Sejak malam itu, hidup Raka berubah drastis. Setelah tak sengaja melewati rumah tua terbengkalai di ujung gang dan merasakan gangguan gaib, ia terus dihantui penglihatan aneh, suara bisikan, dan kejadian tak wajar. Perlahan ia mengungkap rahasia kelam rumah itu—tempat menyimpan kutukan dan korban hilang puluhan tahun silam—sambil berjuang melepaskan diri dari jeratan makhluk yang sudah menandainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nacha Adhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 1: RUMAH DI UJUNG GANG SEPI BAB 4 – Panggilan Ditengah Kesadaran
Raka mendadak terjatuh duduk ke lantai teras, tangan yang memegang ponsel gemetar hebat hingga benda itu nyaris terlepas. Matanya melotot menatap tulisan pesan di layar, seolah tak percaya apa yang baru terbaca. Di sisi lain, pandangannya tetap terpaku ke arah pohon besar tadi—namun sesaat kemudian, bayangan itu sudah menghilang begitu saja, hanya menyisakan ranting yang bergoyang pelan diterpa angin pagi.
“Kenapa… bagaimana bisa nomor tak dikenal mengirim pesan seperti ini? Bahkan tidak ada sinyal kuat di sini kadang-kadang,” gumamnya terbata, suaranya terdengar parau.
Pak Surya segera membungkuk membantu Raka berdiri, wajahnya semakin muram melihat ekspresi ketakutan itu. Ia melirik sekilas ke layar ponsel, lalu menarik napas panjang sambil menggeleng pelan.
“Ini bukan pesan dari orang biasa, Nak. Bagi mereka, batas jarak dan waktu tidak ada artinya lagi. Begitu mereka menandaimu, mereka bisa menyentuhmu lewat apa saja—cermin, bayangan, bahkan benda yang kau pegang setiap hari. Pesan itu hanya cara mereka mengingatkan agar kau tidak lupa kewajibanmu,” ujar Pak Surya dengan nada berat.
“Kewajiban apa? Aku tidak berbuat apa-apa pada mereka! Aku hanya lewat secara tidak sengaja semalam!” seru Raka, hampir berteriak karena campuran takut dan marah.
“Bagi mereka, melihat dan mendengar sudah cukup untuk dianggap melanggar batas. Rumah itu bukan sekadar bangunan kosong—ia adalah pintu yang tertutup selama puluhan tahun. Saat kau lewat dan membuka diri dengan melihat ke dalam, kau tanpa sadar menarik pintu itu sedikit terbuka. Dan sekarang, mereka hanya ingin pintu itu terbuka sepenuhnya… bersamamu.”
Raka terdiam, pikirannya kacau balau. Ia mencoba berpikir mencari jalan keluar, tapi setiap bayangan hanya membawa kemungkinan yang semakin menyeramkan. Ia memutuskan untuk tidak membuang waktu lagi dan bertanya hal yang paling penting baginya saat ini.
“Pak… apakah benar-benar tidak ada cara untuk memutuskan ikatan ini? Haruskah aku pindah rumah? Pergi jauh dari tempat ini?”
Pak Surya terdiam cukup lama, menatap ke tanah seolah sedang menggali ingatan yang sudah lama terkubur. Setelah beberapa saat, ia mengangkat wajah kembali.
“Memindahkan tubuh mungkin bisa menunda sedikit waktu, tapi tidak menghilangkan tanda itu. Seperti debu yang sudah melekat di hati, ia akan ikut ke mana pun kau pergi. Dulu ada pemuda yang mengalami hal sama persis sekira 15 tahun lalu. Ia pindah ke kota lain yang jaraknya ratusan kilometer, tapi kabarnya ia tetap ditemukan meninggal dunia dalam keadaan berdiri di depan rumah tua itu—padahal ia seharusnya berada ribuan kilometer jauhnya.”
