Alina Mahendra, pengacara berhijab sukses dan berprinsip, akhirnya siap mengikat janji suci dengan Farhan Adhitama—pemuda cerdas, gagah, ahli karate, dan pemilik hati yang ia tunggu bertahun‑tahun lamanya. Namun di tengah persiapan bahagia itu, musuh lama kembali muncul dengan wajah baru. Raka Haris kini bersembunyi di balik nama dan topeng pengusaha terhormat, menjalankan bisnis jauh lebih jahat dari ayahnya dulu, dengan satu tujuan tunggal. Menghancurkan Alina sehancur‑hancurnya tepat sebelum pernikahannya berlangsung.
Kebenaran tampak begitu jelas di mata hukum, namun siapa sangka di baliknya tersimpan kebohongan yang dirancang sedemikian rupa. Akankah cinta dan keteguhan mereka cukup menyingkap DI BALIK TOPENG KEBENARAN itu sebelum semuanya terlambat?
Bantu dukung karya ini dengan subscribe, like, komentar dan beri hadiah dan bintang jika suka ya... Terimakasih banyak 🙏😇
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32 : MALAM PERTAMA YANG PENUH BERKAH
...BAB 32...
...MALAM PERTAMA YANG PENUH BERKAH...
Malam mulai turun perlahan, menyelimuti langit kota Surabaya dengan taburan bintang yang terlihat begitu indah. Rumah kecil yang kini resmi menjadi tempat tinggal Farhan dan Alina terasa berbeda. Tak lagi sekadar bangunan yang dipenuhi perabot baru, tetapi telah menjadi sebuah rumah yang diikat oleh satu akad suci atas nama Allah.
Usai mengantar tamu terakhir, suasana akhirnya benar-benar hening.
Dimas, Bu Kirana, dan Pak Aditya bersiap kembali ke rumah mereka setelah memastikan semua kebutuhan kedua pengantin tersedia. Sebelum pulang, Bu Kirana memeluk Alina cukup lama.
"Jaga rumah tanggamu baik-baik ya, Nak." pesannya. Alina mengangguk sambil menahan air mata.
"Iya, Bu." Alina membalas pelukan Ibu tirinya dengan erat dan lama sekali. Alina begitu sangat menyayangi Kirana. Rasanya berat sekali berpisah dari Ibu yang sudah banyak berkorban demi hidupnya dan Papanya selama belasan tahun. "Alina bakal kangen Ibu ..."
Farhan menyalami mertuanya dengan penuh hormat.
"InsyaAllah saya akan menjaga Alina sebaik mungkin."
Pak Aditya menepuk bahunya pelan.
"Bapak percaya padamu."
Kalimat sederhana itu terasa begitu berat sekaligus menguatkan.
Tak lama kemudian, pintu rumah ditutup.
Kini hanya ada mereka berdua.
Suasana mendadak sunyi.
Alina menundukkan kepala sambil memainkan ujung kerudungnya. Entah mengapa, rasa gugup yang sejak siang berhasil ia sembunyikan kini justru muncul begitu saja.
Farhan memperhatikan istrinya dengan senyum yang hangat.
"Capek?"
Alina terkekeh kecil.
"Capek... tapi bahagia."
Farhan mengangguk pelan.
"Aku juga."
Beberapa detik mereka hanya saling tersenyum. Keheningan itu sama sekali tidak canggung. Justru terasa damai.
Farhan kemudian berdiri. "Tunggu sebentar."
Ia berjalan menuju dapur dan kembali membawa dua gelas susu hangat yang memang sudah disiapkan oleh Bu Kirana sebelum pulang.
"Ibu bilang... malam ini jangan lupa diminum."
Alina tersenyum geli. "Ibu memang selalu memikirkan semuanya."
Mereka duduk berdampingan di ruang keluarga yang hanya diterangi lampu berwarna kekuningan.
Tak ada musik.
Tak ada keramaian.
Hanya suara detak jam dinding dan sesekali semilir angin yang masuk melalui jendela.
Farhan meletakkan gelasnya.
Lalu menatap Alina cukup lama.
"Ada yang ingin aku katakan."
Alina ikut menoleh.
"Apa?"
Farhan menarik napas panjang.
"Selama kita mengenal satu sama lain... aku sadar aku jarang sekali mengungkapkan isi hatiku."
Alina tersenyum tipis. "Iya tuh, kenapa bisa begitu?! " ledek Alina, mencibir bibir. Farhan tertawa geli.
Alina tahu betul Farhan memang tipe laki-laki dingin yang tak banyak bicara. Tapi sekali bicara, ucapannya selalu menyentuh hati siapapun yang mendengarnya. Jarang sekali ia menyakiti hati orang lain apalagi terhadap perempuan.
Namun jika dia sudah menghadapi orang-orang yang menurutnya tidak baik. Farhan akan menentangnya tegas.
