NovelToon NovelToon
PEWARIS RAHASIA SANG MAFIA JEBAKAN MANIS SANG PENGASUH

PEWARIS RAHASIA SANG MAFIA JEBAKAN MANIS SANG PENGASUH

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Anak Genius
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

Aline terpaksa menyamar sebagai pengasuh polos demi menyelidiki kematian misterius kakaknya di kediaman seorang leader mafia kejam sekaligus CEO, bernama Adrian. Di sana, ia harus mengurus anak kembar Adrian yang sangat genius namun manipulatif. Masalah rumit muncul ketika anak-anak tersebut justru sengaja menjebak Aline dan Adrian agar menikah, sementara Adrian mulai mencurigai identitas asli Aline yang ternyata memegang kunci rahasia masa lalunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Riak di Balik Masker Dingin

Bab 11: Riak di Balik Masker Dingin

​Ketukan jarum jam dinding antik di koridor sayap timur Mansion Dirgantara terdengar konstan, memecah keheningan pagi yang masih berkabut. Pasca insiden mati lampu di perpustakaan semalam—di mana tubuh Aline mendarat tepat di dalam dekapan hangat dan posesif Adrian—suasana di dalam rumah mewah itu mendadak berubah menjadi sangat aneh. Ada ketegangan tak kasat mata yang merayap di antara dinding-dinding marmernya, sebuah riak tersembunyi yang membuat para pelayan senior pun memilih untuk berjalan menunduk dan menahan napas mereka setiap kali berpapasan dengan sang Tuan Besar.

​Aline Shandika berdiri di depan cermin besar di dalam kamar mandinya. Ia menatap pantulan dirinya sendiri dengan saksama. Kacamata bulat tebal dengan lensa palsu yang sedikit memburamkan pandangan itu kembali bertengger di hidungnya. Kulit wajahnya yang putih bersih telah dipulas tipis dengan alas bedak berwarna dua tingkat lebih gelap, menyembunyikan rona segar alaminya. Rambut pendeknya yang acak-acakan diikat asal-asalan ke belakang dengan jepitan plastik murah berwarna cokelat kusam.

​Ia kembali menjadi Aline Sanyoto. Gadis desa lugu, teledor, dan yatim piatu yang selalu tampak ketakutan setengah mati jika mendengar suara bariton Adrian.

​Namun, di balik lensa tebal itu, sepasang manik mata asli Aline yang tajam bagai mata kucing di malam hari memancarkan kilat kalkulatif yang dingin.

​"Mengapa dia tidak langsung melepaskanku semalam?" bisik Aline pada dirinya sendiri, suaranya kembali ke nada aslinya yang jernih dan berwibawa. "Cenckeramannya di pinggangku... itu bukan refleks seorang pria yang terkejut karena ditabrak pelayan bodoh. Itu adalah cengkeraman seseorang yang sedang menahan sesuatu yang berharga agar tidak hilang."

​Aline meremas pinggiran wastafel porselen. Sentuhan fisik semalam terus mengusik pikirannya. Aroma tubuh Adrian—campuran kayu cendana dan tembakau mahal—masih terasa pekat di indra penciumannya. Namun, yang lebih mengganggunya adalah reaksi Adrian terhadap aroma tubuhnya sendiri. Sebagai seorang ahli taktik siber dan intelijen mandiri, Aline tahu bahwa pria sedingin dan sekejam Adrian tidak akan pernah membiarkan emosinya goyah hanya karena sebuah pelukan tidak sengaja, kecuali... ada pemicu psikologis yang sangat masif di baliknya.

​"Aroma melati liar," gumam Aline, mengingat parfum alami berbahan dasar minyak atsiri kuno yang selalu ia pakai sejak kecil—warisan resep dari mendiang ibunya yang juga sering dipakai oleh kakaknya, Rena. "Pria itu bereaksi terhadap wangi itu. Apakah ada hubungannya dengan alasan mengapa dia melenyapkan Kak Rena?"

​Aline menarik napas dalam-dalam, mengunci seluruh emosinya di dalam kotak terdalam di hatinya. Ia memutar tubuhnya, membuka pintu kamar mandi, dan langsung mengubah gestur tubuhnya menjadi sedikit membungkuk, dengan langkah kaki yang sengaja dibuat agak terseret dan canggung. Sandiwara babak baru hari ini harus dimulai.

