"BRUZZLY" sebuah agen rahasia pembasmi kejahatan siapa sangka di pimpin oleh seorang wanita cantik, tomboy dan dingin yang terkenal dengan nama MESLY.
RADITYA ANGGARA seorang pengusaha muda yang sukses dan berhati dingin karena di tinggal kekasihnya demi pria lain.
apakah MESLY dan Raditya berjodoh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ⸙ᵍᵏTℹ️Tℹ️🅰️N B⃟c♏ENT🅰️RI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 33
Mesly pulang kerumah ayahnya dan segera menuju kamarnya untuk membersihkan diri, bunda Lestari yang melihat kedatangan putrinya segera mengingatkan untuk makan bersama dan di jawab dengan anggukan kepala oleh gadis itu.
Di dalam kamar Mesly masih merenungi isi tulisan papanya di balik foto yang di temukannya, gadis itu memikirkan apa hubungan papa dengan kakek neneknya Raditya.
Setelah membersihkan diri Mesly segera keluar untuk menemui ayah bundanya dan makan malam bersama mereka, gadis itu merasa bersyukur memiliki orangtua pengganti saat mama dan papanya meninggal.
Setelah makan malam Mesly menceritakan apa yang di temukannya tadi di rumah keluarganya, ayah Franz melihat semua yang di bawa putrinya bahkan sedikit mengenali foto orangtua yang di panggil om dan Tante itu.
"Aku seakan pernah mengenal mereka tetapi dimana ya?" ucap ayah Franz yang mencoba mengingat-ingat wajah sepasang suami istri itu.
Bunda Lestari hanya bisa mendengarkan obrolan suami dan putrinya tanpa menyambung cerita karena sesungguhnya Lestari tidak mengenal orangtua kandung Mesly karena Franz hanya bilang Mesly anak sahabatnya yang tewas di bunuh dan meminta Lestari untuk merawat Mesly dengan penuh kasih sayang.
Lestari dan Franz pernah memiliki seorang putri namun Tuhan mengambilnya kembali saat usiannya 5 tahun, putrinya akhirnya menyerah pada kanker yang di deritanya.
Lestari sempat mengalami yang namanya halusinasi sejak kehilangan putri semata wayangnya itu, kesedihan yang mendalam membuat wanita itu tidak percaya kalau sebenarnya putrinya telah tiada.
Kedatangan Mesly mengobati kesedihannya, senyuman Lestari seakan hidup kembali dan menjadikan Mesly putri pengganti yang Tuhan kirim kedalam rumahtangganya.
"Ayah ingat..., dulu papamu pernah menolong seorang wanita dari perampokan dan saat itu ayah juga ada di sana membantu papamu melawan perampok itu. Karena tubuh papamu yang lemah sehabis melakukan operasi jantung papamu sempat tidak sadarkan diri berbulan-bulan lamanya membuat wanita itu merasa bersalah dan terus ingin menjaganya" kata ayah Franz menceritakan sepenggal kenangan saat bersama Bambang.
Mesly menatap foto itu sambil mendengarkan cerita ayahnya, Lestari terus memberi semangat dan dukungan dengan usapan lembut di pundak gadis itu karena setiap Mesly mendengar kisah orangtuanya pasti gadis itu menangis karena rasa rindunya kepada orang yang telah melahirkan dan membesarkannya itu.
"Ayah...bunda..., aku kekamar ya hari ini aku lelah dan ingin beristirahat" kata gadis itu yang di jawab dengan anggukan orangtua angkatnya itu.
Di kamar gadis itu merebahkan tubuhnya mencoba memejamkan matanya, pertemuan dirinya dengan mamanya Raditya seakan membuka kenangan sedih dalam hidupnya membuat gadis itu kembali diam tanpa ada keceriaan di wajahnya.
Cuplikan kenangan-kenangan indah bersama orangtuanya kembali hadir dalam dirinya juga insiden yang menimpah keluarganya juga ikut menghiasi isi kepala gadis itu.
Karena tidak bisa tertidur akhirnya Mesly mengambil buku diary sang mama dan membacanya dan ternyata isinya menceritakan tentang persahabatannya dengan Mutiah.
Mesly bahkan ikut senyum-senyum sendiri membaca cerita konyol mamanya dengan sahabatnya itu saat bertemu dengan idolanya, dan banyak cerita lucu yang menghiasi persahabatan mereka bahkan foto-foto kebersamaan mamanya dengan Mutiah juga di tempel di sana.
Mesly memandangi foto 2 wanita cantik itu dan wajahnya mirip dengan mamanya Radit.