Farhan menghela napas pelan. "Bahkan waktu kita masih remaja, sampai lulus kuliah dan bertunangan... aku selalu berusaha menjaga batasku. Kadang aku ingin sekali mengatakan banyak hal padamu, tapi aku selalu memilih diam."
Alina mengangguk dengan pipi sudah bersemu merah. "Aku tahu."
Farhan menggenggam kedua tangannya sendiri, seolah sedang menyusun keberanian.
"Tapi malam ini berbeda." ucapnya yang kembali menghela napas kencang. Menatap lagi Alina di sampingnya.
Alina memperhatikannya tanpa berkedip.
"Malam ini kamu bukan lagi perempuan yang sedang aku perjuangkan." Farhan tersenyum, hingga terlihat giginya yang rapi dan putih.
"Sekarang dan untuk selamanya kamu adalah istriku." ungkapnya.
Kalimat itu membuat dada Alina bergetar.
Air matanya langsung mengembun.
Farhan melanjutkan dengan suara pelan.
"Aku tidak bisa menjanjikan hidup yang selalu mudah."
"Aku juga tidak bisa menjanjikan rumah tangga tanpa ujian."
"Aku bukanlah laki-laki sempurna."
"Tapi aku berjanji..."
Ia menatap mata Alina dengan begitu tulus.
"...aku tidak akan pernah sengaja menyakiti hatimu."
"Aku akan belajar menjadi imam yang baik."
"Kalau nanti aku salah, ingatkan aku dengan lembut."
"Kalau aku lelah, jangan biarkan aku jauh dari Allah."
"Kalau suatu hari kamu menangis, izinkan aku menjadi orang pertama yang menghapus air matamu."
Suara Farhan mulai bergetar.
"Aku ingin rumah ini menjadi tempat yang paling aman untukmu."
Air mata Alina akhirnya jatuh tanpa sadar.
Tak mampu lagi ia bendung.
Selama ini ia memendam begitu banyak rasa.
Rasa takut kehilangan.
Rasa cemas.
Rasa sakit ketika pernikahan mereka sempat tertunda.
Tekanan selama menghadapi persidangan Raka.
Fitnah.
Ancaman.
Semua itu kini terasa seperti mimpi yang telah berlalu.
Dengan suara lirih Alina berkata,
"Mas..."
Farhan menoleh.
"Aku juga mau janji."
Farhan mengangguk.
Alina mengusap air matanya.
"Aku mungkin bukan perempuan paling sabar."
"Aku juga pasti akan melakukan banyak kesalahan."
"Tapi aku berjanji akan terus belajar menjadi istri yang baik."
"Aku ingin menjadi tempat pulang yang menenangkan."
"Aku ingin mendukung setiap langkahmu."
"Aku ingin selalu mengingatkanmu pada Allah kalau nanti dunia mulai melelahkan."
Tangisnya pecah.
"Aku benar-benar bersyukur Allah memilihmu menjadi suamiku."
Farhan ikut menundukkan kepala.
Matanya mulai memerah.
"Terima kasih... karena sudah mau bertahan."
Kalimat itu membuat Alina menangis semakin deras.
"Kalau waktu itu kamu menyerah..." Farhan tersenyum kecil. "...mungkin malam ini tidak akan pernah ada."
Alina menggeleng. "Aku hampir menyerah."
Farhan terdiam. Mengerutkan kening. "Hampir."
"Tapi setiap selesai salat aku selalu minta satu hal."
Farhan bertanya pelan, "Apa?"
"Kalau memang Mas Farhan adalah yang terbaik... jangan biarkan aku melepaskannya."
Farhan mengusap wajahnya sendiri.
Ia tak mampu menyembunyikan air mata yang akhirnya jatuh.
"Doaku juga sama."
Mereka saling tersenyum dalam tangis.
Bukan tangis kesedihan.
Melainkan tangis syukur.
Beberapa menit kemudian mereka berdiri.
Farhan berkata pelan,
"Ayo."
"Kita shalat dua rakaat."
Alina mengangguk.
Di ruang kecil yang kini menjadi saksi awal perjalanan rumah tangga mereka, keduanya berdiri berdampingan.
Farhan menjadi imam. Untuk pertama kalinya.
Suara bacaan Al-Qur'annya terdengar tenang.
Merdu.
Penuh kekhusyukan.
Sementara di belakangnya, Alina kembali menangis.
Kini ia benar-benar merasakan arti sebuah doa yang dijawab Allah pada waktu terbaik.
Usai salam, Farhan memanjatkan doa panjang.
"Ya Allah..."
"Jadikan rumah ini rumah yang dipenuhi sakinah, mawaddah, wa rahmah."
"Jauhkan kami dari kesombongan."
"Jauhkan kami dari pengkhianatan."
"Jauhkan kami dari fitnah dunia."
"Jika Engkau memberi kami rezeki, jadikan kami hamba yang bersyukur."
