tidak datang. Ia hanya mengirim satu pesan lagi.
Besok pagi, taman belakang kompleks. Sepuluh menit. Saya ingin mengatakan sesuatu yang seharusnya saya katakan sebelum Anda salah memahami jarak saya.
Kali ini, Mei Li membalas.
Baik.
***
Taman belakang Menteng Regency hampir kosong pukul enam pagi.
Udara masih basah, rumput menyimpan sisa embun, dan para pekerja kebun belum mulai memangkas tanaman. Bella berdiri jauh di jalur masuk. Amy tetap di rumah memantau CCTV. Mei Li datang dengan kemeja putih dan celana gelap, rambut diikat rendah, wajah tanpa riasan.
Arka sudah menunggu di bangku dekat pohon kamboja.
Ia berdiri ketika Mei Li mendekat. Tidak membawa kopi, tidak membawa bunga, tidak membawa alasan manis. Pagi itu wajahnya lebih pucat daripada biasa, tetapi matanya tetap tenang.
"Terima kasih sudah datang," katanya.
"Anda bilang ada yang ingin dikatakan."
"Ada."
Mei Li duduk di ujung bangku. Arka duduk di sisi lain, menjaga jarak seperti biasa.
Jarak itu, yang dulu terasa seperti kesopanan, pagi ini terasa seperti pintu.
"Setelah ulang tahunmu," kata Arka pelan, "kamu menjauh."
Mei Li menatap rumput. "Ada urusan yang harus kutangani."
"Aku tahu. Max."
Kepalanya langsung menoleh.
Arka tidak terlihat menang. "Dimas mendengar sebagian dari jaringan keamanan. Saya tidak mencari tahu lebih jauh. Saya hanya tahu ada ancaman yang membuat Anda menutup pintu."
"Kalau Anda tahu itu, kenapa tetap meminta bertemu?"
"Karena saya takut Anda menutup pintu untuk alasan yang salah."
Mei Li diam.
Arka menatap tangannya sendiri. Jari-jarinya bertaut, ibu jarinya mengusap gelang cendana seperti mencari ritme.
"Saya selalu menjaga jarak dari Anda," katanya. "Bukan karena Anda berbahaya."
Mei Li tidak menjawab.
"Bukan juga karena saya tidak ingin mendekat."
Kalimat itu jatuh pelan, tetapi cukup untuk membuat dadanya bergerak.
Arka menarik napas. Untuk pertama kalinya sejak Mei Li mengenalnya, ia tampak seperti seseorang yang harus memaksa tubuhnya melewati ingatan.
"Saat saya dua belas tahun," katanya, "ada seorang perempuan dewasa yang melanggar batas saya."
Udara pagi berhenti.
Mei Li tidak bergerak.
Arka menatap tanah. Suaranya tetap rendah, tidak dramatis, justru karena ia sudah terlalu lama melatih diri agar kalimat itu bisa keluar tanpa membuat tubuhnya hancur.
"Saya tidak akan menjelaskan detailnya. Tidak perlu. Yang perlu kamu tahu, setelah itu tubuh saya punya reaksi sendiri. Kalau perempuan menyentuh saya terlalu dekat, saya mual. Kadang tangan saya dingin. Kadang saya ingin mundur secepat mungkin."
Mei Li merasa sesuatu menghantam dadanya, pelan tetapi dalam.
Semua jarak itu.
Semua cara Arka menyerahkan barang tanpa menyentuh jarinya. Semua pintu yang dibuka dari sisi yang cukup jauh. Semua payung yang ia tahan dengan sebagian bahunya basah. Selama ini Mei Li mengira itu hanya kesopanan.
Ternyata sebagian dari itu adalah luka.
"Arka..."
Ia mengangkat tangan sedikit, bukan untuk menghentikannya dengan kasar, tetapi meminta waktu.
"Saya sudah menjalani terapi. Saya tidak mengatakan ini agar kamu merasa kasihan. Saya juga tidak mengatakan ini untuk membuatmu merasa harus menjaga saya."
"Lalu kenapa?"
Arka akhirnya menatapnya.
Matanya tidak menghindar, tetapi ada kelelahan tua di sana.
"Karena setelah tangan kita bersentuhan di mobil menuju Solo, saya menunggu reaksi itu datang."
Mei Li menahan napas.
"Tidak datang."
Suara burung kecil terdengar dari pohon, terlalu ringan untuk percakapan sepagi itu.
"Saya pikir itu kebetulan," lanjut Arka. "Lalu di Le Jardin, saat saya hampir mencium Anda, saya menunggu tubuh saya menolak. Tidak datang juga."
Mei Li mengingat hujan di teras, jarak satu napas, cara Arka berhenti bukan karena jijik, tetapi karena memilih.
"Anda..." Ia berhenti, memperbaiki kata. "Kamu tidak takut?"
Senyum Arka muncul sangat tipis. "Saya takut."
Jawaban itu membuatnya sakit.
"Tapi bukan pada kamu," katanya. "Saya takut pada bagian diri saya yang terlalu cepat merasa aman di dekatmu."
Mei Li menatapnya.
Ia telah mendengar banyak pengakuan dalam hidupnya. Pengakuan dosa. Pengakuan pengkhianatan. Pengakuan takut sebelum seseorang mati. Tidak ada yang terdengar seperti ini.
Arka tidak meminta diselamatkan.
Ia hanya meletakkan kebenaran di antara mereka, rapuh, bersih, dan menunggu apakah Mei Li akan menginjaknya.
"Saya tidak tahu harus berkata apa," bisik Mei Li.
"Tidak perlu berkata apa-apa."
"Itu tidak adil."
"Kenapa?"
"Karena kamu baru saja memberiku sesuatu yang berat, lalu bilang aku tidak perlu memegangnya."
Arka terdiam.
Mei Li menatap tangannya sendiri. Ia ingin menyentuhnya. Keinginan itu datang tiba-tiba, membuatnya takut. Bukan karena ia tidak pernah menyentuh orang. Ia pernah mematahkan tulang, menarik pelatuk, menyeret musuh dari lantai. Namun menyentuh Arka setelah pengakuan itu terasa seperti berjalan di atas kaca yang bukan miliknya.
"Apa yang kamu butuhkan sekarang?" tanyanya.
Arka menatapnya, tampak terkejut oleh pertanyaan itu.
Lama ia diam.
Lalu ia berkata, "Jangan menjauh karena mengira kamu membuat saya sakit."
Mei Li menelan sesuatu yang keras di tenggorokan.
"Dan jangan mendekat karena merasa bersalah," tambah Arka.
Itu sangat Arka. Bahkan ketika membuka luka, ia masih menjaga agar luka itu tidak menjadi borgol untuk orang lain.
Mei Li mengangguk pelan. "Baik."
Arka tampak bernapas sedikit lebih lega.
Mereka duduk dalam hening. Jarak di bangku itu tetap ada, tetapi artinya berubah. Bukan lagi dinding. Bukan juga undangan tanpa batas.
Hanya ruang yang mereka pilih untuk dihormati bersama.
Saat Mei Li berdiri, Arka juga berdiri.
"Mei Li."
Ia menoleh.
Arka memegang gelang cendananya, lalu berkata dengan suara yang lebih tenang daripada sebelumnya, "Kamu orang pertama yang tidak membuat tubuh saya ingin lari."
Kalimat itu membuat dunia Mei Li goyah dengan cara yang tidak bisa dilawan.
Di ujung taman, Bella menatap mereka dari jauh, tidak mendengar apa-apa, tetapi cukup melihat wajah Mei Li untuk tahu satu hal.
Percakapan itu bukan percakapan biasa.