NovelToon NovelToon
OH YES MY SUGAR DOCTOR!

OH YES MY SUGAR DOCTOR!

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Hamil di luar nikah / Cerai / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:38.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dara85

“Kamu bukan mandul, Jani... Dia aja yang nggak ngerti caranya bikin anak.”
Pandu berbisik di telinga Anjani—tepat setelah tubuhnya gemetar dalam pelukan pria yang benar-benar tahu letak gairah dan luka.

Anjani duakan dan dicerai di hari anniversary pernikahan. Ditampar kenyataan pahit: suaminya berselingkuh dengan mantan dan mertuanya menyalahkan rahimnya yang dianggap “kosong”.
Padahal yang kosong... bukan rahimnya, tapi hati suaminya.

Datanglah Pandu—teman suaminya, seorang dokter kandungan, dan lelaki yang diam-diam sudah jatuh cinta sejak lima tahun lalu.

Dan malam itu, di bawah cahaya temaram dan bisikan lembut, Pandu membuktikan semuanya,
Bahwa tubuh Anjani subur.
Bahwa luka Anjani bisa sembuh.
Dan bahwa cinta yang dalam bisa mengisi tempat yang selama ini tak pernah disentuh dengan benar.

Satu kali disentuh Pandu... dua garis merah muncul. Dan hidup Anjani tak akan pernah sama lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dara85, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SELAMAT DATANG BABY NOAH

Sementara Anjani dalam proses pemulihan pasca melahirkan. Pandu menggendong anaknya, tepat di atas dadanya, dengan membuka beberapa kancing kemeja miliknya atau yang biasa disebut dengan skin to skin.

Bayi bisa merasakan detak jantung ayahnya dan juga merasa hangat dan lebih mendekatkan hubungan darah.

Noah artinya Tenang dan Menghibur.

Setelah itu, ia memberikan anaknya pada istrinya, mengingat kolostrum telah keluar dari kedua puting payudaranya.

Nadia mendekati mereka dan duduk di sampingnya.

“Duduk sini aja, Ma,” ucap Pandu sambil memberi ruang untuk Nadia duduk di ranjang pasien.

“Makasih, Pandu. Selamat ya untuk kalian,” ucap Nadia dengan rona bahagia dan air mata yang jatuh membasahi pipinya. Suaranya bergetar karena terharu.

“Jangan nangis dong, Mama,” bisik Anjani sambil memberi ASI pada Noah yang mulai tenang di pelukannya. Pandangannya lembut penuh kasih.

“Mama seneng liat kalian. Pinter banget lahirannya, sepi, nggak gaduh. Makasih ya... pinter banget sih kamu,” ucap Nadia pada Pandu saat Pandu memberikan tisu untuk mengusap air matanya. Ia merasa bangga sekaligus haru.

“Nggak lah, Ma... pinter juga Jani,” ucap Pandu sambil menatap istrinya dengan kagum dan cinta yang tak terucap.

“Mas, itu baju nggak dikancing lagi? Sengaja? Mau pamer otot perut sama pasien kamu?” ucap Anjani yang mulai terlihat posesif. Senyumnya mencuat meski matanya sedikit menyipit curiga.

“Ooh... maaf, lupa sayang,” ucap Pandu sambil segera mengancingkan pakaiannya, wajahnya sedikit tersipu.

“Pura-pura lupa kan, Mas?” Anjani menyipitkan mata dan mencubit pelan tangan suaminya.

“Nggak yang...” sahut Pandu dengan ekspresi tak bersalah.

“Awas macem-macem ya? Kamu nggak usah sentuh aku,” ucap Anjani sambil memeluk Noah lebih erat, seolah memberikan peringatan manis.

“Eh... hahaha, kok gitu, Yang? Kan udah dikancing,” sahut Pandu sambil memeluk Anjani dari samping, mencoba meluluhkan suasana dengan pelukannya.

“Aku ke administrasi dulu ya,” ucap Pandu lembut.

“Jangan lama...” sahut Anjani sambil menatapnya penuh harap, tak ingin ditinggal lama-lama.

“Enggak, Yang. Ma, Pandu ke luar bentar ya, Ma?” pamit Pandu pada mertuanya.

“Oke...” sahut Nadia singkat sambil menepuk punggung cucunya pelan. Ia tersenyum bahagia melihat anak dan menantunya saling menyayangi.

Kemudian, Pandu mendatangi ruang administrasi. Tak lama kemudian, datang orang tua Pandu untuk melihat cucu pertama mereka.

“Wah... udah lahir cucu Mbah... selamat ya,” ucap Martha dan Brawijaya dengan senyum lebar penuh kebanggaan.

“Iya, Ma... Pa... maaf Jani nggak sopan, lagi ASI,” ucap Anjani sembari membetulkan letak selimut yang menutupi bagian tubuhnya.

