Sebuah takdir mempertemukan keempat gadis cantik dengan masa lalu yang kelam. Penghianatan, kebohongan, mereka rasakan dan terima dari orang-orang terdekatnya. Luka di masa lalu membuat mereka bangkit dan bersikeras untuk membalas dendam pada semua orang yang pernah menyakitinya di masa lalu. Mereka bersatu untuk mencapai tujuan besarnya itu. Keempat gadis ini sosok yang sangat cerdik dan berbakat. Kehadiran mereka bagaikan bom peledak yang kapanpun bisa menghancurkan. Karena tekad kuatnya itu, di masa depan nanti dunia akan berada dalam genggamannya. Mereka inilah yang terlahir sebagai, "Queen of the World".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Yais, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BEREDARNYA SURAT KABAR
Dalam perjalanan pulang, Jihan memperingatkan putranya untuk berhati-hati dalam bertindak. Sekarang dia bisa lolos tapi nanti mungkin Brandon tidak akan membiarkannya.
"Aku akan lebih berhati-hati lagi, ayah." ucap Bara.
"Bagaimana jika tindak kejahatan ini sampai diketahui banyak orang?" tanya Bara sedikit khawatir.
"Kau tenang saja. Tidak ada yang tahu masalah ini selain aku, kau, Brandon dan juga anak buahnya."
"Bagaimana jika anak buah Brandon secara diam-diam menyebarkan berita ini?"
"Tidak akan, nak. Brandon pasti sudah membungkam mulut mereka semua." ucap Jihan dengan santai.
Tiba di rumah, Tae masih penasaran dengan si penelpon tadi.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Nam Seon.
"Aku hanya penasaran dengan perempuan yang menelepon tadi. Bagaimana bisa dia tahu bahwa ada aksi kejahatan di Jamaica?"
"Mungkin kebetulan saja," sambung Jun Myeon.
"Menurutku, ini bukanlah sebuah kebetulan. Aku pun sangat penasaran dengan perempuan itu." timbal Ji-Hoon. "Dia sepertinya sengaja mengikuti mobil itu."
"Kalian tenang saja. Besok aku akan mencoba melacak nomor ponselnya." ucap Nam Seon.
****
Jam sudah menunjukkan pukul 06.00 pagi. Udara di luar masih terasa dingin. Langit pagi ini terlihat sedikit mendung. Semua gadis sudah berada di meja makan untuk sarapan.
"Kenapa di luar terlihat masih gelap?" tanya Jaane.
"Sepertinya akan turun hujan pagi ini." sambung Rae.
"Di luar sudah gerimis, non." jawab pelayan yang sedang menghidangkan makanan.
"Benarkah?"
"Jika seperti ini, rasanya aku malas jika harus ke kampus. Setelah sarapan aku akan kembali tidur di kamarku." ucap Jaane.
"Yang benar saja. Bukankah kau bilang tadi malam jika hari ini ada presentasi?" tanya Jasmine. "Bagaimana mungkin tidak masuk?"
"Aku hanya bercanda saja. Lagi pula aku akan tetap pergi ke kampus." ucap Jaane.
Lea masih menunggu surat kabar. Dia tidak sabar untuk membaca berita besar pagi ini.
"Apa tukang pos belum mengantar surat kabar, Bi?" tanya Lea.
"Belum nona. Sepertinya karena gerimis jadi dia terlambat datang." jawab pelayan.
"Ada berita apa memangnya di surat kabar? Sepertinya kau tidak sabar lagi ingin membacanya." tanya Rae.
"Tidak ada. Aku hanya ingin tahu saja ada berita apa pagi ini." jawab Lea.
Saat mereka sedang sarapan, sebuah pesan masuk di ponsel Lea. Saat dibuka ternyata dari pegawainya. Dia memberitahu Lea jika berita semalam sudah ia terbitkan pagi ini di surat kabar. Lea terlihat senang saat mengetahuinya. Tidak lama seorang pelayan datang dari luar dan membawa surat kabar.
