NovelToon NovelToon
Disenchanted

Disenchanted

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Diam-Diam Cinta / Persahabatan / Teen School/College / Teen / Cintapertama / Tamat
Popularitas:16.9k
Nilai: 5
Nama Author: Hernn Khrnsa

Jeehan tak menyangka bahwa akhir persahabatannya dengan Harris harus berubah menjadi perasaan cinta dalam munajat panjang. Dengan rangkaian doa dan pinta, ia mencoba mengetuk pintu langit bersama nama Harris di hatinya. Berharap laki-laki itu jadi kekasih halalnya kelak.

Namun, ia tak menyangka bahwa perhatian yang sahabatnya berikan hanyalah wujud dari rasa simpati sebagai teman. Yang Harris cintai sebenarnya ialah seorang perempuan di masa lalunya yang tanpa sengaja kembali hadir.

Rasa cinta yang semula Jeehan miliki harus terpaksa ia hapus saat Harris menyatakan cintanya pada Alisha. Mau tak mau Jeehan harus menelan pahitnya kecewa sendirian, sebab setelah sekian lama bersahabat, Harris masih tak memahami diri juga perasaannya.

Sejak saat itu, Jeehan memilih untuk menutup rapat hatinya sebab kecewa bukanlah episode yang ingin ia ulang, apapun alasannya. Lalu, bagaimanakah perjalanan cinta mereka? Akankah Jeehan berhasil menghapus Harris dalam hatinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Disenchanted 33

Alisha masih saja terisak di kamarnya, ingatan tamparan sang ibu masih melekat kuat di kepalanya. Tak pernah ia merasa sesakit ini. "Mama tega sama aku, hiks." Air matanya masih saja mengalir tanpa diminta.

Rasanya ingin sekali ia mengadukan ini pada seseorang. Tapi siapa? Ayah kandungnya tak mungkin mau mendengar keluh dan kesahnya. Harris apalagi, mereka baru saja bertengkar tadi siang, sudah dipastikan jika ia menghubunginya sekarang pasti akan diabaikan juga.

"Apa aku harus hubungi dia ya?" Alisha tampak berpikir selama beberapa menit sebelum akhirnya memutuskan untuk menelepon Bastian.

"Halo, Bas? Gue mau ketemu sama lo boleh gak? Gue sedih banget, gue mau cerita," katanya manja. Ia tahu sekali bahwa Bastian tak mungkin menolaknya, apalagi mendengar suaranya yang sehabis menangis.

"Lo habis nangis, ya, Al? Kenapa lo? Jangan bilang gara-gara dicuekin Harris terus lo jadi lembek begini?" suara Bastian terdengar sedikit marah di ujung panggilan.

"Bukan, pokoknya ada deh. Di mana lo? Gue mau ketemu sekarang juga!" ucapnya memaksa.

Bastian yang tengah berpesta bersama teman-temannya itu langsung mengiyakan kemauan Alisha tanpa pikir panjang. "Lo diam di sana, biar gue jemput!" kata Bara lalu memutus panggilannya.

Alisha langsung bergegas berganti pakaian, malam itu, ia hanya mengenakan celana jeans ketat dan kaos biasa disertai jaket. Dengan pelan-pelan ia mengendap-endap keluar kamar. Jarum jam menunjukkan pukul 9 malam, sang Mama pasti sudah tertidur pulas.

Dengan pasti, Alisha berjalan keluar gerbang tanpa meninggalkan suara sedikit pun. Di luar gerbang, tampak Bastian sudah menunggunya sambil mengisap satu puntung rokok.

"Siap?" tanya Bastian saat Alisha telah duduk di belakang jok motor besarnya.

Alisha mengangguk saja, setelahnya ia membiarkan Bastian membawanya ke mana pun. Bastian sengaja membawa Alisha berkeliling, menikmati angin malam sebelum mengajaknya ke tempat di mana teman-temannya berkumpul.

Selain Harris, Vino dan Amir. Bastian memiliki geng-nya sendiri, yang suka berkeliaran saat malam hari untuk menguji nyali di jalanan lepas. Keduanya sampai di vila milik keluarga Bastian. Di sana sudah berkumpul 6 orang laki-laki yang tak lain dan tak bukan adalah teman geng motor Bastian.

