NovelToon NovelToon
Sang Pangeran Terlahir Kembali

Sang Pangeran Terlahir Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Indah Pramana

Pangeran Mahkota Arjuna terbangun dari mimpi buruk tergelap dalam hidupnya — hanya untuk menyadari bahwa ia telah kembali ke tiga tahun yang lalu.

Di kehidupan sebelumnya, ia terlalu dingin, terlalu bodoh, dan terlalu terlambat. Ia kehilangan wanita yang seharusnya ia lindungi, dikhianati oleh saudara yang ia percayai, dan mati di tangan mereka yang seharusnya ia waspadai.

Kali ini, segalanya akan berbeda.

Kali ini, ia akan menikahi Anindya — gadis yang dulu ia abaikan — dan menjadikannya permata yang paling ia jaga di seluruh kerajaan. Ia akan membongkar setiap kebohongan, menjatuhkan setiap pengkhianat, dan memastikan semua yang pernah menyakiti mereka... menyaksikan dunia mereka runtuh tepat di saat mereka merasa paling tak terkalahkan.

Tapi takdir tidak mudah diubah. Musuh-musuhnya lebih licik dari yang ia ingat, rahasia kerajaan lebih gelap dari yang ia bayangkan, dan cinta yang tumbuh antara dirinya dan Anindya... mungkin menjadi senjata paling berbahaya yang pernah ia miliki.

"Aku sudah pernah mati sekali. Kali ini, aku bersumpah — tidak akan ada yang menyentuhmu selama jantungku masih berdetak."

Genre: Kerajaan · Romansa · Reinkarnasi · Balas Dendam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Bab 15 Jatuh ke Air

Musim hujan memasuki hari-hari paling dingin ketika Puspa datang lagi ke Puri Timur.

Ia datang bersama Raden Bima dan seorang dayang dari Kadipaten Cendekia, membawa kabar bahwa utusan Garuda sudah tiba di tanah pengasingan. Eyang Maha selamat, tetapi Tabib Srikandi belum mengizinkan beliau menerima tamu. Kabar itu cukup untuk membuat Danarta bisa bernapas, tetapi belum cukup untuk membuat Puspa berhenti cemas.

Anindya menyambutnya di taman belakang Puri Timur.

"Wajahmu lebih pucat daripada terakhir kali," kata Anindya.

Puspa mencoba tersenyum. "Aku tidak pandai menyembunyikan pikiran."

"Di Puri Timur, itu bukan dosa."

Puspa menatapnya, lalu tertawa kecil untuk pertama kalinya hari itu. Tawa itu membuat Bima yang sedang memandangi kolam ikut lega.

Taman belakang Puri Timur tidak besar, tetapi tenang. Ada kolam teratai di tengah, jembatan kayu kecil, dan pohon kenanga yang mulai basah oleh gerimis. Wulan membawa baki berisi kue dan wedang hangat. Anindya sengaja memilih taman, bukan pendopo dalam, karena ia ingin Puspa merasa bebas bernapas.

Arjuna tidak ada di sana. Sejak pagi ia berada di ruang kerja bersama Harsa dan Garuda, mengurus peti bukti Kertanegara. Namun sebelum pergi, ia berpesan tiga kali agar Anindya tidak terlalu lama di udara dingin.

Wulan mengulang pesan itu dengan sungguh-sungguh.

"Yang Mulia berkata Gusti Putri harus masuk sebelum gerimis berubah deras."

Puspa menggoda pelan, "Pangeran Mahkota perhatian sekali."

Anindya menunduk pada cangkirnya. "Beliau hanya berhati-hati."

"Kalau itu disebut hanya berhati-hati, aku ingin tahu bagaimana beliau saat benar-benar khawatir."

Anindya tidak menjawab. Ia teringat malam petir, jubah basah, dan cara Arjuna memindahkan pelita agar cahaya jatuh di sisinya. Dadanya menghangat sedikit, lalu cepat-cepat ia minum wedang untuk menyembunyikannya.

Puspa menyandarkan siku di meja kecil. "Aku iri sedikit."

"Pada apa?"

"Pada keberanianmu. Kau masuk Puri Timur, menghadapi Permaisuri, Anggraini, Sinta, bahkan masih bisa duduk di sini seperti semuanya baik-baik saja."

Anindya menatap permukaan kolam. "Aku tidak seberani itu. Aku hanya tidak ingin orang lain melihat di mana aku gemetar."

Puspa mengangguk pelan. "Kalau begitu, kita sama. Bedanya, aku masih buruk menyembunyikannya."

"Kau tidak perlu menyembunyikan semuanya di depanku."

Senyum Puspa kali ini lebih hangat. Kedekatan itu datang cepat, mungkin karena keduanya sama-sama dibesarkan oleh keluarga yang mengajari mereka menahan luka dengan punggung tegak.

Gerimis semakin rapat.

