Judul: My alter ego
Kehilangan orang tua, pengkhianatan suami, dan terjebak di kantor yang toksik membuat hidup Hira Lione hancur dalam semalam. Namun, saat keputusasaan mencapai puncaknya, sebuah suara misterius muncul di dalam kepalanya.
Demi membalas dendam, Hira membuat kesepakatan berbahaya: menyerahkan kendali tubuhnya pada sosok alter ego yang dingin dan kejam. Hira yang rapuh kini telah tiada, digantikan oleh predator yang siap meruntuhkan hidup siapa pun yang pernah menginjak-injak harga dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FantasiKuyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Undangan Sang Penguasa Bayangan
Hira menatap lekat siluet pria tegap di layar tabletnya, mengendalikan ritme napasnya agar tetap tenang sempurna di bawah tekanan mendadak ini.
{Mainan favorit? Pria ini jelas bukan pesuruh biasa dari kelompok politisi yang baru saja kuancam di dermaga.}
Wajah Kael yang babak belur tampak semakin pias saat tangan berbalut sarung kulit hitam menyentuh bahu peretas itu dengan gerakan santai.
Suara bariton dari seberang panggilan terdengar sangat berat, membawa aura otoritas yang mengintimidasi ruangan direktur utama tersebut tanpa perlu berteriak.
Hira menyilangkan kakinya dengan anggun, menyandarkan punggungnya ke kursi kebesaran kulit yang baru saja ia rebut dari tangan Teran Honigan.
"Aku tidak membuang operator utamamu, aku hanya menyingkirkan parasit bodoh yang nyaris membuat seluruh asetmu disita oleh negara akibat kecerobohannya sendiri."
Pria tak dikenal itu tertawa pelan, sebuah tawa merendahkan yang menggetarkan speaker tablet dengan frekuensi rendah yang tidak menyenangkan.
Ujung laras pistol berperedam tiba-tiba muncul menyusup ke dalam bingkai layar, menempel dingin tepat di pelipis Kael yang sedang merintih kesakitan.
Mata Kael terbelalak maksimal, menatap lensa kamera dengan keputusasaan yang memohon pertolongan dari wanita yang baru saja menjebaknya.
"Aku adalah pemilik mayoritas saham perusahaan ini sekarang, jadi tentu saja aku memegang kendali mutlak atas setiap nominal transaksi yang terjadi."
Hira membalas tatapan tajam dari balik bayangan pria itu, menolak untuk menundukkan kepalanya atau menunjukkan sedikit pun celah kelemahan.
Terdengar bunyi letusan pelan yang diredam sangat rapi, seketika menghapus sisa nyawa peretas muda itu dari kerasnya dunia ini.
Tubuh Kael langsung ambruk menghantam lantai bata kasar, meninggalkan genangan merah pekat yang perlahan melebar di sudut bawah layar kamera.
Hira sama sekali tidak mengalihkan pandangannya, otot wajahnya terkendali sempurna bagaikan porselen mahal antik yang tidak mungkin bisa retak oleh sebuah gertakan.
{Monster yang sangat teliti, dia tidak segan membersihkan jejak kotornya tepat di depan mataku untuk memberikan pesan peringatan mutlak.}
Sang alter ego justru merasakan desiran adrenalin yang luar biasa memabukkan, sebuah gairah gelap untuk menaklukkan predator yang jauh lebih mematikan dari Teran.
Pria itu memberikan instruksi terakhirnya dengan nada mutlak yang tidak menerima bentuk penolakan sekecil apa pun dari pihak lawan bicaranya.
Layar tablet berkedip satu kali, lalu mati total dalam sekejap, memutuskan sambungan video rahasia tersebut tanpa meninggalkan jejak IP pelacakan sedikit pun.
Hira meletakkan tablet tipisnya di atas meja marmer hitam, senyum miringnya melebar perlahan saat menyadari bahwa permainan kekuasaan ini baru saja naik ke level tertinggi.
"Bu Hira, apakah Anda membutuhkan pengawalan tambahan malam ini?"
Suara Leo yang masih bergetar memecah keheningan ruangan, asisten berkacamata itu rupanya masih berdiri mematung di sudut gelap dekat rak buku penyimpan dokumen.
Hira memutar kursi kebesarannya secara perlahan, menatap Leo dengan sorot mata yang menuntut kepatuhan absolut tanpa banyak bertanya.
"Panggil tim pembersih internal dari lantai dasar sekarang juga, Leo."
Asisten itu mengangguk sangat cepat, tangannya sibuk mencatat perintah demi perintah di atas layar perangkat kerjanya dengan gerakan terburu-buru.
