Alya Renatha tak pernah menyangka akan diceraikan oleh Leonhart Varellion, CEO dingin dari Leonhart Corporation yang menikahinya tanpa cinta. Saat ia pergi dari hidup pria itu, Alya tidak tahu bahwa dirinya sedang mengandung anak kembar tiga.
Bertahun-tahun berlalu. Alya kembali ke kota itu bersama ketiga putranya. Tanpa sengaja, mereka bertemu dengan Leon di sebuah lobi hotel.
“Om, mau nggak jadi Papa kami?” tanya ketiga bocah itu serempak—membuat Leonhart Varellion terpaku dengan tatapan datar, karena wajah mereka mirip dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julian_06, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehamilan
2 bulan kemudian.
"Selamat Nyonya Alya, anda hamil anak kembar tiga."
Jantung Alya seolah terhenti dan dia tak menyangka hamil padahal tidak ada tanda-tanda kehamilan padanya, mual dan muntah pun tidak.
"Dokter, kupikir aku hanya mengalami gangguan menstruasi dan aku juga tidak merasakan mual atau muntah."
"Nyonya Alya, kondisi pada ibu hamil memang berbeda-beda. Ada yang mengalami gejala tersebut dan ada yang tidak mengalaminya.
Anda lihat sendiri pada USG kali ini, usia kandungan anda sudah 8 minggu dan ini ketiga bayi anda yang tubuhmu sudah mulai terbentuk," jelas dokter itu.
Alya memandang layar monitor, satu bayi saja bisa membuat suaminya marah apalagi ada tiga bayi sekaligus.
"Oh iya, saya ingin bertanya luka di bagian sisi perut anda dan di belakang punggung anda itu luka apa? Kenapa bisa memar?" tanya dokter dengan penasaran.
"Oh, luka ini hanya memar biasa. Saya terjatuh tapi sekarang sudah baikan," jawab Alya."Benarkah? Luka ini seperti luka pukulan benda tumpul. Apa anda yakin tidak mendapat KDRT dari suami anda?"
Alya menggelengkan kepalanya. "Ini luka bekas terjatuh dan suami saya sangat sayang pada saya. Anda jangan khawatir!"
Tentu saja bekas luka itu diberikan kepada Leon , terakhir kali Alya dipukul menggunakan tongkat baseball dan dihempas ke tepi bak mandi. Alya tidak berani melapor kepada Kakek Alfred karena Leon mengancam akan menyakiti neneknya jika Alya berani mengadu atau lapor polisi.
Setelah dari dokter kandungan, Alya keluar dari gedung rumahsakit itu lalu menghela nafas panjang.
"Hah! Aku hamil dan kembar tiga, jika Leon tahu pasti dia akan membunuh anak ini. Aku harus bagaimana?"
Saat bersamaan ponsel Alya berdering, rupanya dari ibu mertuanya yaitu Riana.
"Di mana kamu? Kakek ingin bertemu denganmu."
"Baik, Bu. Saya akan segera ke sana."
Akhir-akhir ini Alfred memang dirawat di rumah sakit karena penyakit jantung yang terus menggerogoti usianya. Alya lekas naik bus menuju ke rumah sakit tempat kakek mertuanya dirawat, dia berharap beliau baik-baik saja karena selama ini beliau sangat baik kepadanya.
Setibanya di rumah sakit tersebut, Alya langsung ke ruang ICU. Keadaan Alfred sangat kritis dan nafasnya sangat berat, Alya mendekat dan tangan Alfred menggenggamnya.
"Alya...."
"Kakek...."
"Kamu bahagia dengan Leon?"
Alya mengangguk walau sebenarnya tidak.
"Kakek sudah tidak bisa mengawasi kalian lagi terutama Leon tapi Kakek yakin kalian akan terus hidup bersama sebagai pasangan suami istri walau kakek sudah tidak ada."
Air mata Alya mengalir.
"Alya, sampaikan kepada nenekmu jika aku masih mencintainya. Dia adalah cinta pertamaku."
"Aku akan sampaikan kepada Nenek," jawab Alya.
Rafael menarik Alya dan mendekati sang ayah, mereka lalu bercakap-cakapan dan menyebut nama Leon. Tak berselang lama nafas kakek mulai berat, anggota keluarga yang lain pun juga tak kalah ikut bersedih.Ayah!"
Alfred meninggal dunia, tangisan keluarga itu menggema. Alya mundur perlahan dan mengusap air matanya, dia harus kehilangan orang yang paling baik di keluarga ini dan sekarang dia harus berjuang sendiri menghadapi kejamnya Leon.
