"Angka? "
angka yang muncul diatas kepala Ivy, setelah mendapatkan diagnosa dari dokter tentang batas akhir hidupnya.
Ivy yang menghargai setiap waktu, memutuskan untuk hidup untuk dirinya. karena selama ini dia setelah kembali ke keluarga Dermawan. Ivy hidup seperti boneka, membahagiakan orang lain dan bersaing dengan Oliv saudara angkatnya.
Dengan bantuan mamanya yang mengetahui penyakitnya, Ivy melepaskan diri dari otoriter ayahnya.
Hidupnya berwarna disaat akhir hidupnya, saat bersama warga desa Gemilang. sambil memikirkan cara menambah angka hidupnya, sampai suatu hari dia tidak sengaja mencium Rama cahya yang merupakan paman mantan tunangannya.
Yang bisa menambah hari angka kehidupannya,akhirnya Ivy mendapatkan cara agar dirinya bisa hidup lebih lama.
Tapi sepertinya Ivy mengalami kesulitan, karena Rama bukan pria yang mudah didekati wanita.
Bisakah Ivy terus dekat dengan Rama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5.Pindah.
Langkah kaki Ivy terasa semakin berat seiring ia menjauhi pintu ruang kerja ayahnya. Air matanya masih berlinang di pipi, namun ia berusaha mengusapnya dengan kasar agar tidak terlihat lemah saat melewati lorong rumah yang luas itu. Di atas kepalanya, angka 29 hari masih tergantung dengan nyata, seolah mengingatkan bahwa waktu terus berjalan tanpa bisa dihentikan. Namun, belum sempat ia sampai ke ujung koridor, tiba-tiba rasa nyeri yang sangat hebat meledak di dalam kepalanya.
Sakit itu terasa seperti ada palu yang dipukulkan berulang kali di dalam tengkoraknya, membuat pandangannya berputar-putar dan kabur. Ivy mengerang pelan, tangannya segera memegang dahi dengan kuat berusaha menahan rasa sakit yang tak tertahankan. Dalam sekejap, ia merasakan sesuatu yang hangat dan lengket mengalir turun melewati bibirnya. Saat ia menyentuhnya dengan jari, ia melihat darah segar yang keluar dari lubang hidungnya. Sebelum ia sempat memanggil siapa pun, kakinya terasa lemas sekali, pandangannya menjadi gelap, dan tubuhnya terjatuh lemas ke lantai dengan bunyi yang cukup keras.
“IVY!”
Suara teriakan panik terdengar dari arah tangga. Nyonya Dermawan yang sejak tadi diam-diam mengawasi dari kejauhan, merasa ada yang tidak beres dengan sikap putrinya, segera berlari mendekat. Ia melihat Ivy tergeletak tak sadarkan diri dengan darah yang masih menetes dari hidungnya. Jantungnya seakan berhenti berdetak sesaat. Ia segera mengangkat kepala Ivy dengan lembut, lalu berteriak memanggil pelayan. “Cepat! Panggil sopir! Bawa mobil ke depan sekarang juga! Kita harus ke rumah sakit!”
Dalam keadaan panik, Nyonya Dermawan menggendong tubuh ringan Ivy sekuat tenaga, dibantu oleh Bibi Nora yang baru saja datang mendengar keributan itu. Mereka segera bergegas menuju mobil, dan dalam waktu singkat kendaraan itu melaju kencang menuju rumah sakit swasta terbaik di kota itu, ditemani oleh dokter pribadi keluarga yang sudah menunggu di sana.
Sesampainya di rumah sakit, Ivy segera dibawa masuk ke ruang perawatan khusus. Nyonya Dermawan mondar-mandir di luar ruangan dengan wajah pucat dan penuh kekhawatiran, tangannya terus meremas sapu tangan hingga keringat dingin membasahi telapak tangannya. Beberapa jam kemudian, dokter keluar dari ruangan dengan wajah yang serius.