"Apa Mutiah sahabat mama orang yang sama dengan mamanya Radit ya? wajahnya sekilas mirip" ucapnya dalam hati.
Ingatan Mesly kembali kepada pertemuannya dengan mamanya Raditya dan bunda lestari juga memanggil dirinya dengan nama Mutiah.
"Ya Tuhan... ternyata mamanya Radit dan mamaku bersahabat" ucapnya dalam hati.
Mesly melanjutkan membaca kisah yang di tulis dalam buku diary itu hingga tanpa sadar gadis itu ketiduran karena lelah membaca buku itu.
Pagi harinya Mesly ingin menemui mamanya Radit di butik miliknya, waktu itu bunda pernah menceritakan kalau dirinya memiliki butik usaha berdua dengan sahabatnya Mutiah.
Mesly seakan hampir tidak percaya dulu mamanya bersahabat dengan Mutiah pada masa remajanya dan sekarang bundanya juga bersahabat dengan wanita itu memang dunia terasa sempit apa memang Tuhan memberi jalan untuk dirinya mengungkapkan kebenaran dan menghapuskan kebencian kepada sahabat mamanya itu.
Mesly membawa buku diary sang mama untuk di tunjukan kepada wanita itu kalau sebenarnya mamanya masih menganggap Mutiah sebagai sahabatnya hingga akhir hayatnya.
Mesly tiba di butik itu pagi hari saat karyawan baru akan membukanya, Mesly menunjukan identitasnya kepada para pekerja butik kalau dia adalah putri pemilik butik itu dan Mesly di izinkan masuk keruangan bunda Lestari.
Melihat ada sebuah mobil mewah yang parkir di halaman butik membuat Mutiah bertanya-tanya apa ada tamu di butiknya atau Lestari yang datang dengan mobil barunya membuat Mutiah segera masuk dan ingin menemui pemilik mobil itu.
Saat pintu ruang kerja Lestari di buka Mutiah merasa terkejut saat melihat seorang gadis cantik duduk manis diruang kerja itu, airmata Mutiah mengalir di pipinya saat melihat kalung yang di gunakan Mesly juga rambut gadis itu yang di derai panjang seakan-akan dirinya melihat sahabatnya Susan.
Mesly yang menyadari kedatangan Mutiah segera berdiri dan menghampiri wanita itu dan menyapanya, walau dengan isakan tangis namun Mutiah menyambut tangan gadis itu yang mengajaknya bersalaman dengan reflek Mutiah memeluk Mesly dan menumpahkan tangisnya di pelukan gadis itu.
Mesly terdiam membiarkan wanita itu tenang di pelukannya, akhirnya Mutiah melepaskan pelukan itu dan mengajak Mesly duduk di sofa yang ada di ruangan itu.
"Kau sangat mirip dengan Susan, dan aku yakin kau bukan putri kandung Lestari tetapi putri kandung Susan" kata Mutiah sambil mengusap air matanya.
"Iya Tante aku memang putrinya Susan sahabat Tante" ucap Mesly sambil memberikan buku diary mamanya kepada wanita di depannya.
Mutiah merasa heran kenapa Mesly memberi sebuah buku diary kepadanya, Mesly menyadari apa yang di pikirkan wanita di depannya itu dan menjelaskannya.
"Ini buku diary mama Tante, aku sengaja memberikan buku ini supaya Tante tau isi hati mama karena dia tetap menyayangi Tante seumur hidupnya dan sekarang mama dan papa sudah tenang di surga Tante" kata Mesly pelan sambil menitikkan airmatanya.
Mutiah terkejut mendengar perkataan Mesly kalau Susan sahabatnya sudah meninggal bersama suaminya wanita itu seakan tidak percaya dan berharap gadis di depannya itu bercanda dengan ucapannya.
"Gak mungkin.... kamu pasti bercanda kan? Susan gak mungkin beneran pergi ninggalin aku Mes! kamu pasti bercanda kan?" kata mutiah sambil menggelengkan kepalanya seakan tidak percaya ucapan Mesly.
Mesly mengeluarkan surat kabar lama yang menceritakan tragedi yang menimpah keluarganya juga berita kematian kedua orangtuanya dan menunjukan kepada Mutiah.
"Mama dan papa sudah meninggal saat diriku berusia 6 tahun Tante, mereka tewas di bunuh di rumahnya" kata Mesly dan langsung membuat Mutiah pingsan mendengar berita itu.
jangan marah ya mesly... radit begitu karena takut kamu di ambil orang... jadi sudah sembuh langsung gas..