"Kamu harus menikah dengannya Daren!" lantang suara nenek Lusi berkata pada cucunya itu.
"Aku tidak mau nek, Aku punya pilihan sendiri dan nenek tidak bisa semaunya mengatur hidupku!" suara Daren pun tak kalah lantangnya dari suara nenek Lusi.
"Baiklah kalau kamu tetap menolak menikah dengan Nadia. Sekarang nenek kasih kamu pilihan, Menikah dengan Nadia atau kamu tidak akan pernah mendapatkan warisan apapun dari nenek," suara nenek Lusi merendah tapi penuh penekanan membuat kuping Daren memerah mendengarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isshabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.3 Kemarahan Elsa
Pagi ini di kediaman Elsa, Di sebuah rumah yang sangat megah lengkap dengan pos penjagaan yang ketat jelas sekali sangat menunjukkan kalau pemilik rumah itu bukanlah orang biasa.
Di dalam kamar yang mewah terlihat Elsa buru-buru bangun dari tidurnya, dia sengaja bangun pagi untuk pergi menemui Daren di kantornya.
Setelah selesai mandi, Elsa mengenakan dress pendek selutut tanpa lengan dengan kerah baju yang lebar menonjolkan bagian dadanya. Dan seperti biasa dengan dandanan yang cukup tajam, Elsa mengusap bibirnya dengan lipstik berwarna merah pekat.
Kemudian Elsa keluar dari kamarnya dan mengambil sepasang sepatu berwarna merah metalik senada dengan dress yang dia kenakan saat ini.
"Kamu gak sarapan Elsa!" panggil mamanya saat melihat Elsa melintas di ruang meja makan.
"Enggak ma, Aku mau ke kantor Daren," ucapnya sambil terus berjalan.
"Ngapain dia ke kantornya Daren pagi-pagi begini?" ucap mamanya Elsa sambil mengerutkan keningnya menatap punggung Elsa yang sudah menghilang di balik tembok ruang tengah.
Setibanya di garasi Elsa msuk ke dalam salah satu mobil mewah yang terdapat di garasinya itu. Tak lama kemudian Elsa pun sudah melajukan mobilnya pergi meninggalkan rumahnya menuju ke kantor Daren.
Elsa akan pergi menemui Daren untuk menanyakan soal perjodohan itu, hati Elsa kembali bergejolak saat mengingat ucapan Bu Siska tentang perjodohan Daren dengan Nadia.
Alunan suara musik yang ada di dalam mobil tidak mampu menghilangkan kegaduhan yang sedang terjadi di pikiran Elsa saat ini dengan kasar Elsa mematikan musik itu dan kemudian menyetir mobilnya dengan kecepatan yang tinggi.
Tak berapa lama akhirnya mobil Elsa pun sudah tiba di pelataran depan gedung kantor Daren.
Setelah memarkir mobilnya Elsa berjalan memasuki gedung kantor itu, semua mata para karyawan memandang Elsa dengan sungkan, mereka semua tahu kalau Elsa adalah pacar Daren pemilik kantor ini.
"Pagi non Elsa," sapa seorang karyawan yang sedang berpapasan dengan Elsa.
"Hm," jawab Elsa dingin sambil terus berjalan dengan pongahnya menuju ke ruang kerja Daren.
"Sombong sekali non Elsa itu ya," celetuk salah seorang karyawan yang melihat sikap acuh Elsa saat di sapa oleh temannya itu.
"Iya. Mentang-mentang dia jadi pacarnya Pak Daren."
"Jangan begitu, non Elsa itu juga anak pengusaha kaya yang paling di segani di kotanya," timpal karyawan lain yang ikut nimbrung.
"Eh sudah, bubar yuk nanti ketahuan Pak Daren kita lagi ngomongin pacarnya yang sombong itu," kata salah satu karyawan lain sambil tersenyum.
Akhirnya merekapun bubar dan kembali ke tempatnya masing-masing. Sementara itu Elsa sudah berada di depan ruang kantor Daren.
Dengan kasar Elsa membuka pintu ruang kantor itu dan langsung berjalan menuju ke arah meja kerja Daren.
"Daren! Kamu apa-apaan sih! kenapa kamu mau aja di jodohkan dengan gadis kampung itu dan kenapa kamu tidak ada penolakan!?" Elsa memberondong Daren dengan berbagai macam pertanyaan dengan amarah yang membuncah.
"Elsa, kamu tenang dulu ya, ayo duduk di sofa sana," Daren bangkit dari tempat duduknya dan melingkarkan tangannya ke pundak Elsa hendak membimbing Elsa ke sofa yang ada di ruang kerja Daren. Tapi dengan kasar Elsa menepiskan tangan Daren dari pundaknya.