"Ini surat kabar pagi ini, nona." ucap pelayan.
"Berikan padaku, Bi! Biar aku yang akan melihatnya lebih dulu." ucap Rae.
Saat melihat halaman depan surat kabar itu, Rae terlihat sangat terkejut. "Apa yang ditulis ini benar?" ucapnya tidak percaya.
"Ada apa?" tanya Jaane.
"Di sini tertulis jika Bara Cameron melakukan aksi kejahatan yaitu menjual sekelompok gadis di bawah umur kepada seorang pengusaha asal Brazil dengan bayaran sangat mahal."
"Benarkah? Kapan kejadiannya?" tanya Jasmine.
"Tadi malam. Tepatnya pukul 23.30 di Bandar Udara New York, Jamaica."
"Perusahaan mana yang menerbitkan berita itu?" tanya Jaane.
"F. Sis Company."
Ketiga gadis itu belum menyadarinya. Mereka baru sadar beberapa menit kemudian.
"Tadi kau bilang perusahaan mana yang menerbitkan surat kabar itu?" tanya Jaane memastikan.
"F. Sis Company."
"Apa? F. Sis Company?" ucap ketiga gadis itu bersamaan. "Bukankah itu perusahaan..." Mereka secara bersamaan menengok ke arah Lea.
"Tentu saja itu perusahaan kita." jawab Lea sambil memakan buah anggur. Dia tertawa sendiri melihat sikap ketiga sahabatnya itu.
"Kalian ini kenapa? Baru tiga hari perusahaan itu berdiri. Kalian sudah melupakannya saja."
"Bagaimana bisa berita sebesar ini muncul?" tanya Rae.
"Tentu saja aku sendiri dan jurnalis perusahaan kita yang meliputnya." jawab Lea.
"Kau ini memang hebat." ucap Jaane memberikan dua jempol sebagai apresiasi untuk Lea sambil tersenyum gemas.
****
Berita itu sudah tersebar kemana-mana. Keluarga besar Cameron pun sudah membaca surat kabar itu. Anya selaku ibu dari Bara sangat terkejut saat tahu jika putranya melakukan tindak kejahatan seperti itu.
"Apa semua ini benar, nak?" tanya Anya.
"Tentu saja tidak. Kenapa kau percaya dengan surat kabar ini?" ucap Jihan mencoba melindungi putranya.
Dia terlihat sangat marah. Pagi itu juga dia pergi menemui Brandon. Setelah surat kabar itu beredar, banyak teman kampus Xenia yang menghubungi dia untuk menanyakan kebenarannya. Di tambah lagi Bara bukanlah orang biasa, melainkan seorang pengusaha muda sukses dan terkenal. Semua orang pasti ingin mengetahui kebenarannya. Sejak tadi ponsel Xenia terus berdering. Dia terlihat sangat kesal dan membiarkannya.
"Telepon dari siapa sayang? Kenapa kau tidak menjawabnya?" tanya Anya lembut.
"Dari temanku, Mom. Mereka terus bertanya ini dan itu tentang kakak. Aku bingung harus menjelaskan apa pada mereka." ucap Xenia.
Saat tiba di kantor, ketujuh polisi itu pun sudah membaca surat kabar. Tidak lama kedatangan mereka di susul oleh Brandon.
"Selamat pagi, ketua." ucap Ji-Hoon.
"Selamat pagi. Ada berita hangat apa pagi ini?" tanya Brandon.
"Bukan lagi berita hangat, tapi ini berita yang sangat besar." ucap Jong Dae.
"Ada apa?" Brandon memeriksa surat kabar dan membacanya.
"Bagaimana bisa berita ini muncul di surat kabar?" tanya Brandon tidak percaya.
"Kenapa kau bertanya pada kami ketua? Tentu saja bukan kami yang melakukannya." jawab Ji-Hoon.
Jihan sudah tiba di kantor polisi. Saat masuk dia langsung bertemu dengan Brandon.
