NovelToon NovelToon
Dua Wajah Dibalik Satu Lencana

Dua Wajah Dibalik Satu Lencana

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / TKP
Popularitas:212
Nilai: 5
Nama Author: Chocolate Chase

Menceritakan tentang seorang mantan pembunuh berantai, yang di bebaskan untuk membantu polisi dalam memecahkan sebuah kasus, yang kemudian membuat dirinya secara resmi menjadi konsultan khusus kepolisian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chocolate Chase, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Potongan-potongan Kecil

Keesokan paginya, apartemen pengawasan terasa lebih sempit dari biasanya. Ketegangan kasus yang belum terpecahkan seolah memenuhi setiap sudut ruangan. Arthur sudah bangun lebih dulu, berdiri tegak di depan jendela besar sambil menyesap kopi hitamnya yang masih mengepul. Ketika Manuel keluar dari kamar dengan rambut acak-acakan dan mata merah karena kurang tidur, Arthur bahkan tidak menoleh. Pikirannya sudah melompat jauh ke depan, menyusun kepingan teka-teki keluarga Harrington.

Begitu cangkir kopi mereka kosong, Arthur meletakkan gelasnya dengan denting pelan yang memecah keheningan. Ia menatap Manuel langsung pada matanya. "Aku butuh semua berkas bukti yang ada sebelum kita melangkah lebih jauh. Hasil otopsi, laporan forensik, daftar panggilan telepon, hingga analisis sidik jari. Semuanya tanpa terkecuali."

Manuel sempat ragu, tetapi ia tahu bahwa mengulur waktu hanya akan membuat pembunuh Anton semakin jauh melarikan diri. Ia mengangguk, lalu membuka laptop dinasnya di atas meja makan yang sempit. Selama hampir dua jam berikutnya, ruangan itu berubah menjadi pusat analisis darurat. Kertas-kertas laporan otopsi berserakan, dan layar laptop menampilkan foto-foto makro dari tempat kejadian perkara.

Jari-jari panjang Arthur membalik halaman dokumen dengan kecepatan yang mengesankan, matanya yang hijau menyipit fokus. Tiba-tiba, gerakannya berhenti pada lembar laporan laboratorium forensik.

"Lihat ini, Manuel," kata Arthur sambil mengetuk selembar kertas. "Tim forensik menemukan serat kain wol berwarna abu-abu terselip di serat karpet putih, tepat di dekat posisi kaki korban. Selain itu, lihat foto luka gorokan di leher Anton. Sudut sayatannya terlalu dalam di bagian kanan, yang berarti pelakunya menarik pisau dengan kekuatan penuh menggunakan tangan kiri. Ini memperkuat teoriku semalam bahwa pembunuhnya bertangan kidal."

Arthur kemudian menggeser lembar kertas lain yang berisi data mutasi panggilan telepon dari ponsel Anton. "Namun, yang paling menarik adalah ini. Tepat tiga puluh menit sebelum perkiraan waktu kematian, Anton melakukan panggilan telepon ke ponsel Stevie. Durasi panggilannya hampir lima belas menit. Itu bukan panggilan biasa, melainkan sebuah perdebatan atau kepanikan."

Manuel mencondongkan tubuhnya ke depan, ikut memeriksa lembaran tersebut. "Jadi kau berpikir Stevie yang melakukannya?"

"Stevie terlibat, aku yakin itu," jawab Arthur sambil bersandar ke kursi. "Namun, dia bukan pelakunya. Karakter Stevie yang meledak-ledak tidak akan sanggup membersihkan gelas anggur kedua hingga steril sempurna tanpa meninggalkan satu pun jejak konklusif. Ada orang ketiga di dalam penthouse itu malam itu."

Manuel mengangkat kedua alisnya dengan sangsi. "Kau begitu yakin?"

"Aku sangat yakin," jawab Arthur dengan nada dingin yang tidak menerima bantahan. "Dan untuk membuktikannya, aku perlu melihat rekaman kamera pengawas dari gedung di sebelah penthouse serta kamera yang menyorot pintu darurat belakang. Sekarang juga, Manuel."

Manuel tidak membuang waktu dan segera menghubungi markas untuk mengatur izin akses darurat. Sore harinya, mereka sudah duduk di dalam ruang kerja kepolisian yang minim cahaya. Di depan layar monitor besar, seorang teknisi memutar rekaman kamera pengawas dari beberapa sudut yang sempat dilewatkan oleh tim penyelidik awal.

Arthur menyipitkan mata, fokus penuh pada setiap siluet pergerakan manusia di layar yang buram. Selama beberapa menit, hanya ada rekaman kosong, hingga akhirnya jarum jam digital di pojok layar menunjukkan waktu lima belas menit setelah kamera utama gedung Anton dimatikan secara sengaja.

"Hentikan di situ," cetus Arthur tiba-tiba. "Mundur tiga detik. Ya, kunci pada pria itu."

Teknisi kepolisian memperbesar gambar siluet seorang pria yang muncul dari pintu darurat belakang gedung sebelah, tepat setelah Stevie terekam meninggalkan area penthouse menggunakan taksi. Pria itu berusia sekitar dua puluh delapan tahun, bertubuh atletis, dan mengenakan hoodie gelap yang menutupi sebagian wajahnya. Namun, saat ia mendongak sekilas untuk menghindari genangan air di trotoar, lampu jalan Manhattan menangkap garis wajahnya dengan cukup jelas.

"Charlie Moon," gumam Manuel, suaranya tercekat di tenggorokan. "Sahabat Anton sejak kecil. Mereka tumbuh bersama di lingkungan yang sama, bahkan Charlie memegang posisi penting di Harrington Tech."

Manuel langsung berdiri, tubuh tegapnya menegang karena amarah sekaligus keterkejutan. "Ini gila. Mengapa sahabatnya sendiri tega melakukan hal sesadis itu?"

Arthur mengembalikan senyum miringnya yang dingin, tatapannya kosong seolah sedang membedah isi kepala sang pembunuh dari kejauhan. "Uang, rahasia, atau kecemburuan profesional, Manuel. Hubungan yang terlalu dekat sering kali menyimpan belati yang paling tajam."

Manuel mengancingkan jaketnya dengan gerakan taktis. "Kita bergerak sekarang. Kita datangi apartemen Stevie malam ini untuk meminta konfirmasi dan mengunci alibinya, lalu kita buru Charlie Moon besok pagi sebelum dia menyadari bahwa kita sudah mengantongi namanya."

Arthur ikut berdiri, merapikan jaketnya sendiri dengan santai. "Bagus. Kasus ini hampir selesai, Detektif."

Malam itu, setelah kembali dari interogasi singkat yang menegangkan dengan Stevie, Arthur kembali berdiri di balkon apartemen pengawasan. Udara New York malam itu terasa menggigit, tetapi ia membiarkan angin dingin menerpa wajahnya. Sambil memandang hamparan lampu kota yang berkelap-kelip, pikirannya tertuju pada Charlie Moon, seorang sahabat yang tega menggorok leher orang terdekatnya sendiri lalu menjejalkan jari manis korban ke dalam mulutnya sebagai simbol pengkhianatan yang harus dibungkam. Di dalam kegelapan malam, Arthur tahu bahwa esok hari, konfrontasi yang sesungguhnya akan segera dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!