NovelToon NovelToon
Cara Termudah Menaklukkan Campus Prince

Cara Termudah Menaklukkan Campus Prince

Status: tamat
Genre:Teen / Sistem / Tamat
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Zara Melati

Di usia 20 tahun, hidup Keira Seng sudah diberi deadline.

Kanker lambung stadium awal. Dokter bilang masih ada harapan, tapi tubuhnya berkata lain. Di tengah ketakutan dan kesendirian — karena keluarganya sudah lama bukan tempat bersandar — sebuah HP Nokia tua yang selalu ada di tasnya tiba-tiba mengirim pesan:

[SISTEM IMITASI AKTIF. TARGET DITETAPKAN: XAVIER SIA. SELESAIKAN MISI UNTUK MENDAPAT POIN KEHIDUPAN.]

Xavier Sia. Cucu konglomerat Sia Corporation. Mahasiswa hukum semester 5 yang wajahnya selalu muncul di @unparfess sebagai "Campus Crush No.1." Dingin. Tajam. Dan — atas kebetulan yang absurd — tinggal di unit sebelah apartemen Keira.

Misi pertama: berpakaian seperti dia selama satu minggu.

Yang tadinya hanya "survival strategy" perlahan berubah bentuk. Baju yang sama membawa mereka ke percakapan. Percakapan membawa kedekatan. Kedekatan membawa perasaan yang Keira tidak mampu — dan tidak berhak — untuk miliki.

Karena bagaimana bisa kamu jatuh cinta kalau kamu sendiri tidak tahu berapa lama bisa hidup?

Dan bagaimana bisa Xavier tahu bahwa gadis yang selalu tersenyum di depannya sedang menghitung waktu di belakangnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Bab 22: Pekan Olahraga

"Surat itu... untuk aku?"

Keira menatap amplop krem di tangan Xavier, lalu menatap koridor yang tiba-tiba terasa terlalu panjang untuk melarikan diri.

Ia bisa berbohong.

Ia bisa berkata semua itu hanya tugas, hanya latihan menulis, hanya susunan kalimat yang kebetulan cocok dengan Xavier karena mereka memang partner observasi.

Tapi setelah Xavier membaca surat itu dengan suara yang makin pelan, kebohongan seperti itu terdengar menghina mereka berdua.

Keira menggenggam tali tasnya.

"Bu Ratna bilang suratnya anonim."

Xavier tidak berkedip. "Aku tidak tanya Bu Ratna."

Jantung Keira membuat keputusan buruk lagi.

"Kalau kamu merasa itu untuk kamu," katanya, suara hampir tenggelam oleh keramaian kelas yang bubar di ujung koridor, "mungkin kamu memang membaca dengan benar."

Xavier diam.

Keira tidak menunggu jawaban. Ia berbalik dan berjalan cepat sebelum wajahnya benar-benar terbakar. Di belakangnya, Xavier tidak memanggil lagi. Tapi Keira tahu, bahkan tanpa menoleh, bahwa pertanyaan itu sudah berubah menjadi sesuatu yang tinggal di antara mereka.

Sesuatu yang belum bernama.

Minggu berikutnya, kampus mengadakan Pekan Olahraga Unpar.

Lapangan penuh tenda fakultas, bendera kecil, dan mahasiswa yang memakai kaus tim masing-masing. Suara peluit, teriakan supporter, dan musik dari speaker bercampur jadi satu. Celine sudah berada di tribun sejak pagi, membawa kamera kecil dan energi yang tidak masuk akal.

"Kei, kamu ikut lomba apa?"

"Lomba bertahan hidup."

Celine menurunkan kamera. "Serius."

"Aku nggak ikut. Perutku masih gampang rewel. Kalau lari, nanti bukannya finish, aku malah masuk UKS."

Alasan itu cukup aman. Bukan bohong sepenuhnya. Keira memang tidak boleh memaksa tubuhnya. Akhir-akhir ini kondisinya sedikit lebih stabil, tetapi stabil bukan berarti bebas. Kadang ia masih mual. Kadang berdiri terlalu lama membuat lututnya kosong.

Celine tidak memaksa. Ia hanya menyerahkan kipas lipat. "Duduk. Jadi penonton cantik."

"Aku bisa jadi penonton biasa."

"Tidak, hari ini kamu harus cantik. Ada yang mungkin datang."

Keira pura-pura tidak mengerti. "Siapa?"

Celine mengarahkan kamera ke wajahnya. "Ekspresi bohongmu makin jelek."

Satu jam kemudian, Xavier benar-benar datang.

Ia tidak memakai seragam tim, hanya kaus gelap dan jaket ringan. Di satu tangan ada paper bag, di tangan lain ada cup minuman panas. Kevin berjalan di sampingnya dengan wajah orang yang terlalu siap membuat masalah.

"Wah, wah," Kevin berseru begitu melihat Keira di tribun. "Penonton khusus sudah siap?"

Keira menyipit. "Kamu ikut lomba apa?"

"Lomba mengamati perkembangan asmara orang."

"Semoga kalah."

"Tidak mungkin. Gue unggulan nasional."

Xavier menaiki tribun dan duduk satu baris di bawah Keira dulu, lalu menoleh. "Kamu belum makan?"

Keira menatap paper bag. "Itu apa?"

"Bubur ayam tanpa sambal. Roti pisang. Air hangat."

