Seorang pemuda pendiam meninggal dunia dan terlahir kembali sebagai bayi di dunia sihir yang persis seperti RPG kesayangannya. Ia menyimpan ingatan masa lalu, tapi di mata semua orang hanyalah anak desa biasa tanpa bakat apa pun. Padahal di dalam dirinya terpendam kekuatan langka: penguasa api, air, tanah, angin, dan petir sekaligus.
Diam-diam ia berlatih, pergi ke ibu kota, membentuk tim dengan sahabat dari berbagai ras, dan perlahan naik pangkat. Namun di balik kedamaian, kegelapan kuno sedang bangkit. Akankah kekuatan terbesarnya cukup melawan Raja Iblis, dan bisakah ia mengubah takdir dunia ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nacha Adhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
S2: JEJAK KEGELAPAN DI TIMUR Bab 1: Pesan dari Wilayah Jauh
Dua bulan berlalu sejak terbentuknya Pasukan Pengawas Keseimbangan. Suasana di Ibu Kota Astoria berjalan tenang, namun bagi Rey dan Sylfia, rutinitas mereka berubah total. Mereka tidak lagi hanya menerima tugas petualangan biasa; sebagian besar waktu dihabiskan di perpustakaan tertinggi kerajaan, mempelajari peta kuno, catatan perjalanan leluhur, dan sifat-sifat energi yang belum pernah mereka temui sebelumnya. Di sela-sela itu, latihan mereka juga diarahkan oleh para ahli—bukan hanya soal kekuatan, tapi taktik, pertahanan diri, hingga cara membaca gerakan musuh hanya dari aliran udara.
Pagi itu, udara di ruang kerja utama Persekutuan terasa lebih tegang dari biasanya. Rey sedang memeriksa peta besar yang membentang di atas meja, sementara Sylfia merapikan catatan laporan. Pintu terbuka lebar, Kapten Valerius masuk dengan langkah cepat, diikuti oleh seorang kurir yang tampak kelelahan, pakaiannya berdebu dan napasnya tersengal-sengal.
“Berita baru, dan ini bukan berita baik,” ujar Valerius langsung, meletakkan segel surat yang tertera lambang wilayah timur—wilayah pegunungan dan hutan lebat yang jarang dikunjungi. “Pos pengawas di wilayah perbatasan timur mengirim pesan mendesak. Gejala yang sama persis seperti di Hutan Terlarang mulai muncul di sana, tapi berkembang jauh lebih cepat.”
Rey segera melipat peta yang sedang dipelajarinya. “Lebih cepat?”
“Ya. Hanya dalam hitungan minggu, sebagian besar wilayah hutan di sekitar Pegunungan Berbisik berubah menjadi tanah tandus. Kabut tebal turun seketika, dan makhluk-makhluk setempat menjadi agresif tanpa sebab yang jelas. Penduduk desa mulai mengungsi, dan tim penyelidik pertama yang dikirim… tidak kembali lagi.”
Sylfia mengerutkan dahi. “Apakah ada laporan soal bentuk makhluk atau ciri khas energinya?”
“Hanya catatan singkat sebelum komunikasi terputus: ada jejak energi ungu pekat, dan struktur bangunan kuno yang terlihat di puncak bukit—seperti yang kalian temukan di sini, tapi ukurannya jauh lebih besar.” Valerius menatap keduanya. “Dewan memutuskan: tim yang akan dikirim ke sana adalah Pasukan Pengawas Keseimbangan inti. Itu berarti kita berangkat dalam tiga hari.”
Tiga hari berikutnya terasa padat dan cepat. Persiapan kali ini lebih lengkap dan matang—jarak tempuh ke timur memakan waktu hampir dua minggu perjalanan darat, sehingga perlengkapan harus mencukupi untuk perjalanan jauh dan pertarungan tak terduga. Rey menyempatkan diri menemui Penasihat Elara di ruang arsip terakhir kali sebelum berangkat. Wanita tua itu menyerahkan sebuah jimat tambahan berupa lempengan batu bening berukir lima garis silang.
“Ini adalah peninggalan lain dari penjaga kuno,” jelasnya pelan. “Jika kekuatan yang kalian hadapi di sana benar-benar lebih kuat, jimat ini akan memperkuat ikatan antar elemen di dalam dirimu. Tapi ingat: ia tidak bisa bekerja jika kau ragu pada dirimu sendiri.”
“Terima kasih, Penasihat,” jawab Rey sambil menyimpannya dengan hati-hati.
“Kau membawa harapan besar, anak muda. Ingatlah apa yang kau pelajari: keseimbangan bukan berarti kekuatan yang sama rata, tapi penempatan yang tepat di saat yang tepat.”
Saat hari keberangkatan tiba, fajar baru saja menyingsing. Selain Rey, Sylfia, dan Kapten Valerius, tim ini juga diperkuat oleh empat orang lagi: dua petualang peringkat B—Kaelan dan Rina yang pernah bekerja sama sebelumnya, serta dua pendekar ahli pedang dan racun bernama Daren dan Lyra. Total tujuh orang, cukup lincah namun cukup kuat untuk menghadapi ancaman di wilayah yang belum dipetakan dengan baik.
“Semua siap?” tanya Valerius sambil memeriksa tali kekang kudanya.
“Siap,” jawab mereka serempak.
Perjalanan dimulai. Meninggalkan gerbang timur kota, mereka segera masuk ke jalur yang lebih sepi. Rey dan Sylfia berjalan agak di samping barisan utama, membiarkan kuda berjalan santai sambil mengamati sekeliling.
“Kau merasa ada yang beda dari pesan itu?” tanya Sylfia pelan. “Di sini butuh waktu lama untuk mempengaruhi satu pilar, tapi di sana… katanya hampir seketika.”
“Benar. Ada kemungkinan besar yang menguasai sana bukan sekadar sisa kekuatan, tapi sudah lebih siap dan lebih kuat dari yang kita hadapi dulu,” jawab Rey. “Dan ada satu hal lagi: di laporan tertulis, disebutkan ada ‘jejak ganda’. Seolah ada dua jenis energi gelap yang bekerja bersamaan.”
Sore harinya, mereka berhenti di sebuah penginapan sederhana di perbatasan terakhir sebelum masuk ke kawasan berbahaya. Suasana desa itu terasa muram. Penduduk berbicara berbisik-bisik, menatap ke arah pegunungan timur dengan ketakutan. Dari percakapan yang terdengar, Rey mengetahui ada cerita tentang “bayangan yang berjalan tegak” dan “suara yang memanggil dari kabut”.
Malam itu, Rey duduk di depan unggun api sambil memegang kotak penunjuk arah. Cahaya keemasan di dalamnya berkedip-kedip pelan—bukan stabil, tapi tidak juga redup.
“Jarak masih jauh, tapi ia sudah bereaksi,” gumam Rey.
Sylfia duduk di sebelahnya. “Berarti kita benar. Apa yang ada di sana sadar kita datang.”
Rey menatap ke arah timur, tempat di mana langit terlihat agak lebih kelabu dibandingkan arah lain. “Kalau begitu, mari kita beri alasan yang jelas kenapa kita datang.”
Besok pagi, mereka akan melangkah melewati batas wilayah aman. Dan kali ini, taruhannya bukan sekadar satu pilar, melainkan kenyataan bahwa musuh yang mereka hadapi telah belajar dari kekalahan sebelumnya.