"Enghhh hentikan," erang Savio dengan kepala yang mendongak ke atas di mana kedua tangannya memegang pinggang ramping Zoe.
Zoe menghentikan sejenak kecupan basahnya pada leher Savio, "Aku tidak peduli dengan usia kita, aku mencintaimu dengan tulus! Aku hanya akan menikah denganmu," pengakuan yang kesekian kalinya Zoe katakan pada Savio.
•••
Pertemuan tidak sengaja di Swiss ternyata menumbuhkan rasa pada gadis remaja yang tidak sengaja bertemu dengan Savio di sebuah cafe.
7 tahun berlalu, mereka dipertemukan kembali dengan usia mereka yang sudah semakin matang. Melihat peluang yang besar Zoe terus bergerak tanpa memandang perbedaan usia mereka yang terpaut sangat jauh.
Sedangkan Savio sendiri, ia ragu dan bimbang untuk menjalin hubungan dengan Zoe yang lebih pantas menjadi menantunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puppy Bangtan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 33
•••
Sedangkan di kantor lain ada Bendic yang begitu kesal dan marah.
Bagaimana tidak marah, Klovi sudah pergi lebih dulu sebelum dia jemput.
Bendic berhenti sejenak kala melihat Klovi tampak bercanda dengan karyawan lainnya.
"Cih ia bahkan selalu tersenyum dengan pria lain," gumam Bendic dengan heran.
Klovi begitu senang dan ceria kala mengobrol dengan rekan kerjanya.
Dan itu membuat mood Bendic langsung turun.
"Kak Bendic," panggil seorang perempuan tinggi dengan wajah yang sedikit baby face.
"Julia," gumam Bendic kala melihat adik sepupunya datang ke kantornya.
Bendic kembali menoleh menatap Klovi yang masih setia mengobrol dengan rekan sampingnya.
Senyum smirk tampak terbit di bibir Bendic.
"Kakak aku sangat merindukanmu. Kenapa kau jarang pulang ke rumah bibi?" tanya Julia yang langsung memeluk Bendic.
Bendic mengusap- usap punggung Julia namun dengan tatapan ke arah Klovi.
"Ck kenapa dia tidak melihatnya," dumel lirih Bendic kala Klovi tidak sedikitpun sadar dengan keberadaan dirinya.
"Siapa yang tidak melihat?" tanya Julia seraya menguraikan pelukannya.
Bendic menghirup dalam napasnya, "Kenapa kau datang kemari?" Julia langsung menunjukkan raut wajah kesalnya.
"Jadi, aku tidak boleh datang?" Bendic menghela napas gusar.
"Siapa yang mengatakan begitu? Aku hanya bertanya, kenapa kamu datang kemari?" Julia langsung tersenyum dan kembali bergelayut di lengan Bendic.
"Aku sangat merindukanmu," ungkap Julia terus terang.
Bendic hanya menghela napas, "Di mana Julio? Jika dia tahu kau kemari dan bolos kuliah, aku akan dimarahi olehnya," Julia langsung menyenderkan kepalanya di bahu Bendic.
"Tidak ada yang bisa memarahimu," ujar Julia dengan percaya diri.
Bendic yang sudah bad mood sejak tadi kini merasa malas untuk melakukan apapun.
"Ayo ke ruanganku, aku masih ada beberapa pekerjaan," Julia mengangguk tanpa melepas gelayutan manjanya di lengan Bendic.
Bertepatan dengan Bendic melewati mejanya, Klovi melihat dia berjalan bersama dengan perempuan.
"Cih, ia bahkan sudah menggandeng perempuan baru. Untung aku berangkat lebih awal, jika menunggunya mungkin aku akan jadi obat nyamuk," gumam Klovi heran dengan sikap player Bendic.
Sebelum menutup pintu ruangannya, Bendic menatap Klovi yang masih mengobrol dengan rekan kerjanya.
"Klovi ke ruangan saya sekarang sambil bawa proposalmu," perintah Bendic dengan tegas tanpa ekspresi dan langsung menutup pintunya.
Klovi hanya mengangguk namun dengan dumelan, "Dasar kadal."
Ia lalu bergegas pergi menuju ruangan Bendic.
"Tuan ingin saya mempresentasikan proposalnya sekarang?" Bendic langsung mendorong pelan Julia untuk sedikit menjauh darinya.
Bendic hanya mengangguk membuat Klovi langsung duduk di hadapan Bendic seraya membuka kertas proposalnya.
"Bukankah kau harus pergi kuliah? Sebentar lagi Julio akan menelponku, aku bisa memberitahunya jika kau berada di sini," Julia berdecak, dengan kesal ia menyambar tasnya dan pergi meninggalkan ruangan Bendic.
Setelah dirasa tenang, Klovi langsung membuka penerangan tentang proposalnya.
"Dia tadi sepupuku," Klovi mengangkat kepalanya.
"Lalu apa hubungannya dengan saya?" tanya Klovi sopan dan senyum yang manis.
Bendic tampak kesal dan langsung beranjak dari kursinya menghampiri Klovi.
"Kenapa kamu berangkat lebih awal? Bukankah aku memintamu untuk menunggu tadi?" Klovi masih tersenyum.
"Rasanya tidak sopan jika saya berangkat dengan tuan, bukankah sudah seharusnya ada batasan antara atasan dan karyawan?" Klovi langsung diam kala Bendic mengangkat dagunya dengan jarak wajah yang begitu dekat.
"Bagaimana jika kita menikah sekarang? Agar tidak ada batasan di antara kita?" usul Bendic dengan gamblangnya.
Klovi langsung berdiri lalu mendorong Bendic hingga terduduk di kursi putar.
Dengan berani Klovi sedikit merunduk, mengunci tubuh Bendic dengan kedua tangannya yang bertumpu pada sisi kursi.
"Tuan memang atasan saya, tapi urusan menikah dengan siapa, itu urusan saya. Saya yang berhak memilih pria mana yang harus saya terima sebagai suami saya," ujar Klovi dengan tegas dan penuh penekanan.
Klovi hendak pergi namun dengan cepat Bendic memeluknya erat.
"Tolong jangan menikah dengan pria manapun. Aku akan bersikap baik dan bertanggung jawab untuk bisa menjadi orang yang kamu andalkan," pinta Bendic dengan suara yang serak parau.
Klovi menahan senyumnya, ingin tertawa namun kasihan.
Kenapa dia mendadak bersikap seperti ini?
Klovi hanya mengatakan apa isi hatinya.
Tidak ingin memanas- manasi Bendic.