“Nggak apa-apa, biasa kok. Apa kabar, Bu Nadia... kita punya cucu nih,” ucap Martha pada Nadia dengan mata berbinar. Ia tampak sangat terharu.

Mereka pun berbincang tentang proses kelahiran dengan wajah penuh kelegaan. Martha sempat menyarankan agar Pandu dan Anjani sementara pindah ke salah satu rumah mereka agar lebih nyaman saat masa pemulihan.

Namun, Anjani menolak dengan sopan. Ia ingin mengurus anaknya sendiri bersama Pandu di kontrakan kecil mereka. Meski sederhana, itu adalah rumah pertama tempat cinta mereka bertumbuh. Ia percaya, kasih sayang lebih penting daripada fasilitas mewah.

•••

Tiga hari pasca melahirkan anak pertama. Pandu dan Anjani kembali ke kontrakan lagi.

“Rumah kok rapi, Mas?” tanya Anjani saat ia meletakkan bayinya di atas ranjang. Nada suaranya penuh kekaguman dan kenyamanan yang dirindukan.

“Ah... pake ditanya... mau lahiran lagi?” tanya Pandu dengan nada bercanda, matanya berbinar senang melihat keluarganya kembali ke rumah kecil mereka.

“Mau...” jawab Anjani dengan manja, pipinya merona saat menatap Pandu.

“Kemarin perasaan ada yang kapok? Eh... udah berubah lagi,” ucap Pandu sambil tersenyum geli, mengingat betapa paniknya Anjani saat kontraksi datang.

“Kirain sakit gimana, Mas. Taunya ya... sakit sih, tapi biasa aja. Nggak serem kayak yang sering orang bilang gitu,” ucap Anjani sambil membuka pakaiannya perlahan. Matanya mengingat kembali perjuangannya melahirkan.

“Mas, tolongin... susah nih...” pintanya pada Pandu saat ia kesulitan untuk memasang kancing pada korset. Wajahnya sedikit memerah karena malu.

“Mas, ini bra-nya kekecilan atau gimana ya?” tanyanya dengan heran, menatap cermin.

“Pengaruh ASI, Sayang...” ucap Pandu sambil berbaring di dekat Noah. Ia tersenyum melihat tubuh istrinya berubah karena proses menyusui.

“Mas capek ya?” tanya Anjani, mendekati Pandu dan memeluknya dari samping.

“Nggak capek, asal jangan ada adegan ngambek, nangis. Nah itu capek rasanya mau minggat ke Pluto,” ucap Pandu, mencairkan suasana dengan gurauan.

“Hahaha...” tawa mereka berdua pecah bersamaan, membuat ruang kecil itu hangat oleh kebersamaan.

Obrolan mereka beralih kepada Noah.

“Noah tidur terus, Mas, dari pas di mobil tadi ASI, ini belum bangun,” ucap Anjani sambil melihat wajah Noah dan menyentuh hidungnya. Raut wajahnya teduh.

“Normal kok, Sayang. Tapi mukanya kok mirip Bastian, Yang?” ucap Pandu, menggoda.

“Ih! Babi kamu ah... Mas!” seru Anjani dengan pipi memerah, antara kesal dan malu. Mereka tertawa bersama sambil berjalan menuju ruang TV.

“Kamu jahat banget sih, kesel tau. Mana jalan aku nggak bisa cepet-cepet gini, Mas. Ngeselin kamu...” gerutu Anjani sambil menggandeng lengan suaminya.

“Jadi mirip siapa?” tanya Pandu sambil menahan tawa.

“Mantan kamu kali!” ucap Anjani sambil menyeka air matanya yang muncul karena perasaannya yang sensitif.

“Mana ada? Cari tahu coba sama Fauzan,” sahut Pandu dengan nada membujuk.

“Udah ah, nggak mau nonton TV. Mau ke kamar lagi,” ucap Anjani sambil melangkah pelan.

“Ngambek, Yang?” tanya Pandu.

“Kesel sama kamu!” sahut Anjani tegas.

Anjani berjalan pelan dan masuk ke kamar.

“Jelas-jelas mirip kamu dibilang yang itu. Sana tidur di luar, nggak usah di sini!” tegas Anjani, wajahnya menegang.

“Yang... jangan dong...” ucap Pandu sambil memeluk Anjani dari belakang, mencoba menenangkannya.

“Nggak usah pegang-pegang...” ucap Anjani saat Pandu masuk ke dalam kamar dan memeluknya lebih erat.

“Tuh kan bangun, Mas...” ucap Anjani yang langsung mendekati Noah, lalu memberikan ASI dengan penuh kehangatan.