Kevin memegang dada. "Bro, bahkan gue yang sahabat lama tidak pernah dibawakan paket survival begini."

Xavier tidak menoleh. "Kamu bisa beli sendiri."

"Keira juga bisa!"

"Dia suka lupa."

Celine, yang sejak tadi memotret, mengeluarkan suara kecil yang terlalu mirip squeal. "Aduh."

"Cel," Keira memperingatkan.

"Aku cuma dokumentasi."

Xavier naik ke baris Keira dan menyerahkan cup itu. "Wedang jahe. Tidak terlalu manis."

Keira menerima, telapak tangannya langsung hangat. "Kamu beli semua ini kapan?"

"Sebelum ke sini."

"Kenapa?"

Xavier menatap lapangan, bukan wajahnya. "Karena kamu tidak ikut lomba, tapi tetap bisa capek."

Kalimat itu membuat Keira berhenti bernapas sebentar.

Kevin bertepuk tangan terlalu keras. "Pasangan MVP! Satu tidak tanding, satu tetap jadi support system!"

Beberapa mahasiswa di sekitar menoleh dan tertawa. Keira ingin menutup wajah dengan paper bag. Xavier hanya menendang kaki Kevin dari bawah bangku.

"Aduh! Kekerasan lagi!"

"Kurang keras," kata Xavier.

Celine memotret momen itu tanpa rasa bersalah. "Ini bagus. Natural."

"Hapus."

"Tidak."

Keira membuka bubur untuk menyembunyikan wajahnya yang panas. Tapi saat sendok pertama masuk, perutnya menerima dengan baik. Hangat, ringan, aman. Ia tidak sadar tersenyum sampai Xavier berkata:

"Enak?"

"Lumayan."

Xavier menoleh.

Keira mengangkat alis. "Balas dendam."

Senyum Xavier muncul, kecil tapi nyata.

Sepanjang siang, mereka duduk di tribun. Kevin turun naik lapangan, berteriak mendukung tim Hukum, lalu kembali untuk memberi komentar tidak diminta. Celine memotret hampir semua hal. Kadang Keira ikut tertawa saat ada peserta jatuh lucu di lomba estafet karung. Kadang ia diam, menyandarkan punggung ke bangku, menikmati angin Bandung yang lewat di sela keramaian.

Xavier duduk di sampingnya.

Tidak terlalu dekat pada awalnya. Lalu tribun makin ramai. Mahasiswa lain naik, duduk berdesakan, dan tanpa sadar bahu Keira menyentuh bahu Xavier.

Keira langsung tegang.

Xavier tidak menjauh.

Ia hanya menggeser paper bag ke sisi lain agar Keira punya ruang kaki lebih lega.

Bahunya tetap di sana.

Hangat melalui kain jaket.

Tidak ada yang mereka katakan. Tidak perlu. Di lapangan, orang-orang berteriak. Di samping Keira, Celine memotret dengan mata berbinar. Di belakang mereka, Kevin meneriakkan sesuatu tentang "pasangan MVP" lagi dan hampir dilempar botol kosong oleh Xavier.

Keira tertawa sampai perutnya sedikit sakit.

Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu, sakit itu bukan karena takut.

Namun setelah matahari bergeser lebih tinggi, kepalanya mulai ringan. Keira menekan pelan pelipisnya, berusaha tetap tersenyum karena Celine sedang memotret lomba tarik tambang. Ia kira gerakan itu cukup kecil untuk tidak terlihat.

Xavier melihat.

"Pusing?"

"Sedikit. Ramai aja."

Xavier langsung berdiri, mengambil paper bag dan cup minuman. "Pindah ke sisi teduh."

"Aku masih bisa duduk di sini."

"Bisa, tapi tidak perlu."

Nada suaranya tidak keras, tetapi final. Keira akhirnya ikut berdiri. Xavier berjalan di sampingnya, tidak menyentuh, tetapi cukup dekat untuk membuat orang lain otomatis memberi jalan. Di sisi tribun yang lebih teduh, ia memastikan Keira duduk dulu, lalu membuka tutup wedang jahe.

"Minum sedikit."

Keira menerima. "Kamu makin mirip satpam gizi."

"Promosi dari partner observasi."

Menjelang sore, acara selesai. Langit di atas lapangan berubah jingga. Keira pulang lebih dulu karena tubuhnya mulai berat. Xavier mengantarnya sampai titik jemput GrabCar, memastikan ia masuk mobil, lalu baru kembali ke area parkir.

Malamnya, saat Keira sudah di kamar dan baru selesai mandi, notifikasi Instagram muncul.

`@xav.offline added to their story.`

Keira membuka tanpa berpikir.

Foto itu diambil dari tribun. Bukan wajah. Hanya bayangan dua orang di lantai beton, duduk berdampingan, bahu hampir bersentuhan. Satu bayangan memegang cup. Yang lain sedikit condong ke arahnya.

Caption-nya hanya satu emoji hati merah.

Keira menatap layar.

Satu detik.

Dua detik.

Lalu ia menutup wajah dengan bantal dan mengeluarkan suara tertahan yang nyaris menjadi jeritan.

"Xavier Sia," gumamnya ke bantal, jantungnya kacau, "kamu ini sebenarnya mau apa?"

1
Evelyn Sharon
Mereka yang kasmaran kenapa jadi aku yang salting yak🫠
Evelyn Sharon
mulai suka nihh 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!