"Kenapa berita tentang putraku bisa muncul di surat kabar?" tanya Jihan.
"Aku juga sangat terkejut. Baru saja aku mengetahuinya." jawab Brandon.
"Apa jangan-jangan salah satu anggotamu ini yang membocorkan kejadian tadi malam." Jihan mencurigai ketujuh polisi Korea itu.
"Tolong jangan asal menuduh seperti itu. Kami sama sekali tidak ada hubungannya dengan semua ini." timbal Ji-Hoon.
"Jika bukan kalian, lalu siapa lagi?" Emosi Jihan mulai memuncak.
"Tenanglah Jihan. Aku yakin jika bukan mereka pelakunya."
Saat sedang berada di kantor polisi, Jihan mendapat telepon dari Anya. Dia meminta suaminya itu untuk segera datang karena di luar sudah banyak wartawan yang datang untuk meliput.
"Tetap di dalam rumah. Jaga Xenia dan Bara supaya mereka tidak keluar. Aku akan segera datang." ucap Jihan.
"Ada apa?" tanya Brandon.
"Di rumahku sudah banyak wartawan. Aku harus pergi untuk melindungi keluargaku."
"Aku akan ikut bersamamu." Brandon mengajak ketujuh anggotanya untuk ikut.
****
Keempat gadis itu belum juga pergi ke kampus. Mereka sedang duduk di ruang tengah sambil menikmati tontonan pagi ini. Berita besar itu sudah tersebar kemana-mana. Sekarang ini rumah Cameron dipenuhi banyak wartawan. Terlihat Jihan bersama Brandon dan anggotanya datang. Mereka mencoba mengusir wartawan itu dari sana.
"Tuan Jihan, apakah benar putramu itu melakukan transaksi jual beli sekelompok gadis di bawah umur?" tanya salah satu wartawan.
"Semua itu sungguh tidak benar!" bantah Jihan di hadapan semua wartawan. "Berita itu bohong!" tegas Jihan. "Putraku adalah orang baik. Dia tidak mungkin melakukan hal memalukan seperti itu."
"Semua yang dikatakan tuan Jihan adalah kebenaran. Putranya sama sekali tidak melakukan tindak kejahatan apapun. Sepertinya berita ini ditulis hanya untuk menjatuhkan nama baik keluarga Cameron." sambung Brandon ikut bicara.
"Kalian lihat?" ucap Lea. "Orang yang dari awal sangat menjunjung tinggi hukum dan keadilan, kini sudah berpaling. Dia bisa-bisanya membela Jihan dan putranya di hadapan semua wartawan."
"Lalu, apa yang akan terjadi setelah ini?" tanya Jasmine.
"Bara tidak akan bisa lepas semudah itu. Bagaimanapun dia harus menerima hukumannya."
Dengan berita besar ini, tentu saja kerja sama perusahaan Cameron dengan Harry akan batal. Kemanapun Bara pergi, Lea akan meminta wartawan bayarannya supaya terus mengikuti dia lalu mendesaknya supaya mengaku.
"Bagaimana jika mereka tahu jika perusahaan kita yang menerbitkan surat kabar itu?" tanya Jaane.
"Biarkan mereka tahu dengan siapa mereka berhadapan." jawab Lea. "Jika perlu aku akan membuat ketua NYPD itu tunduk pada kita." ucap Lea.
Keempat gadis itu sepertinya sudah memulai misi balas dendam mereka. Orang pertama yang mereka ingin hancurkan adalah keluarga Cameron. Perempuan dari keluarga itu adalah seorang ibu yang sudah tega meninggalkan Jasmine saat usianya dua belas tahun. Karenanya juga Jasmine rela dipenjara. Hanya saja, Anya menyia-nyiakan putri yang sangat mencintainya itu.
"Kehancuran keluarga Cameron semakin dekat. Kau akan melihat orang-orang yang kau cintai menderita, Ibu." ucap Jasmine.
****