Aku tersadar di sebuah ruangan serba putih dengan bau obat-obatan yang menusuk hidung.
"Aaarrgghhh, di mana ini?" rasa pening kembali melanda hingga membuatku tak berani membuka mata lagi.
Sekilas aku teringat akan pertengkaran dengan tunanganku sebelumnya yang membuatku kehilangan fokus saat berkendara, hingga terjadilah kecelakaan itu.
Tanganku reflek memijat kening.
"Hei, mommy sudah sadar," suara gadis kecil memaksaku untuk membuka mata.
Pandangan yang awalnya kabur lama-lama menjadi terang, hingga nampak jelas di depan mataku kedua bocah tampan dan cantik nan polos sedang menatapku.
"Hai mommy," sapa keduanya.
"Mommy?"
Beberapa waktu mengenal keluarga ini, tak disangka ternyata aku melihat wajah yang sangat mirip denganku.
Hingga dirinya berani mengajakku bertukar peran, yang membawaku terlibat semakin dalam.
Bisa kah aku lepas dan menjauh? Atau malah jatuh semakin dalam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moena Elsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menangis Semalam
Ricky tersenyum.
"Yakin hanya mampir nih?" tandas Axel untuk memancing.
Ricky teringat saat Axel bersitegang dengan tuannya beberapa hari lalu.
Ricky mengira pasti Axel sengaja mengikutinya kali ini.
"Tak ada apapun di sini tuan. Sebaiknya kita pergi," ajak Ricky.
Axel memindai seluruh ruangan.
Apa yang dilakukan oleh Axel tak lepas dari pengawasan Ricky.
Tring.
Sebuah notif pesan masuk.
'Usir Axel!' pesan bernada perintah dibaca oleh Ricky.
"Silahkan tuan!" kata Ricky menyuruh Axel keluar.
"Oke," Axel diikuti Ricky sama-sama menuju mobil untuk pergi dari sana.
Ricky menarik nafas lega.
Kirana masuk kamar saat Axel belum datang.
"Itu artinya tuan Axel sedang memata-matai tuan Maxime," gumam Ricky sesaat sebelum mobilnya melaju.
"Pak, jangan biarkan semua orang masuk ke rumah tanpa ijin dariku atau tuan Maxime," pesan Ricky buat sang penjaga gerbang.
"Baik itu keluarga sendiri," imbuh Ricky.
Penjaga itu pun mengangguk.
"Siap tuan," jawabnya.
Ricky memerintahkan anak buah yang lain untuk selalu berjaga di sekitaran sana selama ada Kirana tinggal.
Ricky melaporkan semua tindakannya pada Maxime.
.
Sementara itu, Kirana menangis sesenggukan karena terlena dengan adegan drama Korea yang ditontonnya.
Kirana memutuskan menonton, karena rasa bosan melanda.
Bosan dengan aktivitas seminggu yang monoton.
Berbeda halnya dengan yang terjadi di kamar Maxime.
Kirani menggoda sang suami.
Sebuah lingerie seksi warna merah maroon yang kontras dengan warna kulit Kirani pakai.
Maxime menelan ludah.
Kirani mendekat dan memulai sentuhan.
"Apa kamu tak menginginkan ini," Kirani melucuti sendiri lingerie seksi dan menyembullah dua buah belahan seksi yang merupakan aset penting milik Kirani.
Maxime malah membayangkan saat dirinya bergelut dengan Kirana.
Maxime menggeleng untuk menghilangkan ingatan itu.
"Apa?" tanggap Kirani yang sepertinya salah sangka.
Maxime beranjak.
"Jangan salah sangka. Aku capek," Maxime beralibi.
Maxime meninggalkan Kirani dan keluar kamar.
Kirani kecewa karena penolakan Maxime.
"Kenapa dia? Beraninya dia menolakku," gerutu Kirani.
"Apa ini karena cewek itu? Sial... Sial...,"
"Aku harus menyelidikinya. Besok aku akan pergi ke orang tua tak tahu diri itu. Aku harus mendapatkan informasi yang jelas," niat hati Kirani.
Maxime duduk di ruang kerja dan menyalakan laptop.
Iseng Maxime mengakses kamera cctv yang dipasang di kediaman yang saat ini ditinggali oleh Kirana.
Dilihat oleh Maxime, Kirana menangis sesenggukan.
"Kenapa gadis itu? Menangis saat tengah malam begini? Apa yang telah dilakukan Ricky padanya?" Maxime overthinking.
Maxime terus mengawasi tingkah polah Kirana yang masih menangis.
Bahkan tisu yang berserakan pun tak luput dari pengamatan Maxime.
Bahasa tubuh Kirana melihatkan kalau dia sangatlah bersedih.
"Besok pagi aku akan ke sana," niat hati Maxime untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
.
Pagi sekali Maxime telah meninggalkan mansion saat yang lain belum terbangun.