"Mana bisa aku tenang! Sementara kamu akan di jodohkan dengan orang lain oleh Nenek Lusi!" pekik Elsa dengan amarah yang masih membuncah di dadanya.
"Sayang...kamu dengarkan dulu penjelasan aku, aku tidak akan pernah mencintai orang lain selain hanya kamu sayang apalagi dengan gadis kampung yang gak jelas asal usulnya itu, kamu dengar ya aku hanya cinta sama kamu dan hanya akan menikah dengan kamu tidak dengan yang lain," Daren menatap Elsa dan mengusap rambutnya dengan sayang.
Wajah Elsa yang tadinya penuh dengan amarah kini mulai mencair sedikit "tapi kenapa kamu tidak menolak perjodohan ini Daren..."
"Sayang, aku sudah berkali-kali menolak permintaan Nenek soal perjodohan ini tapi Nenek juga tetap bersikukuh pada pendiriannya untuk menjodohkan aku dengan gadis kampung itu."
"Lantas. Kamu mau begitu saja dan patuh pada aturan Nenek kamu!" nada suara Elsa mulai naik satu oktaf lagi.
"Sayang, permasalahannya tidak sesimple itu, Nenek mengancam aku kalau aku tidak setuju dengan perjodohan ini, Nenek akan mencabut hak waris aku dari keluarga Wijaya dan kalau itu terjadi, kamu tahu akibatnya? Aku akan jatuh miskin karena tidak punya harta dan aku tidak mau hal itu terjadi," ucap Daren serius menatap tajam ke arah Elsa yang duduk di sampingnya.
"Licik sekali Nenek Lusi. Dia memberikan pilihan yang sama sekali tidak adil buat kamu sayang..."
"Yah. Nenek pintar membuat aku tunduk padanya dan aku harus berpura-pura untuk menuruti kemauan Nenek agar harta Nenek tidak jatuh ke tangan orang lain, kamu paham kan sayang?"
"Tapi kamu akan bertunangan dengan gadis kampung itu, aku tidak rela Daren... aku tidak mau semua orang tahu kalau kamu akan bertunangan dengan gadis brengsek itu...."Elsa menangis di pelukan Daren.
"Sayang. Kamu dengarkan aku ya, aku menyetujui bertunangan dengan gadis kampung itu karena itu hanya formalitas demi menyelamatkan harta dan hak warisku dari Nenek dan asal kamu tahu sayang, aku tidak akan pernah cinta sama gadis kampung itu dan tidak akan pernah menyentuh sedikitpun pada gadis kampungan itu," Daren mengangkat kepala Elsa dan meletakan kedua telapak tangannya di pipi Elsa yang putih mulus itu.
"Tapi kamu janji untuk tidak jatuh cinta dan menyentuh si brengsek itu," Elsa merajuk pada Daren.
"Aku janji hatiku dan cintaku hanya untuk kamu seorang," Daren mengecup bibir Elsa dengan lembut.
"Sayang," panggil Elsa.
"Ya."
"Aku boleh minta sesuatu sama kamu?" tanya Elsa dengan wajah di buat semelas mungkin supaya Daren luluh dengan keinginannya kali ini.
"Apapun yang kamu minta aku akan turuti sayang," ucap Daren manis.
"Aku mau kamu cepat tanda tangani kontrak kerjasama dengan grup Sanjaya," Elsa menggelayut dengan manja di lengan Daren.
"Ya sayang, aku akan tanda tangani dokumen kerjasamanya."
"Makasih sayang, aku makin sayang dan cinta sama kamu Daren...," Elsa memeluk tubuh Daren dan mendekapnya dengan erat Daren pun membalas pelukan Elsa.
"Aku harus ikuti alur permainan Nenek Lusi, dia sengaja ingin memisahkan aku dengan Daren dan sepertinya Nenek Lusi tidak mau kalau hartanya nanti jatuh ke tangan aku dan Daren kalau aku nanti sudah menjadi istri sah Daren, Hm...kita tunggu saja Nenek Lusi siapa yang lebih bisa membuat Daren bertekuk lutut, aku apa Nenek?" Elsa bergumam dalam hati sambil menyunggingkan senyum liciknya.
ayo berfikir Darren istri mu sayang banget sama nenekmu harusnya kamu lebih pintar mengunakan nenekmu untuk mendekati istri mu
jadi bar" dikit nad jangn lembek yg bisanya cuma mewek doang