Warning!! Novel ini tidak ada pengajaran apapun, hanya murni pemikiran author. Yang nggak suka boleh skip!!
*****
Karena kecerobohanya, Luna kehilangan keperawanan di tangan bos nya sendiri yang bernama Gamma Emiliano Johnson.
Pria mapan yang digandrungi banyak kaum hawa itu mencoba bertanggung jawab atas perbuatannya kepada Luna, tapi wanita itu justru menolak mentah-mentah karena Gamma sudah memiliki istri.
"Kau tidak perlu tanggung jawab, itu hanya bagian tubuh yang tidak penting bagiku." ~ Aluna Olivia.
"Kalau begitu, kita lanjutkan saja apa yang sudah terjadi." ~ Gamma Emiliano.
Bukannya menghentikan kesalahan, mereka justru meneruskan hubungan terlarang itu. Dan dari situlah Skandal Cinta mereka dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virzha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa Sesak Di Dada.
Luna segera dibawa ke ruang ICU karena wanita itu terluka cukup parah, selain itu Dokter mendeteksi adanya pendarahan yang terjadi pada Luna dikarenakan saat datang ke rumah sakit, ada darah yang merembes membasahi kaki wanita itu.
"Nona, kapan terakhir Anda menstruasi?" Tanya Dokter mengecek kondisi Luna seraya membaringkan wanita itu dengan posisi miring, karena saat ini punggung Luna juga terluka.
Luna menggeleng pelan, ia sama sekali tidak bisa mengingat apapun. Rasa sakit di punggungnya itu seperti menjalar ke seluruh tubuh yang membuat keringat dingin membasahi wajahnya. Belum lagi pipinya yang juga merah karena pukulan yang diberikan Davies.
"Gawat, sepertinya saat ini janin Anda terancam," kata Dokter itu dengan wajah yang sangat cemas.
"Ja-janin?" Luna membuka matanya lebih lebar demi mendengar kabar itu.
"Saya belum yakin, tapi sebaiknya kita melakukan pengecekan USG." Dokter segera meminta perawat untuk menyiapkan alat USG, memastikan apakah dugaannya benar kalau Luna tengah hamil.
Luna benar-benar terkejut, ia baru ingat jika selama berhubungan dengan Gamma ia tidak pernah menggunakan pil kontrasepsi. Bisa jadi ia memang hamil tanpa sepengetahuannya.
Alat USG segera disiapkan, Dokter terpaksa meminta Luna untuk berbaring telentang meski itu artinya luka Luna akan tertekan, tapi mau bagaimana, mereka juga harus menyelamatkan nyawa lain yang ada didalam kandungan Luna.
"Dokter, apakah dia baik-baik saja?" tanya Luna dengan suara lirihnya, ia melihat layar monitor dimana sebuah bulatan kecil terlihat disana.
"Dia masih bertahan, tapi kondisinya sangat lemah. Kami akan memberikan obat untuk menghentikan pendarahan Anda Nona. Mungkin setelah ini Anda akan kehilangan kesadaran," kata Dokter cukup lega melihat janin Luna bertahan meski sangat lemah.
Luna tidak tahu harus menjawab apa, rasa sakit ditubuhnya begitu terasa, tapi hatinya diliputi kebahagiaan yang tidak terlukiskan, sekarang didalam rahimnya telah tumbuh buah cintanya dengan Gamma, pria yang begitu dicintainya.
******
Gamma sampai di rumah sakit tempat Luna dirawat, ia tadi ke kantor polisi dan mendapatkan kabar kalau wanita itu dilarikan ke rumah sakit karena lukanya yang cukup parah. Meski sempat bersitegang dengan petugas, Gamma menjelaskan kalau ia merupakan satu-satunya keluarga yang dimiliki wanita itu dan harus melihat keadaannya.
Untuk itulah Gamma akhirnya diizinkan masuk. Tapi itupun tidak bisa lama karena saat ini Luna masih dalam pemeriksaan polisi. Belum lagi ia yang harus diawasi satu polisi untuk berjaga di dalam.
"Luna," panggil Gamma pada sosok wanita yang kini terbaring lemah di ranjang rumah sakit itu.
"Gamma ..." Luna menyahut dengan suara lirihnya, ia masih sangat lemah karena baru saja mengalami pendarahan dan penanganan lukanya.
Saat melihat Gamma tangis Luna rasanya ingin pecah, ia ingin sekali mengatakan kau ia sedang mengandung anak mereka, tapi mulut Luna terkunci.
"Luna ..." Gamma bergegas menghampiri wanita itu, Gamma ingin memeluknya tapi ia menahan diri, takut jika akan menyakiti Luna.
"Maafkan aku, seharusnya bukan kau yang ada disini," kata Gamma menyentuh tangan Luna lalu menciuminya dengan penuh kasih, matanya ikut berkaca-kaca melihat kondisi Luna yang lemah itu.
