Arya Mahendra, seorang Kaisar Immortal dari Alam Semesta Atas, dikhianati saat melewati Kesengsaraan Surgaw. Alih-alih mati, jiwanya terlempar kembali ke masa lalu, masuk ke dalam tubuhnya sendiri saat ia masih menjadi mahasiswa miskin berusia 19 tahun di Bumi yang sering ditindas dan kehilangan keluarganya karena konspirasi konglomerat lokal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Kembalinya Sang Kaisar, Hilangnya Kesengsaraan Surgawi
BUMMM!
Guntur yang menyilaukan merobek kehampaan alam semesta. Formasi Pemusnah Dewa yang membentang jutaan mil hancur berkeping-keping.
"Chen Xuan! Xinyue! Kalian berani mengkhianatiku saat aku sedang melewati Kesengsaraan Surgawi?!"
Arya Mahendra, Kaisar Immortal yang gelarnya menggetarkan Sembilan Langit dan Sepuluh Bumi, meraung dengan amarah yang bisa membakar lautan bintang. Tubuh emasnya yang tak bisa dihancurkan perlahan retak, jiwanya tersedot ke dalam pusaran badai ruang dan waktu yang tak berujung akibat pengkhianatan dua sahabat dan wanita yang paling dipercayainya.
Kegelapan menelan segalanya.
...
"Arya! Arya Mahendra! Berdiri kamu!"
Sebuah gebrakan keras di meja membuat Arya tersentak. Matanya terbuka lebar, napasnya memburu. Secara refleks, tangannya membentuk segel pertahanan kuno, siap meratakan gunung dan membelah lautan untuk menghabisi musuh-musuhnya.
Namun, tidak ada energi spiritual yang mengalir. Tangannya kurus, pucat, dan gemetar.
Bukannya langit yang dipenuhi darah dewa dan naga, pemandangan di depannya adalah sebuah papan tulis putih, deretan bangku kayu, dan seorang dosen paruh baya berkacamata tebal yang sedang menatapnya dengan penuh amarah.
Di sekelilingnya, puluhan mahasiswa tertawa meremehkan.
"Lihat si gembel itu. Dia pasti ketiduran karena semalaman jadi kuli angkut di pasar," cibir seorang pemuda tampan yang duduk tak jauh darinya, kakinya dinaikkan ke atas kursi dengan angkuh. Dia adalah Bima Wijaya, putra dari salah satu keluarga paling berpengaruh di kota.
Arya terdiam mematung. Matanya menyapu sekeliling, otaknya yang telah hidup selama puluhan ribu tahun memproses informasi dengan kecepatan kilat.
Kemeja usang ini... ruang kelas ekonomi Universitas Nusantara... Bima Wijaya...
Arya melihat ke arah ponsel retak di atas mejanya. Layarnya menunjukkan tanggal: 14 Juni 2018.
Jantung Arya berdegup kencang. Aku kembali? Setelah sepuluh ribu tahun berkultivasi di Alam Semesta Atas hingga mencapai puncak Kaisar Immortal, jiwaku kembali ke Bumi? Ke tubuhku saat berusia sembilan belas tahun?
Arya menunduk, menatap telapak tangannya. Di kehidupan sebelumnya, dia adalah pemuda miskin yang tak berdaya. Di tahun ini, keluarganya dihancurkan oleh konspirasi Keluarga Wijaya. Ayahnya difitnah dan dipenjara, ibunya meninggal karena depresi, dan...
Mata Arya tiba-tiba membelalak. Tanggal 14 Juni 2018!
Ingatan kelam yang telah terkubur puluhan ribu tahun kembali mencuat. Hari ini, tepat pukul 14:00 siang, adiknya, Maya Mahendra, akan ditabrak lari di depan gerbang sekolahnya oleh preman suruhan Bima Wijaya hanya karena Maya menolak pelecehan yang dilakukan sepupu Bima. Kejadian itu membuat Maya lumpuh seumur hidup.
Arya melirik jam di dinding kelas. Pukul 13:15. Dia punya waktu kurang dari 45 menit.
"Arya! Keluar kamu dari kelasku! Mahasiswa miskin tidak berguna, sudah diberi beasiswa malah tidur!" bentak dosen itu lagi.
Namun, Arya tidak menunduk ketakutan seperti yang diharapkan semua orang. Dia perlahan mengangkat wajahnya.
Tatapan matanya tidak lagi kosong dan penakut seperti mahasiswa miskin pada umumnya. Matanya setajam pedang, memancarkan aura membunuh yang sedingin es dari seorang penguasa yang telah membantai triliunan nyawa di Alam Atas.
Ketika pandangan Arya berpapasan dengan Bima Wijaya, Bima yang tadinya tersenyum sinis tiba-tiba merasakan jantungnya seolah diremas oleh tangan tak kasatmata. Keringat dingin seketika mengucur di punggungnya. Tubuhnya gemetar tanpa alasan.
Tatapan macam apa itu?! batin Bima ketakutan, merasa seperti sedang ditatap oleh dewa kematian.
Tanpa mempedulikan dosen yang berteriak marah atau mahasiswa yang kebingungan melihat wajah pucat Bima, Arya berbalik dan berjalan keluar dari kelas. Langkahnya tenang namun mantap.
"Surga memberiku kesempatan kedua," gumam Arya pelan saat angin siang menerpa wajahnya di koridor kampus. Tangannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Chen Xuan, Xinyue... tunggu aku kembali ke Alam Atas. Dan untuk kalian, Keluarga Wijaya... di kehidupanku yang lalu, aku tidak berdaya melihat kalian menghancurkan keluargaku. Di kehidupan ini, aku, Sang Kaisar Immortal, akan memastikan kalian memohon untuk mati!"