Selama bertahun-tahun kehidupan gadis kecil berusia 16 tahun itu sangat buruk. Selain dikurung di sebuah loteng sempit, dia juga dijadikan bank darah oleh keluarganya. Tidak sampai di sana, Alleta juga dijebak oleh keluarganya untuk melayani lelaki tua hanya demi keuntungan perusahaan ayahnya.
Hingga pada malam itu, dia berhasil melarikan diri dari tragedi yang akan menghancurkan hidupnya dan bertemu dengan pria dingin yang mengubah kehidupannya yang suram.
Akankah Alleta bisa hidup bahagia setelah mengikuti pria itu dan lepas dari keluarganya?
Dan apa yang terjadi jika Alleta tahu kalau orang yang selalu dia anggap keluarga ternyata bukan.
Bisakah dia menemukan keluarga aslinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selenophile, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Suasana di mansion Parker dalam keadaan sibuk, banyak pekerja berlalu lalang keluar rumah mengambil barang-barang berat dari halaman.
Amelia yang bertugas sebagai pengawas sangat ketat dalam mengawasi mereka karena takut barang-barang yang dia siapkan untuk putrinya akan rusak. Barang-barang itu merupakan semua keperluan putrinya, seperti pakaian yang dirancang oleh desainer langsung, boneka yang disukai gadis muda, tas bermerek dll.
"Hati-hati bawanya jangan sampai rusak,"pesan Amelia.
"Baik Nyonya."
"Nyonya kamar untuk Nona muda sudah siap. Silakan ke sana untuk memeriksa,"ucap pelayan.
Amelia bergegas ke lantai atas, dia pertama-tama mengamati ruang kamar yang sudah di desain oleh para perancang terkenal lalu mengangguk puas. Kamarnya sangat luas dan girly terdapat dua ruangan di dalamnya, satu ruang kamar mandi dan satu walk in closet untuk menyimpan berbagai pakaian, tas, sepatu, dan aksesoris.
"Semuanya segera bereskan barang-barang tadi ke tempatnya."
"Baik Nyonya." Para pelayan segera melakukan tugas mereka.
"Mommy, apa yang Mommy lakukan?" Suara bariton dan magnetis seorang pria terdengar dari arah pintu. Amelia yang kebetulan berdiri membelakangi pintu menoleh ke belakang, dia begitu terkejut melihat sosok pria yang tidak dikenal berdiri di ambang pintu.
"Kamu… siapa kamu? Bagaimana pengemis sepertimu bisa masuk! Di mana para penjaga kenapa membiarkan pengemis masuk. Dan jangan sembarangan panggil Mommy, saya tidak pernah memiliki anak sejelek kamu." Amelia mengerut jijik melihat penampilan pria di depannya yang seperti gelandangan, pakaian yang dikenakan robek dan kotor, rambut berantakan macam tak diurus, dan yang terpenting kulitnya gosong.
Untuk pertama kali dalam sejarah Gabriel yang dikenal dengan ketampanannya dikatai gelandangan oleh ibu tercinta setelah kembali dari Afrika. Seketika raut wajahnya berubah sedih.
"Mommy ini aku, Gabriel. Anak tertampan di antara semua lelaki dan lebih tampan daripada Daddy,"ucapnya narsis.
"Tidak mungkin! Tidak mungkin anakku Gabriel seperti ini, kamu pasti bukan Gabriel kan? Ngaku kamu!"tegas Amelia.
"Wajah anakku sangat tampan, kulitnya putih, rambutnya pendek sedangkan kamu… sangat berbanding terbalik dengan anakku. Kamu pasti penipu, kan?! Anakku tidak mungkin di sini, dia masih dihukum di Afrika untuk menambang."
Rasanya Gabriel ingin menangis saja saat ini, jika bukan karena ayahnya dia tidak mungkin tidak dikenali seperti ini.
Gabriel masih bersikeras menjelaskan kepada mommy, " Mommy ini benar-benar aku! Masa hukumaniku sudah selesai. Lihat ini, ini tanda lahirku."
Gabriel melorotkan setengah bajunya, memperlihatkan tanda lahir yang begitu cantik berbentuk kupu-kupu di pundaknya.
Ketika Amelia melihat tanda itu dia tertegun sejenak sekelebat ingatan yang terlupakan muncul kembali di memori otaknya. Dia ingat dulu saat melahirkan si kembar, dia pernah melihat tanda yang persis sama di salah satu tubuh mereka. Tapi di antara kedua anak itu tidak memilikinya dan dia tidak menyadari akan hal itu.
"Dasar bodoh! Jika saja aku sadar dari dulu, mungkin putriku sudah ada sini,"lirihnya dalam hati.
"Mommy!" Gabriel menjentikkan jari di depan wajah ibunya, memanggilnya dengan keras.
"Hah? Oh…. Tapi apa yang terjadi kenapa kamu bisa pulang dalam keadaan yang seperti ini?" Amelia kembali tersadar dan menelisik putranya dari atas ke bawah.