“Bagaimana keadaan putri saya, Dokter? Bagaimana bisa dia seperti ini? karena selama ini dia baik-baik saja.” tanya Nyonya Dermawan dengan suara bergetar.
Dokter menghela napas panjang sebelum menjawab, “Maafkan saya, Nyonya. Setelah melakukan pemeriksaan mendalam dan melakukan CT scan, kami menemukan bahwa Nona Ivy mengidap kanker otak yang sudah memasuki stadium akhir. Sel ini telah menyebar dan menekan pembuluh darah serta saraf di kepalanya, itulah sebabnya ia sering merasakan sakit hebat hingga pingsan dan mengeluarkan darah. Kemungkinan waktunya tidak akan lama lagi, hanya tinggal hitungan minggu atau bahkan hari.”
Kata-kata itu menghantam Nyonya Dermawan bagaikan petir di siang bolong. Lututnya terasa lemas, dan ia segera bersandar ke dinding agar tidak terjatuh. Tangisannya meledak seketika, terisak-isak menahan rasa sakit yang luar biasa di hatinya. Ia memasuki ruangan perawatan, mendekati tempat tidur tempat Ivy terbaring lemah dengan selang infus yang terpasang di tangannya.
Ia memegang tangan Ivy yang terasa dingin, lalu mencium punggung tangan itu berkali-kali sambil menangis tersedu-sedu. “Maafkan Mama, Nak… Maafkan Mama. Mama tidak tahu bahwa kau sedang menanggung penderitaan seberat ini sendirian. Mama bukan orang tua yang baik. Selama ini Ibu terlalu sibuk mengikuti kemauan Ayahmu, terlalu membiarkan Oliv berbuat sesuka hati, dan hampir melupakan bahwa kau juga butuh kasih sayang kami. Ampuni Mama, Ivy…”
Tak lama kemudian, kelopak mata Ivy bergerak perlahan dan terbuka sedikit. Pandangannya masih kabur, namun perlahan mulai terfokus pada sosok ibunya yang terlihat sangat sedih. Ia merasakan genggaman hangat di tangannya, lalu mengangkat sudut bibirnya sedikit membentuk senyum tipis yang lemah. Dengan suara yang sangat pelan dan terputus-putus, ia berusaha berbicara.
“Mama… jangan menangis… Ivy belum mati kok… masih ada waktu…” ucapnya pelan, berusaha menenangkan hati Mamanya.
Mendengar suara itu, Nyonya Dermawan segera menghapus air matanya dan mendekatkan wajahnya lebih dekat. “Kenapa kau tidak memberitahu Mama dan Ayah tentang sakitmu ini, Nak? Kalau kami tahu, Ayah pasti tidak akan memarahimu atau memaksamu melakukan apa pun. Mengapa kau memendamnya sendirian?”
Ivy menggeleng perlahan, lalu menatap ibunya dengan tatapan yang tenang. “Tidak, Ma… Jangan katakan pada Ayah. Biarkan dia tetap menganggapku anak yang keras kepala dan tidak berguna. Ivy tidak ingin dia merasa kasihan hanya karena Ivy sakit, bukan karena dia benar-benar menyayangiku. Biarkan saja semuanya seperti ini.”
Nyonya Dermawan terdiam mendengar permintaan itu. Ia mengangguk pasrah, meskipun hatinya terasa sangat perih. “Baiklah, Mama janji tidak akan memberitahunya. Tapi Ivy, kau tidak boleh tinggal di rumah utama itu lagi. Suasana di sana terlalu tegang dan membuatmu tertekan. Mama punya vila di pinggir kota, udaranya sejuk dan sangat tenang. Mama akan menyuruh dokter dan perawat menjagamu selama 24 jam di sana. Kau mau kan?”
Ivy terdiam sejenak, lalu menjawab dengan lembut, “Mama baik sekali… Ivy menghargai semua perhatian ini. Tapi Ivy ingin menghabiskan sisa waktu ini dengan cara Ivy sendiri. Tidak ingin selalu diperlakukan seperti orang sakitan. Ivy ingin bebas melakukan apa yang membuat hati Ivy senang.”
