NovelToon NovelToon
Tawanan Sang Yakuza

Tawanan Sang Yakuza

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Mafia / Dark Romance
Popularitas:13k
Nilai: 5
Nama Author: EILI sasmaya

⚠️ PERINGATAN
Cerita ini mengandung unsur Dark Romance & Visualisasi Horor.

Bagaimana jadinya jika seorang gadis bermata batin harus terikat dalam pernikahan dengan mafia berdarah dingin?

Aiko Kurogawa sudah cukup tersiksa dengan "kutukan" Indigo yang mengalir di darahnya. Namun, demi terhindar dari dunia kelam keluarganya, ia terpaksa menerima perjodohan dengan Ren Tachibana. Pria kejam yang hidupnya hanya didorong oleh dendam.

Awalnya, Aiko hanya ingin bertahan hidup. Namun, tinggal di sisi Ren membuat hidupnya kian mencekam. arwah-arwah penasaran tak pernah berhenti berbisik di sekitar pria itu, mengungkap satu per satu rahasia kelam dari masa lalu.

Kini, Aiko dihadapkan pada pilihan sulit.
Tetap diam demi menyelamatkan nyawanya sendiri, atau menggali kebenaran yang ternyata mengikat takdir mereka berdua?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 35

Sinar matahari pagi mulai menerobos masuk melalui celah tirai kamar utama.

Aiko perlahan membuka matanya. Rasa pening semalam kini sudah berkurang, dan tubuhnya kembali terasa nyaman.

Ia menggerakkan kepalanya ke samping, dan seketika itu pandangannya beradu dengan mata Ren yang sedang memperhatikannya.

Pria itu ternyata sudah terjaga. Ia duduk bersandar di kepala ranjang dengan kedua lengan bersedekap di dada.

"Kau sudah bangun?" tanya Ren.

Aiko refleks menyentuh dahinya sendiri, lalu menatap Ren dengan canggung. "Ren... kau tidak tidur?"

Pria itu mendengus pelan. "Bagaimana aku bisa tidur kalau ada orang yang terus mengigau di sampingku?"

Aiko menggigit bibir bawahnya. Matanya lalu beralih melihat ke arah bahu pria itu. "Bahumu... bagaimana? Apa masih terasa sangat sakit?"

"Urus saja dirimu sendiri, Aiko," potong Ren ketus. Pria itu sedikit memajukan tubuhnya, lalu mengulurkan tangannya. Punggung jemarinya menempel perlahan di dahi Aiko selama beberapa detik.

Aiko tersentak. jantungnya tiba-tiba berdegup lebih kencang dan ada sensasi aneh yang ia rasakan.

"Demammu ternyata sudah turun," gumam Ren seraya menarik kembali lenganya. "Suntikan dokter semalam ternyata tidak sia-sia."

"Terima kasih... Ren," bisik Aiko.

"Sekarang, karena pikiranmu sudah jernih..." Ren mendekatkan wajahnya kembali dengan pandangan yang terus menatap ke arah Aiko. "Jelaskan padaku. kenapa kau pergi ke kuil tua itu kemarin?"

Ada jeda beberapa saat sebelum akhirnya Aiko memberanikan diri menatap balik pria itu. "Aku rasa pertanyaanmu ini sudah aku jawab dengan jelas semalam. Untuk apa kau tanyakan lagi? Apa kau tidak percaya padaku?"

"Jangan membodohiku," desis Ren. "Aku tahu kau tidak hanya sekadar mampir ke sana. Apa yang sebenarnya kau temukan, Aiko?"

Aiko meremas selimut di pangkuannya. "Aku hanya ingin mencari jejak masa lalu Ibu, Ren," tutur Aiko dengan nada parau. "Kau sendiri yang bilang tempat itu lokasi pengasingannya. Aku hanya ingin tahu... apa Ibu sangat menderita di sana...?" Aiko menggantung kalimatnya.

"Sejujurnya aku mencurigai..."

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan pintu itu kembali menggantung kalimat Aiko.

"Bos," suara Daichi terdengar tegang dari luar. "Ada laporan darurat. Para Faksi Kurogawa baru saja menggelar pertemuan tertutup dengan para petinggi yang lainnya."

"Baik, tunggu di sana," balas Ren. Sebelum melangkah, ia menoleh kembali ke arah Aiko.