Bima berdiri di dekat jembatan kecil. "Puspa, lihat ikan merah itu."

Puspa bangkit. "Jangan terlalu dekat."

"Aku tidak akan jatuh."

Anindya ikut berdiri. "Bima, kembali ke sini."

Anak itu patuh, tetapi saat ia mundur, selendang Puspa tersangkut pada ujung pagar jembatan. Puspa melangkah untuk melepasnya. Kayu di bawah kakinya basah oleh lumut halus. Semua terjadi terlalu cepat.

Satu bunyi retak.

Satu jeritan pendek.

Puspa kehilangan pijakan.

"Puspa!"

Tubuh gadis itu jatuh ke kolam.

Air memercik tinggi, menghantam wajah Anindya. Untuk satu detik, semua orang membeku. Lalu Puspa muncul di permukaan, terbatuk, tangannya menggapai udara. Kainnya menyerap air, menarik tubuhnya ke bawah.

Bima berteriak. Wulan menjatuhkan baki. Dayang Cendekia menjerit memanggil penjaga.

Anindya tidak berpikir.

Ia berlari ke jembatan, melepas selendang, dan melompat.

Air dingin menelan tubuhnya.

Dingin itu seperti ratusan jarum masuk ke kulit sekaligus. Napasnya hilang. Kain kebayanya berat, rambutnya langsung melekat di wajah. Namun ia melihat Puspa tidak jauh darinya, mata gadis itu melebar oleh panik.

"Puspa, lihat aku!"

Puspa mencoba menjawab, tetapi air masuk ke mulutnya.

Anindya berenang dengan susah payah. Ia bukan perenang hebat, tetapi Eyang Jaya pernah memaksanya belajar di danau kecil Kadipaten Jayawardana dengan alasan anak keluarga prajurit tidak boleh kalah oleh air. Saat itu ia menangis karena takut. Hari ini, pelajaran keras itu menyelamatkan nyawa orang lain.

Ia meraih pergelangan tangan Puspa.

"Jangan peluk leherku. Pegang lenganku."

Puspa terlalu panik untuk mengerti. Tangannya mencengkeram bahu Anindya, membuat mereka berdua hampir tenggelam. Air kolam masuk ke hidung Anindya. Dadanya terbakar.

Di tepi kolam, Wulan berteriak memanggil penjaga. Bima menangis sambil mencoba turun, ditahan seorang abdi.

Anindya menggigit bibir sampai terasa darah. Ia memutar tubuh, mendorong Puspa ke arah tepi, lalu berteriak, "Tarik dia!"

Dua penjaga akhirnya datang. Mereka menjulurkan galah bambu. Puspa meraih dengan lemah, lalu ditarik ke pinggir. Begitu tubuh Puspa diangkat, Anindya baru merasa kekuatan di kakinya hilang.

Air terlalu dingin.

Jari-jarinya kaku. Kainnya berat seperti batu. Ia mencoba berenang ke tepi, tetapi tubuhnya tidak menurut.

"Gusti Putri!" Wulan menjerit.

Suara langkah berlari memecah taman.

Arjuna muncul dari koridor dengan wajah yang belum pernah dilihat siapa pun di Puri Timur. Tidak ada dingin, tidak ada wibawa, tidak ada Pangeran Mahkota yang selalu menghitung. Yang ada hanya ketakutan mentah.

Beberapa napas sebelumnya, ia masih di ruang kerja, membaca catatan Harsa tentang penyitaan Kertanegara. Jeritan Wulan menembus pintu seperti pisau. Arjuna tidak bertanya apa yang terjadi. Tubuhnya sudah bergerak sebelum pikirannya menyusul. Adi memanggilnya dari belakang, tetapi ia hanya mendengar satu nama di antara kekacauan.

Anindya.

"Anindya!"

Ia melompat ke kolam tanpa melepas sepatu.

Air memercik lagi. Arjuna berenang cepat, meraih tubuh Anindya tepat saat kepalanya mulai turun. Tubuhnya dingin di pelukan Arjuna, terlalu dingin. Bibirnya pucat, napasnya pendek.

"Buka matamu," katanya.

Anindya berusaha. Kelopak matanya bergerak. "Puspa..."

"Dia selamat. Lihat aku."

"Bima..."

"Semuanya selamat. Kau dengar? Sekarang lihat aku."

Arjuna membawanya ke tepi. Beberapa penjaga membantu menarik mereka keluar. Wulan sudah menangis sambil membawa kain kering. Adi datang dengan wajah pucat, berteriak menyuruh orang memanggil Tabib Kerajaan Suradi.

Arjuna tidak melepaskan Anindya.

Ia membungkus tubuhnya dengan kain, lalu mengangkatnya. Air menetes dari pakaian mereka sepanjang koridor. Orang-orang menunduk panik, tetapi tidak ada yang berani bicara ketika melihat mata Arjuna.