"Pastikan seluruh barang pribadi Teran dikeluarkan dari ruangan ini sebelum pergantian hari, dan ganti semua sistem keamanan biometrik di pintu utama."
Hira berdiri dari kursinya, berjalan melangkah dengan anggun menuju jendela kaca raksasa yang menampilkan visual panorama malam di pusat kota.
"Lalu persiapkan rapat luar biasa dengan seluruh jajaran direksi eksekutif yang tersisa tepat pukul delapan pagi esok hari tanpa terkecuali."
"Semuanya akan segera saya laksanakan tanpa penundaan, Nyonya Presiden Direktur."
Gelar baru yang berat itu meluncur mulus dari bibir Leo dengan penuh rasa segan, menandakan bahwa perpindahan kekuasaan malam ini telah sepenuhnya diakui oleh staf bawahan.
Hira menatap pantulan dirinya di kaca jendela tebal tersebut, melihat siluet seorang ratu kejam yang baru saja memenangkan perang berdarah melawan para pengkhianat.
{Teran sudah hancur lebur, mantan suamiku yang bodoh akan membusuk dalam kemiskinan, dan Anita kehilangan segalanya tanpa sisa harga diri.}
Namun, bayangan pria berjas gelap dengan pistol berperedam tadi kembali melintas menari di benaknya, memberikan sensasi ancaman baru yang sangat menggairahkan naluri pembunuhnya.
{Dunia pria arogan ini pasti jauh lebih rumit dari sekadar skandal manipulasi saham atau korupsi level perusahaan operasional yang sangat membosankan.}
Hira menyentuh permukaan kaca yang terasa sangat dingin di ujung jarinya, membiarkan pikiran liciknya menyusun berbagai macam strategi mematikan untuk menghadapi jamuan makan malam esok hari.
||||
Waktu menunjukkan pukul delapan pagi tepat, menandakan dimulainya era kepemimpinan baru di dalam sejarah kelam PT. Gemilang Solusi Bersama.
Langkah sepatu hak tinggi merah marun menggema tajam di sepanjang koridor lantai direksi, menciptakan gelombang ketegangan di setiap sudut ruangan yang dilewatinya.
Hira melangkah masuk ke dalam ruang rapat utama, mengenakan setelan jas putih tulang berpotongan sangat tegas yang memancarkan dominasi kekuasaan absolut tanpa kompromi.
Delapan orang direktur eksekutif yang masih bertahan langsung berdiri serentak dari kursi mereka, menundukkan kepala dalam-dalam sebagai bentuk penghormatan yang dipaksakan oleh keadaan.
Tidak ada satu pun dari para pria berwajah keriput itu yang berani menatap langsung ke arah mata wanita yang telah sukses menumbangkan Teran Honigan dalam semalam.
Hira berjalan melewati punggung mereka dengan dagu terangkat tinggi, menduduki kursi utama yang terletak di ujung meja panjang oval berbahan kayu jati tersebut.
"Silakan duduk kembali ke posisi masing-masing, Tuan-tuan."
Suara Hira memecah keheningan yang luar biasa mencekam, memerintahkan para pria paruh baya itu untuk kembali menempati kursi rapuh mereka.
Mereka duduk secara serentak tanpa menimbulkan suara gesekan sedikit pun, tangan mereka bertumpu kaku di atas meja kayu sementara keringat dingin mulai bercucuran membasahi kerah kemeja.
Hira membuka map hitam tebal di depannya, menelusuri lembar demi lembar laporan keuangan tahunan dengan tatapan mengintimidasi yang membedah kelemahan divisi.
"Mulai detik ini, seluruh aliran dana divisi operasional akan berada di bawah pengawasan langsung tim audit independen yang baru saja kubentuk secara khusus pagi ini."
Mata tajam Hira menyapu satu per satu wajah pucat tegang di hadapannya, memastikan tidak ada celah sekecil apa pun bagi mereka untuk merencanakan pemberontakan.
"Aku sama sekali tidak akan menoleransi sedikit pun kesalahan pembukuan, apalagi kebocoran dana taktis fiktif berskala besar seperti yang dilakukan oleh Darmawan dan Herman."
Penyebutan dua nama mantan direktur yang berakhir sangat tragis itu sukses membuat beberapa orang di ruangan tersebut menahan napas mereka secara refleks ketakutan.
Seorang direktur dari divisi pemasaran memberanikan diri mengangkat tangannya ke udara, suaranya bergetar hebat menahan rasa takut yang luar biasa menyiksa tenggorokannya.
"M-maaf menyela waktu Anda, Bu Hira, tapi bagaimana nasib kontrak kerja sama logistik eksternal yang sudah telanjur ditandatangani secara resmi oleh Pak Teran bulan lalu?"