Kirani meraba sebelahnya.
Tak didapatinya Maxime.
"Apa semalaman dia tak tidur di sini?" gumam Kirani.
Semalam Kirani tertidur dengan hati kesal karena penolakan sang suami.
"Apa dia sengaja menghindar dariku?" Kirani beranjak untuk mencari keberadaan sang suami.
Di dapur, Kirani berpapasan dengan bibi yang sedang menyiapkan menu sarapan.
"Heh bi, tahu nggak Maxime di mana" tanya Kirani. Tak ada sopan-sopannya Kirani menyapa.
"Enggak nyonya," meski tahu Maxime telah pergi saat pagi buta, bibi tak memberitahu Kirani.
'Suami pergi kok nanyanya ke pembantu. Aneh,' batin bibi.
Kirani pergi ke ruang kerja.
Kosong, Kirani tak menemukan apapun.
"Sialan kamu Maxime," umpat Kirani pagi itu.
Kirani bersiap pergi setelah mendapati sang suami tak ada di rumah.
Tak ada dalam kamus Kirani bahwa setiap pagi musti menyiapkan semua keperluan anak-anaknya ke sekolah.
Semua dipercayakan kepada para maid.
Untuk apa membayar mereka semua kalau tak disuruh kerja. Itu mungkin yang menjadi pemikiran Kirani selama ini.
Cantika yang menghalangi kepergiannya, tak digubris oleh Kirani.
Bahkan tangisan Cantika tak Kirani pedulikan.
"Ada hal mendesak yang musti mommy selesaikan Cantika. Jangan manja deh," Kirani melerai pelukan sang putri.
"Cantika ikut Mom," rengeknya.
"Tidak... Sekali tidak tetap tidak," tandas Kirani.
"Merry, ajak Cantika ke kamar," suruh Kirani.
Tangisan Cantika semakin keras.
Kirani berlalu pergi, saat nenek menghampiri Cantika.
Sayup-sayup Kirani masih mendengar omelan nenek.
.
Penjaga dibuat terkaget saat mobil sang bos datang saat yang lain belum terbangun.
Klakson mobil dibunyikan.
Gerbang pun terbuka otomatis.
Penjaga itu menyambut tuannya
"Apa yang terjadi semalam?" pertanyaan Maxime membuat sang penjaga kaget.
Tak ada angin tak ada hujan, sang bos tiba-tiba nanya begitu.
Sang penjaga yakin, tak terjadi apapun semalam.
Saat dia giliran patroli bersama temannya, semua aman-aman saja.
Lantas, apa yang membuat sang bos datang saat matahari saja belum mau menyapa.
"Semua aman tuan," seru anak buah Maxime yang berjaga semalaman.
"Yakin?" telisik Maxime.
Maxime dibuat tak bisa tidur karena melihat Kirana yang terus menangis.
"Iya tuan," jawab penjaga dengan tegas dan tak ada keraguan.
Maxime meninggalkan anak buahnya yang masih berdiri di tempat.
"Aku harus mencarinya sendiri," Maxime berlalu masuk ke dalam rumah.
Maxime dibuat terpana saat melihat di depannya.
Seorang gadis dengan baju kasual, celana pendek dan rambut dikuncir kuda sedang memasak sembari bernyanyi kecil.
Ya dialah Kirana. Yang dipergoki Maxime sedang menangis semalaman lewat kamera cctv.
'Kok tak ada kesedihan lagi di nada suaranya?' Maxime tetap mengamati polah Kirana yang menjadi hiburan tersendiri buat Maxime.
Maxime diam tak menyapa selama Kirana tak menyadari kehadirannya.
Dengan cekatan Kirana menyiapkan semua, hingga dia merasa ada yang memperhatikan.
Kirana menengok ke segala arah. Tapi tak ada siapapun.
"Aneh, kok aku merasa ada yang menatapku tadi," gumam Kirana menghentikan sejenak aktivitas mencuci peralatan dapur.
Ternyata Maxime pergi ke kamar setelah setengah jam memperhatikan Kirana memasak.
Lega hati Maxime saat mengetahui tak terjadi apapun pada Kirana.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
To be continued, happy reading
Pagi cerah matahari bersinar, mengawali puasa di hari pertama #Semakin hari semakin banyak penggemar, semoga naik popularitasnya
Sahur dengan ayam bumbu kecap, ditambah kerupuk bawang #Author selalu usahakan up, mohon selalu dukungan
Kirana sudah mengandung lagi
Maxime & keluarga besar sudah bahagia
terima kasih thor🥰🥰🥰
harus bersedih atau bahagia ini😁
siapa yg telpon Maxime ?
kunci semua rahasia Kirana & Kirani ada di tangan Morgan ? ayo temukan Morgan segera Ricky
Fighting
yang lagi ngidam rujak cingur😄
suruhan Maxime atau Axel ?