6 orang yang namanya tak diketahui Alisha itu terlihat menyapanya hangat, saling sapa dan bersalaman selama beberapa saat. "Wah ini, temen cewek lo yang sering lo ceritain itu ya, Bas?" tanya seorang dari mereka.

Bastian mengangguk, "Iya, cantik kan? So pretty as her name." Bastian mengedipkan sebelah matanya pada Alisha, membuat gadis itu sedikit berdebar. Ia baru mengetahui sisi lain Bastian yang menurutnya cukup romantis itu.

"Udah, ya, kalian lanjut dulu. Gue ada urusan di atas," kata Bastian pada teman-temannya. Lalu pandangannya beralih kepada Alisha. "Kita ke atas aja ya, biar gak diganggu sama yang lain."

Alisha hanya mengangguk lalu mengikuti langkah Bastian yang menuntunnya ke sebuah kamar. Kamar itu tampaknya tak ditempati oleh siapapun tapi tetap dalam keadaan bersih.

"Lo di sini dulu, gue ambil minum sama cemilan, ya." Alisha mengangguk, ia memerhatikan interior kamar itu, yang dominan cat putih dan krem. Cukup luas untuk ditinggali satu orang. Alisha menduga, kamar itu adalah kamar khusus tamu.

"Nih, Al, minum dulu," kata Bastian. Kedua tangannya memegang nampan berisi jus jeruk dan beberapa biskuit cokelat kesukaan Alisha. Perempuan itu tersenyum sambil menggumamkan terima kasih.

"Jadi, lo kenapa? Muka lo sembab gitu, habis nangis?" tanyanya langsung ketika Alisha terlihat sudah lebih nyaman.

Alisha meletakkan gelas yang dipegangnya ke nakas di sampingnya, "Iya, gue habis nangis." Tampaknya malam ini, ia tak akan menyembunyikan apapun dari Bastian. Laki-laki yang pernah menempati ruang hatinya beberapa tahun lalu.

"Gara-gara Harris?"

Alisha menggeleng kuat, "Bukan, bukan gara-gara itu gue nangis, kan udah gue bilang di telepon tadi."

"Terus? Gue yakin lo gak bakal call gue kalau masalahnya cuma sepele." Bastian tampaknya lebih memahami Alisha lebih dari siapapun.

Alisha menghela napas panjang beberapa kali sebelum akhirnya berbicara, "Gue, gue habis berdebat sama nyokap gue."

"Kok bisa? Karena apa? Eh bentar, itu pipi lo kenapa?" Bastian meraih pipi Alisha, melihat bekas kemerahan yang ada di sana dengan seksama. Hembusan napas Bastian yang mengenai kulitnya membuat jantungnya berdetak lebih cepat.

"Awww!" Alisha meringis ketika Bastian menyentuh bekas kemerahan itu.

"Sorry, sakit? Gue obatin dulu, ya? Tunggu di sini, gue ambil kotak obat di bawah." Bastian langsung keluar kamar mencari kotak obat yang dimaksudnya.

Sedangkan Alisha terdiam di kamar seorang diri. Semakin ia pikirkan, semakin ia merasa bahwa Bastian masih sangat mencintainya seperti dulu. Sikap lembut dan perhatiannya, membuat Alisha teringat masa di mana mereka masih sepasang kekasih.

Selang 10 menit, Bastian kembali lagi dengan membawa kotak obat. Dengan pelan dan lembut, ia membantu Alisha mengoles salep luka di pipinya. Hal itu, membuat Alisha tersentuh.

"Thanks ya, Bas."

"My pleasure. Oke, mau cerita apa tadi?" Bastian mengambil posisi duduknya yang nyaman di sofa menghadap Alisha. Sedangkan perempuan itu, duduk di tepi kasur. Wajahnya tertunduk selama beberapa saat, sempat ragu menceritakan aib sang Mama kepada orang lain.

"Nyokap gue ternyata perebut suami orang, Bas." Hanya satu kalimat, tapi sukses membuat air mata Alisha luruh deras hingga ke pipi. "Gue bener-bener gak nyangka, Bas."

"Nyokap gue udah jahat banget, kan?" isaknya lagi. Dengan santai, Bastian memberikan sekotak tisu yang kebetulan ada di atas meja. Ia membantu Alisha untuk melampiaskan emosinya dengan menangis.

"Gue tahu lo sedih dan hancur banget saat tahu faktanya, but everything will be okay, Al. Trust me," ucapnya mencoba menenangkan Alisha sambil mengusap-usap bahunya lembut.

