"Bujur buset!"
Bukan sulap, bukan sihir. Dinda yang seharusnya sudah 'metong' dihantam mobil tronton, nyatanya masih bernapas. Alih-alih terbangun di rumah sakit dengan tubuh hancur, ia justru mendapati dirinya terduduk di tengah rimbunnya hutan belantara.
Ia masih mengenakan setelan santai jalan-jalannya lengkap dengan sling bag yang masih tersampir di bahu. Isinya pun masih lengkap: ponsel, uang tunai, set peralatan make-up, hingga parfum sweet vanilla kesukaannya.
"Gila, gue di mana? Masa iya ketabrak mobil, terus kelemparnya sejauh ini?" gumamnya panik.
Dinda merogoh ponselnya dengan tangan gemetar, berharap bisa menghubungi seseorang. Namun, saat layar menyala, ia justru mematung. Ponselnya terasa asing—seolah baru keluar dari kotak—kosong, bersih tanpa jejak data, tanpa sinyal, tanpa sisa.
Tiba-tiba, suara dedaunan kering yang terinjak dari balik semak membuatnya tersentak. Dinda menoleh cepat ke belakang.
Di sana, ia terpaku. Seorang pria berbadan tegap berdiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 Anggur.
"Gila...! Ini bener-bener gila dan di luar nalar," ucap Wira lirih dengan napas memburu, masih berusaha mengumpulkan kesadarannya yang sempat terguncang akibat perjalanan lintas dimensi barusan.
Namun belum sempat rasa takjubnya mereda, udara di depannya kembali berdesir pelan. Wuzzzh! Dinda muncul kembali tepat di hadapannya dengan senyuman ceria. Kedua tangan lentik gadis itu tengah membawa dua tangkai besar buah anggur ungu kehitaman yang tampak mengilat sempurna tanpa cela.
"Anggur? Kamu dapat dari mana buah seperti ini?" tanya Wira penasaran, refleks mengubah gaya bicaranya menjadi lebih kasual setelah tahu mereka berdua berasal dari zaman yang sama.
"Dari dalam ruang ajaib tadi," jawab Dinda panjang lebar dengan binar mata antusias. "Hebat, kan? Kamu tahu enggak, semua kebutuhan yang kita perlukan itu seolah-olah ada semua di dalam ruang itu. Sayuran, buah-buahan segar, semuanya tersedia melimpah. Kayak ada sistem yang sengaja tahu kalau kita bakal butuh barang-barang ini buat bertahan hidup di sini."
Wira tersenyum tipis mendengarnya. Rasa penasaran mengalahkan logikanya. Tangan kekar sang pemburu terulur, memotek sebutir buah anggur bulat berukuran besar dari tangkainya, lalu perlahan memasukkannya ke dalam mulut.
Kresss!
Bunyi kunyahan yang renyah seketika terdengar di dalam keheningan kamar. Kedua kelopak mata Wira bahkan sampai terpejam rapat, menikmati setiap sensasi kunyahan yang meledakkan rasa manis legit dan limpahan air yang teramat segar di dalam mulutnya.
"Ehm... enak banget. Ini beneran luar biasa, rasanya jauh lebih enak dan segar daripada anggur yang biasa aku beli di toko buah dulu," puji Wira jujur setelah menelan buah tersebut.
"Betul, kan? Bukan cuma anggurnya saja, semua jenis buah ada di sana, dan kualitas rasanya bener-bener memuaskan banget!" sahut Dinda bangga seolah tempat itu miliknya sendiri.
Tangan Dinda ikut terulur memotek sebutir anggur, memasukkannya ke dalam mulut, lalu mengunyah perlahan menikmati kesegaran cairan manis yang memanjakan lidahnya. "Eummm... manis banget, asli!" gumam Dinda ketagihan.
Melihat respons Wira yang tampak begitu menikmati, sisi usil Dinda mendadak bangkit. Gadis itu kembali memotek sebutir anggur. Bukannya menyodorkannya dengan tangan, Dinda justru menjepit buah anggur manis itu di antara belahan bibirnya yang ranum, menahannya dengan sedikit gigitan agar tidak terjatuh.
Dengan tatapan mata yang berkedip iseng dan menggoda, Dinda memajukan wajahnya, menyodorkan buah anggur di bibirnya itu tepat ke depan wajah Wira.
Wira yang seketika tersadar dengan tingkah nakal dan manja gadis di hadapannya tidak menyia-nyiakan kesempatan emas tersebut. Alih-alih menggunakan tangan, Wira justru memajukan wajah tegasnya dengan cepat. Ia langsung melahap buah anggur manis itu langsung dari sela bibir Dinda, dan bersamaan dengan itu, Wira menautkan bibir mereka, mengecup lembut dan melumat singkat bibir manis Dinda dengan penuh perasaan.
