NovelToon NovelToon
My Love Never Left

My Love Never Left

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Zanesa

Alexander Kingsley pernah menjadi seluruh dunia bagi Aurora Quinn. Pria itu mencintainya tanpa syarat dan berjanji menjadikannya bagian dari masa depannya.

Namun tanpa peringatan, Aurora
menghancurkan semuanya. Ia berubah, menjauh, menyakiti Alexander, lalu pergi begitu saja. Sejak hari itu, Alexander membencinya.

​Lima tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali. Namun Alexander yang dulu hangat telah menghilang, berganti menjadi CEO muda yang dingin, angkuh, dan tak tersentuh. Tatapan penuh cintanya kini berubah menjadi tatapan penuh kebencian.

​Sementara Aurora harus menghadapi pria yang tidak pernah tahu bahwa selama lima tahun ini, ia hidup dengan luka yang sama.

​Ada rahasia dan kebenaran yang disembunyikan. Ada alasan mengapa Aurora memilih menjadi wanita paling jahat dalam kisah mereka.

​"Jika suatu hari kau mengetahui alasan aku pergi, apakah kau masih sanggup membenciku, Alexander?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zanesa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

New York City, pukul 07.15 pagi.

Hujan gerimis membasahi jalanan Manhattan yang sudah dipenuhi oleh orang-orang berjas dan mahasiswa yang terburu-buru menuju kampus. Di tengah keramaian itu, seorang gadis berambut cokelat gelap tampak berlari sambil memeluk beberapa buku erat di dadanya.

Dia adalah Aurora Quinn, mahasiswi tahun kedua di Hudson University. Statusnya sebagai penerima beasiswa penuh sekaligus pekerja paruh waktu membuatnya akrab dengan kesibukan, namun tidak dengan keberuntungan. Nasib baik seolah jarang berpihak padanya.

"Nggak, nggak, nggak... aku telat!" gumam Aurora panik pada dirinya sendiri.

Ia melirik jam tangannya dan seketika wajahnya langsung pucat. Kalau sampai terlambat lagi, supervisor kafe tempatnya bekerja pasti akan mengomelinya selama satu minggu penuh.

Aurora mempercepat langkahnya. Namun, karena terlalu sibuk memasukkan buku ke dalam tas sambil berlari, ia tidak memperhatikan jalan dan menabrak seseorang dengan keras.

Bruk!

Tubuh Aurora terpental sedikit, sementara segelas kopi panas yang dipegangnya terlempar ke depan.

Byur!

Semua isi kopi itu tumpah tepat mengenai jas hitam mahal milik pria di hadapannya. Aurora membeku seketika. Darah di tubuhnya seolah berhenti mengalir.

"Oh, tidak..." bisik Aurora dengan suara yang amat lirih.

Pria itu menunduk, menatap noda kopi yang kini mengotori jasnya. Aurora ikut menunduk melihat arah pandangan pria itu. Begitu matanya menangkap merek yang tertera di bagian dalam jas tersebut, lutut Aurora langsung lemas. Ia pernah melihat merek itu di internet—harga satu jasnya saja sudah cukup untuk membayar sewa apartemen keluarganya selama berbulan-bulan.

"Aku minta maaf! Aku benar-benar minta maaf! Aku nggak sengaja! Aku bisa jelasin!" seru Aurora sambil membungkuk berkali-kali karena panik.

Pria di hadapannya itu tidak langsung menjawab, membuat Aurora semakin didera rasa takut. Jangan-jangan dia marah. Jangan-jangan dia mau menuntutku. Jangan-jangan—

"Kalau aku bilang ini jas favoritku?" potong pria itu tiba-tiba, memecah keheningan.

Aurora perlahan mengangkat kepalanya. Untuk pertama kalinya, ia bisa melihat wajah pria itu dengan jelas. Rahang tegas, mata abu-abu yang tajam, rambut hitam rapi, dan paras yang terlalu tampan untuk dianggap sebagai manusia biasa.

Aurora langsung mengenalinya. Siapa yang tidak kenal pria ini? Seluruh kampus, bahkan hampir seluruh New York, tahu siapa dia.

Alexander Kingsley. Putra tunggal keluarga Kingsley sekaligus pewaris kerajaan bisnis Kingsley Corporation. Pria yang namanya sering muncul di majalah bisnis papan atas meskipun usianya baru dua puluh tahun.

Seketika itu juga Aurora merasa ingin menghilang dari muka bumi. "Saya benar-benar minta maaf, Mr. Kingsley," cicit Aurora dengan nada pasrah.

Alexander menatap Aurora selama beberapa detik. Di tengah ketakutan Aurora yang memuncak, sesuatu yang tidak terduga justru terjadi. Alexander tiba-tiba tertawa pelan.

Aurora berkedip heran lalu bertanya, "Hah?"

Alexander mengangkat sebelah alisnya. "Kamu lucu," ucap Alexander.

"Aku?" tanya Aurora bingung sambil menunjuk dirinya sendiri.

"Iya," jawab Alexander singkat. Ia menatap jasnya sekilas, lalu kembali menatap mata Aurora. "Kamu kelihatan lebih panik daripada orang yang baru saja merusak jas seharga lima ribu dolar."

Aurora hampir tersedak udara mendengarnya. "LIMA RIBU DOLAR?!" teriak Aurora spontan.