"Habiskan sarapanmu dan minum obat." Ren menatap Aiko sejenak, lalu berjalan menuju pintu kamar.

BAM!

Pintu geser kamar kembali tertutup. Langkah kaki Ren menyusuri lorong, diikuti Daichi yang berjalan setengah berlari di sampingnya.

Di dalam ruang kerja, Ren melangkah mendekati mejanya, mendudukkan diri di kursi dengan hati-hati seraya menahan nyeri di bahunya.

"Bos," Daichi membuka suara dengan wajah yang tampak tegang. "Pergerakan Tetua Kenji dan faksi Kurogawa lainnya sudah sangat tidak wajar. Mereka jelas memanfaatkan celah saat Anda terluka. Jika kita tidak menekan mereka sekarang..."

"Biarkan saja untuk saat ini, Daichi," potong Ren tenang.

Daichi tersentak. "Tapi, Bos... jika kita membiarkan mereka bergerak bebas..."

"Aku tidak ingin mereka memanfaatkan kondisiku yang seperti ini," sela Ren dengan pandangan mata menatap lurus ke depan. "Aku sudah salah langkah kemarin, dan hari ini aku tidak mungkin masuk kembali ke dalam perangkap mereka semua."

Daichi mengerutkan keningnya. "Mereka semua? Maksudmu apa, Bos?"

Ren menyandarkan punggungnya perlahan ke sandaran kursi dengan seulas senyum yang terukir di sudut bibirnya.

"Aku tahu, ini semua rencana Hiroshi," ujar Ren datar. "Aku tidak sebodoh itu mempercayainya. Terlebih, dengan keputusan impulsifnya menyerahkan seluruh wilayah Kurogawa kepadaku... itu justru membuatku semakin yakin ada rencana lain yang sedang ia mainkan di balik layar."

Daichi terpaku di tempatnya. "Apa ini juga alasan mengenai kenekatanmu kemarin Bos?

"Ya, kau benar. Hanya saja aku terlalu gegabah saat itu."

"Jadi... Maksud Anda... Tuan Hiroshi sengaja menyerahkan wilayah itu untuk memancing konflik internal klannya sendiri?"

"Aku semakin yakin setelah perlakuan mereka yang aku terima. Seakan dia memanfaatkanku hanya untuk membersihkan rumahnya sendiri," desis Ren.

Daichi mengepalkan tangannya rapat-rapat, dadanya bergemuruh menahan amarah. "Bajingan tua itu... Lalu bagaimana dengan Nona Aiko, Bos? Apa dia tahu mengenai rencana ayahnya?"

Pertanyaan Daichi membuat ruangan itu seketika terasa hening.

Ren terdiam. Ia memalingkan wajahnya ke arah jendela. "Sepertinya dia tidak tahu apa-apa," gumam Ren. "Kau bisa lihat sendiri dari caranya melindungiku kemarin. Bahkan, ia tidak peduli dengan nyawanya sendiri."

**

Sementara itu, di dalam ruangan lain di sebuah rumah tradisional dengan asap rokok yang membumbung di udara, para petinggi faksi Kurogawa dan beberapa tetua yang mulai membelot berkumpul.

Kenji Kurogawa sedang duduk dengan tangan bertumpu pada tongkat kayunya. Wajahnya sudah sangat keriput, namun tatapan matanya masih memancarkan ambisi yang belum ia dapatkan.

"Hiroshi sudah benar-benar hilang akal," suara salah satu petinggi klan terdengar lantang seraya memukul meja dengan wajah memerah. "Bagaimana bisa dia menyerahkan seluruh kendali wilayah keluarga kita begitu saja kepada klan Tachibana? Itu sama saja dengan menjual kehormatan Kurogawa pada klan musuh!"

"Tenangkan dirimu," potong Kenji dengan suara berat. Pria tua itu memperbaiki posisi duduknya. "Hiroshi memang sudah dibutakan oleh ambisi konyolnya. Dia pikir dengan menaruh putrinya di samping Ren, dia bisa mengendalikan bocah itu."

Kaito, yang berdiri di sudut dekat jendela, melangkah maju dengan senyum sinis. "Tapi Aiko justru berbalik membela suaminya. Gadis itu bukan lagi aset untuk Kurogawa, melainkan ancaman untuk kalian."

Gumam ketidakpuasan kembali terdengar di antara para petinggi. Provokasi Kenji dan Kaito berhasil membakar emosi mereka.