"Tidak apa-apa, aku justru berterimakasih padamu karena kau menyelamatkanku dari pria itu," ucap Luna mencoba tersenyum meski gagal.
"Aku pasti akan membebaskan mu, semua ini tidak benar, aku akan mencari pengacara terbaik agar kau bisa bebas," kata Gamma dengan penuh tekad.
Luna hanya tersenyum menanggapinya, sungguh ia tidak keberatan jika harus menggantikan pria itu mendekam di penjara, hatinya akan lebih sakit jika melihat Gamma yang harus dipenjara hanya karena dirinya.
"Kau kenapa? Apakah masih sakit?" Gamma bertanya khawatir karena Luna hanya diam saja.
Luna menggeleng pelan. "Aku hanya ingin memelukmu, bolehkah?" ucap Luna.
Gamma mengerutkan dahinya, ia sedikit heran karena tidak biasanya Luna meminta dipeluk seperti itu. Jangankan dipeluk, saat mereka dekat saja Luna masih sangat canggung.
"Kau ini bertanya apa? Tentu saja boleh, tapi bagaimana dengan lukamu?" tanya Gamma.
"Aku tidak apa-apa, peluklah aku malam ini Gamma," ucap Luna mengulurkan tangannya, tatapan matanya begitu sendu dan sayu.
Gamma semakin mengernyitkan dahinya, ia memeluk Luna dengan sangat berhati-hati, takut jika tangannya tidak sengaja melukai wanita itu. Sedangkan Luna memeluk Gamma sangat erat, air matanya mengalir tanpa sepengetahuan pria itu. Luna merasa mungkin itu akan menjadi pelukan terakhir mereka.
"Gamma, cium aku," pinta Luna mendongak untuk menatap mata indah Gamma.
Lagi-lagi Gamma menurut tanpa banyak bicara, ia mencium kening Luna, lalu kelopak matanya, hidung dan terakhir bibir merah jambu yang tampak sangat pucat itu. Gamma berhati-hati saat melakukannya mengingat sudut bibir Luna masih terluka.
Luna tidak perduli jika di dalam itu ada petugas dari kepolisian yang menatap ia dan Gamma sedang berciuman. Satu kali sebelum mereka berpisah, itu yang ada dipikiran Luna saat itu.
"Kenapa menangis?" Tanya Gamma mengusap air mata Luna yang mengalir disudut matanya.
"Aku sangat lelah sekali hari ini," sahut Luna lagi-lagi mencoba tersenyum menyembunyikan gundah dihatinya.
"Beristirahatlah, aku akan menemanimu disini," kata Gamma.
"Memangnya boleh?"
"Aku tidak perduli, lagipula semua rumah sakit ini sudah dijaga ketat," kata Gamma menyindir petugas kepolisian yang bersikap layaknya tembok itu.
"Jangan seperti itu, aku baik-baik saja disini. Aku tidak mau kau menjadi tidak bermoral hanya karena ku, pulanglah," bujuk Luna.
"Kau tidak senang aku disini?" Gamma menajamkan tatapannya.
"Senang, aku sangat senang Gamma. Tapi aku lebih senang kalau kau bisa bersikap bijaksana seperti biasanya. Bukankah kau bilang akan mencarikan pengacara terbaik untukku?" kata Luna.
"Tentu, aku akan segera mengurusnya dan akan mengeluarkan mu darisini," sahut Gamma mengangguk tegas.
"Ya, sekarang pulanglah Gamma, aku baik-baik saja disini," ujar Luna memberikan senyumnya agar Gamma tenang meninggalkannya.
Gamma menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan, ia mencium kedua tangan Luna kembali.
"Baiklah, aku akan pulang. Kau beristirahatlah, aku mencintaimu," kata Gamma bangkit dari duduknya lalu mencium kening Luna sebelum ia pergi.
Luna tertegun, apakah ia tidak salah dengar? Gamma mengatakan kalau pria itu mencintainya? Kenapa justru ia merasakan rasa sesak di dadanya?
"Kenapa baru sekarang kau mengatakannya?" lirih Luna mengusap air matanya kembali mengalir. Mereka benar-benar jatuh cinta diwaktu yang salah.
Luna lalu melihat kearah perut bawahnya, ia semakin menangis. Entah apa yang akan terjadi pada kehidupannya nanti, Luna berharap bisa bertahan bersama anak yang ada di kandungannya.
"Maafkan aku Gamma, aku tidak bisa memberitahumu karena aku tahu kau pasti akan menceraikan Clarissa. Biarkan aku saja yang menjaga rahasia ini dan membesarkan anak ini, kau hanya perlu tahu kalau aku sangat-sangat mencintaimu."
Happy Reading.
Tbc.
eh awal bab so 🔥🔥🔥