Naura diberi kesempatan hidup kedua setelah mati karena kerja dan keluarga yang terus memerasnya. Kali ini, ia menolak jadi ATM untuk orang tua dan adik laki-lakinya. Ia meninggalkan karier bergengsi di dunia keuangan Jakarta, lalu memilih bekerja sebagai pengelola rumah tangga profesional untuk keluarga elite.
Siapa sangka, keputusannya justru membawanya bertemu Arkan Pradipta, CEO dingin yang ditakuti banyak orang, tetapi kacau dalam urusan hidup sehari-hari.
Di antara kontrak kerja, rahasia masa lalu, keluarga toksik, dan perasaan yang makin sulit ditolak, Naura harus memilih: terus bersembunyi, atau merebut hidup yang sejak awal memang miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stellune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Bab 18
Keesokan paginya, video keluarga Naura akhirnya menyebar.
Bukan viral besar.
Belum.
Tapi cukup untuk masuk ke beberapa grup kantor Mahardika, lalu meloncat ke grup alumni, lalu sampai ke ponsel Rani.
Rani menelepon pukul tujuh pagi dengan suara seperti hendak meledak.
"Naura Ayu Prameswari, kenapa aku tahu dari orang lain, bukan dari kamu?"
Naura sedang menata sarapan Bu Marini. Ia menjauh ke taman samping.
"Pagi juga, Ran."
"Jangan pagi-pagi-an sama aku. Itu video apa? Ibumu datang ke Mahardika? Bagas masih hidup ternyata? Kirain sudah jadi beban nasional."
Naura memejamkan mata.
Entah bagaimana, kemarahan Rani selalu membuatnya ingin tertawa dan menangis bersamaan.
"Aku sudah urus."
"Urus apanya? Kamu sendirian lagi?"
"Tidak."
Hening.
"Tidak?" suara Rani berubah. "Siapa yang bantu?"
Naura menatap pohon kamboja di taman.
"Keluarga tempatku bekerja. Dan... Pak Arkan."
"Pak Arkan yang mana?"
"Arkan Pradipta."
Rani terdiam selama tiga detik.
Lalu berteriak, "Arkan Pradipta Aruna Capital?"
Naura menjauhkan ponsel dari telinga.
"Jangan keras-keras."
"Kamu kerja di rumah Arkan Pradipta?"
"Sebagian. Kontrak tambahan."
"Sebagian bagaimana? Naura, kamu ini kalau bikin kejutan jangan setengah-setengah."
Naura menghela napas. "Nanti aku ceritakan."
"Nanti kapan? Setelah kamu menikah sama dia?"
"Rani."
"Apa? Aku cuma mempercepat plot."
Pipi Naura panas. "Tidak ada apa-apa."
"Kalimat itu biasanya berarti sudah ada sesuatu."
"Aku tutup."
"Jangan! Aku serius. Kamu aman? Mereka tahu tempat kerjamu sekarang?"
"Belum."
"Kalau tahu?"
Naura diam.
Rani langsung melunak. "Na, kamu harus berhenti menghadapi mereka sendirian. Mereka itu bukan keluarga, mereka debt collector emosional."
Naura tertawa kecil, tetapi matanya panas.
"Aku tahu."
"Kalau butuh aku datang, bilang. Aku bisa izin kerja. Aku bawa helm. Kalau Bagas macam-macam, aku timpuk."
"Kamu kerja di perusahaan orang."
"Aku bisa timpuk secara profesional."
Naura akhirnya tertawa sungguhan.
Setelah menutup telepon, ia merasa sedikit lebih ringan.
Namun persoalan belum selesai.
Pukul sepuluh, Dimas mengirim pesan.
`Mbak, Pak Bima minta nomor Mbak. Saya tidak kasih. Katanya ada urusan serah terima.`
Naura menatap pesan itu.
Bima tidak mungkin mencari hanya untuk serah terima. Semua dokumen sudah ia bereskan. Jika ada yang tidak jelas, Dimas bisa menangani.
Pesan lain masuk.
Nomor Bima.
`Naura, kita perlu bicara. Keluargamu datang kemarin dan membuat situasi tidak nyaman. Beberapa orang mulai bertanya. Sebaiknya kamu bantu klarifikasi agar nama kantor tidak terseret.`
Naura membaca dengan wajah datar.
Nama kantor.
Bahkan setelah ia pergi, yang mereka pikirkan tetap kantor.
Ia membalas:
`Saya sudah tidak bekerja di Mahardika. Gangguan yang terjadi di lobi Mahardika menjadi tanggung jawab keamanan gedung dan perusahaan. Jika ada fitnah yang memakai nama saya, silakan kirim bukti tertulis.`
Bima membalas cepat.
`Jangan kaku. Kamu tahu keluarga kamu datang karena kamu sulit dihubungi. Selesaikan baik-baik.`
Naura mengetik:
`Saya sedang menyelesaikan dengan cara saya. Mohon semua komunikasi terkait pekerjaan dikirim lewat email resmi.`
Setelah itu ia memblokir nomor Bima.
Tangannya tidak gemetar.
Ia merasa bangga pada dirinya sendiri.
Siang hari, Bu Ratih dari PrimaCare menelepon.
"Naura, saya mendapat informasi ada video keluargamu di kantor lama."
Naura duduk lebih tegak. "Bu Ratih sudah lihat?"
"Sudah. Saya perlu tanya langsung. Apakah ada kemungkinan mereka datang ke lokasi klien?"