“Mama mengerti, Nak. Semua keinginanmu akan Mama penuhi, asalkan kau berjanji untuk menjaga kesehatanmu sebisa mungkin,” jawab Nyonya Dermawan sambil mengusap lembut rambut putrinya.
Beberapa hari kemudian, setelah kondisi tubuhnya sedikit membaik, Ivy dipindahkan dari rumah sakit menuju vila milik ibunya. Sesampainya di sana, suasana yang berbeda langsung menyambutnya. Vila itu dikelilingi pepohonan rindang dan pemandangan perbukitan yang hijau, jauh dari kebisingan dan hiruk-pikuk kota. Sesuai perintah Nyonya Dermawan, Bibi Nora turut serta untuk menemani dan mengawasi Ivy sepanjang hari.
Sore itu, Ivy duduk bersandar di kursi goyang di balkon lantai dua. Angin sepoi-sepoi bertiup lembut menerpa wajahnya. Dari tempat itu, ia bisa melihat hamparan sawah dan gugusan rumah warga yang tersebar di kejauhan, pemandangan yang sangat mirip dengan desa tempat ia dibesarkan bersama kakek dan neneknya dulu. Rindu yang mendalam tiba-tiba menyeruak di hatinya.
Ia memanggil Bibi Nora yang sedang berdiri di dekatnya. “Bibi Nora, bolehkah Ivy pergi ke sana? Ke perkampungan yang terlihat dari sini? Ivy ingin berjalan-jalan dan melihat lingkungannya lebih dekat.”
Bibi Nora segera menggeleng dengan nada khawatir. “Tidak bisa, Nona. Kondisi tubuh Nona masih lemah, dan Nyonya sudah berpesan agar Nona banyak beristirahat dan jangan pergi jauh-jauh.”
Mendengar penolakan itu, Ivy memajukan bibirnya sedikit, lalu menatap Bibi Nora dengan tatapan memohon yang lembut dan sedikit manja—sesuatu yang jarang ia tunjukkan selama ini. “Ayo dong, Bibi… Ivy hanya ingin melihat sebentar saja, tidak akan berjalan terlalu jauh. Ivy sudah lama tidak merasakan suasana seperti itu. Kalau Bibi tidak izinkan, hati Ivy jadi tidak tenang lho.”
Melihat tingkah Ivy yang memohon, hati Bibi Nora luluh. Ia teringat pesan khusus Nyonya Dermawan untuk memenuhi setiap keinginan Ivy agar gadis itu merasa bahagia selama waktunya masih ada. “Baiklah, baiklah. Tapi Nona harus berjanji tidak memaksakan diri dan segera kembali jika merasa lelah.”
Ivy tersenyum lebar, senyum yang paling tulus selama ia kembali ke keluarga Dermawan. Ia segera bersiap, mengenakan pakaian santai berwarna putih dan celana panjang yang nyaman, jauh berbeda dari gaun mewah yang biasa ia pakai.
“Bibi, ingat ya. Selama kita di luar sana, jangan panggil aku ‘Nona’ atau anggap aku majikan. Kita seperti keluarga aku keponakan bibi Nora adalah bibi ku yang sedang berjalan-jalan saja,” pesan Ivy dengan nada ceria.
Bibi Nora mengangguk sambil tersenyum, “Siap, akan Bibi lakukan sesuai permintaanmu.”
Mereka pun berjalan keluar dari halaman vila, melangkah menuju jalan setapak yang menurun ke arah perkampungan. Di atas kepala Ivy, angka 28 hari kini terlihat menggantikan angka sebelumnya, namun kali ini tatapan Ivy tidak lagi penuh ketakutan. Ia melangkah dengan ringan, menikmati setiap hembusan angin, setiap suara burung, dan pemandangan yang membawanya kembali ke masa-masa yang paling damai dalam hidupnya.
kalo berkenan mampir juga thor🤭😉