"Air hangat. Pakaian kering. Jamu penghangat," perintahnya. "Sekarang."

Wulan berlari mendahului.

Di kamar, Anindya mulai menggigil keras. Giginya beradu. Kesadarannya datang dan pergi seperti lampu tertiup angin. Ia masih mencoba bertanya tentang Puspa, tetapi suaranya terlalu lemah.

Arjuna duduk di sisi dipan, menggenggam tangannya yang sedingin es.

"Berhenti memikirkan orang lain dulu," bisiknya. "Sekali ini saja, pikirkan dirimu."

Anindya tidak benar-benar mendengar. Ia hanya merasakan telapak tangan hangat yang menahan jemarinya agar tidak gemetar sendirian.

Tabib Kerajaan Suradi tiba tidak lama kemudian. Pria tua itu memeriksa nadi Anindya, melihat warna bibirnya, memeriksa napas, lalu meminta semua orang selain Wulan dan Arjuna mundur.

Puspa dibawa ke kamar lain. Ia selamat, hanya tersedak air dan ketakutan. Kabar itu seharusnya membuat ruangan lega. Namun wajah Suradi tidak ikut lega.

Arjuna melihatnya.

"Katakan."

Suradi menunduk. "Gusti Putri terlalu lama terkena air dingin. Tubuhnya menerima hawa dingin besar. Untuk sekarang, hamba akan memberi jamu penghangat dan memerintahkan istirahat penuh."

"Untuk sekarang?" Suara Arjuna turun.

Suradi ragu.

"Katakan semuanya."

Wulan menangis tanpa suara.

Suradi menarik napas. "Jika dirawat baik, Gusti Putri akan pulih. Tetapi hawa dingin seperti ini bisa meninggalkan dasar lemah pada tubuh perempuan. Kelak... urusan keturunan mungkin tidak akan mudah."

Ruangan menjadi sangat sunyi.

Anindya setengah sadar, tidak memahami seluruh kalimat. Namun Arjuna memahaminya terlalu baik. Pada kehidupan lalu, kata-kata seperti ini pernah datang terlambat, menjadi salah satu pisau yang dipakai orang lain untuk melukai Anindya. Pada kehidupan ini, ia justru mendengarnya lebih awal, di sisi ranjangnya, saat rambutnya masih basah dan wajahnya pucat karena menyelamatkan orang lain.

Arjuna menutup mata sebentar.

Ketika ia membukanya, ada nyeri yang tidak bisa dijelaskan siapa pun di ruangan itu.

"Rawat dia dengan semua yang kau punya," katanya.

"Hamba akan berusaha, Yang Mulia."

"Bukan berusaha." Arjuna menggenggam tangan Anindya lebih erat, tetapi tetap hati-hati agar tidak menyakitinya. "Pastikan ia pulih."

Suradi menunduk gemetar. "Baik, Yang Mulia."

Di atas dipan, Anindya menggigil lagi. Arjuna meraih kain kering dan menutup bahunya. Ia membungkuk, menahan tangannya di dekat bibir, seolah dengan begitu ia bisa mengembalikan panas ke tubuhnya.

Pintu terbuka sedikit. Puspa berdiri di luar dengan selimut tebal di bahu, wajahnya pucat dan matanya sembap.

"Aku yang salah," bisiknya. "Seharusnya aku tidak mendekati jembatan."

Anindya tidak sadar penuh, tetapi seolah mendengar suara itu. Bibirnya bergerak pelan.

"Jangan... salahkan Puspa."

Air mata Puspa langsung jatuh.

Arjuna menutup mata sebentar. Bahkan dalam keadaan setengah pingsan, Anindya masih memikirkan orang lain. Dulu sifat itu membuatnya terlihat mudah terluka. Sekarang Arjuna tahu, justru di situlah kekuatannya, dan kekuatan itu hampir merenggutnya dari tangannya lagi.

"Bawa Puspa beristirahat," kata Arjuna, suaranya lebih lembut. "Dia juga perlu tabib."

Wulan mengangguk sambil menangis dan menuntun Puspa pergi.

Wulan melihat mata Arjuna memerah.

Untuk pertama kalinya, ia percaya sepenuhnya bahwa Pangeran Mahkota bukan hanya sedang memanjakan istrinya.

Ia takut kehilangan.

Di luar kamar, hujan kembali turun, lebih halus daripada saat Puspa jatuh ke air. Namun bagi Arjuna, suara itu seperti pintu masa lalu yang hampir terbuka lagi.

Ia menatap wajah pucat Anindya dan menelan rasa sakit yang hanya ia sendiri pahami.

Suradi menunduk di samping ranjang, suaranya lebih pelan dari sebelumnya.

"Yang Mulia, tubuh Gusti Putri terkena hawa dingin berat. Kelak, untuk memiliki keturunan, jalannya mungkin akan jauh lebih sulit."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!