Wen Sekar tidak pernah suka dengan keramaian.
Di usia 26 tahun, dia hanyalah karyawan administrasi biasa di Kota Angin — gaji pas-pasan, tidak punya teman dekat, dan lebih memilih menghabiskan waktu sendirian di kamar kos-nya. Satu-satunya kenangan berharga adalah kasih sayang Kakek dan Nenek Wen yang membesarkannya sejak bayi, setelah ia ditemukan di pinggir jalan oleh mereka.
Suatu malam, tusuk konde mutiara peninggalan Nenek tiba-tiba memberikannya kemampuan luar biasa: sebuah ruang penyimpanan ajaib di mana waktu berhenti, dan mimpi-mimpi yang menunjukkan bencana dahsyat yang akan melanda dunia.
Sekar tidak menunggu. Dia mulai menimbun — beras, minyak goreng, obat-obatan, alat pertanian, senapan berburu, empat buku panduan bertahan hidup. Semua disimpan dalam ruang ajaibnya. Ketika orang lain masih tertawa, Sekar sudah siap.
Dan bencana datang. Satu per satu: banjir besar, gempa dahsyat, pandemi global, dan akhirnya — letusan Supervulkan Yellowstone yang menyelimuti bumi dalam musim dingin vulkanik selama sepuluh tahun.
Sendirian di dataran tinggi Pulau Karang, lalu di kedalaman Hutan Damai di Kalimantan, Sekar bertahan. Dia belajar menanam singkong, berburu babi hutan, membuat tempe, membangun rumah dengan tangannya sendiri. Dia menghadapi perampok, binatang buas, dan kesunyian yang tak berujung — dan menang.
Tapi kisah ini bukan hanya tentang bertahan hidup.
Di usia 46 tahun, Sekar menemukan seorang bayi perempuan yang dibuang di depan gerbang kota. Dan saat itu, dia teringat dirinya sendiri — bayi yang pernah dibuang di pinggir jalan, lalu diselamatkan oleh cinta tanpa syarat.
Sekar mengambil bayi itu dan menamainya Anin.
Dari seorang gadis pendiam yang bertahan sendirian, Sekar menjadi seorang Mama — meneruskan warisan cinta yang dulu diterimanya dari Kakek dan Nenek Wen.
Ini adalah kisah tentang seorang perempuan yang tidak membutuhkan siapa pun untuk hidup — tetapi menemukan alasan untuk hidup demi seseorang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Bab 035
Batas dari Batu
Besok, ia akan mulai menyusun batu.
Pagi itu, Sekar tidak membuka hari dengan memasak.
Ia membuka buku catatan, duduk di batu datar, dan menggambar garis. Bukan garis besar seperti peta pulau. Garis hari ini kecil, mengelilingi rumah bongkar pasang, titik mata air, calon bedengan, jalur turun ke sungai, dan ruang kosong tempat ia bisa menjemur atau menaruh kayu.
Jika ia mengambil terlalu luas, orang akan bertanya.
Jika terlalu sempit, ia sendiri yang terkurung.
Ia menandai tiga zona.
Zona tidur.
Zona air.
Zona kebun.
Di luar itu, batu akan menjadi batas. Bukan tembok tinggi. Belum. Hanya tumpukan rendah yang berkata: ada orang tinggal di sini, jangan masuk sembarangan.
Sekar memakai sarung tangan, mengambil karung kosong, lalu mulai mengumpulkan batu dari tanah sekitar. Pulau Karang memberi batu lebih banyak daripada tanah lunak. Batu kecil di bawah rumput. Batu pipih di pinggir jalan setapak. Batu hitam yang setengah tertanam di lereng.
Pada jam pertama, ia merasa pekerjaan itu mudah.
Pada jam kedua, punggungnya mulai panas.
Pada jam ketiga, telapak tangannya berdenyut meski memakai sarung tangan.
Batu tidak berat jika dilihat satu per satu. Tetapi batu yang dipindahkan seratus kali mengubah tubuh menjadi sesuatu yang bodoh dan lambat. Sekar belajar memilih. Yang terlalu besar dibiarkan. Yang terlalu bulat tidak dipakai di dasar. Yang pipih ditaruh di bawah. Yang kecil masuk celah.
Ia tidak membuat garis lurus.
Garis lurus terlihat seperti pagar orang kota.
Ia mengikuti bentuk tanah, batu besar, dan pohon. Di dekat mata air kecil, ia memberi jarak lebih jauh, tidak menumpuk apa pun terlalu dekat aliran. Air harus tetap bernapas.
Anak penggembala lewat menjelang siang. Kali ini ia tidak bertanya apakah Sekar mau bikin kebun. Ia langsung menunjuk tumpukan batu.
"Kalau batu kecil semua, kambing bisa lompat."
Sekar menoleh. "Ini bukan untuk kambing."
"Untuk orang?"
Pertanyaan itu terlalu jujur.
"Untuk mengingat batas," jawab Sekar.
Anak itu mengangguk seolah mengerti. "Kalau buat orang, kasih batu tinggi di pintu masuk. Biar kelihatan."
Sekar mencatat nasihat itu.
Di sisi yang menghadap jalan setapak bawah, ia memilih dua batu lebih besar dan menaruhnya seperti tiang rendah. Bukan gerbang. Hanya penanda bahwa jalur ke atas bukan lagi jalan kosong tanpa penghuni.
