NovelToon NovelToon
Lelaki Rumah Sebelah

Lelaki Rumah Sebelah

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Duda / Diam-Diam Cinta / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cerai / Keluarga & Kasih Sayang / Tamat
Popularitas:45k
Nilai: 5
Nama Author: NurAzizah504

Berprofesi sebagai seorang penulis, Dinara berharap kisah cintanya akan semanis novel yang ditulisnya. Akan tetapi, menemukan seseorang yang tepat tidaklah semudah saat kita menulis cerita. Kisah cinta yang penuh lika-liku membuat Dinara belum juga menikah meski usianya hampir menginjak kepala tiga.

Kehidupan Dinara semakin bertambah kacau saat Mama mulai mencampuri urusan asmaranya. Jika dalam waktu tiga bulan Dinara belum juga mendapatkan lelaki yang tepat, terpaksa dirinya harus menerima pria yang mamanya jodohkan.

© 2023 | Nur Azizah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NurAzizah504, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Agam Ke Mana?

"Pa, wake up, please, Papa. I'm hungry. Papa ...."

Lima menit sudah Agam mencoba membangunkan Adam. Berusaha mengguncangkan tubuhnya agar mata Adam terbuka sekali saja. Namun, Agam perlu usaha yang lebih keras lagi. Karena di menit-menit berikutnya, Adam masih betah dalam posisi nyamannya.

"Papa, Agam lapar. Papa bangun, dong!"

"Euh ...." Adam bersuara, tetapi matanya tidak terbuka. Dengan posisi tidur telungkup, ia berkata lemah, "Lima menit lagi, Gam. Papa masih ngantuk."

Tentu saja Agam tak terima. Ia memukul-mukul punggung Adam, membuat pria dewasa itu meringis dengan suara serak yang tertahan. "Agam lapar, mau makan."

"Di kulkas ada buah dan roti. Kamu makan itu dulu, ya," bujuk Adam supaya Agam tak lagi mengganggunya. Karena saat ini, Adam benar-benar sulit untuk membuka matanya. Ia masih mengantuk walau jarum jam telah melewati angka delapan pagi.

"Tapi, Agam maunya sup ayam," balas Agam lengkap dengan rengekan. Namun, jangankan bangun dari tidur, membuka mata saja tidak.

"Papa ...." Agam memanggil untuk terakhir kali. Mendapati sang ayah yang nyaman-nyaman saja bagai tak terusik sama sekali, ia pun memilih untuk keluar dari kamar bernuansa gelap tersebut.

Kesal dan marah, adalah dua hal yang menemani hentakan langkahnya sampai ke teras depan. Ia mencak-mencak lantaran Adam yang tak mau bangun dan membuatkan sarapan untuknya. Padahal, ini adalah waktunya untuk makan dan ia kelaparan sekarang.

"Good morning, Gam. Lagi kenapa, tuh?" tanya sebuah suara riang dari arah pagar pembatas rumah.

Anak laki-laki yang berada dipuncak kekesalannya itu menoleh pelan. Mendapati Dinara dengan senyum lebar khas keibuan.

"Agam lagi kesal."

Kerutan di dahinya pun muncul dan Dinara makin mendekat ke arahnya. "Kenapa? Apa yang membuat Agam kesal?"

"Agam lapar, tapi Papa gak mau bangun buat masakin sup ayam," adu si anak dengan bibir maju beberapa senti.

Lucu sekali.

"Gimana kalau Agam sarapan di rumah Aunty? Kebetulan banget Aunty habis belanja buat bikin sup ayam." Sambil mengangkat keranjang belanjaannya, Dinara memberikan tawaran hangat yang sangat menggiurkan.

"Tapi, Agam belum mandi. Papa gak bakal ngebolehin Agam keluar rumah, Aunty."

"Sebentar doang, kok, Gam. Lagian ini cuma di rumah Aunty."

Akhirnya, Agam menganggukkan kepala. Ia berlari-lari kecil keluar dari pagar rumah hingga tiba tepat di depan Dinara.

Anak itu mengulurkan tangan dengan sendirinya. Dengan senyum yang lebar pula, Dinara menyambut baik dan mengajaknya untuk masuk ke dalam.