​Pukul delapan pagi, Aline melangkah ke ruang makan tengah dengan membawa nampan berisi semangkuk bubur oat hangat dengan potongan buah segar untuk si kembar. Namun, begitu ia menginjakkan kakinya di ambang pintu ruangan, atmosfer dingin yang mencekam langsung menusuk kulitnya.

​Adrian sudah duduk di sana. Pria itu mengenakan setelan jas hitam formal tanpa dasi, kemeja putihnya terkancing rapi hingga ke leher. Wajahnya tampak luar biasa datar, seolah-olah gumpalan es dari kutub utara telah membeku secara permanen di sana. Guratan rahang tegasnya mengatup rapat, dan sepasang mata elang hitam kelam itu menatap lurus ke arah laptop di depannya dengan intensitas yang bisa membuat karyawan biasa langsung mengajukan surat pengunduran diri karena serangan panik.

​Di sisi kiri dan kanan meja, Kenzo dan Keira sedang mengunyah roti panggang mereka dengan keheningan yang sangat tidak biasa. Mereka berdua sesekali melirik ke arah ayah mereka, lalu beralih menatap Aline yang baru saja masuk dengan senyuman penuh arti yang sangat tersembunyi.

​"P-Permisi... Tuan Muda Kenzo, Nona Muda Keira... Ini bubur oat hangatnya," ucap Aline dengan suara cicit yang sengaja dibuat agak sengau dan bergetar halus. Ia meletakkan mangkuk-mangkuk porselen itu dengan gerakan yang super hati-hati, berpura-pura takut jika sendoknya berdenting keras dan memicu kemarahan Adrian.

​Adrian sama sekali tidak mengangkat kepalanya dari layar laptop. Namun, begitu Aline bergerak mendekati sisi kursinya untuk menuangkan air putih ke gelas si kembar, suara bariton Adrian yang berat, rendah, dan sedingin es tiba-tiba memotong keheningan.

​"Mulai hari ini, volume pekerjaanmu akan ditambah, Nona Sanyoto."

​Aline menghentikan gerakan tangannya yang sedang memegang teko air. Ia mengerjapkan matanya di balik kacamata tebal, memasang wajah super bingung dan gugup. "M-Maksud Anda, Tuan Besar? S-Saya melakukan kesalahan lagi?"

​Adrian perlahan menutup layar laptopnya dengan satu sentakan pelan yang berbunyi klik tajam. Ia memutar kepalanya, menatap Aline langsung dari jarak dekat. Tatapannya begitu menguliti, dipenuhi oleh kombinasi antara kejengkelan yang mendalam dan sebuah penyangkalan emosional yang sedang ia lawan di dalam kepalanya sendiri. Pria itu sedang kesal karena semalam ia sempat kehilangan kendali atas instingnya hanya karena pelukan seorang gadis desa.

​"Pak Yusuf mengeluhkan kekurangan tenaga di sayap tengah," kebohongannya terdengar sangat meyakinkan dan otoriter. "Selain mengurus keperluan si kembar di sayap timur, kau juga bertanggung jawab penuh untuk membersihkan seluruh perpustakaan lantai tiga setiap hari, menyiram tanaman di koridor tengah, dan memastikan ruang kerja pribadiku selalu steril dari debu sebelum jam enam sore. Jika aku menemukan satu butir debu atau ada barang yang bergeser satu milimeter saja dari tempatnya... kau tahu konsekuensinya."

​Pak Yusuf yang berdiri di sudut ruangan sempat menaikkan sebelah alisnya karena terkejut. Sejak kapan ia mengeluhkan kekurangan tenaga pelayan? Mansion ini memiliki lebih dari tiga puluh pelayan profesional yang siap bekerja dua puluh empat jam. Namun, sebagai kepala pelayan yang bijaksana, ia memilih tetap diam dan mengangguk patuh.

​Aline meremas apron kremnya dengan ekspresi yang tampak sangat tertekan dan ingin menangis. "B-Baik, Tuan Besar... Saya akan bekerja lebih giat lagi. S-Saya bersumpah tidak akan mengecewakan Anda... Tolong jangan pecat saya..."

​"Kembali ke tugasmu," potong Adrian kejam, sama sekali tidak memedulikan raut wajah memelas di hadapannya. Ia berdiri dari kursinya, meraih tas dokumen kulit mahalnya, dan melangkah pergi meninggalkan ruang makan dengan langkah kaki yang besar dan angkuh.