Mendengar penjelasan itu, harapan Raka perlahan runtuh. Rasanya ia terperangkap dalam jaring yang semakin rapat, tanpa jalan keluar yang terlihat. Ia berpamitan dari rumah Pak Surya dengan langkah gontai, pikirannya penuh kekacauan. Seharian itu ia tidak masuk kerja—ia tidak sanggup berkonsentrasi, apalagi berada di tempat umum. Ia kembali ke kamarnya, mengunci semua pintu dan jendela, bahkan menutup semuanya dengan kain tebal agar tidak ada celah sedikit pun yang membiarkan cahaya atau pandangan dari luar masuk.
Siang berganti sore, lalu perlahan malam mulai menjemput. Langit yang semula cerah kini tertutup awan gelap kembali, persis seperti kondisi cuaca semalam. Angin mulai berhembus kencang, menerbangkan debu dan daun kering di luar kosan. Suasana berubah menjadi dingin dan hening, seolah alam pun ikut mempersiapkan kedatangan sesuatu yang tidak diinginkan.
Raka duduk di sudut ruangan, memeluk lututnya sambil terus mengawasi setiap sudut kamar. Lampu ruangan dinyalakan semuanya hingga ruangan itu terasa sangat terang, berlawanan dengan rasa takut yang terus menyelimuti hatinya. Sesekali ia memeriksa bahu jaket yang dibuangnya tadi pagi—jejak tangan kelabu itu masih tercetak jelas, seolah mengejek ketidakberdayaannya.
Tepat saat jarum jam dinding menunjukkan pukul 21.00 malam, listrik di seluruh lingkungan mendadak padam seketika.
Sruuut!
Kegelapan pekat menyelimuti segalanya seketika, hanya menyisakan cahaya redup dari layar ponsel Raka yang masih menyala. Suara dengungan listrik lenyap, digantikan oleh hening yang terasa menusuk. Detak jantung Raka kembali melaju cepat. Ia segera merogoh sakunya mengambil senter cadangan, menyalakannya hingga memancarkan cahaya putih terang yang membelah kegelapan.
Namun, tepat saat cahaya senter itu menyala, ia melihat sesuatu yang membuatnya membeku di tempat.
Di dinding kamar tepat di hadapannya, terlihat bayangan dirinya yang terbentuk oleh cahaya senter—namun bentuknya tidak sama. Bayangan itu memiliki postur tubuh yang lebih tinggi, lengan yang jauh lebih panjang menjuntai hingga menyentuh lantai, dan kepalanya terlihat terbalik menghadap ke bawah.
“Bukan… ini tidak mungkin…” bisik Raka sambil mengarahkan sinar senter ke arah tubuhnya sendiri. Saat ia menggerakkan tangannya, bayangan itu tidak mengikuti gerakan yang sama. Sebaliknya, bayangan itu perlahan mengangkat kepalanya yang terbalik, membuka mulut lebar-lebar seolah sedang berteriak tanpa suara.
Bersamaan dengan itu, suhu ruangan turun drastis hingga membuat napas Raka mengeluarkan uap putih. Dari sudut-sudut kamar, mulai terdengar suara langkah kaki yang lembut namun jelas—semakin lama semakin banyak, bergerak mengelilinginya dari segala arah.
Tak… tak… tak…
Dan kemudian, suara-suara bisikan yang ia kenal mulai terdengar lagi, kali ini lebih nyaring dan lebih banyak, memenuhi seluruh ruangan seolah berbicara serempak di telinganya:
“Kau masih di sini… tapi waktumu sudah tiba. Ikuti kami pulang… tempatmu sudah disiapkan lama sekali…”
Raka memejamkan matanya rapat-rapat, menutup telinga sekuat tenaga, tapi suara itu tetap masuk tanpa hambatan. Ia merasa tubuhnya perlahan terasa ringan, seolah ada kekuatan tak terlihat yang mulai menariknya berdiri dan melangkah keluar pintu kamar—meski pikirannya masih sadar dan berusaha keras melawan.
Ia tahu malam ini bukan lagi sekadar pertemuan atau pengawasan. Malam ini, mereka datang untuk menjemputnya pulang.
📌 jangan lupa follow,like,dan komen setiap novel di akun ini ya.. 🥰