"Ini semua gara-gara Daddy kenapa aku harus dihukum ke sana kenapa tidak ke tempat lain saja. Selain itu aku juga hampir kecopetan waktu pulang ke sini tapi untungnya aku bisa mengatasinya,"keluh Gabriel menceritakan semua masalah yang dialaminya.
"Kasihan sekali anak Mommy, yaudah sana istirahat kamu pasti capek." Amelia memberi pelukan hangat untuk putra ketiganya.
"Selamat datang kembali son,"bisik Amelia lalu mengurai pelukannya.
"Ngomong-ngomong kamar siapa ini?"tanya Gabriel setelah mengamati kamar dengan nuansa girly ini.
"Kamar untuk putri Mommy."
"Mommy hamil lagi? Kapan kenapa gak bilang!"kejutnya dengan mata terbelalak.
Amelia menjitak kepala putranya, "Sembarangan! Ini untuk putri kandung Mommy, adik kamu yang sebenarnya."
"Hah adik? Bukannya adikku hanya Austin dan Sienna?" Gabriel menggaruk rambutnya yang tak gatal, raut kebingungan terpampang jelas di wajahnya.
"Kamu pasti belum tahu, sana istirahat dulu nanti Mommy ceritain." Yah tak heran sih Gabriel akan kebingungan, karena kan kebenarannya baru terungkap setahun yang lalu dan kebetulan putranya ada di Afrika untuk menambang.
"Tolong siapkan makanan untuk Tuan muda,"perintahnya pada salah satu pelayan yang berada dekat.
"Baik Nyonya."
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, hari hampir sore matahari sudah terbenam ke ufuk barat dan kamar yang sudah dirombak telah siap digunakan, hanya tinggal menunggu menjemput putrinya.
Sienna yang baru kembali dari sekolah sangat bersemangat melihat kamar yang didekorasi dengan indah. Kamar ini lebih baik daripada kamarnya.
"Mommy apa kamar ini untukku? Wah sangat bagus Mommy benar-benar tahu apa yang aku inginkan padahal aku gak pernah bilang ingin ganti kamar. Terima kasih Mommy aku mencintaimu." Dengan raut bahagia Sienna memeluk ibunya erat lalu berlari menjatuhkan tubuhnya di atas kasur empuk.
"Emm… sangat nyaman,"gumamnya.
Melihat keantusiasan Sienna, Amelia merasa bersalah. Dia tidak ingin membuatnya sedih tapi kamar ini untuk anaknya.
"Sayang, ini bukan untukmu,"kata Amelia.
"A-apa?!" Sienna bangun dari tempat tidur, memandang syok ibunya.
"Mommy jangan bercanda kalau bukan untukku memang untuk siapa lagi,"ucapnya tersenyum kaku, diam-diam kedua tangannya mengepal erat, firasat buruk mulai menghantuinya.
"Tidak mungkin anak itu ditemukan." Namun perkataan mommynya mematahkan segala harapannya.
"Ini untuk saudarimu. Tapi meskipun kami menemukan putri kami, kamu akan tetap menjadi anak kami,"ucap Amelia.
"Kalau begitu biarkan dia tinggal di kamar lamaku dan aku tinggal di sini!"tegas Sienna dengan menatap ibunya keras kepala.
"Sayang tapi ini untuk saudarimu, kalau kamu tidak puas dengan kamarmu Mommy akan meminta untuk merenovasi lagi, oke?" Amelia berusaha bersabar membujuk anaknya. Tak mungkinkan kamar yang dia rancang untuk putrinya diberikan begitu saja, itu akan sangat tidak sopan kalau putrinya tahu kamar yang dia tinggali bekas Sienna. Mungkin putrinya akan berpikir kalau mereka tidak memperlakukannya dengan sungguh-sungguh.
"Gak mau! Mommy bilang aku masih anakmu tapi kenapa minta kamar ini saja tidak boleh?! Ini hanya kamar, dia bisa tidur di kamar bekasku atau kamar lain!"
"Kalau kamu tahu ini hanya kamar, kenapa malah memperdebatkannya. Kamu sudah memiliki kamar sendiri dan ini milik saudarimu, jangan bersikap kekanak-kanakan kamu sudah dewasa, Sienna." Masih dengan setelan kantor Jayden yang berdiri di pintu sudah masuk ke kamar, merangkul istrinya dan menatap tajam putrinya.
Di bawah tekanan ayahnya Sienna merasa tubuhnya terguncang, dia menggertak gigi penuh kebencian.
"Kalian semua jahat! Aku benci kalian!"teriaknya kemudian berlalu pergi menuju kamarnya.
"Nona Sienna!" Bi Rani buru-buru menyusul nonanya.
"Sienna!"
Jayden mencekal pergelangan tangan istrinya yang hendak pergi.
"Jangan menyusulnya."
"Tapi Sienna…."
"Biarkan dia sendiri, kita tidak perlu membujuknya. Biarkan dia mengerti kalau bahwasanya semua yang diinginkan tak bisa selalu ia dapatkan."
perasaan udh 1bln lebih gk up'lg