Hira menatap pria paruh baya itu lekat-lekat, memberikan sebuah senyuman tipis yang justru membuat sang direktur pemasaran segera menelan ludahnya dengan sangat susah payah.
"Semua kontrak kerja sama yang tidak mampu memberikan proyeksi keuntungan bersih minimal dua puluh persen akan kubatalkan secara sepihak hari ini juga."
Keputusan mutlak dan brutal itu membuat beberapa direktur saling melempar pandangan dengan wajah luar biasa panik, menyadari bahwa banyak proyek penipuan mereka yang akan terpotong habis.
"Jika ada pihak vendor eksternal yang merasa keberatan dengan pembatalan ini, suruh mereka berhadapan langsung dengan barisan pengacara departemen legal di bawah komando mutlakku."
Hira menutup map hitam tebal itu dengan satu bantingan keras menggunakan telapak tangannya, menghasilkan bunyi debuman yang membuat dua orang direktur tersentak kaget dari kursi mereka.
"Rapat perdana pagi ini selesai, kembali ke kubikel pekerjaan kalian masing-masing sebelum aku menemukan alasan sepele untuk memecat kalian semua tanpa memberikan sepeser pun uang pesangon."
Para direktur itu bergegas merapikan tumpukan dokumen mereka yang berserakan, berhamburan keluar dari ruangan dengan langkah terburu-buru bagaikan kawanan domba yang diusir dari area perburuan.
{Sangat mudah memegang kendali penuh atas orang-orang rakus yang lebih menyayangi deretan nominal di rekeningnya daripada mempertahankan harga dirinya sendiri.}
Alter ego Hira mendecak pelan di dalam labirin pikirannya, merasa mulai sangat bosan dengan tingkat kepatuhan instan para petinggi perusahaan yang sama sekali tidak memberikan tantangan.
Leo melangkah mendekati sisi kanan meja Hira, kedua lengannya membawa sebuah kotak beludru hitam berukuran besar yang tampak sangat mahal sekaligus eksklusif.
"Kotak misterius ini baru saja diantarkan oleh kurir khusus ke lobi lantai bawah sebagai paket prioritas untuk Anda, Nyonya Presiden Direktur."
Asisten berkacamata itu meletakkan kotak tersebut di atas meja oval, menyingkir mundur perlahan ke belakang dengan sikap penuh kehati-hatian yang berlebihan.
"Pihak pengirimnya sama sekali tidak mencantumkan logo nama atau identitas perusahaan, hanya sebuah kartu kecil bertuliskan deretan titik koordinat lokasi untuk pertemuan malam ini."
Hira menyipitkan matanya dengan kewaspadaan penuh, menatap lekat permukaan kotak beludru hitam yang memancarkan aura misteri dan ancaman kematian secara bersamaan.
{Pria pembunuh bayaran itu ternyata benar-benar menepati ucapan liarnya untuk mengirimkan gaun makan malam yang ia janjikan semalam.}
Hira mengulurkan tangan kirinya ke depan, membuka penutup kotak berengsel emas tersebut secara perlahan untuk menginspeksi isi barang di dalamnya dengan sangat teliti.
Sebuah gaun sutra panjang berwarna merah darah terlipat sangat rapi, memancarkan kemewahan kelas atas dari setiap rajutan serat kainnya yang mengilap sempurna.
Tepat di atas hamparan gaun memukau itu, tergeletak sebuah kalung berlian hitam murni yang dirangkai dengan desain indah menyerupai untaian duri mawar liar yang sangat tajam.
Hira mengambil selembar kartu hitam kecil bertekstur kasar yang terselip elegan di antara lipatan gaun, membaca kalimat singkat yang tertulis apik menggunakan tinta berwarna emas.
Senyum miring kejam kembali menghiasi wajah cantik Hira, jari-jari lentiknya menggenggam kartu kecil itu dengan sangat kuat hingga bagian tepinya sedikit melengkung.
"Persiapkan mobil sedan antipeluru paling tangguh yang kita miliki di garasi basemen sekarang juga, Leo."
Hira berdiri tegap dari kursi utama, matanya berkilat memancarkan nyala gairah pertarungan yang sangat pekat dan berbahaya untuk siapa saja yang berani menatapnya.
"Malam ini, aku akan menghadiri undangan pribadi dari seseorang yang sangat berambisi untuk menantang dan menjemput kematiannya sendiri secara langsung."
Leo menundukkan kepalanya dalam-dalam, segera bergegas keluar dari ruang rapat menuju mejanya untuk melaksanakan perintah tanpa berani mempertanyakan tujuannya sedikit pun.
||||
Waktu menunjukkan pukul delapan malam lebih lima belas menit saat mobil sedan mewah antipeluru itu berhenti mulus di depan sebuah gerbang besi hitam yang sangat menjulang.