Sore mendekat, tetapi pekerjaan belum sampai separuh.
Sekar berhenti untuk makan nasi jagung dingin dengan ikan asin kecil yang ia panaskan sebentar. Di bawah atap terpal, ia melihat garis batu yang baru setinggi mata kaki. Dari jauh, mungkin tidak menghalangi siapa pun. Dari dekat, garis itu cukup membuat orang sadar bahwa langkah berikutnya adalah pilihan.
Itu yang ia butuhkan untuk sekarang.
Setelah makan, seorang lelaki tua yang kemarin memberitahu soal kebun cengkih lama lewat membawa rumput. Ia berhenti melihat batu-batu itu.
"Bikin pagar?"
"Batas kebun, Pak."
Lelaki itu mengangguk. "Jangan tutup jalur kecil di bawah. Kadang orang lewat ambil kayu jatuh."
"Tidak saya tutup."
"Bagus. Kalau air hujan turun dari atas, kasih celah. Batu yang rapat semua nanti jebol sendiri."
"Iya, Pak. Saya buat celah di sisi kiri."
Lelaki itu melihatnya lebih lama, mungkin heran karena perempuan asing ini menjawab seperti sudah memikirkan hal itu. Lalu ia melanjutkan jalan.
Sekar menambahkan catatan: celah air, jangan tutup jalur umum.
Pekerjaan batas batu berubah menjadi pekerjaan memahami ruang.
Di mana orang boleh lewat.
Di mana air boleh turun.
Di mana ia akan menanam.
Di mana ia akan tidur.
Di mana ia harus berdiri jika seseorang datang tanpa izin.
Menjelang matahari turun, garis batu pertama akhirnya mengelilingi inti tempatnya. Tidak tinggi. Tidak kuat. Jika ditendang, beberapa bagian pasti runtuh. Tetapi saat Sekar berdiri di dalamnya, ruang itu terasa berbeda dari lereng liar kemarin.
Ada luar.
Ada dalam.
Ia masuk ke dalam batas itu lewat dua batu besar di sisi depan, lalu berhenti. Perasaan yang datang bukan bangga penuh. Lebih seperti takut menyentuh sesuatu yang baru lahir.
Ini kecil.
Ini rapuh.
Ini miliknya sejauh ia sanggup menjaganya.
Sekar tidak puas hanya melihat dari dalam. Ia keluar lagi lewat penanda depan, turun beberapa langkah ke jalan setapak, lalu menoleh ke arah lerengnya sendiri. Dari bawah, atap terpal masih terlihat samar, tetapi garis batu membuat mata otomatis membaca tempat itu sebagai area yang diurus. Bukan hutan kosong. Bukan kebun mati sepenuhnya.
Ia berjalan memutari sisi luar, menendang pelan satu bagian yang goyah. Tiga batu jatuh. Sekar menyusunnya ulang dengan batu pipih sebagai dasar. Di sisi dekat alur air, ia sengaja membuat celah selebar telapak kaki agar hujan bisa lewat. Di sisi dekat jalur umum, ia tidak menutup jalan, hanya menambah penanda agar orang tahu mana jalur lewat dan mana ruang tinggal.
Tembok sungguhan nanti harus lebih tinggi.
Hari ini cukup satu garis yang tidak mudah disangkal.
Ia menandai tiga bagian dengan ranting kecil: sisi depan untuk dinaikkan lebih dulu, sisi mata air untuk dibiarkan rendah, dan sisi kebun untuk diperluas nanti.
Sekar mengambil radio kecil dari ruang penyimpanan. Panel surya portabel sepanjang hari sudah mengisi powerbank cukup untuk menyalakan radio sebentar. Ia tidak ingin mendengar berita, tetapi tidak mendengar juga berarti buta.
Suara statis menyambutnya.
Ia memutar tombol perlahan.
Satu gelombang hanya musik putus-putus. Gelombang lain berita lokal tentang harga bahan bakar di Kota Watu. Lalu suara penyiar nasional muncul, rendah dan tegang.
"Pemerintah Jepang mengumumkan status darurat nasional setelah penurunan muka tanah meluas ke wilayah yang sebelumnya dianggap aman. Laporan terbaru menyebut sebagian besar infrastruktur pesisir hilang fungsi. Evakuasi tidak lagi dapat dilakukan di beberapa zona karena air laut telah menutup akses utama..."
Sekar duduk di ambang atap terpal.
Angin sore bergerak melewati garis batu yang baru ia susun.
Penyiar berhenti sesaat, seperti menelan sesuatu.
"Media internasional kini menyebut peristiwa ini bukan lagi sekadar krisis pesisir. Istilah Tenggelamnya Jepang digunakan untuk menggambarkan hilangnya sebagian besar wilayah hunian utama akibat penurunan tanah dan air laut yang terus masuk."
Di bawah, sungai kecil tetap berbunyi.
Di atas, terpal biru bergerak pelan.
Sekar menatap batas batu setinggi mata kaki yang baru ia bangun sepanjang hari. Ia telah berjuang membuat garis kecil agar satu orang bisa bertahan. Di sisi lain dunia, garis pantai sebuah negara besar sedang hilang dari peta.
Tangannya menggenggam radio sampai buku jarinya memutih.
Penyiar mengulang kalimat yang membuat udara dataran tinggi terasa lebih dingin.
Jepang benar-benar tenggelam.