​Begitu sosok tegap Adrian menghilang di balik pintu aula depan, Keira langsung meletakkan garpu kecilnya dan menjulurkan tubuhnya ke arah Aline. "Wah, Kak Aline! Daddy sengaja menghukummu karena dia merasa bersalah karena memelukmu semalam! Itu taktik penyangkalan pria dewasa yang sangat klasik!"

​"Betul," timpal Kenzo datar sembari mengunyah potongan stroberinya dengan tenang. "Menurut data psikologi perilaku yang kubaca di forum internet, seorang pria alfa yang dominan akan bersikap dua kali lebih kejam kepada wanita yang berhasil mengusik ketenangan emosionalnya. Daddy sedang panik karena dia mulai menyukaimu, Kak."

​Aline mengembuskan napas panjang, menanggalkan sejenak ekspresi ketakutannya di depan si kembar yang sudah tahu rahasianya. Ia melipat tangannya di depan dada, menatap dua bocah lima tahun itu dengan pandangan malas. "Dengar, kalian berdua monster kecil. Ayah kalian tidak sedang menyukaiku. Pria itu sedang mencoba menyiksaku agar aku membuat kesalahan dan dia punya alasan sah untuk mengusirku—atau menguburku di halaman belakang."

​"Tapi Kakak tidak akan menyerah, kan?" Keira mengedipkan matanya yang bulat dengan jenaka. "Lagipula, mendapatkan akses ke ruang kerja pribadi Daddy di sayap tengah adalah kesempatan bagus untuk... ya, kau tahu sendiri, mencari apa yang kau cari."

​Mendengar ucapan Keira, Aline tertegun. Anak-anak ini benar. Hukuman dari Adrian ini secara tidak sengaja justru memberikan legitimasi hukum baginya untuk berkeliaran di area-area sensitif mansion tanpa memicu alarm kecurigaan dari para penjaga keamanan. Ini adalah keuntungan taktis yang luar biasa di balik kedok sebuah siksaan pekerjaan.

​Pukul dua siang, setelah si kembar tidur siang di kamar mereka, Aline memulai tugas barunya untuk membersihkan kamar pribadi dan ruang kerja Adrian di sayap tengah. Kamar tidur Adrian terletak di ujung koridor lantai tiga, sebuah ruangan raksasa dengan desain minimalis modern yang didominasi oleh warna hitam, abu-abu arang, dan aksen kayu gelap yang maskulin. Kamar itu terasa sangat luas, dingin, dan sepi—mencerminkan jiwa pemiliknya dengan sangat akurat.

​Aline berjalan dengan sangat tenang, memegang sehelai kain mikrofiber dan sebotol cairan pembersih. Langkah kakinya beralih ke deretan laci-laci kayu jati terintegrasi yang berada di dekat ranjang besar Adrian.

​Matanya yang terlatih menyisir setiap sudut permukaan. Ia tahu, Adrian adalah tipe pria yang sangat metodis. Jika ada benda rahasia yang paling berharga bagi kehidupan pribadinya, pria itu pasti akan menyimpannya di tempat yang paling dekat dengan jangkauan tangannya saat tidur.

​Aline berlutut di samping meja nakas tempat bertumpunya sebuah lampu tidur kuningan bergaya industrial. Ia memeriksa bagian bawah laci nakas tersebut. Benar saja, di bagian panel kayu paling bawah yang tersembunyi dari pandangan mata telanjang, terdapat sebuah celah kecil berukuran mikro yang hanya bisa dibuka dengan mekanisme kunci magnetik tertentu.

​Mengandalkan keahlian mekanisnya, Aline mengeluarkan sebuah pinset baja tipis dari balik lengan bajunya. Ia memasukkan pinset tersebut ke dalam celah, menggerakkannya dengan kepekaan pendengaran tingkat tinggi untuk merasakan pergeseran pin kunci di dalam slot kayu.

​Klik.

​Sebuah kompartemen rahasia yang sangat kecil perlahan bergeser keluar dari dasar nakas.

​Jantung Aline berdegup kencang. Ia mengira akan menemukan dokumen transaksi senjata, daftar nama anggota klan mafia Gorgon, atau berkas penyelidikan internal tentang kakaknya. Namun, apa yang tergelosor keluar dari dalam kompartemen rahasia itu justru membuat Aline terpaku dengan mata terbelalak.