Bangunan megah bergaya arsitektur klasik Eropa itu berdiri kokoh di tengah-tengah kawasan elit, sengaja dijauhkan dari keramaian lalu lintas kota untuk menjaga privasi absolut penghuninya.
Hira melangkah keluar dari kabin penumpang, membiarkan Leo menunggu dengan cemas di luar batas wilayah yang dijaga luar biasa ketat oleh belasan pria bersenjata lengkap.
Gaun sutra merah darah yang melekat pas di lekuk tubuh proporsionalnya berkibar pelan mengikuti ayunan langkahnya, menciptakan siluet yang sangat memukau sekaligus mengintimidasi para penjaga.
Kalung berlian hitam melingkar sempurna di leher jenjangnya, memberikan sentuhan kesan anggun namun mematikan bagaikan tanaman eksotis beracun yang sengaja memikat mangsanya mendekat.
Dua orang penjaga bertubuh raksasa segera membukakan pintu utama tanpa mengucapkan sepatah kata pun, memberikan jalan eksklusif bagi sang Eksekutif Independen untuk melangkah masuk ke dalam sarang musuhnya.
Lorong memanjang dengan deretan pilar marmer berukir menyambut kedatangannya, membawa arah ayunan sepatunya menuju sebuah ruang perjamuan pribadi yang dirancang dengan sangat luar biasa mewah.
Lampu kristal raksasa menggantung kokoh di atas meja makan panjang berlapis taplak sutra, menghiasi ruangan dengan pantulan emas dari setiap peralatan makan berbahan perak.
Seorang pria jangkung berdiri membelakangi ujung meja utama, menuangkan sebotol anggur merah kental ke dalam dua buah gelas kristal menggunakan gerakan pergelangan tangan yang luar biasa elegan.
"Kau datang lebih cepat dari estimasi waktu perjalanan yang kuberikan pada kepala penjaga gerbang, Hira Lione."
Pria misterius itu memutar tubuhnya perlahan ke arah pintu masuk, menampilkan wajah dengan garis rahang sangat tegas dan sepasang mata kelam yang seolah mampu menembus jauh ke dalam palung jiwa.
Ketampanan pria tersebut sama sekali tidak mampu menutupi aura dominasi kegelapan yang menguar sangat kuat dari setiap inci postur tubuhnya yang terbalut setelan jas tempahan khusus.
"Aku tidak pernah suka membuang waktuku yang berharga dengan membuat lawanku menunggu terlalu lama di arena pertarungan."
Hira melangkah terus maju mendekati meja makan, ketukan ritmis dari ujung sepatu hak tingginya sengaja ia buat menggema untuk memecah kesunyian ruangan tanpa sedikit pun keraguan di hatinya.
"Terutama jika lawan tersebut ternyata memiliki selera estetika yang cukup baik dalam memilihkan pakaian kematian untuk calon pembunuhnya sendiri."
Pria itu membalas dengan sebuah tersenyum tipis merespon ancaman tajam tersebut, sebuah senyuman yang menyiratkan kepuasan luar biasa melihat keberanian absolut dari wanita cantik di hadapannya.
Ia berjalan melangkah ringan menghampiri posisi Hira berdiri, mengulurkan salah satu gelas kristal berisi cairan anggur merah menyala sembari memberikan tatapan yang mengunci pergerakan.
"Namaku Arthur, dan mulai detik ini, kau akan mulai belajar dengan sangat keras tentang bagaimana caranya tunduk pada satu-satunya penguasa mutlak di kota ini."
Arthur memajukan tubuhnya satu langkah mengikis jarak, menundukkan wajahnya ke samping hingga pinggiran bibirnya nyaris bersentuhan langsung dengan daun telinga Hira.
"Karena aku sama sekali tidak akan membiarkan mainan baruku lepas dari genggamanku begitu saja, Ratuku."
koq gk rela ya😊
tp mush"nya sdh takluk smua sih
yoweslah...👍
lawan ato kawan nih... apa jgn" malah menjemput jodoh🤭
baca dl part sblm'a
lg seru nih
jm 9 ketemu dar, trus ketemu her & si botak, trus ketemu taren(lupa) trus ketemu victor, ini ketemu kael🤔 hrs'a sdh sore x thor
kodammu luar biasa!
🤝
ampe qu ulang baca part 1 hlo
biasa'a dirasuki jiwa lain, ini malah dr diri sendiri, mgkin ini kodam yg memberontak🤭
semangat thor💪