"Jika Engkau memberi ujian, jadikan kami pasangan yang saling menguatkan."
"Jika Engkau mengaruniakan anak-anak kepada kami kelak, jadikan mereka anak-anak yang mencintai-Mu."
Aamiin.
Suara mereka menyatu.
Hening kembali menyelimuti rumah.
Malam terus berjalan.
Namun keduanya belum ingin tidur.
Mereka kembali duduk bersandar di sofa kamar menghadap jendela yang memperlihatkan langit malam bertabur bintang.
Angin malam membawa aroma tanah yang baru saja diguyur hujan sore tadi.
Farhan membuka pembicaraan.
"Kalau Allah mengizinkan... lima tahun lagi kamu ingin jadi apa?"
Alina tersenyum. "Aku ingin rumah ini selalu ramai."
"Ramai?" alis Farhan terangkat
"Dengan tawa."
"Dengan anak-anak."
"Dengan suara Al-Qur'an."
"Dengan tamu yang datang karena merasa nyaman."
Celoteh Alina panjang lebar.
Farhan mengangguk mendengarkan.
"Aku juga."
"Lalu sepuluh tahun lagi?"
Alina berpikir sejenak.
"Emmm... Aku ingin kita bisa mengajak Ibu Ayahmu, Papa dan Ibu, pergi umroh bersama."
Farhan tersenyum lebar.
"Itu juga mimpiku."
"Mungkin kita harus mulai menabung dari sekarang."
Alina mengangguk penuh semangat.
"Sedikit demi sedikit."
Farhan tertawa kecil.
"Kalau nanti aku mulai malas bekerja?"
"Aku akan mengingatkanmu!"
"Kalau kamu ngambek?"
"Aku akan bilang baik-baik."
"Kalau kita berbeda pendapat?"
Alina menjawab mantap,
"Kita jangan tidur sebelum saling memaafkan."
Farhan mengangguk setuju.
"Itu janji."
"Janji."
Mereka saling mengaitkan jari kelingking sambil tersenyum, seperti dua sahabat yang baru memulai perjalanan panjang.
Waktu pun terus bergulir.
Tanpa terasa jarum jam menunjukkan pukul dua dini hari.
Obrolan mereka belum juga habis.
Mereka membahas cita-cita sederhana, membuat perpustakaan kecil di rumah, menyisihkan sebagian rezeki untuk anak yatim, menghafal Al-Qur'an bersama, hingga berjanji meluangkan waktu untuk berkencan setelah menikah agar cinta tetap tumbuh dalam bingkai yang halal.
"Aku ingin setiap ulang tahun pernikahan kita bukan dirayakan dengan kemewahan," ucap Farhan.
"Lalu dengan apa?" tanya Alina.
"Dengan mengevaluasi diri. Apa yang sudah kita perbaiki sebagai suami istri."
Alina tersenyum kagum.
"Itu hadiah yang paling indah."
Menjelang sepertiga malam terakhir, mereka mengambil mushaf masing-masing. Beberapa ayat dibaca bergantian, lalu saling menyimak bacaan satu sama lain. Sesekali Farhan membenarkan tajwid Alina dengan lembut, dan Alina menerima dengan senyum tanpa merasa direndahkan.
Ketika adzan Subuh mulai berkumandang dari masjid di ujung jalan, keduanya saling berpandangan.
Mereka sadar.
Malam pertama mereka telah berlalu.
Bukan dengan pesta kemewahan.
Bukan dengan kisah yang dipenuhi gemerlap dunia.
Melainkan dengan doa, tangis syukur, janji-janji yang lahir dari hati, dan mimpi-mimpi yang mereka titipkan kepada Allah.
Farhan tersenyum hangat.
"Terima kasih sudah menjadi awal yang indah untuk perjalanan kita."
Alina membalas senyumnya dengan mata yang masih basah.
"Bukan hanya awal yang indah, Mas."
Ia menatap suaminya penuh keyakinan.
"Semoga ini menjadi awal menuju surga yang sama."
Farhan mengamini dengan lirih.
"InsyaAllah."
Dan di bawah cahaya fajar yang mulai menyapa, dua hati yang telah lama ditempa oleh kesabaran akhirnya memulai lembar kehidupan baru. Mereka tidak tahu ujian apa yang akan datang di masa depan, tetapi malam pertama itu telah mengajarkan satu hal yang tak akan pernah mereka lupakan.
Selama mereka menggenggam tangan satu sama lain dan sama-sama menggenggam petunjuk Allah, tak ada badai yang terlalu besar untuk dihadapi bersama.
Bersambung....
cerita nya seru, like + bunga🌹 , semangat😉
Tapi sayang yaaa, genre-nya nggk sesuai sama aku... 😂😂😂 di sini, genre-nya tertulis "Pembalasan Wanita" 😁😁😁🙏