NovelToon NovelToon
Tahanan Sang Konglomerat

Tahanan Sang Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / CEO / Obsesi
Popularitas:740
Nilai: 5
Nama Author: Buana

Monique "Momo" Salim — gadis Tionghoa dari gang sempit Pecinan Semarang, anak haram yang dijual ayahnya sendiri, tabungan Rp 300.000 — terbangun di sebuah pulau mewah yang tak pernah ada di peta mana pun.
Di hadapannya berdiri seorang pria yang menguasai separuh ekonomi Asia Tenggara.
Renard Aurelius Widjaja.
CEO Widjaja Group. Konglomerat paling berkuasa — dan paling berbahaya — di Indonesia. Matanya amber seperti matahari terbenam, tapi tatapannya lebih dingin dari es.
"Kamu milikku," katanya. Bukan pertanyaan. Bukan permintaan. Itu pernyataan.
Momo dikurung. Bajunya diganti. Ponselnya disita. Satu-satunya yang tersisa: setengah gelang sakura di pergelangan tangannya — dan ingatan samar tentang pil putih yang memulai segalanya.
Tapi Momo bukan gadis yang mudah tunduk.
Di balik tembok emas penjara Renard, ada rahasia yang lebih gelap dari obsesinya:
— Seorang hacker jenius yang menawarkan kebebasan... dengan harga yang tak terduga.
— Sebuah password sembilan huruf yang menyimpan cinta bertahun-tahun.
— Dan kebenaran tentang keluarga Widjaja yang bisa menghancurkan segalanya.
Ketika cinta paksa berubah menjadi cinta sungguhan — siapa yang sebenarnya menjadi tahanan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

Bab 23: Bekas Luka yang Tersembunyi

Anthony menelepon pagi itu dengan nada terlalu ceria.

"Momo, kau bisa bantu ganti perban Renard?"

Momo hampir tersedak air. "Kenapa aku?"

"Karena Albert sedang mengurus pengawal penyusup, pelayan takut pada Renard, dan Renard akan merobek perbannya sendiri kalau tidak diawasi."

Dari sofa, Renard menatap layar dengan wajah datar. "Aku tidak perlu dia."

"Bagus. Berarti perlu." Anthony tersenyum lebar. "Aku pandu lewat video. Jangan banyak bergerak, pasien menyebalkan."

Momo ingin menolak. Namun ingatan tentang empat gigitan ular, napas Renard yang tersendat, dan kalimat "Maka ajari aku cara lain" masih terlalu segar.

Akhirnya ia duduk di samping Renard dengan kotak perban.

"Buka kemejamu," katanya, suara sengaja datar.

Alis Renard naik sedikit.

Momo sadar terlambat. Wajahnya panas. "Untuk perban."

"Aku tidak mengatakan apa-apa."

"Matamu mengatakan."

"Mataku memang sering bersalah."

"Diam."

Renard membuka kancing kemejanya dengan satu tangan. Gerakannya lebih lambat karena luka, tetapi tetap membuat Momo terlalu sadar pada jarak. Ketika kain hitam itu jatuh dari bahunya, Momo melihat perban di lengan, bekas gigitan di sisi tubuh, dan otot yang masih tegang di bawah kulit pucat.

Lalu ia melihat punggungnya.

Jari Momo berhenti.

Di sana ada bekas luka lama.

Bukan satu. Banyak.

Garis-garis tipis seperti cambukan. Bekas bakar kecil yang membulat. Luka panjang yang sudah memutih, menyilang dari bahu ke tulang belikat. Tidak ada yang terlihat seperti luka bisnis atau kecelakaan biasa. Ini jejak seseorang yang pernah disakiti perlahan, berulang, dengan niat.

Renard merasakan perubahan udara.

Tubuhnya menegang.

"Jangan tanya."

Momo menelan ludah. "Aku tidak bertanya."

Ia membuka perban lama di lengan Renard dengan hati-hati. Kulit di sekitar gigitan masih merah. Tangannya gemetar sedikit, bukan karena luka baru itu, melainkan karena luka lama yang tidak bisa ia pura-pura tidak lihat.

"Tapi aku melihat," katanya pelan.

Renard menatap jendela.

Hening panjang.

Anthony di layar tidak bersuara. Untuk sekali ini, bahkan Dok yang cerewet tahu kapan harus diam.

"Sekarang kau tahu," kata Renard akhirnya, "aku bukan hanya monster."

Momo menatap punggungnya.

"Aku juga pernah jadi korban."

Kalimat itu jatuh tanpa permintaan kasihan. Justru karena itu, Momo merasa dadanya sakit.

Ia menempelkan perban baru, menekan tepinya perlahan. "Korban tidak harus menjadi monster."

"Kadang hanya itu yang tersisa."

"Tidak," kata Momo. "Kadang itu hanya alasan."

Renard menoleh. Mata mereka bertemu.

Momo kira ia akan marah. Renard justru diam, seolah kalimat itu masuk ke tempat yang terlalu dalam.

Pintu terbuka.

Albert masuk dengan wajah lebih keras dari biasanya.

"Tuan."

Renard langsung kembali menjadi Renard yang lain. Kemejanya belum tertutup, tetapi suaranya sudah dingin. "Apa?"

"Sen hidup."

Momo merasa perban di tangannya hampir jatuh.

Albert melanjutkan, "Tim hotel menemukan darah di area kolam, tapi tubuhnya hilang sebelum diamankan. Ada jejak evakuasi. Lokasi saat ini tidak diketahui."

Suhu ruangan turun.

Renard mengancingkan kemejanya perlahan. Rahangnya mengeras, tetapi matanya tidak terkejut.