Tanpa sadar, Alisha memeluk Bastian dan meluapkan segala kesedihannya di sana. Laki-laki itu tak keberatan sama sekali, bahkan ia dengan tangan terbuka meraih pelukan Alisha dan mengusap rambutnya yang tergerai sempurna.

"Dan yang lebih parahnya lagi, ternyata suami yang nyokap gue rebut adalah ayahnya Jeehan, Bas. Sumpah demi apapun, gue gak bisa menghadapi Jee." Bastian juga cukup terkejut dengan fakta itu. Kepalanya ditimpa pertanyaan-pertanyaan yang mungkin tak bisa dijawab Alisha.

"Jee ada bilang sesuatu sama lo?" tanya Bastian, ia menangkup wajah sembab Alisha dan menatap matanya dalam.

Alisha menggeleng, "Dia gak bilang apa-apa sama gue, tapi yang gue tahu, dia pasti kecewa banget. Bahkan gue juga kecewa banget sama nyokap gue. Kenapa nyokap gue bisa setega itu, Bas?" Alisha benar-benar menumpahkan segala kesedihannya pada Bastian.

Seolah laki-laki itu adalah sebuah tempat pembuangan semua emosi dan kekecewaannya. Bastian tak bertanya apapun lagi selain memeluk Alisha, mencoba memberi gadis itu ketenangan dan kelegaan yang diinginkannya.

Setelah beberapa saat, akhirnya luapan tangis Alisha sedikit mereda. Saat itulah Bastian berani bertanya banyak hal. Tetapi, bukan pertanyaan untuk menuntaskan rasa penasarannya. Semata untuk memvalidasi perasaan Alisha, guna mendapatkan perhatian dan hati gadis itu kembali.

"Sekarang gue mau tanya sama lo. Lo benci sama nyokap lo gak? Gimana perasaan lo sekarang? Apa yang lo mau sekarang?"

Alisha tampak berpikir sejenak, "Gue gak akan bisa benci nyokap gue, walaupun gue agak kecewa dengan apa yang dia lakuin," jawabnya lirih. Ia memang tak akan bisa membenci perempuan yang telah melahirkan dan membesarkannya itu.

"Dan perasaan lo?"

"Penting banget ya buat tahu perasaan gue kayak gimana, Bas?"

"Penting dong, karena dengan memahami perasaan diri lo sendiri, lo bisa tahu apa yang lo mau sebenarnya dan apa yang seharusnya lo lakukan sekarang." Bastian berdiri, menekuk bahu Alisha sesaat lalu kembali duduk di sofa.

"Gak tahu, gue bingung sama perasaan gue sendiri."

"Oke, mungkin lo butuh lebih banyak waktu buat meregulasi emosi lo. Gak apa-apa, Al. Terus sekarang mau lo gimana?"

Alisha menunduk, ia juga bingung dengan satu hal itu. Yang ia tahu, ia tak ingin pulang sekarang. Ia tak mau bertemu Alina dan berseteru lagi.

"Gue boleh tinggal di sini gak? Cuma sehari kok, Bas, gue mau menenangkan diri," ucap Alisha pada akhirnya.

Bastian mengangguk setuju, "Oke. Kalau gitu lo harusnya istirahat sekarang, tenangkan pikiran lo dulu. Kasih tahu gue kalau lo butuh apa-apa, gue ada di bawah, ya."

Alisha mengangguk. "Thanks ya, Bas." Gadis itu tersenyum lembut, kemudian mulai memosisikan tubuhnya untuk berbaring, rasanya lelah sekali.

"Good night, sleep well, Al." Bastian masih sempat tersenyum dan mematikan lampu sebelum menutup pintu kamar itu rapat-rapat.

•••

Pagi-pagi sekali, sebelum berangkat bekerja, Hasya menyempatkan diri untuk menyambangi Maura dan Jeehan, untuk menanyakan hal yang diributkan Alina sejak semalam.

"Assalamu'alaikum, Maura, Jeehan." Berkali-kali menekan bel yang ada di gerbang, namun tak ada seorang pun yang terlihat ke luar. Hingga saat Hasya berbalik dan hendak pergi, barulah muncul sosok Maura.

Cepat-cepat ia menghampiri Hasya di depan gerbang. "Tumben, Mas, pagi-pagi sudah ke sini. Ada perlu apa?" tanya Maura seraya membuka kunci gerbang.