Melihat reaksi berlebihan dari gadis di depannya, Alexander tertawa lebih keras. Aurora yang sadar suaranya terlalu kencang langsung membekap mulutnya sendiri dengan panik.

Sekarang Aurora benar-benar ingin pingsan. Dengan nada melas, Aurora berkata, "Aku nggak punya uang sebanyak itu."

"Aku tahu," sahut Alexander dengan nada santai.

"Aku bisa kerja sambilan tiga tahun juga belum tentu cukup untuk ganti rugi," keluh Aurora lagi.

"Aku juga tahu," jawab Alexander yang masih bersikap tenang.

Aurora menatap pria kaya itu dengan pandangan putus asa. "Lalu...?" tanya Aurora menggantung.

Alexander berpura-pura berpikir sejenak. "Hm..." bergumamlah Alexander.

Aurora menunggu kelanjutan kalimat itu dengan jantung yang berdebar kencang.

"Hukumannya sederhana," ucap Alexander akhirnya.

Mendengar kata hukuman yang 'sederhana', Aurora langsung menegakkan tubuhnya dan berkata, "Apa pun!"

Alexander tersenyum tipis lalu berkata, "Belikan aku kopi."

Aurora langsung terdiam. Satu detik, dua detik, ia masih mencoba mencerna ucapan pria di depannya. "Hah?" tanya Aurora melongo.

Alexander tertawa kecil melihat ekspresi kebingungan gadis itu. "Kopi," ulang Alexander.

"Kopi?" tanya Aurora lagi untuk memastikan dia tidak salah dengar.

"Iya," jawab Alexander mantap.

Aurora mengerjap tidak percaya. "Cuma kopi?" tanya Aurora memastikan.

Alexander mengangguk santai mengiyakan.

Aurora menatap pria itu dengan tatapan tidak percaya. Bagaimana mungkin pria sekaya ini hanya meminta ganti rugi berupa secangkir kopi untuk jas seharga ribuan dolar?

Alexander memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana lalu bertanya, "Atau kamu lebih suka membayar lima ribu dolar?"

"Nggak! Kopi! Aku pilih kopi!" jawab Aurora cepat-cepat sambil menggelengkan kepalanya dengan keras.

Alexander tersenyum puas melihat respons itu. "Nah, itu pilihan yang bijak," puji Alexander.

Untuk pertama kalinya dalam lima menit terakhir, Aurora bisa mengembuskan napas lega. Ia merasa paru-parunya akhirnya bisa berfungsi normal kembali.

Alexander melirik jam tangannya sekilas. "Aku ada kelas," pamit Alexander bersiap pergi.

Melihat pria itu melangkah, Aurora buru-buru menahannya. "Tunggu!" seru Aurora.

Alexander menghentikan langkahnya dan menoleh kembali. Aurora menggigit bibir bawahnya dengan ragu, lalu berkata, "Aku benar-benar minta maaf untuk yang tadi."

Alexander menatap Aurora beberapa saat. Entah kenapa, tatapan gadis ini terasa berbeda dari semua wanita yang pernah Alexander temui selama ini. Tidak ada kepura-puraan, tidak ada usaha untuk mencari perhatian, ataupun tatapan penuh ambisi. Hanya ada ketulusan dan kepanikan yang sangat nyata.

Alexander tersenyum tipis lalu berkata, "Kamu terlalu banyak minta maaf."

"Karena aku memang salah," balas Aurora sambil menggaruk bagian belakang lehernya yang tidak gatal.

"Kalau begitu, aku maafkan," ucap Alexander memberi ampunan.

Aurora menghela napas panjang dengan lega. "Terima kasih banyak," ucap Aurora tulus.

Alexander berbalik dan mulai berjalan meninggalkannya. Namun baru beberapa langkah, Alexander kembali menghentikan langkahnya dan menoleh. Aurora ternyata masih berdiri di tempat yang sama, memperhatikannya dari belakang.

Alexander tersenyum kecil lalu berkata, "Ngomong-ngomong..."

Aurora mengangkat kepalanya. "Iya?" tanya Aurora menyahut.

"Aku belum tahu namamu," ujar Alexander.

Aurora berkedip, agak terkejut karena ditanya seperti itu. "Oh. Namaku Aurora," jawab Aurora memperkenalkan diri.

Alexander mengangguk pelan, seolah sedang merekam nama itu di dalam benaknya. "Kalau begitu, sampai ketemu lagi, Aurora," ucap Alexander berpamitan.

Aurora melempar senyum canggung. "Semoga nggak sambil menumpahkan kopi lagi," gurau Aurora.

Alexander tertawa renyah mendengar gurauan itu, lalu ia benar-benar berjalan pergi membelah keramaian koridor kampus.

Aurora memandangi punggung pria itu yang perlahan semakin menjauh. Tanpa sadar, sudut bibirnya ikut terangkat membentuk senyuman kecil. "Orangnya ternyata nggak semenyeramkan yang aku kira," gumam Aurora pada diri sendiri.

Namun, Aurora tidak tahu bahwa dari kejauhan, Alexander sempat menoleh sekali lagi hanya untuk memastikan sosok Aurora sebelum benar-benar menghilang di balik belokan koridor.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ada seseorang yang berhasil membuat pagi yang membosankan bagi Alexander terasa sedikit berbeda. Dan tanpa mereka sadari, satu tumpahan kopi kecil hari ini akan menjadi awal dari kisah yang akan mengubah hidup mereka berdua selamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!