"Dia selalu sulit mati."

Momo menatapnya. "Kau tahu dia mungkin hidup?"

"Aku berharap dia mati."

Kejujuran itu dingin.

Namun Momo tidak bisa sepenuhnya menyalahkannya.

Sen pernah melepaskan tangannya di tebing. Sen juga pernah tersenyum saat menawarkan pulang.

Albert menatap Momo sebentar, lalu kembali ke Renard. "Keamanan akan dinaikkan lagi."

"Lakukan."

Setelah Albert keluar, Momo berdiri dengan kotak perban kosong. Di antara mereka, nama Sen seperti pisau yang baru diasah.

Renard menatapnya.

"Jika dia datang lagi, jangan sembunyikan dariku."

Momo tidak menjawab.

Momo membersihkan luka di punggung Renard dengan kapas basah.

Ia sudah melihat bekas gigitan ular. Ia sudah melihat luka tembak kecil dari masa lalu. Tetapi bekas luka lama di punggungnya berbeda. Garis-garis putih dan gelap saling silang, beberapa terlalu rapi untuk kecelakaan, beberapa terlalu dalam untuk hukuman biasa. Kulit Renard yang biasanya terasa seperti baju zirah ternyata menyimpan peta penyiksaan.

"Siapa?" tanya Momo sebelum sempat menahan diri.

Renard duduk membelakanginya, kemeja turun sampai pinggang. Bahunya tidak bergerak. "Banyak orang."

"Jawaban yang sangat tidak membantu."

"Kau ingin daftar nama?"

"Aku ingin tahu apakah Rayner termasuk."

Diam.

Momo mendapatkan jawabannya.

Tangannya berhenti di atas bekas luka panjang dekat tulang belikat. "Dia ayahmu."

"Ayah bisa menjadi jabatan, bukan keluarga."

Kalimat itu membuat Momo teringat Gunawan. Pria yang bisa tersenyum sambil menjualnya. Pria yang memakai darah sebagai dokumen hutang.

"Aku juga pernah jadi korban," kata Renard tiba-tiba.

Momo menatap punggungnya.

"Itu bukan izin untuk menjadikan orang lain korban," jawabnya pelan.

"Aku tahu."

"Benarkah?"

Renard menoleh sedikit. "Aku sedang belajar darimu."

Kapas di tangan Momo hampir jatuh.

Pria ini berbahaya bahkan ketika mengaku belajar. Ia bisa membuat kalimat sederhana terdengar seperti jerat yang hangat.

Sebelum Momo sempat menjawab, Albert mengetuk pintu dan masuk setelah izin. Wajahnya lebih serius dari biasa.

"Sen hidup," katanya.

Ruangan terasa langsung dingin.

Renard berdiri terlalu cepat. Momo menahan napas melihat tubuhnya hampir goyah, tetapi pria itu menolak terlihat lemah.

"Di mana?"

"Belum pasti. Tubuhnya tidak ditemukan setelah jatuh ke kolam hotel. Ada darah di saluran pembuangan barat. Seseorang membantunya keluar."

Momo merasakan tengkuknya dingin.

Sen hidup.

Pria yang melepaskan tangannya hidup.

Seharusnya ia takut. Ia memang takut. Tetapi di bawah takut itu ada rasa lain yang tidak ia sukai: kebutuhan untuk mendengar jawaban langsung dari mulut Sen. Kenapa. Bagaimana ia bisa memilih. Apakah matanya saat itu benar-benar meminta maaf.

Renard menatap Momo.

Ia membaca semuanya terlalu cepat.

"Jika dia datang kepadamu," katanya, "jangan sembunyikan dia."

"Aku tidak punya alasan untuk menyembunyikannya."

"Kau punya hati yang terlalu keras kepala."

"Dan kamu punya prasangka terlalu banyak."

"Aku punya pengalaman."

Momo mengikat perban terakhir di bahunya lebih keras dari perlu. Renard tidak mengeluh.

"Kalau dia datang," kata Momo, "aku akan memutuskan sendiri."

Tatapan Renard menggelap. "Tidak untuk dia."

"Untuk semua orang."

Mereka saling menatap. Di antara mereka ada luka lama di punggung Renard, nama Sen yang hidup kembali, dan tangan Momo yang masih memegang perban. Tangan itu bisa mengikat luka. Bisa juga membuka pintu.

Momo belum tahu mana yang akan ia lakukan.

Setelah Albert pergi, Momo tetap berdiri di belakang Renard.

"Kamu takut aku akan menolong Sen," katanya.

"Ya."

"Setidaknya jujur."

"Aku selalu jujur pada hal yang membuatku buruk."

Momo menatap perban yang baru ia ikat. "Kalau suatu hari aku menolongnya, bukan berarti aku memilih dia."

"Bagi pria seperti Sen, itu cukup."

"Dan bagi pria sepertimu?"

Renard menoleh. "Bagiku, kau bernapas ke arah pria lain saja sudah cukup membuatku ingin menghancurkan ruangan."

Momo tercekat.

Kalimat itu mengerikan.

Lebih mengerikan lagi karena ia mengatakannya tanpa menyentuh Momo, seolah sedang menahan diri dengan seluruh kekuatan yang tersisa.

"Itu bukan cinta sehat," kata Momo.

"Aku tidak pernah menjanjikan sehat."

"Maka jangan heran kalau aku takut."

"Aku tidak heran." Suaranya turun. "Aku hanya belum belajar bagaimana berhenti."

Karena ia belum tahu apakah hatinya cukup bersih untuk memilih benar ketika orang yang salah datang dalam keadaan terluka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!