"Aunty belanja di mana? Kang Umar, ya?"

"Iya, tadi gerobak Kang Umar berhentinya di depan rumah Bu Gita. Kamu kenal juga, ya?"

Agam mengangguk dan berkata, "Tapi, Papa gak pernah belanja di sana. Lebih enakan di supermarket katanya."

Keduanya tiba di ruang tamu yang simple dan bersih. Pasalnya, tak banyak perabotan yang memenuhi ruang tersebut. Selain TV LED, sofa panjang berbentuk huruf L, sebuah meja kaca, dan lemari dengan panjang dua meter pada dinding di belakangnya.

Agam memutar pandangan. Sontak kedua matanya terbuka lebih lebar saat mendapati sebuah piano berwarna cokelat gelap. Alat musik berbadan besar itu terdapat pada sudut rumah, di bawah tangga yang membawa ke kamar Dinara. Ketika pertama kali mengunjungi rumah ini, piano tersebut tidak ada di sana. Namun, entahlah. Mungkin saja Agam yang tak teliti saat melihatnya.

"Itu piano punya siapa?"

"Hm?" Pandangan Dinara mengikuti arah telunjuk Agam. "Oh, piano itu punya mamanya Aunty. Dulu, Mama Aunty itu guru les piano. Tapi, Aunty sendiri malah gak bisa main."

"Agam bisa. Mau liat gak?"

Tentu saja. Ekspresi antusias Dinara, menjawab segalanya.

"Tapi, nanti, ya, setelah Agam sarapan. Karena kalau dalam perut lapar, bakalan susah buat konsentrasi."

Sontak tawa lebar menguar dari mulut Dinara. Anak ini bisa saja. Ucapannya sudah seperti remaja yang beranjak dewasa.

Tanpa memperpanjang obrolan, Dinara langsung menuju area dapur. Ia mengeluarkan sayur-sayuran segar dari dalam keranjang dan menyusunnya ke atas meja.

Tanpa perlu melihat resep atau tutorial, sup ayam pun mulai dibuat.

"Aunty gak takut tinggal di rumah ini sendirian?"

Dinara menoleh dan tersenyum tipis saat menemukan Agam yang duduk manis pada salah satu kursi di meja makan.

"Enggak. Soalnya Aunty bukan orang penakut."

"Agam juga ngomong gitu waktu Papa lagi banyak kerjaan di kafe dan Bi Iga gak bisa nginap di rumah. Tapi, Papa tetap gak ngizinin Agam sendirian."

"Itu lain, Gam. Agam masih kecil, sedangkan Aunty udah dewasa," jelas Dinara seraya mengupas kentang dan memotongnya dengan bentuk yang sama.

"Agam juga mau jadi orang dewasa. Biar semuanya bisa dilakuin sendiri. Kalau lapar, Agam bisa langsung masak tanpa harus bangunin Papa."

"Pinter banget, sih, kamu? Jadi makin sayang, deh."

Agam menyembunyikan senyum dengan cara menundukkan kepala. Mendapat pujian dari Dinara, perasaan bahagia membuncah dalam dadanya.

Rasa-rasanya Agam jadi ingin menunjukkan semua bakat terpendamnya.

Biar dapat pujian terus, begitu batinnya.

Sementara itu, Adam menggeliat karena cahaya matahari yang menembus gorden, mengarah tepat ke wajahnya. Tidurnya terganggu, mengharuskan ia untuk segera bangun dan memandangi jarum jam yang melewati angka sepuluh.

Turun dari kasur, Adam berjalan ke kamar mandi untuk sekadar mengguyur tubuh dengan air dingin. Sampai detik ini, ia masih belum sadar kalau Agam tidak ada di rumah.

Siap mandi dan mengganti pakaian dengan kaus putih dan celana hitam, ia melangkah ke luar kamar. Ia merasakan kesunyian yang sangat pekat. Karena kemarin, dia mengatakan kepada Bi Iga agar libur saja hari ini.

Niatnya ingin quality time sama Agam. Namun, mana tahu kalau malam tadi Adam kesulitan untuk tidur.

Setelah bertemu Dinara di balkon kamar, mereka pun mengobrol sebentar. Saat gadis itu berpamitan untuk masuk, Adam tetap berdiri di sana.