"Saya sedang berusaha mencegah."
"Saya percaya kamu. Tapi sebagai perusahaan, saya harus melindungi klien dan pekerja. Kita perlu buat rencana."
Naura menghargai nada itu.
Tidak menyalahkan.
Tidak mengancam.
Rencana.
"Apa yang perlu saya lakukan?"
"Kirim salinan pesan ancaman ke saya. Kita catat sebagai risiko keselamatan pekerja. Kalau mereka datang ke rumah klien, staf keamanan harus menolak. Kamu tidak wajib menemui mereka saat jam kerja."
Naura menutup mata sebentar.
"Terima kasih, Bu."
"Satu lagi. Jangan merasa ini membuatmu tidak profesional. Yang tidak profesional adalah orang yang membawa masalah ke tempat kerja orang lain untuk memaksa uang."
Naura menggigit bibir.
"Baik."
Hari itu, semua orang seperti membentuk pagar kecil di sekitarnya.
Bu Marini dengan genggaman tangannya.
Pak Aditya dengan logika risiko.
Arkan dengan legalnya.
Rani dengan helm imajiner.
Bu Ratih dengan kontrak.
Naura tidak terbiasa.
Selama ini ia selalu menjadi pagar untuk orang lain.
Sore hari, ia datang ke rumah Arkan membawa bahan makan malam. Begitu masuk, ia melihat Rafi berdiri di ruang tamu bersama Arkan.
Di meja ada beberapa lembar dokumen.
Arkan menatapnya.
"Kita perlu bicara sebentar."
Naura meletakkan tas belanja.
"Tentang keluarga saya?"
"Tentang pencegahan."
Rafi menjelaskan dengan bahasa sopan. Security cluster sudah diberi instruksi bahwa nama Harto, Sulastri, dan Bagas tidak boleh masuk tanpa konfirmasi. Foto dari video lobi sudah disimpan untuk identifikasi, hanya diberikan ke pos keamanan internal, bukan disebarkan. Jika mereka datang, security diminta tidak berdebat, cukup menolak dan mencatat.
Naura mendengarkan dengan perasaan campur aduk.
"Ini terlalu banyak."
Arkan menjawab, "Ini standar."
"Untuk keluarga saya?"
"Untuk siapa pun yang berpotensi mengganggu rumah."
Rafi menambahkan, "Mbak, ini juga melindungi Bu Marini dan Pak Aditya."
Naura tidak bisa membantah.
Arkan mendorong satu dokumen.
"Ini bukan somasi. Hanya draft. Tidak dikirim tanpa persetujuanmu."
Naura mengambilnya.
Bahasanya tegas, tetapi tidak berlebihan. Peringatan agar pihak terkait tidak melakukan gangguan, pencemaran nama baik, pemerasan, atau mendatangi tempat kerja. Jika dilakukan, akan ditempuh jalur hukum.
"Saya tidak mau langsung menyerang," kata Naura.
"Tidak ada yang menyerang."
"Ini terlihat seperti menyerang."
Arkan menatapnya.
"Naura, ketika seseorang mengancam mempermalukanmu untuk memaksamu memberi uang, itu bukan konflik keluarga biasa."
Ia tidak menaikkan suara.
Justru karena tidak, kalimat itu terasa lebih kuat.
"Kamu boleh memilih tidak mengirim ini. Tapi jangan mengecilkan apa yang mereka lakukan."
Naura menggenggam kertas itu.
Di kepalanya muncul wajah Ibu yang menangis di lobi. Bapak yang memakai kata keluarga seperti tali. Bagas yang menganggap semua miliknya bisa dibayar oleh kakaknya.
"Saya pikir kalau saya terlalu keras, saya jadi anak durhaka."
Arkan menjawab tanpa ragu.
"Anak durhaka bukan anak yang berhenti diperas."
Naura menatapnya.
Rafi tiba-tiba sangat sibuk menunduk melihat tablet.
Ruangan terasa sunyi.
Naura menarik napas. "Saya simpan dulu."
Arkan mengangguk. "Baik."
Rafi pamit setelah itu.
Tinggal Naura dan Arkan di ruang tamu.
Naura memegang dokumen, tidak tahu harus berkata apa.
Arkan berkata, "Kamu tidak perlu memasak kalau lelah."
"Saya tidak lelah."
"Bohong."
Naura menatapnya.
Arkan tampak tenang. "Kamu bisa marah kalau mau."
"Saya tidak marah."
"Itu juga bohong."
Naura tertawa kecil, tapi tawanya pecah.
Ia duduk di sofa, menutup wajah dengan kedua tangan.
"Saya marah," katanya akhirnya. "Saya marah sekali. Tapi kalau saya marah, rasanya seperti saya jahat."
Arkan tidak duduk terlalu dekat. Ia mengambil kursi seberang.
"Kamu boleh jahat sedikit kepada orang yang bertahun-tahun jahat kepadamu."
Air mata Naura jatuh tanpa izin.
Ia segera menghapusnya.
"Maaf."
"Untuk apa?"
"Saya menangis di jam kerja."
Arkan menatapnya lama.
"Kalau kamu tetap ingin menghitungnya sebagai jam kerja, saya bayar lembur."
Naura terdiam.
Lalu tertawa di antara air mata.
Kalimat itu sangat tidak romantis.
Sangat Arkan.
Dan entah kenapa, justru membuatnya merasa lebih baik.
jgn setengah 2 ya