Pemakaman dilakukan hari itu juga, wajah mereka yang setelah keluar dari rumah sakit sangat sedih sekarang menjadi ceria. Tentu saja, kepergian Alfred meninggalkan banyak warisan terutama untuk Leon selaku cucu pertamanya.
"Kenapa nggak dari awal matinya, bikin repot saja," ketus Riana. Alya heran kenapa mereka bisa begitu serakah dan tamak padahal harta Alfred sangat banyak.
Leon juga tidak datang ke pemakaman bahkan saat di rumah sakit tadi batang hidungnya juga tidak terlihat.
Acara pemakaman berlangsung pilu bagi Alya, dia terus menangis. Sementara Riana hanya menatap sinis kepada menantunya itu apalagi selama ini Alfred terlalu baik kepada gadis tersebut.
Setelah acara pemakaman selesai, Alya memutuskan untuk pulang ke apartemen karena dia kelelahan. Siapa tahu juga dia bisa membaringkan diri di atas tempat tidur yang empuk.
Tapi siapa sangka? Saat dia baru membuka pintu terdengar desahan. Jantung Alya berdegup dengan kencang dan dia sudah menebak siapa yang melalukan itu. Mata Alya terbelalak, dia saja belum pernah bercumbu dengan suaminya di tempat tidur itu tapi Leon malah tidur bersama Miki di sana.
"Leon!"
Miki terlonjak kaget, dia langsung menarik selimut dan menutupi tubuhnya yang polos.
Sementara Leon hanya melirik kesal kepada Alya yang sudah mengganggunya.
"Sialan! Siapa suruh kamu masuk ke kamarku?" tanya Leon .
"Ini kamar kita, kamar pengantin kita," jawab Alya sudah meneteskan air mata.
Leon mendekat dan menjambak rambut Alya, gadis itu rupanya sudah hilang kesabaran kepada suaminya itu apalagi saat sang kakek tiada Leon malah asyik bercumbu dengan selingkuhannya.
"Kenapa matamu melotot?" tanya Leon.
"Setidaknya kamu datang ke pemakaman Kakek," ucap Alya.
"Oh! Sekarang sudah berani mengaturku?"
Diam-diam Miki kabur, dia tidak mau terlibat pertengkaran suami istri itu.
Leon lalu menghempas Alya ke lantai dan Alya melindungi perutnya. Dia tidak mau ketiga bayinya sampai kenapa-kenapa karena ulah ayahnya sendiri..
"Aku sangat muak padamu! Selama dua bulan ini aku selalu menahannya dan saat inilah waktu yang tepat. Kakek sudah tidak ada dan dia tidak bisa mengatur kehidupanku lagi. Mulai sekarang aku menceraikanmu! Kamu pergi dari sini dan kamu tidak akan mendapatkan sepeserpun dariku," ucap Leon.
"Kamu memang pengecut,"jawab Alya.
"Apa kamu bilang?!"
"Kamu pengecut, kamu hanya takut pada Kakekmu saja dan hanya ingin merebut harta miliknya.
Sebagai pria kamu memang tidak punya harga diri."
Leon yang sudah habis kesabaran menyeret paksa Alya masuk ke dalam kamar mandi.
Alya disiram menggunakan air dingin sementara kemarahan suaminya sudah menggebu-gebu.
"Harusnya aku tidak menikahimu, Sialan! Kamu membuat dua bulanku menjadi neraka!" kata Leon.
Alya kali ini mencoba melawan, dia berdiri dengan kaki yang bergetar kemudian melempar tempat sampah ke arah wajah suaminya itu. Leon yang hilang akal langsung memukuli wajah Alya , sementara gadis itu melindungi bagian perutnya supaya tidak dilukai oleh pria keparat itu.
"Leon!"
Rafael langsung menyeret putranya keluar dari kamar mandi.
"Apa yang kamu lakukan?
Kurang selangkah lagi kamu akan menjadi direktur. Jangan kotori tanganmu! Sekarang kamu bisa menceraikannya tanpa harus melukainya," jelas Rafael.
Leon melihat ke arah Alya yang wajahnya sudah terluka. "Apa yang aku lakukan? Bagaimana ini, Pah?"
"Kita bungkam dia dengan uang dan suruh dia pergi dari kota ini," jawab Rafael.
Sungguh biadab! Bapak dan anak itu tega menyingkirkan Alya demi sebuah harta warisan.
Leon mendekati Alya dan berjongkok di depannya. Alya ngos-ngosan dan tidak bisa berbuat ара-ара.
"Tenang, Pah! Aku akan membuang sampah ini pada tempatnya," kata Leon sambil berjongkok di depan Alya.
knp Fared kesetanan liat badut itu 😡😡😡