"Ish! Kamu nakal banget sih!" ucap Dinda pura-pura cemberut dengan pipi yang mendadak merona merah pekat akibat serangan kejutan dari Wira.
Wira tertawa kecil, suara baritonnya terdengar begitu renyah dan lepas—sebuah tawa yang jarang sekali ia perlihatkan selama hidup sebagai Wirandu yang kaku di desa ini.
••••••••••••
"Gila...! Ini bener-bener gila dan di luar nalar," ucap Wira lirih dengan napas memburu, masih berusaha mengumpulkan kesadarannya yang sempat terguncang akibat perjalanan lintas dimensi barusan.
Namun belum sempat rasa takjubnya mereda, udara di depannya kembali berdesir pelan.
Wuzzzh!
Dinda muncul kembali tepat di hadapannya dengan senyuman ceria. Kedua tangan lentik gadis itu tengah membawa dua tangkai besar buah anggur ungu kehitaman yang tampak mengilat sempurna tanpa cela.
"Anggur? Kamu dapat dari mana Anggur ini?" tanya Wira penasaran, refleks mengubah gaya bicaranya menjadi lebih kasual setelah tahu mereka berdua berasal dari zaman yang sama.
"Dari dalam ruang ajaib tadi," jawab Dinda panjang lebar dengan binar mata antusias. "Hebat, kan? Kamu tahu enggak, semua kebutuhan yang kita perlukan itu seolah-olah ada semua di dalam ruang itu. Sayuran, buah-buahan segar, semuanya tersedia melimpah. Kayak ada sistem yang sengaja tahu kalau kita bakal butuh barang-barang ini buat bertahan hidup di sini."
Wira tersenyum tipis mendengarnya. Rasa penasaran mengalahkan logikanya. Tangan kekar sang pemburu terulur, memotek sebutir buah anggur bulat berukuran besar dari tangkainya, lalu perlahan memasukkannya ke dalam mulut.
Kresss!
Bunyi kunyahan yang renyah seketika terdengar di dalam keheningan kamar. Kedua kelopak mata Wira bahkan sampai terpejam rapat, menikmati setiap sensasi kunyahan yang meledakkan rasa manis legit dan limpahan air yang teramat segar di dalam mulutnya.
"Ehm... enak banget. Ini beneran luar biasa, rasanya jauh lebih enak dan segar daripada anggur yang biasa aku beli di toko buah dulu," puji Wira jujur setelah menelan buah tersebut.
"Betul, kan? Bukan cuma anggurnya saja, semua jenis buah ada di sana, dan kualitas rasanya bener-bener memuaskan banget!" sahut Dinda bangga seolah tempat itu miliknya sendiri.
Tangan Dinda ikut terulur memotek sebutir anggur, memasukkannya ke dalam mulut, lalu mengunyah perlahan menikmati kesegaran cairan manis yang memanjakan lidahnya. "Eummm... manis banget, asli!" gumam Dinda ketagihan.
Melihat respons Wira yang tampak begitu menikmati, sisi usil Dinda mendadak bangkit. Gadis itu kembali memotek sebutir anggur. Bukannya menyodorkannya dengan tangan, Dinda justru menjepit buah anggur manis itu di antara belahan bibirnya yang ranum, menahannya dengan sedikit gigitan agar tidak terjatuh.
Dengan tatapan mata yang berkedip iseng dan menggoda, Dinda memajukan wajahnya, menyodorkan buah anggur di bibirnya itu tepat ke depan wajah Wira.
Wira yang seketika tersadar dengan tingkah nakal dan manja gadis di hadapannya tidak menyia-nyiakan kesempatan emas tersebut. Alih-alih menggunakan tangan, Wira justru memajukan wajah tegasnya dengan cepat. Ia langsung melahap buah anggur manis itu langsung dari sela bibir Dinda, dan bersamaan dengan itu, Wira menautkan bibir mereka, mengecup lembut dan melumat singkat bibir manis Dinda dengan penuh perasaan.
"Ish! Kamu nakal banget sih!" ucap Dinda pura-pura cemberut dengan pipi yang mendadak merona merah pekat akibat serangan kejutan dari Wira.
Wira tertawa kecil, suara baritonnya terdengar begitu renyah dan lepas—sebuah tawa yang jarang sekali ia perlihatkan selama hidup sebagai Wirandu yang kaku di desa ini.
semangat ya up trus 😍😍😍
awal yg bagus cerita nya.. apalagi s MC cewek berpikir idola Korea dan cina😄😄😄 suka aku...
semangat up sampai tamat ya thor😍😍😍😍