Budi, seorang karyawan kantor biasa yang gaji bulanannya selalu numpang lewat karena harus melunasi utang warisan orang tuanya, tiba-tiba mendapatkan sebuah sistem aneh bernama 'System Lempar Dadu Monopoly'.
Sistem ini menampilkan papan permainan hologram mirip Monopoli lengkap dengan avatar chibi dirinya di atasnya, di mana setiap lemparan dadu bisa memberikannya reward uang dan item ajaib, atau hukuman memalukan yang harus ia jalani di dunia nyata.
Kini, hidup Budi berubah drastis menjadi sebuah pertaruhan harian di mana setiap petak yang ia injak perlahan-lahan mengangkatnya dari kemiskinan, asalkan ia bisa bertahan dari "kejutan" konyol yang disiapkan oleh sistem tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Di atas ruko tersebut terpampang sebuah papan nama besar bercahaya merah kuning.
Kedai Nasi Goreng Spesial Pak Mamat.
Budi menjatuhkan rahangnya saking terkejutnya melihat perubahan drastis tersebut.
"Ini gila, sistem ini benar benar memindahkan warungnya ke dalam ruko permanen dalam satu hari."
Budi segera menyeberangi jalan raya dengan setengah berlari.
Dia mendorong pintu kaca ruko tersebut dan langsung disambut oleh udara sejuk dari pendingin ruangan.
Aroma nasi goreng yang sangat khas memenuhi seluruh penjuru ruangan luas itu.
Semua meja terisi penuh oleh pelanggan yang kebanyakan adalah anak muda dan mahasiswa.
Di bagian belakang ruangan terlihat sebuah dapur terbuka yang sangat bersih.
Pak Mamat sedang sibuk mengaduk wajan raksasa dibantu oleh dua orang karyawan baru.
"Pak Mamat."
Budi memanggil dari arah pintu masuk dengan suara yang cukup keras.
Pak Mamat menoleh dan wajahnya langsung berbinar cerah melihat kedatangan Budi.
Dia menyerahkan spatula ke salah satu karyawannya dan berjalan menghampiri Budi.
"Ya ampun Nak Budi, bapak sudah menunggu nunggu kamu mampir ke sini."
Pak Mamat langsung memeluk bahu Budi dengan sangat erat dan penuh haru.
"Ayo duduk dulu di pojok sana Nak, meja itu memang bapak kosongkan khusus buat pelanggan setia seperti kamu."
Budi menurut dan duduk di kursi kayu berpelitur rapi yang terasa sangat nyaman.
Ini sangat berbeda dengan kursi plastik reyot yang biasa dia duduki di pinggir jalan.
"Pak Mamat, ini luar biasa sekali."
"Bagaimana ceritanya bapak bisa tiba tiba pindah ke ruko mewah begini dalam semalam."
Budi bertanya dengan nada polos seolah olah dia tidak tahu apa apa.
Pak Mamat menarik napas panjang dan menyeka keringat di dahinya dengan handuk kecil.
"Ini benar benar keajaiban dari Tuhan Nak Budi, bapak juga sampai sekarang masih merinding."
"Semalam kebetulan ada anak muda yang makan di tenda dan merekam pakai kamera kecil."
"Ternyata dia itu orang terkenal di internet dan videonya ditonton jutaan orang pagi ini."
Pak Mamat menunjuk ke arah antrean kasir yang mengular panjang.
"Pagi tadi tiba tiba ada bapak bapak tua berpakaian rapi datang menemui bapak."
"Dia bilang dia pemilik ruko ini dan sangat menyukai nasi goreng buatan bapak."
"Dia menawarkan ruko ini untuk dipakai jualan secara gratis selama setahun penuh asal bapak mau memasukkan menu spesial buatannya."
"Mana mungkin bapak tolak rezeki nomplok begitu Nak Budi."
Budi mendengarkan cerita itu dengan senyum yang terus mengembang di wajahnya.
Dia sangat takjub dengan narasi sempurna yang disusun oleh sistem untuk memanipulasi kenyataan ini.
Semuanya terdengar sangat masuk akal.
"Saya ikut senang mendengarnya Pak Mamat, bapak memang pantas mendapatkan semua ini karena kerja keras bapak."
"Terima kasih Nak Budi, kamu juga pelanggan pertama bapak yang selalu setia waktu warung masih sepi."
"Malam ini nasi goreng spesial buat kamu gratis, tidak usah bayar sepeser pun."