"Ren Tachibana saat ini sedang terluka akibat penyergapan kemarin," lanjut Kenji, matanya menyipit tajam. "Ini kesempatan kita untuk mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milik kita."

"Tapi Tuan Kenji," sahut salah seorang ragu, "bagaimana dengan Tuan Hiroshi? Jika kita menyerang tanpa persetujuannya..."

"Hiroshi sudah tidak punya kekuatan untuk menghentikan kita jika seluruh klan bergerak bersama," sela Kenji tegas.

"Siapkan pasukan malam ini," perintah Kenji dingin. "Kita habisi bocah itu, dan siapa saja yang coba menghalangi. Bahkan jika itu Aiko sendiri, bawa dia secara paksa, atau biarkan dia menanggung kecerobohan ayahnya."

Kaito terkekeh pelan dari balik sudut gelap ruangan. Perintah Kenji adalah titik awal dari kekacauan yang sudah lama ia tunggu-tunggu.

**

Sementara itu, di dalam kamar utama kediaman Tachibana, Aiko mengembuskan napas panjang seraya menatap mangkuk bubur dan obat di atas nakas. Pandangannya memperhatikan seluruh ruangan yang kini benar-benar terasa hening setelah kepergian Ren.

Aiko melangkah perlahan menuju jendela, membukanya dan membiarkan angin pagi berembus menerpa wajahnya.

Tepat ketika ia menatap lurus ke arah gerbang kediaman, instingnya mendadak terasa tidak nyaman. Batinnya bergejolak, menghantar sinyal tajam yang tak bisa ia abaikan.

Aiko meremas bajunya di bagian dada, menatap langit pagi yang perlahan mulai tertutup awan mendung.

Kemudian, ia teringat akan laporan Daichi sebelumnya. "Apa firasat ini ada hubungannya lagi dengan Ayah?"

1
PrettyDuck
malah jadi aiko yg diiencer 😮‍💨
PrettyDuck
ngerinya gess 😫
PrettyDuck
kira2 kalo yakuza berkhianat hukumannya apa yaa~ 🥴
PrettyDuck
dan salah mencari kawan juga 🤭

makanya om kenji, baek2 jadi orang.
ber partner sama orang licik ya resiko gini, ikutan dikhianati 🥴
PrettyDuck
iss iblis bener emang si kaito ini.
di mana2 jadi pengkhianat 🥴
RahmaYesi
Jujur, aku suka cerita mafia mafia gini. Tapi, aku sangat amat lemah dan mengingat nama Karakter... 😂🙏

Semangat.....
PrettyDuck
kenapa mereka segitu pinginnya yumi mati sih? 😭😭
harusnya ren nih yg lihat adegan ini 🥴
PrettyDuck
lah? mereka penjahatnyaa??
PrettyDuck
waduh. aiko punya nasib yang sama gak? gak bisa berumur panjang. dia kan punya kemampuan kayak ibunya tuh 😭
PrettyDuck
ooo berarti kalian tuh waktu kecil udah pernah ketemu 🥺
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
jujur aja aiko. drpd kamu dituduh mulu. lagian dia juga sdh jd suamimu dan terlihat peduli padamu juga
ѕ⍣⃝✰🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
huaaa menegangkan sekali. dua duanya harus di buat selamat ya Thor. jangan bikin aku nangis
ѕ⍣⃝✰🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
terngiang ngiang enggak tuh
ѕ⍣⃝✰🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
aku galau gais. aku takut Aiko terluka tapi aku juga tidak rela Ren terluka juga😭
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
haduuuh nih org ya. apa perlu diliatin penampakan di sekitar situ
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
susyaah ya kalo orang curigaan mulu.
Suhadhanie Nur Ezah
boleh ke minta lebih episod....jln cerita bagus....
PrettyDuck
berarti dulu tachibana sama kurogawa bestie ya? kenapa jadi musuh?
apa jangan2 hiroshi ngira bapaknya ren sengaja ngebunuh yumi, terus hiroshi ngebunuh pasutri tachibana?
hanya perkiraanku 🙏
🌺⃟ SasMaya: ada di bab selanjutnya kak 🤭
total 3 replies
PrettyDuck
kayak aiko suka muntah darah 🥺
PrettyDuck
ooo ternyata sengsaranya karena ke-indigo-an dia 🥺
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!