Hasya tersenyum lalu berjalan masuk dengan sopan. Kini, ia merasa sedikit asing dengan rumah tersebut. Rumah yang pernah ia jadikan tempat pulang usai bertarung dengan pekerjaan, sekarang hanya menjadi tempat yang sesekali ia kunjungi atas nama rindu.

"Gak ada apa-apa, cuma mau ketemu Jeehan aja. Dia ada kan?"

Maura mengangguk, "Ada, lagi sarapan. Kamu udah sarapan, Mas?"

Hasya menggeleng kuat, "Belum," katanya dengan jujur. Sejak berpisah dengan Maura, Hasya tak pernah mendapatkan sarapan atau perlakuan layaknya suami dari Alina. Seringnya ia sarapan dan makan di luar. Kehidupannya saat bersama Alina, sangat jauh berbeda saat bersama dengan Maura.

"Eh, ada Ayah, Assalamu'alaikum, Yah." Jeehan menghentikan makannya sesaat, lalu menghampiri Hasya, ia masih bersikap seperti layaknya anak kepada sang Ayah. Memberi salam dan mengecup punggung tangan Hasya dengan takdzim adalah suatu keharusan baginya. Kendati begitulah yang diajarkan ibunya. Agar tetap menghormati sang Ayah.

"Apa kabar anak Ayah ini?"

"Baik-baik aja, kok, Yah. Alhamdulillah alaa kulli haal," jawab Jee penuh syukur.

Hasya tersenyum, teduh hatinya memandang wajah sang putri semata wayangnya. Jujur saja, rasa sesal itu ada, menempel kuat di relung hatinya yang paling dalam. Mengapa bisa ia menyia-nyiakan istri dan putri sebaik Maura dan Jeehan.

"Alhamdulillah, untuk pelajaran sekolahnya gimana? Jee udah siap untuk ujian masuk universitas?" tanyanya lagi berbasa-basi.

Jee mengangguk mantap, "Insyaa Allah, Jee siap. Tolong do'anya ya, Yah, supaya Jeehan bisa masuk ke universitas yang bagus."

"Ayah selalu doakan yang terbaik untuk Jeehan. Oh, ya, Ayah datang ke sini, sekalian ingin menanyakan sesuatu."

"Apa itu?"

1
falea sezi
terusan jee mana jangan bkin gantung donk
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
fokus saja pada kebahagiaanmu Jee
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
salah orang woy 🤪
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Bastian udah kabur 😌
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Setuju,
Semangaaat Jee 💪
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Surprise 🤣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Hadeuh 😣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Kan bener,ngapain marah" 🤪
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Dih ternyata numpang dirumah istrinya 🤭
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
jangan pas seneng" aja, noh urus suamimu yg lagi sakit 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Emang bukan madu tapi racuun 🤬
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Salah sendiri kenapa harus ada perempuan" padahal cukup 1 perempuan 😌
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
alasannya karena ayahmu punya istri baru 😏
falea sezi
kok end thor
Mukmini Salasiyanti
udah End ajaa.... ??
hiks.. hiks...

Gk usah buat sequelnya kk Hern..
sedih&kecewaku sdh Habis disini..
ikut Terbang bersama Jee
(eaaaaaaa lebay....)
wkwkwk

tp kl kk berazzam tuk itu..
yaahh dgn Terpaksa la aqu read
dgn syarat Jee hidup bahagia dgn pria lain.. NO HARRIS!!!!
(eh.. situ Siapa ya, kok ngatur Author..
hihiiiiiiiii)
HK: Entah harus berakhir di sini atau tetap lanjut, kita pikirkan idenya dulu Kak Min. Thanks ya udah baca karya recehan author ini. 🥺
total 1 replies
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Kebangetan nih masa ayahnya gak tau kl anaknya sekolah disitu😏
falea sezi
hahahah mampus kau azab tuh buat pelakor ma anak nya nunggu karma bapaknya stroke aja q
Mukmini Salasiyanti
tell the truth..
walaupun itu sgt pahit.....
Mukmini Salasiyanti
aihhhhh
ternyata, thor..
begini jg alurnya???
HK: Tunggu kelanjutannya /Chuckle/
total 1 replies
Mukmini Salasiyanti
Bagus laaa kl ingat Bastian..
kukira kyk drama di novel2,
bakal Harris yg kena getahnya

wkwkwk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!