​Di dalam sana, terletak sebuah kotak musik tua berlapis perak murni yang permukaannya sudah agak kusam dimakan usia. Desain kotak musik itu sangat kuno, dengan ukiran timbul berbentuk untaian bunga melati yang menjalar indah di sekeliling dinding logamnya. Kotak musik itu tampak sangat kontras dengan seluruh dekorasi kamar Adrian yang modern, tajam, dan maskulin. Benda ini terasa seperti sebuah anomali romantis di dalam sarang seorang pembunuh berdarah dingin.

​Aline perlahan mengulurkan tangannya yang terbungkus sarung tangan kain tipis, mengangkat kotak musik tersebut dengan sangat hati-hati. Begitu kotak itu terangkat dari tempatnya, sisa-sisa keharuman minyak melati kuno yang sangat pekat menguar dari sela-sela engsel logamnya yang longgar.

​Aroma itu langsung menghantam kesadaran Aline bagai sebuah hantaman godam yang sangat keras.

​Wangi ini... wangi melati liar yang berpadu dengan keharuman minyak atsiri alami ini... bukan sekadar wangi melati biasa. Ini adalah formula minyak aromaterapi buatan mendiang ibunya yang dinamakan 'Jasmine of the Wild'. Ibunya hanya membuat ramuan ini dalam jumlah sangat sedikit untuk dipakai oleh keluarga mereka sendiri, dan kakaknya, Rena, selalu membawa satu botol kecil ramuan itu kemanapun ia pergi sebelum ia ditemukan tewas.

​"Mengapa benda ini ada di kamar Adrian?" bisik Aline dengan suara yang bergetar hebat karena kombinasi rasa terkejut dan amarah yang mendadak membakar dadanya. "Apakah pria ini mengambilnya dari tubuh Kak Rena setelah dia membunuhnya? Sebagai sebuah piala kemenangan atas nyawa kakakkku?"

​Gigi Aline mengatup rapat, dan matanya memancarkan kilat kebencian yang teramat dalam. Tangannya gemetar hebat, hampir saja ia membanting kotak musik perak itu ke lantai marmer untuk meluaskan amarahnya. Namun, akal sehatnya dengan cepat menariknya kembali ke realitas. Jika ia merusak benda ini sekarang, Adrian akan langsung tahu bahwa ada penyusup profesional di kamarnya, dan seluruh penyamarannya yang sudah ia susun dengan mengorbankan air mata dan harga diri akan hancur dalam sekejap.

​Aline memejamkan matanya, menarik napas panjang untuk menenangkan detak jantungnya yang berpacu liar. Ia perlahan meletakkan kembali kotak musik perak itu ke dalam kompartemen rahasia bawah nakas, lalu mendorongnya masuk hingga terdengar bunyi klik penguncian yang rapi. Ia menghapus seluruh jejak sidik jari dan debu mikroskopis di sekitar area tersebut menggunakan kain mikrofiber dengan sangat presisi.

​Aline berdiri, membetulkan letak kacamata bulat tebalnya, dan menatap ranjang besar Adrian dengan pandangan yang sedingin es kutub.

​"Kau menyimpan piala kematian kakakkku di samping tempat tidurmu, Adrian Dirgantara," bisik Aline dengan nada suara yang penuh dengan janji kematian yang teramat pekat. "Aku bersumpah... aku tidak hanya akan mencari tahu kebenaran di balik kematian Kak Rena, tapi aku juga akan memastikan bahwa kotak musik perak ini akan menjadi benda terakhir yang kau lihat sebelum aku mengirim jiwamu ke neraka terdalam."

​Tanpa ia sadari, dari balik celah ventilasi udara yang terletak di langit-langit kamar tidur utama tersebut, sebuah lensa kamera pemantau mikro yang tersembunyi di balik jeruji besi fungsional sempat berkedip sekali—sebuah sensor pengawasan independen tingkat lanjut yang bahkan belum sempat dipetakan oleh Aline dari sistem utama mansion.

​Petualangan Aline di Istana Berdarah ini baru saja menginjakkan kakinya ke dalam sebuah labirin rahasia yang jauh lebih gelap dan berbahaya daripada yang pernah ia bayangkan sebelumnya.

1
M. T🌻
aku mampir ya thor, semangat. jangan lupa mampir juga👍☺
gendiz: terimakasih 🙏 aaasiiiaaappp
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!