"Wah terima kasih banyak Pak Mamat, saya tidak akan menolak kalau dikasih gratisan."
Mereka berdua tertawa bersama di tengah hiruk pikuk kedai yang ramai itu.
Tidak lama kemudian sepiring nasi goreng porsi besar mendarat di meja Budi.
Budi makan dengan sangat lahap sambil membayangkan betapa besarnya saldo pasif yang akan dia dapatkan besok pagi.
Lima persen dari warung tenda sepi tentu berbeda jauh dengan lima persen dari kedai ruko yang viral.
Setelah menghabiskan makanannya Budi berpamitan pada Pak Mamat.
"Saya pamit pulang dulu ya Pak Mamat, sukses terus usahanya."
"Hati hati di jalan Nak Budi, mampir lagi besok ya."
Budi berjalan keluar dari kedai itu dengan perut kenyang dan hati yang sangat puas.
Dia melanjutkan perjalanan pulang ke kosan dengan langkah ringan.
Saat melewati minimarket, Budi kembali melihat Maya yang sedang berdiri di dekat pintu masuk.
Maya sedang menyusun botol botol minuman di lemari pendingin bagian luar.
"Malam Mas Budi, baru pulang kerja ya."
Maya menyapa sambil memberikan senyum manis andalannya.
"Malam Mbak Maya, iya ini baru sampai daerah sini karena tadi mampir makan dulu."
"Makan di kedai nasi goreng baru yang viral di seberang sana itu ya Mas."
"Ramai sekali katanya ya, saya juga jadi penasaran mau coba kapan kapan."
Budi tertawa pelan mendengar ucapan Maya yang ternyata juga sudah tahu berita itu.
"Iya Mbak, enak sekali masakannya dan kebetulan saya kenal dengan pemiliknya."
"Kapan kapan kalau Mbak Maya libur jaga malam, kita makan bareng ke sana mau tidak."
Budi melontarkan ajakan itu dengan spontan dan langsung merutuki mulutnya sendiri di dalam hati.
'Bodohnya aku, kenapa tiba tiba mengajak dia makan berdua begitu saja.'
Namun reaksi Maya ternyata di luar dugaan Budi.
Wajah Maya sedikit merona merah namun dia tidak terlihat marah atau risih.
"Boleh juga Mas Budi, nanti hari minggu depan kebetulan saya libur malamnya."
"Nanti kita atur waktunya ya, tapi Mas Budi yang traktir kan."
Maya menjawab sambil menutupi mulutnya menahan tawa.
"Tentu saja Mbak Maya, tenang saja dompet saya sudah siap."
"Kalau begitu saya permisi pulang ke kosan dulu ya Mbak, mari."
"Iya Mas Budi, hati hati jalannya."
Budi berjalan menjauh dari minimarket dengan perasaan yang seolah sedang melayang di udara.
"Dia bilang iya, Mbak Maya mau diajak makan berdu, ehehehe asyiknyoo."
Malam ini rasanya rentetan berita baik terus menghujani kehidupan Budi tanpa henti.
Namun saat Budi berbelok memasuki gang kosannya, langkahnya terhenti mendadak.
Senyum di wajahnya langsung luntur seketika digantikan oleh raut wajah tegang.
Tepat di depan pintu kamar kos Budi yang terkunci, berdiri seorang pria besar berjaket kulit hitam.
Pria itu sedang menyandarkan punggungnya ke pintu sambil menghisap sebatang rokok.
Itu adalah Bang Jali sang penagih utang.
"Tepat waktu sekali kamu pulang Budi."
Bang Jali membuang puntung rokoknya dan menginjaknya dengan ujung sepatu botnya.
"Waktunya setor gajian bulan ini, jangan bilang kamu mau mengelak lagi."
Suara berat dan serak itu langsung mengembalikan Budi pada realita kehidupannya yang sebenarnya.
Ujian mental yang sesungguhnya baru saja dimulai malam ini.
Budi menarik napas panjang dan mengepalkan kedua tangannya dengan kuat.
Kali ini dia tidak gemetar dan tidak memohon ampun seperti bulan bulan sebelumnya.
Dia menatap lurus ke arah mata Bang Jali dengan sorot mata tajam yang belum pernah dia tunjukkan sebelumnya.
"Aku tidak mengelak Bang Jali, kebetulan aku juga sudah menunggu kedatangan abang sejak tadi."
"Mari kita masuk ke dalam, ada banyak hal yang ingin aku bicarakan soal pelunasan utang ini."