Lewat tengah malam, baru ia kembali ke kamar. Dan, baru bisa terlelap saat jarum jam menyentuh angka tiga.

"Gam, where are you?"

Adam memanggil dengan suara nyaring. Membuka pintu kamar Agam dan mengecek sampai ke dalam.

Anak itu tidak di sana. Kamar bernuansa biru itu terlalu sepi dan sunyi. Ia juga mengetuk pintu kamar mandi dan hasilnya tetap sama.

Selesai di sana, Adam mulai melakukan pencarian di lantai bawah. Dimulai dari ruang tamu, ruang kerja, dua kamar kosong lainnya, dapur, dan halaman belakang. Namun, jangankan melihat tubuh mungil Agam, suaranya saja tidak.

"Itu anak ke mana, sih?" Adam berdiri berkacak pinggang antara sekat yang memisahkan ruang tamu dan area dapur. "Mungkin di halaman depan kali, ya?"

Dan, kedua tungkainya pun berjalan ke arah diinginkannya.

Sama seperti di dalam, di luar pun tampak kosong. Anak laki-laki itu tidak berada di garasi ataupun gazebo. Sebenarnya, ke mana perginya dia?

"Gam! Agam! Di mana kamu, Nak?"

Kali ini, Adam memutuskan untuk berteriak. Perasaan cemas dan khawatir mulai melanda dirinya. Berbagai kemungkinan buruk terpikir olehnya. Dan, pada akhirnya, ia hanya bisa menyesali satu hal.

Jika saja dirinya tidak lanjut tidur saat dibangunkan olehnya, mungkin saja anak itu masih berada di rumah, menikmati sup ayam hangat buatannya.

* * *

1
Muanisah Jariyah
kasian mas arhan jadi sad boy
Bening
arhan km memang cwok sejati...
sequel cerita arhan, dong
NurAzizah504: Kapan2, yaa. Nunggu idenya dulu /Sob/
total 1 replies
Bening
arhan sm q ajah, ok
NurAzizah504: Doain Arhan move on dulu /Joyful/
total 1 replies
Bening
kinara ada2 ajah
NurAzizah504: /Joyful/
total 1 replies
Bening
kata2 ini bkin q tersentuh
NurAzizah504: Iya, nih, Kak. Wisnu emg the best
total 1 replies
Bening
kok ada bau2 gk sedap ini, dengan keadaan adam selanjutnya
NurAzizah504: Wahh, apa ituuu
total 1 replies
Bening
adam mknya jgn sakiti dinara, noh anak nya gk mau sm km lgi
NurAzizah504: Adam kapok, tuh /Joyful/
total 1 replies
Bening
arhan selalu jd penyelamat
NurAzizah504: Beruntungnya Dinaraaa
total 1 replies
Bening
adam lo lupain sherly, dong
NurAzizah504: Siap2, hahaha
total 1 replies
Bening
sherly loe gila
NurAzizah504: Sangat
total 1 replies
Bening
ayo adam km bisa kok milikin dinara seutuh nya
NurAzizah504: Pastinya, dong
total 1 replies
Bening
thp bicara serius antara adam dan arhan
Bening
adam yang tegas dong, jadi cwok
NurAzizah504: Iya, nih. Jangan lembek, Dam /Joyful/
total 1 replies
Bening
arhan come back
Bening
adam, si sherly itu rubah licik
NurAzizah504: Sangat sangat licik /Proud/
total 1 replies
Bening
sherly km mau gunain akal licik apalagu
NurAzizah504: Gatau, nih. Ada aja ide jahatnya /Sob/
total 1 replies
Bening
dinara mau aku bantu jawab pertanyaan nya
NurAzizah504: Wah, boleh bgt, dong, ya /Joyful/
total 1 replies
Bening
ciuman kok nanggung
falea sezi
cerita nya aneh ada yg tulus malah milih yg munafik gk menarik
NurAzizah504: Waduh, maaf bgt kalo ceritanya jauh dari ekspetasi Kakak /Frown/
total 1 replies
falea sezi
dinara gatel bgt
NurAzizah504: Waww /Blush/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!