“Dua atau tiga jam sekali dia bangun, tergantung sih sama anaknya. Ada yang satu jam sekali bangun,” bisik Pandu sambil memperhatikan Noah dengan penuh cinta.

“Jadi aku nanti langsing nggak, Mas?” tanya Anjani, menatap tubuhnya sendiri dengan sedikit cemas.

“Gendut aja nggak masalah, Sayang. Nggak usah kurus-kurus banget lah,” ucap Pandu lembut, menggenggam tangan Anjani.

“Nggak ah, nanti kamu cari istri lain kalau aku gendut,” ucap Anjani sambil mengerutkan dahi, raut wajahnya terlihat khawatir.

“Pikirannya... gitu terus sih, Yang...” ucap Pandu, menghela napas panjang.

“Kebanyakan gitu, Mas. Di sini bilang nggak papa gendut. Di luar lihat cewek yang langsing,” ucap Anjani, matanya berkaca-kaca.

“Perasaan kamu aja...” sahut Pandu dengan lembut, mencoba menghapus keraguan di hati istrinya.

Mendadak, hari itu rumah kontrakan mereka ramai saat keluarga Anjani datang berkunjung.

“Hallo...” ucap Leo saat baru saja tiba bersama Nadia dan Hendra, juga istri dan anaknya. Suasana menjadi riuh oleh kedatangan orang-orang terkasih.

Pandu menyambut baik kedatangan mereka.

“Ooh... di sini ya ngontrak nya,” ucap Hendra sambil melihat isi rumah itu dengan mata mengamati.

“Iya, Pa. Lumayan lah, Pa... murah juga sih...” ucap Pandu sambil tersenyum.

“Mana Noah?” tanya Nadia, tak sabar ingin melihat cucunya.

“Mama... masuk sini, Mama... lagi ASI!” sahut Anjani dari dalam kamarnya dengan suara riang.

“Udah lama di sini?” tanya Hendra.

“Baru mau jalan satu tahun, Pa,” jawab Pandu.

“Bagus lah, hidup mandiri,” sahut Hendra, tersenyum bangga melihat kemandirian anak dan menantunya.

Datanglah Leo yang sengaja mengganggu Anjani.

“Wih... ganteng banget, kayak Papanya. Untung nggak kayak Mamanya ya...” ucap Leo, menggoda dengan senyum jahil.

“Biarin! Daripada mirip lu?! Sana lu, keluar...” ucap Anjani sambil mencoba menendang Leo. Cintanya pada anaknya begitu besar hingga tak mau dibandingkan.

“Hahaha... bisa juga punya anak lu,” ucap Leo sambil tertawa puas, melihat adiknya naik pitam.

Menyusul kemudian, anak dan istri dari Leo, pun melihat Anjani dan Noah, serta memberikan ucapan selamat.

“Selamat ya, Jani sayang...” ucap sang kakak ipar sambil memeluk Anjani dengan penuh kehangatan.

“Terimakasih, Mbakku sayang...” sahut Anjani sambil membalas pelukan, hatinya penuh dengan syukur atas keluarga yang menyayanginya.

•••

Sementara di luar kamar,

“Kira-kira nanti masih nyambung ngontrak di sini atau ke mana?” tanya Leo sambil duduk santai di kursi ruang tamu.

“Tahun depan pindah, Mas. Rencananya gitu,” sahut Pandu sambil menuang teh ke dalam cangkir.

“Udah ada rumah sendiri?” tanya Leo lagi, kali ini menoleh penasaran.

“Ada sih, Mas… di Bintaro.”

“Jadi nggak di deket sini lagi?” tanya Hendra, ikut nimbrung dari dapur kecil.

“Nggak, Pak. Rencananya mau pindah ke rumah sakit di dekat sana juga. Saya udah kirim CV dan tinggal nunggu habis masa kerja di tempat lama. Habis itu langsung pindah ke sana.”

“Anjani sudah tahu?”

“Belum, Mas, Pak. Sengaja saya belum kasih tahu... tapi saya udah cerita ke Mas Rian. Oh iya, Mas Rian mana?”

“Dia lagi ke luar kota, sama anak-istrinya. Mungkin minggu depan balik. Dia juga titip salam buat kalian, paling nanti video call-an sama Mama, sama Jani,” ucap Leo dengan suara hangat.

Obrolan mereka diselimuti suasana teduh. Ada perasaan haru yang tak terucap, bahwa waktu begitu cepat berlalu, dan perubahan mulai terasa nyata di depan mata.

---

Lima bulan kemudian

“Papa…!” teriak Anjani sambil menggendong Noah yang mulai rewel karena gerah.

“Iya, Nyonya… kenapa sih, Yang… aku lagi ngerumput di belakang!” sahut Pandu setengah teriak dari halaman belakang.

“Kamu tuh kebiasaan taruh handuk basah di atas kasur… ntar jadi jamuran sprei-nya,” ucap Anjani sambil mencubit lengan suaminya.

“Lupa, Sayang…”

“Lupa terus… masuk, Pa. Aku mau masak. Kamu jaga Noah dulu. Cuci tangan sama kaki dulu, ganti baju kamu, baru boleh sentuh aku.”

“Sentuh Noah, kali…”

“Hahaha… sentuh aku juga, Papa…”

“Sentuh kamu malam aja.”

Anjani tertawa kecil. Hari-hari mereka tak selalu sempurna, tapi kehangatan seperti ini membuat segalanya terasa cukup. Ia bersandar pada tubuh Pandu, sambil mengintip isi grup sayur di WhatsApp. Pandu memangku Noah yang sedang menonton film anak-anak, sesekali mengecup ubun-ubun kecil itu dengan penuh kasih.

“Papa, telepon tuh,” ucap Anjani tanpa menoleh dari ponselnya.

“Ambilin, Sayang,” ujar Pandu ringan.

“Ooh… Mas Fauzan, Pa. Aku pegangin, Papa ngomong deh.”

Pandu segera menerima telepon dan berbincang,

“Apa sih… lagi ngasuh anak, nih,” ucapnya ke Fauzan.

“Jangan lupa sparing kita, ada penantang dari HIPMI. Padahal tahun lalu keok, masih aja nggak kapok,” sahut Fauzan sambil tertawa dari seberang.

“Hahaha… masih ada tenaga nggak, nih? Udah bapak-bapak semua kita.”

“Buat anak tiap hari bisa aja, masa main basket lemes? Ah… k*nt*l lah.”

“Aku takut, Mas Fauzan… hahaha…” ucap Pandu sambil tertawa dan mencium pipi Noah yang sedang duduk manis di pangkuannya.

“Pa… aku nggak dicium dari tadi, pegang handphone terus loh…” ucap Anjani, suaranya sengaja dikeraskan hingga terdengar dari seberang.

“Aku cium kamu malam aja, malam… kita buat anak lagi,” sahut Pandu menggoda.

“Oke…” Anjani tertawa pelan, pura-pura sebal tapi senyum tak lepas dari wajahnya.

“Woi! Gue denger kalian ngomongin apa! Tai lu, ah! Jangan lupa sore jam empat. Jam tiga dah kumpul di tempat biasa. Awas lu nggak nongol,” kata Fauzan dengan gaya khasnya.

“Iya, k*nt*l…” sahut Pandu sambil menutup dua telinga Noah karena tahu mulutnya terlalu kotor.

Telepon ditutup. Sisa suara tawa kecil masih menggema di ruang tamu itu, meninggalkan rasa nyaman yang sulit dijelaskan. Rumah kecil itu mungkin tak mewah, tapi penuh canda, cinta, dan tawa yang tak terganti.

1
Sodri Sodri
bagus bnget aku dah pernah baca ini yg ke 2x/Good//Rose/
Nur Adam
lnjur
MamaG: besok ya, Nur....
total 1 replies
Nur Adam
lnju
Nur Adam
lnjut bhgia trs jani..
Nur Adam
lnjut
Nur Adam
lnjyr
Nur Adam
lnju
MamaG: udah Nur...
total 1 replies
Nur Adam
lnjut
Nur Adam
lnju
MamaG: nanti malam ya, Nur...
total 1 replies
Nur Adam
lnjut
MamaG: oke Nur...
total 1 replies
Nur Adam
lnju
mimief
jangan lah Jan...nanti pandu malah tersinggung lagi
dah kita hidup damai sejahtera aja lah
mimief
lagian...kan dia yg mulai ya
makanya gaes,kalau mau ngapa ngapain bawa kaca dulu dirumah yaaa
jadi pastiin orang ga bisa balikin omongan kita🤣🤣
MamaG: dia lupa/Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Nur Adam
lnjut
MamaG: oke, Nur...
total 1 replies
Nur Adam
lnjt
MamaG: siap, Nur...
total 1 replies
mimief
ulet bulu lagi nyamar jadi ulet keket yg ditutupi kepalanya 🤣🤣🤣

mudah mudahan beneran tobat yaa
bukan kumat 🤣🤣
MamaG: 🤣🤣🤣🐛🐛 betul
total 1 replies
Nur Adam
lnjut
MamaG: tunggu ya, Nur. lagi kondangan
total 1 replies
mimief
eh...ada mantan pelakor.napa liatin
jangan dalem dalem liatnya,yg ini mau juga lagi. repot dah😔🤭🤣
MamaG: /Facepalm//Joyful/ nggak bisa liat yang bening
total 1 replies
Nur Adam
lnjut
MamaG: oke, Nur...
total 1 replies
Nur Adam
lnht
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!